Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Wushhh.
Gaga langsung melompat masuk menembus semak belukar dengan kecepatan yang luar biasa.
Pepohonan besar di sekeliling mereka terlihat hanya seperti bayangan hitam yang berkelebat cepat.
"Udara di sini bau sekali, Gaga."
Natasya menutup hidungnya karena mencium aroma busuk yang mulai menyengat penciumannya.
"Berbeda jauh dengan udara di pinggir hutan tempat kita biasa bertemu."
"Kita sudah mulai masuk ke wilayah Hutan Hitam."
Gaga terus berlari melompati akar-akar pohon yang menonjol keluar dari dalam tanah.
"Ini adalah batas awal menuju jantung hutan tempat danau beracun itu berada."
Sniff.
Sniff.
Gaga tiba-tiba menghentikan langkahnya secara mendadak hingga Natasya hampir terlempar ke depan.
Serigala itu mengendus udara di sekelilingnya dengan sangat waspada.
"Ada apa, Gaga?"
Natasya berbisik panik sambil melihat ke sekeliling yang sangat gelap gulita.
"Apa kamu kehilangan jejak bau ayahku?"
"Tidak, bau ayahmu mengarah lurus ke depan sana."
Gaga menggeram pelan memamerkan taringnya ke arah sebuah dahan pohon beringin raksasa di atas mereka.
"Tapi ada sesuatu yang menghalangi jalan kita di atas sana."
Sssss.
Sssss.
Suara desisan yang sangat panjang dan mengerikan terdengar dari atas dahan tersebut.
Seekor ular sanca berukuran sangat besar dengan sisik berwarna hitam legam perlahan merayap turun.
Ular itu memiliki kepala sebesar tubuh manusia dewasa dengan mata merah yang menyala dalam gelap.
Lidahnya yang bercabang menjulur keluar masuk untuk merasakan hawa tubuh dari mangsanya.
"Berani sekali seekor serigala perbatasan dan anak manusia masuk ke wilayah kekuasaanku."
Suara ular itu terdengar licik dan mendesis pelan di telinga Natasya.
Gaga langsung mengambil posisi siap menyerang dengan bulu punggung yang berdiri tegak.
"Menyingkir dari jalanku, Sanca Hitam, kami tidak punya urusan denganmu."
"Tidak ada yang boleh melewati pohon ini hidup-hidup."
Ular raksasa itu melilitkan sebagian tubuhnya yang panjang di batang pohon sambil bersiap mematuk.
"Daging serigala dan manusia kecil pasti akan menjadi makan malam yang sangat lezat."
"Tunggu dulu, Tuan Ular."
Natasya tiba-tiba berteriak lantang dari atas punggung Gaga tanpa rasa takut sedikitpun.
"Tolong jangan makan kami, kami hanya ingin lewat sebentar saja."
Mata merah ular sanca itu seketika membelalak lebar menatap gadis kecil tersebut.
Kepalanya yang besar bergerak maju mendekati wajah Natasya dengan penuh rasa penasaran.
"Kamu bisa berbicara dan mengerti bahasaku, manusia kecil?"
"Tentu saja aku bisa mendengarmu dengan sangat jelas."
Natasya menatap lurus ke arah mata merah menyala itu tanpa berkedip sama sekali.
"Namaku Natasya dan serigala ini adalah sahabatku, Gaga."
"Ini sangat aneh dan belum pernah terjadi sebelumnya."
Ular sanca itu mendesis pelan sambil memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Selama ratusan tahun aku hidup, baru kali ini ada manusia yang bisa berbahasa hutan."
"Kami sedang terburu-buru menyusul ayahku, Tuan Ular."
Natasya kembali memohon dengan nada suara yang sangat sopan dan memelas.
"Ayahku pasti baru saja lewat sini kan?"
"Ah, pria manusia dewasa yang membawa obor terang itu."
Ular itu menganggukkan kepalanya perlahan membenarkan ucapan Natasya.
"Dia lewat sini beberapa saat yang lalu dengan wajah yang sangat ketakutan."
"Kenapa kamu membiarkan ayahku lewat begitu saja?"
Natasya mengerutkan keningnya karena merasa ada yang aneh dengan hal itu.
"Kenapa kamu malah menghadang kami di sini?"
"Aku membiarkan pria itu lewat karena dia memegang api yang sangat besar."
Ular sanca itu mendengus pelan seolah merasa sangat kesal karena mengingat hal itu.
"Aku sangat benci dengan panasnya api, jadi aku bersembunyi di atas pohon sampai dia pergi."
"Syukurlah kalau Ayah berhasil lewat dengan selamat."
Natasya menghela napas lega dan kembali menatap ular raksasa di depannya.
"Kalau begitu tolong biarkan kami lewat juga, Tuan Ular."
"Tentu saja tidak semudah itu, manusia kecil yang aneh."
Ular itu menjulurkan lidahnya lagi tepat di depan wajah Natasya.
"Kalian tidak membawa api, jadi aku tidak punya alasan untuk takut pada kalian."
Gaga kembali menggeram dengan keras dan bersiap menerkam kepala ular tersebut.
"Aku akan menggigit putus lehermu jika kamu berani menyentuhnya, Sanca Hitam."
"Jangan pikir aku takut dengan ukuran tubuhmu yang besar itu."
"Gaga, tunggu sebentar, jangan berkelahi."
Natasya menepuk leher Gaga pelan untuk menenangkan serigala yang sedang emosi itu.
Gadis itu kemudian merogoh tas bambu kecilnya dan mengeluarkan sepotong singkong rebus.
"Apa yang ada di tanganmu itu, Natasya?"
Ular sanca itu menatap curiga ke arah benda berwarna putih pucat di tangan Natasya.
"Baunya sangat aneh dan tidak ada darahnya sama sekali."
"Ini namanya singkong rebus buatan ibuku."
Natasya menyodorkan makanan itu ke arah moncong ular raksasa tersebut.
"Kalau kamu membiarkan kami lewat, aku akan memberikan makanan lezat ini untukmu."
"Kamu mencoba menyuapku dengan makanan aneh itu?"
Ular itu mendesis marah dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.
"Aku ini ular pemakan daging segar, bukan pemakan rumput atau tumbuhan."
"Cobalah sedikit saja dulu, ini sangat mengenyangkan."
Natasya memotong sedikit singkong itu dan melemparkannya tepat ke dalam mulut ular yang sedang terbuka.
Ular sanca itu terkejut dan terpaksa menelan potongan kecil itu masuk ke perutnya.
Matanya yang merah menyala tiba-tiba mengerjap beberapa kali dengan cepat.
"Rasa apa ini?"
Ular itu bergumam pelan sambil menggerakkan rahangnya.
"Ini sangat lembut dan manis, benar-benar berbeda dengan rasa daging tikus yang alot."
"Enak sekali kan?"
Natasya tersenyum lebar melihat reaksi positif dari monster penjaga pohon itu.
"Aku akan memberikan sisa singkong yang besar ini kalau kamu menyingkir dari jalan kami."
"Baiklah, itu tawaran yang cukup adil."
Ular sanca raksasa itu langsung melonggarkan lilitannya dan merayap naik kembali ke dahan pohon.
"Berikan sisa makanan putih itu padaku sekarang juga."
Natasya melemparkan sisa singkong rebus itu ke atas dan langsung ditangkap dengan mulus oleh ular tersebut.
"Terima kasih banyak, Tuan Ular yang baik hati."
Natasya melambaikan tangannya dengan riang.
"Cepat lanjutkan perjalananmu sebelum aku berubah pikiran, anak manusia aneh."
Ular itu berkata sambil mengunyah singkong tersebut dengan lahap.
"Dan hati-hatilah di depan sana, hutan dalam jauh lebih mematikan daripada area kekuasaanku ini."
"Ayo kita jalan lagi, Gaga."
Natasya menepuk punggung sahabatnya itu memberikan aba-aba.
"Kita harus segera menyusul Ayah sebelum dia sampai di danau beracun."
Gaga tidak membuang waktu dan langsung berlari melesat meninggalkan pohon beringin tersebut.
"Kamu sungguh luar biasa, Natasya."
Gaga berbicara sambil terus berlari menghindari semak berduri tajam.
"Kenapa kamu bilang begitu, Gaga?"
Natasya merapatkan jaketnya karena udara terasa semakin dingin menusuk tulang.
"Aku hanya memberinya sedikit singkong sisa makan malamku."
"Sanca Hitam adalah salah satu predator paling rakus di wilayah ini."
Gaga melompati sebuah batang pohon yang tumbang melintang di tengah jalan.
"Tidak pernah ada mangsa yang berhasil hidup setelah berhadapan langsung dengannya."
"Tapi dia ular yang cukup manis kok."
Natasya tertawa kecil mengingat wajah ular raksasa itu saat memakan singkong.
"Dia hanya butuh makanan yang enak agar tidak perlu capek-capek berburu daging."
Gaga hanya bisa mendengus pelan mendengar jalan pikiran gadis kecil di atas punggungnya itu.
"Penciumanku mengatakan ayahmu sudah semakin dekat."
Gaga sedikit memperlambat kecepatan larinya karena medan hutan yang semakin sulit dilalui.
"Terus lacak baunya, Gaga."
Natasya menatap lurus ke depan menembus kegelapan malam yang pekat.
Petualangan mereka di dalam Hutan Larangan baru saja dimulai dan bahaya yang lebih besar sudah menanti di depan mata.