Liora dipaksa menikah dengan Kaedric Volther, pria yang dikenal kejam dan berbahaya. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Kaedric meninggal dunia. Liora mengira rencana pernikahan itu akan dibatalkan dan ia bisa kembali menjalani hidupnya seperti biasa.
Namun keputusan keluarga Volther berubah. Untuk menjaga kepentingan keluarga, Liora justru harus menikah dengan ayah Kaedric, Maelric Volther, seorang pria berkuasa yang jauh lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Liora bergerak lincah di dapur, senyum tak mau lepas dari bibirnya. Biasanya ia menghindari makanan manis, tapi hari ini ia tak ingin membatasi diri. Hari ini adalah hari keberuntungannya, dan ia merasa berhak merayakannya.
"Kamu tahu, merayakan kematian orang itu tidak pantas," suara kakak sulungnya terdengar dari balik pintu dapur.
Raphael-lah yang tadi pagi menyampaikan kabar menggembirakan itu, tunangan Liora, Kaedric Volther, telah berpulang ke alam baka.
Kaedric adalah lelaki brengsek yang mungkin belum pernah ada tandingannya di dunia ini. Setiap hari ia berganti perempuan, dan sebagian besar dari mereka diperlakukannya seperti samsak tinju. Liora yakin, di hari pertama mereka hidup bersama pun, Kaedric sudah bisa menghancurkan wajahnya.
"Aku hanya sedang dalam suasana hati yang baik, tidak perlu dicari-cari maknanya," ujar Liora sambil menuangkan sirup toffee ke dalam cangkir kopinya. Kalau mau bersenang-senang, ya sekalian saja. Ia berbalik menghadap kakaknya, mengangkat botol sirup. "Mau juga?"
"Aku mau ikut minum," suara lain menyela dari pintu masuk dapur.
Zevran, kakak Liora yang hanya selisih setahun darinya, melangkah masuk. Ia begitu mirip dengan Liora, rambut hitam pekat dan mata abu-abu seperti baja, seolah mereka kembar. "Tapi aku lebih suka kalau kamu tuangkan whiskey buat aku."
Zevran duduk di kursi dekat meja dapur. Sebagai salah satu orang yang paling keras menentang pernikahan itu, tepat setelah Liora sendiri, ia pun tak berusaha menyembunyikan kegembiraannya.
"Semoga Kaedric tenang di sana," katanya dengan wajah serius, tapi beberapa detik kemudian ia meledak dalam tawa keras.
Liora setidaknya masih berusaha menahan diri, tapi Zevran sama sekali tak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia sedikit iri dengan sikap terus terang kakaknya itu. Liora selalu berpikir dua kali sebelum bicara, sementara Zevran mengucapkan saja apa yang ada di benaknya.
"Ayah punya alasan di balik pernikahan itu. Kita membutuhkannya," kata Raphael sekali lagi, menegaskan pendapatnya sebelum akhirnya meninggalkan dapur. Mudah saja baginya berkata begitu, toh bukan dia yang harus tinggal bersama monster itu.
Dari awal, ayah dan Raphael memang meyakinkan Liora bahwa pernikahan itu demi keselamatannya. Tapi Liora tahu itu hanya omong kosong. Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terlintas di benak seorang psikopat seperti Kaedric. Lelaki itu bahkan mungkin bisa membunuhnya.
"Untungnya dia sudah tidak ada. Selesai sudah masalahnya," gumam Liora sambil menyiapkan kopi untuk Zevran.
"Aku khawatir justru masalah baru yang akan datang," sahut Raphael dari luar, dan suaranya perlahan menghilang bersama langkahnya.
Liora menyerahkan cangkir kopi kepada Zevran, lalu bersandar di meja dekat kakaknya itu.
"Kamu ada hubungannya dengan ini?" tanyanya dengan suara pelan.
Zevran lebih dari sekali pernah berjanji akan melakukan apa saja untuk membebaskan Liora dari kewajiban yang tidak ia inginkan itu. Liora tak pernah meminta pembunuhan, tapi kalau itu yang terjadi, ia tak berniat menghakimi kakaknya.
"Sayangnya tidak, adikku." Zevran menggeleng. "Aku memang berencana menyingkirkannya setelah pernikahan berlangsung, tapi seseorang sudah mendahuluiku."
"Bagus sekali. Dia sudah tidak ada, dan kita tidak punya urusan dengan itu. Tidak bisa lebih baik dari ini," kata Liora, lalu mencondongkan tubuh dan mencium pipi kakaknya. "Terima kasih."
Meski Zevran tidak melakukan apa-apa, Liora tetap merasa sangat bersyukur bahwa kakaknya itu berniat membebaskannya dari neraka yang hampir menjadi hidupnya.
**
Makan malam berlangsung dalam suasana hangat karena hanya Liora dan Zevran yang duduk di meja. Ayah dan Raphael sedang membahas sesuatu, sementara Ronan menghilang sejak kemarin pagi, bahkan Liora tidak tahu apakah kakaknya itu sudah mendengar kabar baik tersebut.
Ronan, kakak tengah Liora, juga merupakan salah satu penentang keras pernikahan yang disebutnya sebagai sandiwara itu.
"Oh, belum pada datang?" Ronan tiba-tiba muncul di pintu dapur, seolah terpanggil oleh pikiran Liora. "Bagus. Mungkin kita tidak akan kena ceramah dulu."
Ia duduk di seberang Liora dan langsung mencuri satu ravioli dari piringnya tanpa basa-basi. Sudah dua puluh lima tahun umurnya, tapi sopan santun masih terasa asing baginya. Dan Liora tidak yakin hal itu akan pernah berubah.
Ketika tangan Ronan kembali bergerak menuju piringnya, Liora sigap menggeser piringnya menjauh.
"Pergi ke dapur dan ambil sendiri, atau panggil Freya."
"Kamu yang bawakan. Harusnya kamu senang hari ini," kata Ronan, ia sudah tahu, rupanya.
"Kegembiraanku tidak ada hubungannya dengan makanmu. Gerakkan kakimu sendiri ke dapur," tegas Liora. Kalau ia menurutinya sekarang, Ronan akan berpikir bisa terus memanfaatkannya. Tidak bisa.
"Jutek," gumam Ronan, tapi senyum tetap tersungging di bibirnya.
Ia memanggil Freya, pembantu rumah tangga mereka, yang langsung datang membawa sepiring makanan untuknya.
Freya adalah sosok yang sudah seperti ibu bagi Liora. Hari ini pun wanita berusia lima puluh empat tahun bertubuh gempal itu tampak sedikit lebih ceria dari biasanya. Sungguh luar biasa bagaimana satu peristiwa bisa membuat begitu banyak orang merasa lega.
"Mau saya bawakan anggur atau sampanye?" tawar Freya dengan ramah.
"Sampanye saja," jawab Ronan cepat. "Tapi buru-buru ya, sebelum Ayah atau Raphael datang dan merusak suasana."
Liora dan Ronan memang sering saling mengeluh satu sama lain, tapi begitu mendengar soal pernikahan itu, Ronan langsung membelanya habis-habisan. Karena itulah Liora mencurigai bahwa kakak tengahnya itulah yang mungkin punya andil dalam kematian Kaedric. Ketidakhadirannya yang lama bahkan seperti menguatkan dugaan itu.
Kalau memang benar Ronan yang membebaskannya, Liora hanya bisa bersyukur.
"Aku dan Liora sudah kena semprot duluan dari Si Tukang Ngomel," kata Zevran, sementara ketiganya tertawa, begitulah mereka bertiga sering menjuluki Raphael, si kakak sulung yang gemar mencari masalah dari hal yang tidak ada masalahnya.
Namun tawa itu segera mereda ketika Liora menangkap bayangan ayah mereka memasuki ruang makan. Ia menyikut Zevran sebagai peringatan, dan Ronan pun langsung membisu.
Ayah dan Raphael akhirnya bergabung di meja makan.
"Akhirnya kamu muncul juga," kata sang ayah begitu melihat Ronan, nada suaranya langsung berubah dingin. Ronan memang selalu menjadi sasaran kritik ayah mereka. Memang benar Ronan sering bertindak sembrono, tapi Liora merasa kakaknya itu tidak layak terus-menerus dijadikan pelampiasan.
Kemudian pandangan ayahnya beralih ke Liora.
"Setelah makan, kamu ganti baju. Pakai gaun hitam."
Liora langsung mengerti. Ayahnya ingin membawanya ke malam pemakaman untuk mendoakan jenazah Kaedric.
Sial. ia pikir ia tidak perlu melihat wajah itu lagi. Tapi baiklah, lebih baik Kaedric dalam keadaan mati daripada hidup.
"Tidak perlu Liora ikut ke sana," Ronan angkat bicara, dan mode kakak pelindungnya pun langsung menyala. Biasanya Liora tidak suka kalau Ronan bersikap seperti itu, tapi kali ini ia bersyukur ada yang membelanya.
"Keputusanku sudah bulat," kata ayahnya tegas.
"Di sana banyak orang yang tidak baik. Aku tidak mau dia ada di sana."
"Liora harus hadir," ujar ayahnya dengan nada yang mengakhiri perdebatan, "di sisi tunangannya yang baru."
Liora terhenti. Jantungnya serasa berhenti berdetak.
Tunangan baru?
Ia baru saja menyingkirkan yang pertama.