Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27.
Jejak Cinta dan Godaan Kota Paris
Mobil hitam yang membawa keluarga Hadinata serta Nenek Aretha perlahan bergerak keluar dari gerbang kediaman Lenoir. Alana duduk di kursi belakang, matanya masih menatap ke belakang melalui kaca jendela hingga sosok rumah megah itu dan sosok pria yang berdiri di sana perlahan menghilang dari pandangan. Hatinya terasa berat, namun juga berdebar kencang karena ingatan akan ciuman terakhir dan kata-kata tegas Aslan yang masih terngiang di telinga. Jalan menuju Lyon terhampar panjang di depan mereka, sebuah perjalanan yang akan menjadi jeda, namun bukan pemisah yang sesungguhnya.
Di kediaman Lenoir, setelah suara mesin mobil itu benar-benar lenyap, Aslan masih berdiri di tempat yang sama. Senyum yang terukir di bibirnya tidak pernah hilang, justru semakin lebar seolah ia baru saja memenangkan pertarungan terbesar dalam hidupnya. Ia berjalan kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah ringan, mengabaikan tatapan geli orang tuanya yang jelas-jelas menyaksikan adegan perpisahan tadi.
"Anak muda zaman sekarang..." terdengar suara Marcel bergumam sambil tersenyum, namun Aslan hanya melambaikan tangan santai dan langsung menuju ke lantai atas, ke kamarnya sendiri.
Kamar pribadi Aslan adalah cerminan dirinya. luas, rapi, dengan perabotan bergaya modern klasik dan nuansa warna gelap yang memberikan kesan tegas namun elegan. Begitu pintu tertutup, menyisakan kesendirian, Aslan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk. Tangan kanannya diletakkan di bawah kepala, matanya menatap langit-langit, dan pikirannya langsung terbang kembali kepada Alana. Ia membayangkan wajah gadis itu yang merah padam saat berpisah, membayangkan bagaimana Alana pasti sedang memikirkan dirinya di dalam mobil itu, dan bahkan membayangkan ekspresi apa yang akan muncul di wajah cantik itu saat mereka bertemu lagi nanti. Dalam imajinasinya, pertemuan selanjutnya akan menjadi momen di mana ia akan mengambil kembali semua yang ia miliki, tanpa ada alas bedak atau jarak yang bisa menghalangi.
Namun, lamunan itu terhenti tiba-tiba saat telepon genggamnya berdering nyaring. Layar menampilkan nama yang tidak terduga: Sophie.
Aslan mengangkat alis, sedikit terkejut. Ia mengangkat sambungan itu dengan nada santai. "Halo?"
"Hai, Aslan! Apa kau sedang sibuk menjadi pangeran yang melamunkan putrinya?" Suara Sophie terdengar ceria namun dengan nada menggoda yang khas, seolah-olah wanita itu tahu persis apa yang sedang dilakukan Aslan. "Aku dengar kau masih di sekitar sini. Dengar, malam ini ada pesta besar di salah satu klub malam paling eksklusif di Paris, L'Étoile. Semua orang penting akan datang. Tempatnya keren, suasananya pasti luar biasa. Kau harus datang."
Aslan tertawa pelan. "Kau tahu saja caranya mengundang, Sophie. Tapi aku sedang tidak terlalu berminat..."
"Ayolah, Aslan!" potong Sophie cepat, suaranya semakin membuai dan membujuk. "Jangan bilang kau mau mengurung diri di kamar sepanjang malam hanya karena gadismu pergi sebentar? Hidup harus tetap berjalan, kan? Lagipula, Argon, Steven, dan Zayn juga sudah aku hubungi, mereka semua akan datang. Kalau kau tidak datang, pesta ini pasti akan kehilangan daya tarik utamanya. Kau tahu, banyak orang yang menantikan kehadiranmu. Hanya sebentar, datanglah bersenang-senang, lepaskan penat. Bagaimana?"
Sophie terus berbicara, menggunakan pesonanya dan alasan persahabatan untuk melunakkan penolakan Aslan. Ia tahu kelemahan Aslan; pria itu tidak mudah menolak jika teman-teman dekatnya sudah terlibat. Akhirnya, setelah beberapa menit dibujuk, Aslan menghela napas panjang dan tersenyum miring.
"Baiklah, kau menang. Aku akan datang. Tapi ingat, hanya sebentar," jawab Aslan, meskipun di dalam hatinya sudah muncul ide nakal yang mulai bermekaran.
***********
Malam harinya, klub malam L'Étoile di pusat kota Paris bergemuruh dengan musik yang memukau dan cahaya lampu warna-warni yang menari-nari. Suasana di sana sangat hidup, penuh dengan tawa, percakapan, dan aroma minuman beralkhal. Saat Aslan melangkah masuk dengan gaya santai namun memancarkan aura karismatik yang kuat, perhatian banyak orang langsung tertuju padanya. Ia mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, dipadukan dengan celana bahan yang pas di badan, membuatnya tampak tak hanya tampan, tapi juga memancarkan pesona yang sulit diabaikan.
Di sudut VIP yang sudah dipesan, Sophie sudah menunggu bersama dengan Argon, Steven, dan Zayn. Keempat sahabat itu menyambutnya dengan sorak sorai dan tepukan di bahu.
"Akhirnya sang pangeran datang!" seru Steven sambil menyodorkan gelas minuman. "Kami pikir kau sudah berubah menjadi pria rumahan sekarang, Aslan."
Aslan tertawa dan menerima gelas itu. "Jangan berlebihan, Steven. Aku masih orang yang sama."
Namun, pesona Aslan tidak hanya menarik perhatian teman-temannya. Tak lama setelah ia duduk, beberapa gadis yang tampaknya juga tamu undangan mulai mendekat. Mereka cantik, berpakaian modis, dan sangat berani. Salah satu dari mereka, dengan rambut pirang bergelombang, sengaja duduk sangat dekat hingga bahunya bersentuhan dengan bahu Aslan.
"Kau pasti Aslan, kan? Aku sering mendengar tentangmu," bisik gadis itu dengan suara lembut, matanya menatap Aslan dengan makna tersirat. Tanpa banyak basa-basi, gadis itu bahkan berani mendekatkan wajahnya, seolah berniat mencium pipi atau bahkan bibir Aslan sebagai sapaan.
Aslan dengan sigap memiringkan kepala dan sedikit mundur, membuat usaha gadis itu gagal. Ia tersenyum sopan namun dingin, memberikan jarak yang jelas. "Maaf, Nona. Tolong beri ruang."
Gadis itu sedikit terkejut dan malu, namun belum menyerah. Teman-temannya juga ikut mendekat, mencoba menawarkan minuman atau menyentuh lengan Aslan, berusaha mencari perhatian. Namun, setiap kali mereka berusaha terlalu dekat, Aslan selalu dengan cerdik dan tegas menolak. Gerakannya halus namun tegas, pesannya jelas: ia tidak tertarik. Bahkan ketika salah satu gadis berusaha memeluk lengannya, Aslan dengan lembut namun kuat melepaskan pegangan itu.
"Maaf, aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai. Jadi, tolong maafkan aku jika aku tidak bisa membalas perhatian kalian," ucap Aslan akhirnya dengan nada tegas yang membuat para gadis itu sadar diri dan mundur dengan kecewa.
Teman-temannya yang melihat adegan itu hanya tertawa dan menggelengkan kepala, menyadari bahwa sejak bersama Alana, hati Aslan benar-benar terkunci rapat.
Melihat kesempatan saat suasana sedikit tenang, Aslan menyandarkan punggungnya ke kursi, mengambil telepon genggamnya, dan jari-jarinya dengan sengaja menekan nomor Alana. Ia tahu ini adalah permainan yang berisiko, tapi ia ingin melihat seberapa besar rasa cinta dan juga rasa cemburu gadis itu padanya.
Di sisi lain, di kediaman utama keluarga di Lyon, Alana sudah berbaring di ranjang empuknya. Malam sudah larut, dan ia baru saja selesai membersihkan diri, bersiap untuk tidur. Saat melihat nama pemanggil di layar, hatinya berdebar—campuran antara rindu dan firasat yang tidak enak.
"Halo, Aslan..." jawab Alana, suaranya berusaha terdengar biasa saja, seolah ia tidak sedang memikirkan pria itu setiap detik.
"Hai, Sayang. Apa kau sudah tidur?" suara Aslan terdengar santai, namun di balik itu ada nada menggoda. Lalu, seolah tidak sengaja, ia menambahkan, "Aku sedang di sebuah klub malam di Paris sekarang. Suasananya sangat ramai. Banyak orang, dan... banyak juga gadis-gadis cantik yang perhatian sekali padaku."
Aslan sengaja membiarkan suara musik keras di latar belakang terdengar jelas melalui sambungan telepon. Ia bahkan sengaja tertawa saat ada seseorang yang memanggil namanya di kejauhan.
"Baru saja ada yang berusaha menciumku, tahu? Tapi tenang saja, aku menolaknya. Tapi kau tahu, pesonaku memang sulit diabaikan," ucap Aslan dengan nada bercanda yang jelas-jelas bertujuan untuk memancing reaksi.
Alana yang mendengar itu merasakan dadanya sesak seketika. Bayangan Aslan berada di tempat yang bising, dikelilingi wanita-wanita lain, membuat darahnya seolah mendidih. Hatinya terasa panas, cemburu merambat cepat ke seluruh tubuhnya. Ia ingin marah, ingin berteriak menanyakan mengapa pria itu pergi ke tempat seperti itu, tapi ia berusaha menahannya.
"Oh, ya? Syukurlah kalau kau bisa bersenang-senang," jawab Alana, suaranya bergetar sedikit meskipun ia berusaha membuatnya terdengar datar. "Tentu saja kau terkenal, Aslan. Aku tidak heran." Namun, di balik layar telepon, wajahnya mengerut, matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar dengan perasaan kecewa yang bercampur amarah. Ia merasa seolah-olah perpisahan tadi pagi yang penuh makna itu hanya dirasakan olehnya sendiri.
Merasakan nada suara Alana yang berubah dan keheningan singkat di seberang sana, senyum di bibir Aslan semakin lebar. Ia tahu gadis itu pasti sedang marah dan cemburu, dan anehnya, itu justru membuatnya merasa bahwa ikatan di antara mereka semakin kuat. Tapi ia belum berniat berhenti.
"Kenapa suaramu begitu, Sayang? Jangan-jangan... kau cemburu ya?" goda Aslan lagi, suaranya rendah dan memikat. "Kalau kau cemburu, katakan saja. Atau mungkin kau ingin tahu, gadis yang tadi itu rambutnya pirang dan matanya biru, sangat anggun. Tapi ya sudahlah, bagiku tidak ada yang sebanding denganmu... meskipun sekarang kau jauh di sana dan aku di sini dikelilingi kesempatan."
"Aslan!" seru Alana tak kuasa menahan lagi, meskipun ia segera menutup mulutnya, sadar bahwa suaranya terlalu tinggi. "Sudah larut malam. Aku mau tidur. Selamat bersenang-senang."
Tepat sebelum sambungan diputus dengan kasar oleh Alana, Aslan masih sempat tertawa puas. Ia meletakkan teleponnya kembali ke saku, matanya berkilat penuh permainan. Ia tahu ia sudah berhasil membuat hati gadis itu terbakar, dan ia juga tahu bahwa setiap rasa cemburu itu hanyalah bukti betapa besar cinta Alana padanya—sama besarnya dengan perasaan yang ia miliki terhadap gadis itu.