Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Tamparan Amara yang membekas di pipi Tobias seharusnya menjadi lonceng peringatan bagi akal sehatnya, namun bagi pria seperti Tobias Larsen, itu justru menjadi bensin yang menyiram api arogansinya. Alih-alih tersadar, kegelapan di matanya justru semakin pekat, terbakar oleh penghinaan dan rasa cemburu yang tak masuk akal.
Di dalam kesunyian Rolls-Royce yang mencekam, Tobias menatap Amara dengan tatapan yang mampu menguliti nyawa. Ia terbayang kemesraan Amara dengan pria pirang di hotel tadi—tawa yang belum pernah ia dengar, pelukan yang tampak begitu alami. Hati Tobias mendidih. Sejak kapan wanita yang memujanya seperti tuhan ini memiliki keberanian untuk berpaling? Apakah cinta yang Amara agungkan selama enam tahun ini hanyalah topeng murahan?
Tentu saja itu akting, pikir Tobias tajam. Namun, jika ia tak peduli, mengapa jantungnya terasa diremas? Mengapa egonya terasa tercabik melihat Amara bebas? Sebelum logika sempat melerai, Tobias telah menerjang. Ia merenggut pergelangan tangan Amara, memaksanya mendekat, dan kembali menghujamkan bibirnya dengan brutal.
Kali ini, jemarinya yang gemetar oleh amarah mulai menanggalkan kancing kemeja Amara dengan kasar, menyingkap bra renda putih yang membungkus keindahan yang selama ini ia anggap miliknya seorang.
"Apakah kau begitu haus akan uang hingga menjual tubuhmu pada sembarang orang?" desis Tobias, menatap Amara dengan kebencian yang murni. "Kau takut miskin setelah perceraian ini, hah? Kau butuh sugar daddy untuk membiayai hidupmu? Baiklah."
Dengan gerakan menghina, ia melemparkan sebuah black card ke arah Amara. "Dua miliar untuk satu malam. Itu harga tertinggi yang bisa kau dapatkan di kota ini."
Tobias kembali menyerang bibir Amara, lidahnya memaksa masuk sementara tangannya meremas dada wanita itu dengan kekuatan yang menyakitkan. Ia ingin menandai Amara kembali, ingin mengingatkannya siapa pemiliknya. Namun, sebuah rasa sakit yang tajam meledak di bahu kanannya. Amara menggigitnya sekuat tenaga hingga rasa anyir darah memenuhi mulutnya.
"Berhenti bersikap sombong, Tobias!" Amara berteriak, suaranya mengandung racun yang membekukan darah. Ia mendorong Tobias hingga pria itu terjerembap. Amara memungut kartu hitam itu dan melemparkannya kembali ke wajah Tobias dengan tatapan jijik. "Aku lebih baik mati daripada menyentuh uang kotormu."
"Tapi kau lebih memilih menjual diri pada pria asing itu?" tanya Tobias dingin, tanpa rasa sesal sedikit pun.
"Itu bukan urusanmu lagi," sahut Amara sambil merapikan pakaiannya yang berantakan. Ia menyeka bibirnya seolah baru saja menyentuh sesuatu yang beracun. "Aku tidak pernah mencampuri urusanmu dengan Celestine, jadi tutup mulutmu. Atau, aku akan memastikan karier modeling gundik kesayanganmu itu hancur dalam semalam."
Untuk pertama kalinya, Tobias merasa ciut. Keberanian yang terpancar dari mata Amara bukan lagi gertakan, melainkan janji kematian.
"Apa yang kau inginkan, Amara?" tanya Tobias dengan suara yang tiba-tiba serak.
"Perceraian." Jawabannya tajam, tanpa ragu. "Tanda tangani surat itu, dan biarkan aku pergi. Kau bisa kembali ke pelukan gundikmu, dan aku akan melanjutkan hidupku. Itulah satu-satunya jalan keluar."
Amara menggedor jendela, dan begitu pintu terbuka, ia melangkah keluar tanpa menoleh lagi. "Aku tidak akan mundur, Tobias. Aku akan mendapatkan kebebasanku, dengan atau tanpa persetujuanmu."
Kepergian Amara meninggalkan lubang kosong di dada Tobias. Pria itu kembali ke kediamannya dengan pikiran yang semrawut. Namun, saat ia melangkah melewati ambang pintu rumah mewahnya, segalanya terasa asing. Sofa krem itu, vas bunga mahal, hingga karpet sutra—semuanya masih di tempatnya, namun jiwanya telah hilang.
Ia berlari ke lantai atas, dan saat matanya menatap lemari pakaian yang kosong melompong, seluruh tubuhnya membeku. Rumah itu terasa hampa. Sepuluh kamar tidur, kolam renang, dan kemewahan yang dulu ia banggakan kini terasa seperti makam yang dingin.
Selama ini, Amara-lah yang menghidupkan dinding-dinding ini. Senyumnya, kehangatan air mandi yang ia siapkan, hingga aroma parfumnya yang memikat adalah nyawa dari rumah ini. Tobias selalu menganggapnya sebagai barang sekali pakai, yakin bahwa cinta di mata Amara takkan pernah pudar. Namun hari ini, ia menyadari betapa salahnya dia. Cinta itu telah mati, dan ia sendiri yang membunuhnya.
Dengan tangan gemetar, Tobias menuangkan vodka ke gelasnya. Satu, dua, tiga gelas ia tenggak demi menghapus bayangan Amara, namun alkohol justru membawanya kembali ke masa lalu. Ia ingat betapa malunya Amara di malam pernikahan mereka. Ia ingat kelembutan jemari Amara saat merawatnya saat ia sakit maag, mengabaikan kesehatannya sendiri demi Tobias.
Ia ingat rasa bibir Amara yang manis, cara tubuh wanita itu melengkung pas di bawah dekapannya. Pikiran bahwa Amara akan memberikan semua kelembutan itu pada pria lain membuat Tobias didera cemburu yang luar biasa. Mengapa aku begitu membencinya? Mengapa aku tidak rela dia disentuh orang lain?
Dalam dorongan irasional, ia merogoh ponselnya. Ia ingin menelepon Amara, ingin mendengar suara wanita itu meskipun hanya untuk bertengkar. Namun, tepat saat ia hendak menekan nama Amara, layar ponselnya menyala.
Bukan Amara. Itu adalah Celestine. Dan untuk pertama kalinya, nama itu tidak lagi memberikan ketenangan bagi Tobias.