AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 30
Beberapa lama kemudian sampailah Wira di sebuah rumah sakit tipe A di pusat kota. Dia turun dari mobil. Hendra sudah menunggunya di lobi rumah sakit.
"Bos," Hendra menghampiri Wira dengan wajah khawatir. Wira tidak mengatakan apapun hingga mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan psikolog.
"Kau kembalilah ke kantor. Handle meeting hari ini. Besok pagi jemput aku di mansion."
Setelah mengatakan itu Wira pun masuk ke ruangan karena psikolog sudah menunggu.
🏵️
Hari terakhir KKN.
Audrey dan teman-temannya sudah sekesai menjalani KKN mereka selama satu bulan penuh. Hari ini mereka akan pamit pada warga desa untuk melanjutkan perkuliahan mereka di kampus.
James membantu Lula memasukkan koper nya ke dalam mobil. Sementara Dean pun memasukkan koper miliknya ke dalam mobil James. Maklum motor Dean bukan motor bebek yang bisa mengangkut banyak barang.
"Audrey, mau bareng nggak ?" tanya James, "Suami lo belum dateng udah jam segini." James melirik ke jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan hampir jam dua belas siang. Sedangkan teman-teman yang lain sudah pamit dari satu jam yang lalu.
"Kalian duluan aja deh. Kak Wira udah janji mau jemput. Mungkin dia masih di jalan." Ucap Audrey yang sebenarnya sedikit cemas.
"Beneran, Drey ?" tanya Lula meyakinkan.
"Iya, bener. Udah sana. Kalian balik, nanti keburu sore."
Dean masih ragu meninggalkan Audrey. "aku temenin sebentar lagi ya, Drey ?!" Kata Dean dengan suara lembut.
"eh, nggak usah Ian. Disini masih ada Pak RT sama warga yang lain. Pak Lurah juga masih ada tuh.." Tunjuk Audrey pada Pak Lurah yang sedang mengobrol dengan warga.
Akhirnya Dean, James dan Lula pun meninggalkan Audrey.
Selang satu jam Audrey menunggu, akhirnya mobil Wira memasuki halaman rumah Pak RT. Tadi Audrey sempat berkirim pesan kalau dia menunggu dirumah Pak RT.
Audrey bangun dari duduknya, senyum nya merekah menyambut kedatangan Wira.
Tiba-tiba senyum Audrey memudar ketika ada seseorang yang turun dari kursi penumpang bagian depan.
Tatapan Audrey beralih, dari Wira ke seseorang itu.
Audrey merasa lidahnya mendadak kelu.
"Maaf aku terlambat, tadi jalanan sangat macet." Kata Wira dengan nada datar yang justru terasa menusuk jantung.
Audrey hanya berdiri mematung. Di dalam kepalanya berbagai pertanyaan dan rasa curiga mulai menghantam.
"Ayo," Wira hendak meraih pegangan koper Audrey, namun dengan cepat Audrey menariknya mundur.
"Kenapa Kakak datang bersama dia ?" tanya Audrey dengan suara dingin menuntut penjelasan.
Wira menoleh ke arah yang ditunjuk Audrey dengan matanya.
"Oh. Mulai hari ini Shena bekerja di perusahaan. Ayah yang memintanya. Dia akan belajar mengelola perusahaan karena Ayah akan menempatkannya di Surabaya." Dengan entengnya Wira menjelaskan itu seolah tidak berarti apa-apa bagi Audrey.
"Bukan itu pertanyaan ku. Kenapa kakak datang bersama dia ?" Audrey mengulangi pertanyaan nya lagi.
"Setelah mengantarmu pulang ke mansion, aku dan Shena akan langsung mengecek proyek yang ada di Jalan Soedirman. Aku tidak mau membuang banyak waktu, pekerjaan ku masih banyak."
Audrey tersenyum tipis. Sangat tipis hingga lebih mirip sebuah garis luka yang dipaksakan. Matanya berkaca-kaca menatap Wira, seolah Wira adalah orang asing yang baru saja menusuk jantung nya berkali-kali.
Gadis itu mengalihkan pandangannya pada genggaman di pegangan koper.
"Ayo," Wira akhirnya berhasil meraih gagang koper. Audrey mengikuti Wira dengan langkah gontai.
Tak lupa Wira berpamitan pada warga, terutama pada Pak RT.
Di mobil Audrey memilih untuk duduk di belakang. Meski Wira memaksanya agar duduk di depan, Audrey tidak mau. Dia menutup kedua telinganya dengan earphone agar tidak mendengar percakapan antara Wira dan Shena.
🏵️
POV Shena..
Namaku Shena Isla Bimasena. Meksi dibelakang nama ku terselip nama besar Bimasena, tapi di dalam tubuhku tidak mengalir darah Bimasena.
Aku adalah anak tiri dikeluarga Bimasena.
Sejak pertama kali masuk ke Mansion mewah milik Ayah tiriku, aku sudah berjanji pada diri sendiri 'kelak mansion ini akan menjadi milikku'.
Ya. Sedari kecil aku memang sangat ambisius. Jika aku ingin, itu artinya aku harus mendapatkan meski harus 'bertaruh nyawa' sekalipun.
Selain Mansion ada satu hal lagi yang sangat aku inginkan. Yaitu Kak Wira.
Kalian tidak salah. Aku memang sangat menginginkan nya. Aku sudah tertarik pada Kakak tiriku itu sejak pertama bertemu.
Dia tampan dan berkarisma. Dia dingin tapi hangat. Dia laki-laki pertama yang aku inginkan dalam hidupku.
Tapi hatiku remuk ketika Ayah mengumumkan akan menjodohkan Kak Wira dengan putri dari teman nya.
Aku hancur. Hingga satu malam ketika Kak Wira menginap di mansion, aku punya rencana untuk menjebaknya. Aku akan datang ke kamar Kak Wira dan berbaring di kasur yang sama dalam keadaan tanpa busana. Aku yakin jika sampai keluarga tau, mereka akan membatalkan perjodohan dan akhirnya akulah yang akan menjadi mempelai wanita untuk Kak Wira-ku tersayang. Lagi pula kami hanya saudara tiri, tidak masalah jika pada akhirnya kami menikah, bukan ?!
Tapi sayangnya rencana ku gagal total, meski aku sudah memasukkan obat tidur di minumannya, ternyata Kak Wira tidak pernah lupa untuk mengunci kamar nya.
Terhitung sudah dua kali aku mencoba nya, pertama dengan obat tidur, dan kedua dengan obat perangsang. Dan keduanya gagal karena alasan yang sama. Pintu kamar Kak Wira di kunci dari dalam. Semua kunci cadangan Mansion ada di ruang kerja Ayah Bimasena dan aku tidak mungkin memintanya tanpa alasan yang jelas.
Tapi hari ini, setelah semalam Ayah memintaku untuk berhenti bermain-main dan mulai fokus mempelajari bisnis, aku langsung menerima dengan syarat Kak Wira lah yang menjadi tutorku.
Ayah langsung setuju tanpa curiga sedikitpun. Dan pagi ini Ayah memanggil Kak Wira ke ruang kerjanya untuk memberitahukan perihal rencana tersebut. Kak Wira pun bersedia tanpa drama penolakan yang sempat aku bayangkan sebelumnya.
Hari ini aku ke kantor bersama Kak Wira. Duduk berdua di kursi belakang yang dikendarai oleh Hendra, asistennya. Ini adalah hari yang paling membahagiakan bagiku.
Aku berusaha untuk tetap tenang tapi degup jantungku makin tak karuan. Aku sungguh tak bisa berkonsentrasi bahkan sekedar menikmati perjalanan menuju kantor.
Sampai di kantor, Kak Wira langsung mengajariku ini dan itu. Meski tidak bisa fokus karena aroma parfum Kak Wira yang memabukan, aku tetap berusaha sebaik mungkin di depan pria tampan tersebut.
Sampai di jam 9 pagi ketika break time, Kak Wira mengatakan harus menjemput gadis menyebalkan itu di posko KKN nya.
Dengan perasaan dongkol yang coba aku tutupi, aku pun menawarkan diri untuk ikut. Kebetulan kata Hendra, Kak Wira memiliki satu jadwal untuk mengecek proyek yang baru bangun.
Jalanan yang macet membuat kami sampai setu jam lebih lama. Dan itu sangat menguntungkan bagiku. Meski tiap diajak bicara jawaban Kak Wira selalu irit, aku tidak perduli. Yang penting seharian ini aku bersamanya.
Setelah sampai di rumah Pak RT yang tidak asing lagi bagi ku, aku melihat wajah 'kakak iparku' berubah drastis, dan aku puas, sangat puas. Aku tau, kali ini aku menang. Dan lihat saja nanti, aku tidak akan menyerah untuk mengambil hati Kak Wira-ku.