NovelToon NovelToon
Pelakor Berkedok Sahabat

Pelakor Berkedok Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Gusmon

Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.


Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.


Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Keadilan Bagi Erian

Situasi kini berubah menjadi perlombaan dengan waktu yang sangat mematikan. Di saat Erian dan Clarissa masih terbuai dalam kepulan asap rokok di kamar hotel, di tempat lain, "ular" yang dikhawatirkan Clarissa mulai menunjukkan bisanya.

Stefani, yang tadi siang berpura-pura masuk ke kamar setelah menyela pembicaraan, ternyata tidak benar-benar tidur. Ia menempelkan telinganya di balik pintu kayu yang tebal, menyerap setiap kata yang diucapkan Clarissa mengenai temuan bukti 70% kesucian Erian. Begitu Clarissa pergi, Stefani segera mengunci pintu kamarnya dan mengambil ponsel cadangan yang ia sembunyikan.

Dengan tangan gemetar namun penuh intrik, ia mendial sebuah nomor.

"Halo, Marlon? Kita punya masalah besar," bisik Stefani dengan nada mendesak. "Wanita bule itu... si Clarissa, dia ke sini. Dia bilang dia sudah menemukan bukti kalau Erian dijebak. Dia bahkan bawa tim IT buat melacak jejak digitalmu. Kalau kamu nggak gerak cepat, besok pagi namamu bisa jadi target utama audit!"

Di ujung telepon, Marlon yang sedang menyesap wiski langsung tersedak. Wajahnya yang semula tenang berubah menjadi pucat pasi, lalu memerah karena amarah yang meledak.

"Sialan! Bagaimana bisa Clarissa secepat itu?!" geram Marlon. "Oke, Stef, tetap pantau Nadya. Jangan biarkan dia bicara lebih banyak dengan Clarissa atau Erian."

Begitu telepon ditutup, Marlon tidak membuang waktu satu detik pun. Ia segera menghubungi asisten IT pribadinya, seorang peretas bayaran yang selama ini membantunya menyisipkan data palsu ke akun Erian.

"Bangun! Sekarang juga!" bentak Marlon lewat telepon. "Masuk ke server pusat. Hapus semua log aktivitas, hapus jejak remote access, dan hancurkan semua back-up yang berhubungan dengan transaksi bulan ini. Aku mau besok pagi, tim IT Clarissa hanya akan menemukan jalan buntu atau data yang sudah hancur total! Lakukan sekarang atau kita berdua masuk penjara!"

Marlon berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya yang mewah, napasnya memburu. Ia tahu, jika Clarissa berhasil membawa bukti itu ke meja direksi, semua rencana besarnya untuk menguasai perusahaan dan mendapatkan Nadya akan hancur lebur.

Pagi itu, suasana di departemen keuangan yang biasanya tenang berubah menjadi tegang. Clarissa baru saja sampai di kantor dengan segelas kopi hitam di tangannya saat Bimo memberikan isyarat mendesak dari kubikelnya. Wajah Bimo tampak pucat, matanya merah karena begadang memantau pergerakan data di server pusat.

"Boss, sini Boss... lihat ini. Kayaknya ada yang mau main-main sama kita," ujar Bimo sambil menunjuk rentetan barisan kode yang kosong di monitornya.

Clarissa meletakkan kopinya, matanya yang biru menyipit tajam. "Apa maksudmu, Bim? Mana data jejak digital yang kemarin kita temukan?"

"Itu masalahnya, Boss. Seluruh riwayat log activity semalam dihapus langsung dari pusat server. Benar-benar canggih nih manusia, cara hapusnya bersih banget, pakai protokol enkripsi tingkat tinggi. Sampai aku nggak bisa melacak lagi dari mana asal aksesnya. Buntu, Boss. Kita kehilangan jejak pelaku aslinya," terang Bimo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Namun, Bimo kemudian menunjukkan tab laporan keuangan yang lain. "Tapi ada hikmahnya, Boss. Secara ajaib, laporan keuangan ini jadi 'normal' lagi seperti sedia kala. Aliran dana yang tadinya raib dan dituduhkan ke Mas Erian, tiba-tiba sudah balik ke akun perusahaan. Mas Erian kini bebas dari tuduhan korupsi karena objek perkaranya... hilang. Uangnya kembali utuh."

Clarissa terdiam sejenak. Otaknya yang jenius berputar cepat. Jika uang itu kembali, artinya si pelaku ketakutan dan mencoba menghilangkan barang bukti dengan cara yang sangat ekstrem. Ini bukan sekadar kesalahan teknis, ini adalah sabotase terorganisir.

BRAKK!

Clarissa menggebrak meja kerja Bimo dengan keras sampai asisten IT itu terlonjak kaget dari kursinya. Beberapa staf lain di ruangan itu sempat menoleh dengan wajah pucat.

"Brengsek, Bim! Ada yang mau main-main sama kita!" geram Clarissa. Suaranya rendah namun penuh amarah yang tertahan.

"Maksud Mbak Clarissa gimana? Kan Mas Erian sudah aman?" tanya Bimo bingung.

"Memang Erian aman dari tuduhan korupsi, tapi kita kehilangan kesempatan untuk menangkap siapa bajingan di balik ini semua!" Clarissa mengepalkan tangannya. "Orang ini punya akses ke server inti kita. Dia bisa masuk, merusak data, memfitnah orang, lalu menghapus jejak seolah-olah dia hantu. Ini berarti ada orang dalam yang punya kuasa besar atau punya peretas bayaran yang sangat mahal."

Clarissa mondar-mandir di depan meja Bimo. Ia tidak menyebut nama siapa pun, namun ia tahu bahwa musuhnya kali ini bukan orang sembarangan. Seseorang di dalam perusahaan ini—atau yang berhubungan dekat dengan mereka—sedang melakukan permainan catur yang sangat berbahaya.

"Kita memang menang satu langkah karena Erian bebas, tapi kita kalah dalam perang besar karena pelaku aslinya sekarang sedang tertawa di luar sana sambil melihat kita kebingungan," gumam Clarissa sambil menatap tajam ke arah jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

Berita mengenai bersihnya nama Erian tersebar secepat kilat di koridor kantor. Pagi itu, tim audit memanggil Erian kembali ke ruang sidang utama untuk memberikan keputusan final. Suasana kali ini jauh berbeda; tidak ada lagi tatapan menuduh atau nada bicara yang mengintimidasi.

Marlon, dengan wajah yang diset sedemikian rupa agar tampak prihatin namun suportif, meminta izin untuk mendampingi Erian dalam pertemuan tersebut. Tim audit pun mengizinkannya, menganggap Marlon sebagai rekan kerja yang setia.

Di dalam ruangan, ketua tim audit berdeham sebelum membuka map laporan. "Saudara Erian, berdasarkan verifikasi data terakhir pagi ini, kami menemukan bahwa seluruh tuduhan mengenai penyalahgunaan dana tidak terbukti. Terjadi sinkronisasi ulang pada sistem, dan seluruh aliran dana perusahaan dinyatakan normal dan utuh."

Ia melanjutkan dengan nada yang lebih ringan, "Maka dari itu, kami nyatakan Anda bebas dari segala tuduhan. Akses Anda kepada sistem akan segera dikembalikan hari ini juga, dan user login Anda sudah bisa digunakan kembali. Masa skors Anda resmi dicabut."

Marlon langsung menepuk pundak Erian dengan akrab, memasang senyum lebar yang tampak begitu tulus bagi mata orang awam. "Syukurlah, Mas Erian! Aku benar-benar ikut senang. Doaku terjawab... kita akhirnya bisa kerja bareng lagi seperti dulu," ucap Marlon dengan nada penuh kelegaan palsu.

Erian hanya mengangguk pelan, memberikan senyum tipis. Pikirannya masih berkecamuk antara rasa syukur dan kecurigaan yang ditanamkan Clarissa semalam. Namun untuk saat ini, yang ia inginkan hanyalah satu hal: pulang.

Sore harinya, Erian melangkahkan kaki memasuki rumahnya. Di ruang tamu, Nadya sudah menunggu. Ia termangu, berdiri mematung dengan perasaan yang campur aduk. Ia senang suaminya kembali dan bebas dari masalah hukum, namun batinnya masih terombang-ambing oleh keraguan yang entah datang dari mana.

Namun, saat melihat wajah lelah Erian, kasih sayang Nadya sebagai seorang istri mengalahkan segalanya. Ia memutuskan untuk mengabaikan semua kecemasan yang sempat menghantui pikirannya. Dengan langkah pelan, ia mendekat ke arah suaminya.

Dengan penuh takzim, Nadya meraih tangan kanan Erian dan mencium punggung tangannya dengan khidmat—sebuah tanda hormat dan bakti yang selalu ia lakukan.

"Mas....." ucap Nadya lirih, matanya berkaca-kaca menatap Erian.

Erian menghela napas panjang, rasa bersalah kembali menyengat dadanya saat melihat ketulusan istrinya, namun ia berusaha tetap tenang dan membalas tatapan itu.

"Nad...." ucap Erian lembut sambil mengusap puncak kepala istrinya.

Di balik tembok ruang makan, Stefani memperhatikan pemandangan itu dengan mata yang menyipit. Rencananya untuk melihat Erian hancur di tangan tim audit gagal total, namun ia tahu, permainan ini belum benar-benar berakhir selama ia masih tinggal di rumah itu.

1
katty
up
Ovha Selvia
Nadya bodohnya minta ampun wkwkwkwkw
Lee Mba Young
Kbanyakan istri sah ki mesti baik nya kbanyakan bodoh mudah di tipu. masukin wanita lain ke rumah pdhl itu TDK bnar menurut agama.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭
katty
lanjut
katty
/Shy/
katty
lanjut
Indi_Dedy77
nadya oon, suaminya CEO tp oon juga, jd ada lubang si ular bs masuk se enaknya. kan bs pake ancaman utk stefani biar keluar dr rumahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!