Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Rabu, 22 Mei 22:00 WIB
Parkiran RSUD Cidugal, Kuningan
Kabel itu bertahan tujuh menit.
Sakira yang hitung. Tujuh menit mereka berdiri di parkiran, napas membentuk uap tipis di udara dingin, mata tidak lepas dari pintu kaca yang terus bergetar dari dalam. Tujuh menit bayangan-bayangan itu mendorong, mundur, mendorong lagi teratur, sabar, seperti sesuatu yang tidak kenal lelah karena memang tidak bisa lelah.
Menit kedelapan, kabel itu putus.
Bukan pelan-pelan. Tiba-tiba satu bunyi keras seperti senar gitar yang ditarik terlalu kencang, lalu pintu kaca itu terbuka lebar dan menghantam dinding lobi dengan suara yang membangunkan beberapa lampu di gedung seberang.
"Lari!"
Sakira tidak tunggu untuk lihat siapa yang keluar duluan. Dia tarik lengan pasien perempuan paruh baya di sebelahnya dan berlari.
Di belakang mereka, suara kaki di atas aspal parkiran banyak, tidak teratur, tapi terus bergerak maju.
Mereka lari ke arah jalan utama di depan RS.
Afuz di depan, buka jalan. Pak Samsul di belakang, jaga yang paling lambat. Sakira di tengah, matanya terus hitung satu, dua, tiga, empat, lima, enam, Tujuh. Semua masih ada.
Di jalan utama, sepi. Lampu jalan kuning remang. Tidak ada kendaraan.
Sakira lihat ke kanan dan kiri. Jarak dari pintu RS ke jalan utama sekitar tiga puluh meter dan dari tiga puluh meter itu, sudah ada empat sosok yang keluar dari parkiran, berpencar ke berbagai arah.
Ke kiri, seorang penjual angkringan yang baru mau beres-beres gerobaknya berbalik ke arah suara dan tidak sempat berlari.
Sakira lihat itu. Perutnya terbalik.
"Afuz!" Sakira tunjuk gang sempit di seberang jalan. "Bawa mereka ke sana. Jangan berhenti."
"Dok mau ke mana"
"Ke Sana dulu!"
Sakira lari ke arah penjual angkringan itu.
Dia sudah terlambat untuk cegah gigitan tapi tidak terlambat untuk tarik orang itu menjauh sebelum yang kedua datang. Dia raih lengan bapak itu, tarik keras, dan mereka berdua berlari ke arah gang.
Bapak angkringan itu tidak nanya apa-apa. Mungkin karena napasnya tidak ada sisa untuk nanya, atau mungkin karena apa yang dia lihat dua detik lalu sudah jawab semua pertanyaan yang mungkin dia punya.
Di belakang mereka, sosok-sosok itu tidak mengejar dengan berlari.
Mereka berjalan.
Tapi jalannya tidak berhenti. Tidak melambat. Tidak terdistraksi oleh apapun selain arah yang sudah mereka tuju.
Gang itu sempit, hanya cukup untuk dua orang berdampingan. Dinding di kanan kiri tembok rumah warga yang sudah gelap semua jam hampir tiga pagi, semua orang tidur, tidak ada yang tau apa yang sedang terjadi di jalan utama di depan mereka.
Afuz dan 6 orang lainnya sudah di sana, bersandar di dinding, napas tersengal.
Sakira masuk ke gang dengan bapak angkringan di belakangnya. Delapan orang sekarang.
"Semua aman?"
Anggukan. Beberapa masih terlalu syok untuk bicara.
Sakira lirik ke mulut gang. Jalan utama di sana masih terlihat dan dari sini, mereka bisa lihat apa yang sedang terjadi.
Pintu RS yang terbuka lebar. Sosok-sosok yang terus keluar, satu per satu, berpencar tanpa arah yang jelas tapi dengan tujuan yang sangat jelas. Di ujung jalan, lampu motor menyala seseorang yang baru pulang kerja malam, tidak tahu apa yang sedang berjalan ke arahnya.
Motor itu berhenti.
Pengendaranya turun, bingung, lihat ke arah sosok yang berjalan mendekatinya."Pak? Bapak nggak apa-apa..."
Sakira pejamkan mata selama satu detik.
Afuz pegang lengannya. "Dok"
"Saya tau."
Dia tidak bisa selamatkan semua orang. Kenyataan itu menghantam dadanya dengan cara yang menyakitkan tapi harus diterima karena kalau dia tidak terima sekarang, dia akan membuat keputusan yang salah dan kehilangan delapan orang yang masih bisa diselamatkan.
"Kita perlu menjauh dari sini," kata Sakira pelan. "Lebih jauh dari jangkauan mereka. Terus bergerak sampai saya bilang berhenti."
"Ke mana, Dok?" tanya Pak Samsul.
Sakira sudah ambil ponselnya. Ketik pesan ke Dr. Wahyu: Pintu RS jebol. Mereka menyebar ke jalan. Kami di gang samping RS, delapan orang. Di mana kamu?
Balasan datang dalam sepuluh detik.
Belok kanan dari gang itu. Jalan terus 200 meter. Ada masjid di kiri jalan. Saya tunggu di sana.
Sakira tunjukkan layar ponsel ke Afuz.
Afuz baca, angguk.
"Oke," kata Sakira. "Kita jalan. Tidak berlari kecuali terpaksa supaya tidak bikin suara. Tetap dekat satu sama lain. Kalau ada yang ketinggalan, bilang langsung jangan tunggu sampai jauh."
Dia lihat satu per satu wajah di depannya Afuz yang masih tenang meski tangannya gemetar, Pak Samsul yang pegang tongkat satpam di tangannya, enam pasien dengan kondisi yang berbeda-beda, dan bapak angkringan yang masih belum ngerti sepenuhnya apa yang baru terjadi.
"Siap?"
Tidak ada yang bilang siap. Tapi tidak ada yang bilang tidak.
Cukup.
"Berangkat."
Dua ratus meter terasa sangat panjang jam segini.
Mereka jalan di sisi gang yang paling gelap, hindari lingkaran cahaya lampu jalan. Sakira di depan, mata dan telinga kerja bersamaan setiap suara langkah di luar gang, setiap bayangan yang bergerak di ujung jalan.
Setengah jalan, suara langkah berat terdengar dari mulut gang di belakang mereka.
"Lebih cepat," bisik Sakira.
Tidak ada yang protes.
Pasien dengan kaki digips Rafi, Sakira baru sempat tanya namanya sekarang mulai tertinggal. Sakira langsung geser ke belakang, pegang lengannya, bantu tahan bebannya.
"Saya bisa" Rafi mulai bilang.
"Saya tahu," kata Sakira. "Tapi lebih cepat kalau kita sama-sama."
Masjid itu terlihat dari ujung gang bangunan kecil, lampu teras menyala kuning, pintu pagarnya sedikit terbuka.
Di depan pagar, mobil Avanza putih terparkir. Seorang pria turun dari kursi pengemudi waktu melihat mereka mendekat.
Pria itu enam puluhan tahun. Kacamata tebal. Jaket lapangan yang terlalu besar untuk badannya. Matanya langsung hitung jumlah orang yang datang cepat, terlatih, seperti orang yang sudah lama terbiasa menilai situasi dalam hitungan detik.
Dr. Wahyu.
"Masuk semua," katanya tanpa basa-basi. "Cepat."
Sakira bantu masukkan semua orang ke dalam masjid delapan orang di ruang utama, Pak Samsul dan Afuz bantu tutup pintu pagar dari dalam.
Dr. Wahyu pegang lengan Sakira sebelum dia masuk.
"Ada yang kena?" tanyanya pelan.
Sakira geleng. "Saya periksa semua orang tadi. Tidak ada luka gigitan. Tapi serbuk"
"Saya tau soal spora." Wahyu potong. "Siapapun yang ada di lorong waktu kejadian perlu diperiksa ulang. Spora bisa masuk lewat selaput lendir, mata, luka terbuka sekecil apapun."
Sakira diam sebentar.
"Berapa lama sebelum gejalanya muncul?"
Wahyu menatapnya dengan cara yang tidak menjawab pertanyaan itu tapi justru mengkonfirmasi sesuatu yang lebih besar.
"Itu," kata Wahyu pelan, "yang dua belas tahun saya coba cari tahu."
Di kejauhan, dari arah RSUD Cidugal, suara alarm mobil mulai berbunyi satu per satu dipicu oleh sesuatu yang berjalan melalui parkiran tanpa tujuan selain terus bergerak maju.
Kota Kuningan masih tidur.
Tapi tidak akan lama lagi.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪