Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peletakan Batu Pertama
Kantor IL Architecture kini berubah menjadi pusat kesibukan yang luar biasa. Meja-meja draf penuh dengan cetak biru bangunan, contoh material ramah lingkungan, dan jadwal pertemuan dengan dinas terkait. Luna bersikeras untuk turun tangan langsung dalam setiap detail, mulai dari pemilihan jenis kayu untuk lantai hingga sistem penyaringan air.
"Luna, kau sudah tidak tidur dengan benar selama tiga hari," tegur Isaac sembari meletakkan segelas susu hangat di atas tumpukan dokumen izin mendirikan bangunan (IMB).
Luna hanya mendongak sekilas, matanya tampak sedikit lelah namun berkilat penuh semangat. "Izin dari dinas sosial baru saja keluar, tapi ada masalah dengan tata kota. Mereka bilang lahan di perbukitan itu masuk dalam zona hijau yang ketat. Aku sedang mencari celah hukum agar konsep bangunan ramah lingkungan kita bisa diterima sepenuhnya."
Isaac menghela napas, ia menarik kursi ke samping Luna. "Aku sudah bicara dengan Tuan Aris pagi tadi. Dia akan membantu memverifikasi bahwa proyek ini adalah proyek nirlaba untuk kepentingan publik. Tapi, ada tantangan lain... beberapa kontraktor besar menolak bekerja sama dengan kita begitu mendengar nama 'Waren' terlibat, meski itu hanya sebagai pewaris lahan."
Luna meletakkan penanya, ia menatap Isaac dengan serius. "Itulah kenapa kita tidak akan menggunakan kontraktor besar yang terikat dengan konsorsium lama. Aku ingin kita merekrut tenaga kerja lokal dan tukang-tukang bangunan yang jujur. Kita bangun ini dengan tangan-tangan yang tidak ternoda."
Proses pun berlanjut. Hari berikutnya, mereka berangkat kembali ke lahan perbukitan itu untuk melakukan pengukuran tanah secara manual. Luna mengenakan sepatu bot dan helm proyek, tampak sangat kontras dengan penampilannya yang biasanya formal.
Saat mereka sedang memasang patok pembatas, sebuah mobil sedan hitam berhenti di pinggir jalan setapak. Seorang pria paruh baya turun dengan wajah yang tidak bersahabat. Ia adalah Pak Broto, penguasa wilayah setempat yang dulu merupakan rekan bisnis kecil-kecilan Tuan Waren.
"Jadi, ini benar-benar akan dibangun panti asuhan?" tanya Pak Broto dengan nada meremehkan. "Kalian tahu, lahan ini punya nilai komersial yang tinggi. Jika dibangun resor atau vila mewah, keuntungannya akan berlipat ganda. Sayang sekali jika hanya untuk menampung anak-anak terlantar."
Luna berdiri tegak, menatap pria itu tanpa rasa takut. "Tanah ini bukan untuk dijual atau dijadikan mesin uang, Pak Broto. Tanah ini adalah penebusan dosa dan pemenuhan janji yang tertunda selama dua puluh tahun."
"Hati-hati, Nyonya muda," ujar Pak Broto sinis. "Membangun di daerah sini butuh 'persetujuan' lebih dari sekadar surat izin pemerintah. Warga sekitar bisa saja... merasa terganggu dengan keberadaan panti asuhan."
Setelah pria itu pergi, Isaac menggenggam pundak Luna. "Dia hanya mencoba menggertak untuk mendapatkan jatah preman atau komisi. Jangan biarkan dia merusak suasana hatimu."
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi ini, Isaac," jawab Luna mantap. "Jika mereka mencoba memprovokasi warga, maka kita akan mengundang warga ke sini. Kita akan tunjukkan bahwa yayasan ini juga akan membuka lapangan kerja bagi mereka."
Sore itu, di bawah langit yang mulai memerah, Luna dan Isaac melakukan peletakan batu pertama secara simbolis di titik di mana dulu Dendra ingin membangun ruang tamu utama. Tidak ada pesta mewah, hanya mereka berdua, Hendra, dan beberapa pekerja setia.
"Untuk Ayah," bisik Luna saat ia meletakkan batu pertama ke dalam galian tanah.
Isaac menyentuh tangan Luna yang kotor karena tanah. "Dan untuk masa depan yang kita bangun bersama."
Proses baru saja dimulai, dan mereka tahu tantangan nyata—baik dari segi konstruksi maupun gangguan dari orang-orang seperti Pak Broto—akan segera berdatangan. Namun bagi Luna, setiap butir keringat yang jatuh di tanah ini adalah bagian dari kesembuhannya.
Suasana di perbukitan itu mendadak riuh rendah. Suara deru mobil Pak Broto yang baru saja pergi digantikan oleh langkah kaki puluhan orang yang datang dari arah pemukiman di bawah bukit. Mereka adalah warga desa setempat—para petani dengan cangkul di bahu, ibu-ibu yang menggendong anak, serta beberapa pemuda yang menatap dengan penuh selidik.
Kehadiran orang asing yang melakukan aktivitas konstruksi di lahan yang selama puluhan tahun terbengkalai tentu memicu desas-desus. Mereka berdiri di perbatasan lahan, berbisik-bisik sembari menunjuk ke arah patok-patok yang baru saja ditanam oleh Isaac dan Luna.
Isaac meletakkan peralatannya, sementara Luna mengusap keringat di dahi dengan punggung tangannya. Ia melihat keraguan dan kecemasan di mata mereka. Tanpa menunggu situasi memanas, Luna melangkah maju dengan sikap yang anggun namun tetap rendah hati.
"Selamat sore, Bapak dan Ibu sekalian," sapa Luna dengan suara yang jernih dan tenang. Ia memberikan anggukan hormat yang tulus. "Mohon maaf jika kehadiran kami di sini mengusik ketenangan sore kalian."
Seorang pria tua yang tampaknya adalah sesepuh desa, melangkah maju. "Sore, Nyonya. Kami hanya penasaran. Lahan ini sudah lama mati. Sekarang tiba-tiba ada orang kota yang datang mematok tanah. Pak Broto tadi bilang akan ada proyek besar yang mengganggu ketentraman kami. Siapa sebenarnya kalian ini?"
Isaac kini berdiri di samping Luna, memberikan kesan perlindungan yang nyata namun tidak mengancam. "Nama saya Isaac, dan ini istri saya, Luna. Kami adalah arsitek yang akan bertanggung jawab atas pembangunan di lahan ini."
"Apa yang mau dibangun? Pabrik? Atau vila mewah yang akan menutup akses air kami?" tanya salah satu pemuda dengan nada curiga.
Luna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memancarkan kejujuran. "Bukan pabrik, apalagi vila eksklusif. Di sini, kami akan membangun 'The Dendra Foundation'. Ini adalah sebuah panti asuhan dan sekolah gratis bagi anak-anak yang membutuhkan."
Mendengar kata "panti asuhan" dan "sekolah gratis", bisik-bisik warga mulai berubah nada. Namun, Luna belum selesai.
"Kami menyadari bahwa kehadiran panti asuhan saja tidak cukup jika tidak membawa manfaat bagi warga asli di sini," lanjut Luna sembari menatap warga satu per satu. "Oleh karena itu, di dalam kompleks ini, kami juga akan membangun sebuah klinik kesehatan modern. Klinik ini akan dibuka untuk umum secara gratis bagi seluruh warga desa. Kami juga akan menyediakan lapangan pekerjaan bagi Bapak dan Ibu, baik dalam proses pembangunan maupun saat operasional sekolah nanti."
Warga tertegun. Penawaran klinik kesehatan dan lapangan kerja adalah hal yang sangat mereka butuhkan, mengingat fasilitas kesehatan terdekat jaraknya berjam-jam dari desa tersebut.
"Jadi, kami tidak perlu jauh-jauh ke kota untuk berobat?" tanya seorang ibu dengan mata berbinar.
"Benar, Ibu," jawab Isaac dengan ramah. "Kami ingin panti asuhan ini menjadi bagian dari desa ini, bukan gedung tertutup yang asing. Kami ingin tumbuh bersama kalian."
Tuan Aris, yang rupanya baru saja tiba dan berdiri di kejauhan memantau situasi, tersenyum bangga. Pendekatan Luna dan Isaac sangat tepat; mereka menghancurkan provokasi Pak Broto bukan dengan kekerasan, melainkan dengan merangkul kebutuhan masyarakat.
Sesepuh desa itu mengangguk-angguk perlahan, wajahnya yang keras mulai melunak. "Jika niat kalian memang mulia untuk anak yatim dan membantu warga kami, maka kami tidak punya alasan untuk menolak. Selamat datang di desa kami, Nak Isaac, Nak Luna. Semoga niat baik ini diberkahi."
Satu per satu warga mulai mendekat, bukan untuk memprotes, melainkan untuk bersalaman dan menawarkan bantuan tenaga. Di tengah kehangatan sambutan warga, Luna menatap Isaac. Ada rasa haru yang membuncah di dadanya. Provokasi Pak Broto telah gagal total, dan fondasi pertama mereka kini bukan lagi sekadar beton dan besi, melainkan dukungan tulus dari hati penduduk setempat.
Penduduk desa perlahan mulai membubarkan diri, langkah mereka yang tadinya penuh selidik kini berubah menjadi ringan dengan senyum ramah yang tersisa. Namun, di tengah kerumunan yang menyusut, seorang pria tua tetap bergeming. Ia melangkah tertatih dengan bantuan tongkat kayu jati yang ujungnya sudah mulai menipis karena usia. Pandangannya tidak lepas dari sosok Luna, seolah sedang mencoba menembus lapisan waktu.