Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Setelah merenung beberapa saat setelah menemui Dokter yang menangani Arden Maharana saat ini, ia lebih banyak menyendiri dan setelahnya ia memutuskan untuk kembali pulang lebih cepat dari yang diperkirakan.
meskipun semua pada bertanya tanya mengapa pulang lebih cepat tapi Arsen mengatakan alasan yang masuk akal membuat semua tak merasa curiga sedikitpun.
"Perusahaan lagi butuh gue, dan enggak bisa dinanti nanti, kasian kakek."
"Gue ikut pulang kalo gitu?."
"No, elo temenin aluna aja disini, masih bisa gue handle kok."
"Oke kalo gitu, mungkin hari Senin gue udah balik kok, Aluna juga enggak bisa libur lama juga bentar lagi kan kelulusan."
Arsen hanya mengangguk pelan, "Oke gue cabut, jaga Aluna,"
"Hati hati bro, ntar gue nyusul." Timpal Arden mereka saling memeluk dan menepok bahu dan berjabat ala mereka.
"Santai elo temenin mereka gantiin gue oke." sahut Arsen.
"Hmm pasti." Setelah berpamitan pada semua sahabatnya, kembali ia merenung lama disepanjang perjalanannya menuju Indonesia.
Terngiang ucapan dokter yang menangani kakak angkatnya saat itu. Sepertinya ada yang harus dia lakukan dengan cepat saat itu.
"Gue harus cepat kelarin urusan di indo, harus." tekad Arsen.
Di Jakarta. Lola ikut tidak tenang, saat mendengar kabar bahwa kakak Aluna kondisinya semakin kritis, ia masih terus berkirim kabar dengan Arden maupun dengan Aluna saat itu.
Selama di Singapura Arden merasakan perbedaan disaat dirinya tak bisa melihat dan tak bisa dekat dengan sosok Lola. Merasakan perhatian kecil yang ditujukan baik lola pada Arden Sanjaya maupun sebaliknya.
Keduanya makin menunjukkan perhatiannya masing masing meski keduanya masih belum mengutarakan isi hati masing masing.
Arden di Singapura pun menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit, menatap ke area luar yang masih banyak lalu lalang orang mondar mandir sibuk dengan aktivitasnya masing masing.
Pikiran yang penuh menggelayuti terus disetiap menit dan detiknya. "Gue harus gimana buat yakinin elo, La, kayaknya gue emang enggak bisa jauh dari elo La."
Perjalanan Arsen terasa lebih panjang dari biasanya, padahal ia sudah terbiasa menempuh perjalanan baik jarak dekat maupun jauh, tak perduli luar kota pulau atau luar negeri sekalipun.
Tapi kali ini benar benar pikirannya penuh dan tidak bisa jika tidak bekerja. Otaknya terbagi antara kondisi kakak angkatnya maupun perusahaan dan juga perasaannya pada Aluna.
Duduk di kursi pesawat, dengan sabuk terpasang rapi, ia menatap Luis ke depan tanpa benar benar melihat apapun. Suara pengumuman maupun langkah pramugari ataupun getaran mesin yang semakin terasa jauh dari pendengarannya saat itu.
Namun yang kini terdengar hanyalah ucapan dokter yang terus terngiang di telinganya bahwa kakak angkatnya sedang membutuhkan pertolongan dengan sesegera mungkin.
Arsen mengusap wajahnya kasar "Kenapa elo nggak cerita dari dulu sih,.Den, sampai separah ini kondisinya, coba aja elo dari dulu bilang mungkin kita sudah berobat dari dulu." Gumam Arsen pada dirinya sendiri.
Arden Maharana yang selalu terlihat kuat menjadi pelindung bagi dirinya dan juga Aluna namun ia tak menyangka dirinya yang kuat selalu menyimpan sesuatu yang besar itu sendirian tanpa diketahui Aluna maupun dirinya dan keluarganya. Dan untuk pertama kalinya dirinya seperti tidak dianggap sebagai seseorang sahabat apalagi keluarga.
DiSingapura. Arden masih berdiri ditempat yang sama tak lama ia mengeluarkan ponselnya, menatap layar ponsel beberapa detik lamanya. Melihat notifikasi pesan dari Lola, dan ia pun segera membacanya saat itu juga.
"Den, kamu sibuk ya?."
"Kagak, kenapa?."
"Gue dah denger dari Luna, gimana kondisi kak Arden sekarang?."
"Masih kritis La, tapi gue yakin dia kuat kok, kita do'akan saja sama sama biar dia bisa sembuh total."
"Hmm, pasti, disana kamu tidur dimana Den?."
"Di apartemennya Prasha."
"Owh oke, jangan lupa makan ya, elo.juga mesti jaga kesehatan juga jangan sampe sakit satu sakit semua."
"Hmm, thanks La."
"Elo sendiri gimana?, sudah makan belum?."
"Sudah barusan habis ngebaso sama sama si Zahra."
"Wii,.mantap, dirumah catur rame?, ada siapa saja?, kalo mereka pada mabok jangan ikut ikutan."
"Iyalah pasti tenang aja." keduanya terus berkirim pesan jari jemarinya begitu lihai menari diatas keyboard ponselnya masing masing, menghapus mengetik dan berulang kali melakukan hal yang sama dan endingnya pesan terkirim.
Seperti itulah saat keduanya berbalas pesan yang terkadang keduanya saling tersenyum tertawa bahkan tiba tiba berwajah serius. Orang yang melihat hanya geleng kepala melihat kelakuan keduanya.
keduanya nampak terdiam tanpa ada tema pembicaraan lagi tak ada pesan lagi, namin tak lama Arden mengirim pesan lagi "La."
"Iya kenapa?."
"Gue pulang nanti, gue mau ngobrol serius sama elo."
Degh!
"Jangan kabur ya La."
"Kalo gue kabur?."
"Ya gue cari elo sampe dapet."
"Haish."
Chat pun berakhir, Arden langsung memasukan ponselnya pada kantong hodienya dan tersenyum beberapa kali.
Prasha mengernyitkan dahinya heran, "Kenapa elo bro, happy amat?."
"Kagak, biasa aja."
"Bokis gila, emang gue kagak tau apa yak, tuh idung kembang kempis mulu sedari tadi mau senyum ya senyum aja Den, kagak usah ditahan, keliatan banget lagi kasmaran haha." ucap Prasha sambil menyantap menu makan siangnya saat itu.
"Kayaknya gue bakal lamar Lola setelah Arden sembuh Bro."
"Hah seriusan."
"Jiah gue dilangkahin dong."
"Nika tuh bukan kompetisi kali Bro."
"Iya sih hehe, okelah kalo gitu, gue tunggu kabar baiknya aja, kalo ada yang elo butuhkan elo bilang aja, gue bakal siap kapanpun."
"Elo siapin endorse dan ampau aja yang banyak haha."
"Haha dasar, tenang aja gue bakal siapin buket uang terpanjang uang tahun 75 wkwkw."
"Cih kagak laku atuh itu mah."
"Elo jual lagi ke kolektor wkwkw."
"Ogah, udah makaseh kalo gitu haha."
"Kalo mas Arden merit tenang aja nanti Luna kadoin akuarium yang gede mau?."
"Gue kagak suka ikan lunaa."
"Ah sudahlah bikin tepok jidat kalian pada,.. udah kalian mah duduk manis aja ga usah mikirin hadiah apapun buat gue sama Lola, yang penting datang udah cukup."
Keduanya pun tertawa sejenak melepaskan segala penat, meski tawa itu hanyalah sekejap. Setelahnya mereka harus bisa mempersiapkan mental mereka menghadapi kenyataan yang ada.
Di jakarta. Kembali Lola dibuat tidak bisa tidur dengan tenang, berbagai kejadian ulah Darto yang membuatnya elus dada, ditambah lagi harus mendadak dirinya bertemu dengan pria yang tidak dia inginkan.
"Apa!, Sekarang!." ucap Lola langsung panik.
Sementara Arsen, ia berjalan tegas menuju area perusahaan dengan stelan jas yang membuatnya nampak berwibawa.
"Kita meeting sekarang kek." ucap Arsen pada kakek Prasha saat dirinya sudah sampai di Kalimantan.
"Clara!, suruh semua para direksi ke ruang meeting sekarang!." titah Arsen dengan tegasnya.