NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 Masa Lalu yang Mulai Terkuak

Rabu malam, dua hari setelah insiden di sekolah, Arka udah balik ceria. Bahkan lebih ceria dari biasanya. Soalnya beberapa teman dari enrichment class mulai ngajak dia main bareng. Hal kecil yang mungkin buat anak lain biasa aja, tapi buat Arka? Ini kayak dapat hadiah ultah.

Reyhan duduk di ruang kerjanya di rumah. Laptop nyala, tapi matanya kosong ke layar. Sebenernya masih ada laporan yang harus diselesaikan, tapi pikirannya nggak bisa fokus. Terus kepikiran percakapan sama Arka kemarin. Tentang dibully. Tentang ngerasa beda. Tentang kesepian yang dia tau persis gimana rasanya.

Dia buka laci meja. Laci yang jarang banget dia buka, isinya debu dan kenangan. Dari dalam dia keluarin kotak kayu kecil, lalu buka pelan-pelan.

Foto-foto lama. Sertifikat olimpiade. Beberapa medali yang udah kusam. Dan satu foto yang bikin dadanya sesak tiap kali liat.

Foto dirinya umur sekitar tujuh tahun. Pake kemeja putih, celana pendek, megang piala olimpiade matematika. Wajahnya datar. Nggak senyum. Kayak lagi nunggu hukuman, bukan ngerayain kemenangan.

Aku ingat hari itu. Pikirannya muter balik. Aku menang. Juara satu tingkat nasional. Tapi nggak ada yang ngerayain. Ayah cuma bilang "bagus, lanjutkan." Ibu cuma bilang "jangan sombong." Nggak ada pelukan. Nggak ada "ayah bangga sama kamu." Nggak ada.

Dia liat foto itu lama, lalu buka ponsel. Foto Arka pas dapet sertifikat nilai sempurna. Di foto itu, Arka tersenyum lebar. Reyhan dan Alya memeluknya dari dua sisi. Wajah Arka bersinar. Bukan karena pialanya, tapi karena dia dikelilingi orang yang sayang dia.

Arka lebih beruntung dari aku. Reyhan senyum tipis. Dia punya orang tua yang ngerayain. Yang peluk dia. Yang bilang "kami bangga sama kamu."

Ketukan pintu.

"Rey, kamu masih kerja?" Alya masuk bawa dua cangkir teh hangat. Suaminya itu udah keliatan capek dari matanya.

"Udah selesai. Cuma lagi nostalgia." Reyhan nutup kotak kayu, tapi telat. Alya udah liat foto di tangannya.

"Itu kamu waktu kecil?" Alya duduk di sampingnya, naro teh di meja.

Reyhan ngangguk, kasih fotonya. "Iya. Waktu menang olimpiade matematika nasional."

Alya natap foto itu lama. "Kamu... serius banget ya. Nggak senyum sama sekali."

"Aku nggak punya alasan buat senyum." Suara Reyhan datar, tapi matanya sendu. "Menang itu ekspektasi, bukan pencapaian. Setidaknya menurut orang tua aku."

Alya nahan napas. "Mereka... nggak pernah bilang bangga?"

"Enggak. Nggak pernah." Reyhan senyum miris. "Mereka cuma kasih target baru yang lebih tinggi. Menang tingkat nasional? Harusnya bisa internasional. Juara satu? Harusnya dengan skor sempurna. Nggak ada kata 'cukup' atau 'kamu udah hebat'."

"Rey..."

"Aku dulu kesepian banget, Alya." Suaranya mulai bergetar. "Aku pinter, aku selalu juara, tapi aku nggak punya temen. Nggak punya orang yang ngerti aku. Bahkan orang tua aku sendiri... mereka lebih peduli prestasi daripada perasaan aku."

Air mata Alya menggenang. Dia pegang tangan Reyhan. "Makanya kamu dulu takut peduli sama orang. Takut jatuh cinta. Karena kamu nggak pernah ngerasain dicintai tanpa syarat."

Reyhan diem. Kata-kata Alya ngena banget di hati.

"Iya." Suaranya parau. "Aku takut. Karena cinta di keluarga aku itu... bersyarat. Kamu harus jadi yang terbaik baru layak dicintai. Kamu harus sempurna baru layak diperhatiin."

Alya tarik Reyhan ke pelukan. Hangat. Kenceng.

"Tapi sekarang kamu punya kami, Rey. Kamu punya Arka yang sayang kamu apa adanya. Kamu punya aku yang... sayang sama kamu, bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu kamu."

Reyhan balas peluk. Kenceng banget, kayak takut lepas. Wajahnya dibenamin di bahu Alya.

"Makasih," bisiknya. "Makasih udah kasih aku keluarga yang aku nggak pernah punya."

Mereka berpelukan lama. Nggak ada kata-kata lagi. Cuma kehangatan yang saling nyembuhin luka lama.

Pukul Sepuluh Malam- Kamar Arka

Alya ninggalin Reyhan di ruang kerja, lalu masuk ke kamar Arka. Lampu kamar masih remang. Arka udah tidur pulas, tapi sampingnya ada buku coding tebel. Bocah itu ketiduran sambil belajar lagi.

Alya senyum. Dia ambil buku itu pelan-pelan, taruh di meja, lalu selimutin Arka.

Dia duduk di tepi ranjang, natap wajah anaknya yang damai. Napasnya teratur, bibirnya sedikit nyengir kayak lagi mimpi indah.

"Sayang," bisiknya pelan. "Kamu tahu nggak... kamu sama Ayah itu mirip banget. Bukan cuma pinter, tapi juga... punya luka yang sama."

Dia usap rambut Arka lembut. "Tapi Mama janji. Mama nggak akan biarin kamu tumbuh kesepian kayak Ayah dulu. Kamu punya kami. Kamu punya keluarga yang sayang kamu."

Arka bergerak dikit, gumam nggak jelas, lalu senyum. Kayak denger bisikan Mamanya.

Alya nunduk, cium dahi Arka pelan. "Selamat tidur, sayang. Mama sayang kamu."

Jumat Sore- Enrichment Class

Reyhan jemput Arka kayak biasa. Tapi pas sampe di sekolah, dia ngeliat pemandangan yang bikin hatinya hanget.

Arka lagi ketawa-ketiwi sama dua anak laki-laki di taman sekolah. Mereka lagi asyik ngobrol, kadang ketawa bareng, kadang sikut-sikutan. Pemandangan yang langka banget buat Arka.

"Arka!" panggil Reyhan sambil melambai.

Arka nengok, langsung lari menghampiri. Wajahnya bersinar. "Ayah! Ini temen aku, Dio sama Farrel! Mereka juga di enrichment class!"

Dua anak laki-laki itu ngikutin Arka, senyum malu-malu.

"Halo, Om!" sapa mereka barengan.

Reyhan jongkok biar tingginya sama. "Halo. Kalian temen Arka, ya?"

"Iya, Om!" Dio jawab paling cepet. "Arka temen kami yang paling pinter! Dia ngajarin kami coding hari ini!"

"Iya! Dan dia nggak ngejekin kita pas kita salah. Dia sabar banget ngajarin!" Farrel nambahin.

Reyhan nahan haru. Dia tatap Arka, dan Arka senyum malu.

"Wah, Arka emang anak yang baik." Reyhan acak rambut Arka. "Kalian mau main ke rumah kami kapan-kapan? Bikin robot bareng?"

Mata Dio dan Farrel langsung melebar.

"BOLEH, OM?!" teriak mereka barengan.

"Boleh banget. Nanti kita atur jadwalnya sama orang tua kalian."

"SERU BANGET!" Dio lompat-lompat kecil.

Arka langsung peluk Reyhan dari samping. Kenceng. "Makasih, Yah!"

Di Mobil

Pas di mobil, Abis pamitan sama Dio dan Farrel, Arka nggak berhenti cerita. Tangan dan mulutnya gerak semua.

"Yah, tadi Dio ngajarin aku game baru! Dia jago banget main game! Tapi pas coding, dia yang minta diajarin aku. Terus Farrel, dia lucu, suka lupa save terus sampe programnya ilang. Tapi aku bantuin dia bikin lagi!"

Reyhan dengerin sambil nyetir, senyum nggak berhenti. Hatinya penuh. Lega. Bahagia.

Ini yang aku mau. Pikirnya. Liat dia bahagia. Liat dia punya temen. Liat dia nggak kesepian kayak aku dulu.

"Ayah," panggil Arka tiba-tiba.

"Ya, Nak?"

"Aku... seneng banget hari ini." Suaranya agak pelan. "Aku nggak pernah seneng-seneng banget kayak gini sebelumnya."

Reyhan nahan napas. Tenggorokannya kayak kedapetan sesuatu.

"Ayah juga seneng, Nak. Seneng banget liat kamu bahagia."

"Dan itu semua... karena Ayah sama Mama." Mata Arka berkaca-kaca. "Kalian bikin aku ngerasa... dicintai."

Air mata Reyhan nyaris jatuh. Dia kedip cepet, berusaha nahan.

"Kamu emang dicintai, Nak. Sangat dicintai."

Malam Hari- Makan Malam Keluarga

Suasana makan malam malem itu beda. Lebih rame. Lebih hangat. Arka cerita tentang Dio dan Farrel dengan detail yang lucu banget. Tentang Dio yang ngomongnya cepet kayak ditembak, tentang Farrel yang linglung tapi baik hati.

"Terus aku bilang ke Farrel, 'Kamu harus save setiap lima menit!' Tapi dia lupa terus! Akhirnya programnya ilang!" Arka ketawa ngakak.

Reyhan dan Alya ikut ketawa.

"Farrel kayak Ayah waktu masih kuliah," kata Reyhan sambil ngirimin Alya lauk. "Ayah juga sering lupa save, terus ngulang coding dari awal."

Arka berhenti ngunyah. "BENERAN, YAH?! Ayah yang sejago ini pernah lupa save?!"

"Beneran. Bahkan Ayah pernah kehilangan project thesis karena lupa save, terus laptop mati mendadak."

"WADUH!" Arka melongo. "Terus gimana, Yah?"

"Ayah begadang tiga hari tiga malam buat ngulang dari awal. Sejak itu, Ayah selalu auto-save tiap menit."

Arka ketawa lagi, tawa lepas yang bikin pipinya merona.

Alya natap mereka berdua. Ayah dan anak itu lagi ketawa bareng, saling ledek, saling cerita. Hatinya hangat.

Ini... ini yang namanya keluarga. Pikirnya. Keluarga yang utuh. Yang saling sayang. Yang saling dukung.

Abis makan, pas Arka naik ke kamar buat mandi, Reyhan duduk di meja makan sambil megang tangan Alya.

"Alya."

"Ya?"

"Makasih."

Alya bingung. "Makasih buat apa?"

"Buat... kasih aku keluarga ini. Buat kasih aku Arka. Buat kasih aku kehidupan yang aku nggak pernah bayangin bisa aku miliki."

Air mata Alya netes.

"Dulu aku pikir aku nggak butuh siapa-siapa. Aku pikir aku bisa hidup sendiri tanpa cinta, tanpa keluarga." Suara Reyhan bergetar. "Tapi kamu dan Arka... kalian buktiin aku salah. Kalian bikin aku ngerti apa artinya dicintai. Apa artinya punya rumah."

Alya berdiri, jalan ke samping Reyhan, lalu peluk dari belakang.

"Kamu juga kasih kami rumah, Rey. Kamu kasih Arka ayah yang selalu dia impikan. Kamu kasih aku suami yang sayang kami dengan tulus."

Reyhan pegang tangan Alya yang melingkar di dadanya. "Aku janji. Aku nggak akan sia-siain ini. Aku akan jaga kalian. Selamanya."

"Aku percaya."

Di luar, angin malam berhembus pelan. Di dalam ruang makan, dengan piring-piring kotor masih di atas meja, mereka berdua duduk tenang.

Nggak perlu banyak kata.

Cukup genggaman tangan.

Cukup kehangatan.

Cukup rasa syukur yang dalam banget.

Karena mereka udah nemuin sesuatu yang dulu nggak pernah mereka mimpiin.

Rumah.

Keluarga.

Cinta yang nyata.

Dan di lantai atas, di kamar yang remang, Arka tidur dengan senyum. Besok dia bakal ketemu Dio dan Farrel lagi. Besok dia bakal belajar coding lagi. Besok dia bakal ketawa lagi.

Tapi yang paling penting, dia tau pas dia bangun besok pagi, ada Ayah dan Mama yang nunggu dia di meja makan. Ada sarapan hangat. Ada pelukan pagi. Ada "selamat pagi, sayang" yang bikin harinya langsung cerah.

Keluarga Mahardika.

Nggak sempurna. Tapi saling melengkapi.

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!