Pertemuan Elina dengan Alex seorang mafia kejam yang dikenal dengan julukan "Raja Iblis" memiliki kekuasaan diberbagai wilayah, Alex yang memiliki masa lalu kelam dan telah melakukan banyak kekejaman dalam mencapai kekuasaannya, tetapi ia memiliki prinsip untuk melindungi yang lemah dan tidak berdaya.
Ketika seorang wanita muda bernama Elina dikejar oleh geng rival, ia berlari menuju klub malam mewah yang terkenal dan ternyata merupakan milik Alex, untuk menghindari kejaran geng rival dan mencari perlindungan Elina pun memasuki klub malam tersebut.
Di dalam klub tersebut Elina tak sengaja bertabrakan dengan Alex, Alex yang terkejut mencoba untuk mencerna apa yang terjadi pada wanita yang menabraknya. Elina yang tak tau siapa itu Alex, langsung meminta pertolongan padanya. Pertemuan ini pun menjadi awal dari cerita yang akan penuh dengan aksi, romansa dan intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MY QUEEN ATRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran yang Diberikan
Sejak ia menerima dan menyimpan kartu kecil pemberian Arkan di dalam dompetnya. Elina tak pernah berniat menggunakannya. Namun ia juga tidak membuang kartu tersebut.
Malam itu angin bertiup kencang tidak seperti biasanya. Langit yang mulai mendung seolah menahan hujan yang akan turun kapanpun ia mau. Elina duduk termenung menatap keluar jendela dengan wajah pucat.
"Aku merasa tidak mampu membayar hutan ayah hanya dalam waktu satu bulan" ucap Elina lirih. Ia kemudian menahan tangis dan menggenggam tangannya sendiri. Ia sadar tidak mungkin ia mampu mengumpulkan uang dengan waktu singkat.
Tiba-tiba ponsel Elina bergetar, nomor tak dikenal muncul, hatinya langsung berdetak lebih cepat. Ia mengakatnya dengan tangan gemetar.
"Halo" ucap Elina di ponselnya.
"Keluar sekarang"
Suara itu ? Tenang dan berat.
"Tidak perku memperkenalkan diri"
Elina melihat keluar jendela, di sudut gang, ada mobil hitam yang terparkir lagi dan lagi
"Untuk apa?" Tanya Elina pelan.
"Aku ingin bicara denganmu"
"Kenapa tidak bicara lewat ponsel saja?" tanya Elina pelan.
Dengan perkataan yang sama "Aku ingin bicara denganmu"
Nada itu tidak memberi pilihan padanya.
Elina berjalan menuju gang lorong rumahnya menuju pada mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari rumahnya. Detak jantungnya terasa semakin keras setiap langkahnya. Pintu mobil terbuka dari dalam. Terlihat Alex yang sedang duduk di dalam mobil itu. Gelapnya malam membuat wajah Alex terlihat lebih tajam.
Elina masuk tanpa berkata-kata dan mobil langsung melaju tanpa sepata katapun dari Alex.
"Kita mau kemana?" tanaya Elina
"Tempat yang lebih tenang" ucap Alex dengan singkat dan dingin.
Tidak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah cafe rooftop yang sepi, tempat tersebut terlihat mahal, jauh dari dunia Elina. Ia merasa tidak pantas berada disana.
Alex dan Elina duduk saling berhadapan. Alex menatapnya cukup lama "Kenapa kamu terlihat lelah?" tanya Alex.
Elina hanya tersenyum tipis "Akhir-akhir ini hidup saya memang melelahkan" jawab Elina.
Alex tidak tersenyum dan hanya menunjukkan wajah datar dengan aura yang dingin "Aku bisa menyelesaikan hutang ayahmu" ucap Alex.
Mendengar ucapannya, Elina seketika membeku dan bertanya-tanya, apa maksud Alex.
"Aaa...pa.....maksud kamu?" tanya Elina.
"Yah... Seratus juta bukan angka besar bagiku" ucap Alex.
"Tapi bagiku, itu adalah angka yang sangat besar" ucap Elina sedikit jengkel mendegar kalimat yang dilontarkan oleh Alex.
Arkan bersandar di kursi "Aku bisa menghapus hutangmu" ucap Alex.
"Pasti ada harga yang harus aku bayar" ucap Elina seakan waspada. Ia tahu dunia tidak memberi secara cuma-cuma.
Tatapan Alex menjadi lebih serius "Kamu memang cukup cerdas" ucap Alex dengan senyum tipis di wajahnya.
Beberapa detik yang cukup hening diantara merekaz Alex berkata "Pindah ke rumahku"
Elina seketika terdiam dan berkata "Apa maksud anda berkata seperti itu?" Tanya Elina.
"Aku tidak suka jika sesuatu yang berharga bagiku, berada ditempat yang mudah disentuh oleh orang lain" jawab Alex.
Kata-kata itu lagi. Berharga dan milik "Saya bukan barang, atau milik siapapun" ucap Elina pelan namun tegas.
Alex tidak marah mendengar perkataan Elina. Justru salah satu sudut bibir Alex sedikit terangkat.
"Aku tahu" ucap Alex.
"Lalu kenapa saya harus tinggal di rumah anda?" tanya Elina.
Alex menjawab pertanyaan Elina "Karena..... selama hutangmu belum lunas, kamu tetap dalam bahaya. Aku mempunyai musuh dan musuhku lebih kejam, jauh dari yang kamu bayangkan"
Mendengar perkataannya, Elina merinding dan terdiam sesaat.
"Apa kehidupan anda seperti itu?" Tanya Elina lagi dengan pelan.
Alex terdiam sesaat dan berkata "Dunia memang tidak selalu bersih" jawaban yang ambigu.
"Apakah saya harus masuk ke dunia itu?" Tanya Elina.
"Kamu sudah berada di dalamnya, sejak hutang ayahmu dijual kepadaku" ucap Alex.
Kata-kata itu menghantam keras hati dan pikiran Elina. Ia hanya menunduk, tak sadar air matanya hampir jatuh. Namun ia berhasil menahannya "Saya tidak mau menjadi beban siapapun" ucap Elina.
"Kata siapa kamu beban" ucap Alex
"Lalu bagi anda, saya siapa?" tanya Elina dengan mata berkaca-kaca.
Alex menatap Elina, seolah mencoba membaca apa yang dipikirkan Elina "Aku belum tahu, apa arti dirimu bagiku, tapi aku ingin melindungimu" ucap Alex dengan pelan.
Malam semakin larut, lampu-lampu kota bersinar terang. Alex berkata pada Elina "Kita pulang, waktu sudah menunjukkan jam sembilang malam" ucap Alex.
Mereka menuju mobil, diperjalanan suasana begitu terasa canggung dan hening. Alex berkata pada Elina "Aku akan beri kamu waktu dua hari untuk memikirkan perkataanku di cafe tadi" ucap Alex.
"Bagaimana kalau saya menolak tawaranmu" ucap Elina dengan menunduk.
"Aku akan tetap memastikan kamu aman dan terus mengawasimu" ucap Alex.
Elina tidak menduga jawaban yang dilontarkan oleh Alex "Kenapa?" tanya Elina menoleh ke Alex.
Tatapan mereka bertemu dan suara Alex kembali terdengar lebih pelan "Karena aku tidak ingin kalau sesuatu yang buruk atau berbahaya terjadi padamu" ucap Alex.
Alex menegaskan bahwa ia melindungi Elina bukan sebagai mafia ataupun seorang pemimpin, melainkan sebagai seorang pria.
Mendengar perkataan Alex, Elina merasakan sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Perasaan yang seharusnya tidak boleh tumbuh. Ia kembali menatap ke depan.
"Baiklah, saya akan pikirkan kembali" ucap Elina sambil menundukkan pandangannya. Alex pun mengangguk mendengar ucapan Elina.
Mobil sudah sampai di depan rumah Elina. Sebelum ia turun, Alex berkata "Elina"
Ia pun menoleh ke Alex "Dunia ini tidak selembut dirimu" ucap Alex pada Elina. Kalimat yang terdengar seperti peringatan atau mungkin pengakuan.
Elina turun dari mobil, namun kali ini hatinya jauh terasa lebih berat. Karena kini ia tidak hanya takut pada dunia malam yang gelap, tapi kini ia juga takut pada perasaannya sendiri.
Saat Elina turun dari mobil, ia menyadari dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan mobil Alex dengan tatapan yang penuh dendam.
Orang tersebut berkata "Apakah gadis itu merupakan kelemahannya" ucap pria yang memperhatikan mobil Alex dari kejauhan.
Sepertinya Elina akan berada dalam bahaya. Ancaman yang jauh lebih besar sedang menunggu mereka.
Tawaran yang diberikan Alex hanyalah awal dari badai yang sebenarnya.
Elina tak menghiraukannya, ia berjalan masuk ke rumah dan meninggalkan mobil Alex yang masih berada di depan rumahnya. Setelah Elina masuk rumah. Alex menyadari apa yang dilihat Elina dan segera menghubungi Aditya untuk mengawasi rumah Elina. Alex tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Elina.
Setelah Aditya datang, barulah Alex pergi meninggalkan rumah Elina dan melanjutkan pekerjaan yang harus ia selesaikan malam ini.
Aditya pun memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah Elina.
kak lanjut epsd 3 dong 🔥🔥