NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

BAB 17: Badai di Gerbang Al-Hikmah (Bagian Pertama) -

Fajar belum sepenuhnya menyingsing di ufuk timur Bandung, namun udara dingin yang menusuk tulang tidak lagi terasa oleh Alek. Di ruang tamu rumah Riki yang remang-remang, Alek duduk di lantai beralaskan karpet tipis. Tubuhnya terasa remuk. Luka goresan duri mawar di lengannya telah mengering, meninggalkan jejak merah keunguan, sementara rasa nyeri di tulang rusuknya yang belum sembuh total terasa berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang kencang.

Riki datang dari dapur membawa dua gelas kopi hitam pekat. Ia meletakkan gelas itu di depan Alek dengan wajah cemas. "Lo beneran siap, Lex? Ini bukan soal berantem biasa. Kevin sama Bagas itu nekat. Mereka nggak bakal segan-segan ngerusak acara Milad itu cuma buat mancing lo keluar."

Alek meraih gelas kopi itu, membiarkan panasnya menghangatkan telapak tangannya yang kasar. "Gue nggak punya pilihan, Rik. Gue denger sendiri di telepon semalam. Bagas bilang mereka mau bikin keributan tepat saat acara puncak. Mereka mau nyebarin fitnah, atau sabotase fisik. Mereka tahu Khansa adalah titik lemah gue. Dan bagi mereka, menghancurkan Khansa adalah cara terbaik untuk membalas dendam."

Riki terdiam sejenak, mengingat betapa liciknya Bagas dalam merencanakan sesuatu. "Gue udah hubungi Tono sama beberapa anak basket. Mereka setuju buat dateng ke acara Milad itu sebagai tamu, tapi sebenernya buat jaga-jaga di perimeter luar. Kita nggak bisa bawa senjata, Lex. Itu area suci. Kalau kita bikin keributan duluan, kita malah ngebuktiin kalau lo itu cuma bawa masalah buat mereka."

Alek mengangguk. "Itu strateginya. Kita harus ada di sana sebagai pelindung, bukan provokator."

Pukul 08.00 pagi, gerbang Pesantren Putri Al-Hikmah sudah tampak ramai. Umbul-umbul berwarna hijau dan putih berkibar tertiup angin. Suara lantunan selawat bergema lembut dari pengeras suara, menciptakan suasana yang seharusnya damai.

Alek mengenakan kemeja koko putih milik Riki dan celana kain hitam, mencoba membaur meskipun bekas lebam di wajahnya sulit disembunyikan. Matanya tertuju pada panggung utama. Di sana, ia melihat Khansa. Gadis itu mengenakan gamis abu-abu dengan cadar senada, tampak tenang mengarahkan santriwati lainnya. Alek merasakan perih di dadanya. Gue nggak pantas ada di sini, tapi gue harus pastiin dia aman.

"Lex, liat di arah jam sepuluh," bisik Riki menyentak lamunan Alek.

Di seberang jalan raya, sebuah motor sport hitam berhenti. Kevin turun dari motor, membuka helmnya, dan menyalakan rokok dengan gaya menantang. Tak lama kemudian, sebuah motor lain menyusul. Bagas. Ia turun dengan wajah dingin, membawa sebuah tas ransel kecil yang terlihat mencurigakan. Mereka tidak langsung masuk, melainkan berdiri di pinggir jalan sambil terus menatap ke arah gerbang pesantren.

"Mereka nunggu momentum," gumam Alek. "Kevin bakal jadi pengalih perhatian di depan, sementara Bagas... gue yakin dia bakal nyari jalan masuk lewat pintu belakang atau pintu logistik."

"Gue ke pintu belakang sekarang sama Tono?" tanya Riki sigap.

"Iya, buruan! Bagas itu licik, dia pasti bawa sesuatu di tasnya buat sabotase. Gue bakal tetep di sini. Kevin harus ngeliat gue di gerbang biar dia pikir rencana mereka masih berjalan sesuai rencana dia."

Riki segera menghilang di balik kerumunan tamu. Kini Alek berdiri sendiri di dekat pos satpam.

Kevin mulai bergerak mendekat ke arah gerbang. Langkah kakinya yang angkuh di atas aspal terdengar seperti ancaman bagi ketenangan Al-Hikmah. Saat sampai di depan gerbang, petugas keamanan mencoba menghalangi, namun Kevin dengan kasar mendorong bahu petugas itu.

"Minggir, Pak. Gue cuma mau nemuin temen gue," seru Kevin keras, matanya terkunci pada Alek.

Alek melangkah maju, menghalangi jalur masuk Kevin. "Cukup, Kev. Masalah lo sama gue. Jangan bawa-bawa tempat ini."

Kevin tertawa sinis, asap rokoknya dihembuskan tepat ke wajah Alek. "Masalahnya, Lex, menghancurkan lo secara fisik itu terlalu gampang. Gue mau liat lo hancur secara mental saat ngeliat tempat suci ini berubah jadi kacau gara-gara kehadiran lo. Bagas udah di posisi, dan lo nggak bakal bisa lari."

Alek mengepalkan tangannya. Meskipun rusuknya terasa ditusuk-tusuk nyeri, ia memasang kuda-kuda. Ia tahu ini adalah perang urat syaraf. Ia harus menahan Kevin di sini sekuat mungkin agar Riki punya waktu untuk mencegat Bagas di pintu belakang.

"Langkahin mayat gue dulu, Kev," tantang Alek dengan suara yang sangat rendah namun penuh tekad.

Angin kencang bertiup, membawa aroma hujan yang akan datang. Di dalam panggung, acara dimulai dengan pembacaan ayat suci. Di luar gerbang, sebuah benturan keras hanya tinggal menunggu hitungan detik.

Suara riuh rendah dari dalam area pesantren—suara anak-anak yang tertawa dan lantunan selawat yang syahdu—terasa begitu kontras dengan ketegangan yang memuncak di gerbang depan. Alek berdiri dengan kaki gemetar, bukan karena takut, melainkan karena menahan nyeri luar biasa yang menjalar dari tulang rusuknya ke seluruh saraf tubuhnya.

Di hadapannya, Kevin menyeringai licik. Ia membuang puntung rokoknya ke aspal dan menginjaknya dengan kasar, seolah sedang membayangkan kepala Alek yang berada di bawah sepatunya.

"Lo pikir lo pahlawan, Lex?" desis Kevin. "Lo cuma sampah yang dipungut sama gereja, lalu sekarang sok suci mau jagain pesantren. Lo nggak sadar kalau kehadiran lo di sini justru yang ngundang petaka buat mereka?"

Kevin maju selangkah, memberikan dorongan kuat pada bahu Alek. Alek terhuyung, rasa sakit di dadanya membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan. Namun, ia kembali berdiri tegak.

"Pukul gue sesuka lo, Kev. Tapi jangan masuk ke dalam," suara Alek terdengar parau.

Kevin tertawa terbahak-bahak. "Pukul lo? Itu terlalu murah. Gue mau masuk, gue mau bikin keributan di panggung itu, dan gue mau semua orang tahu kalau Alexander yang mereka banggakan itu adalah alasan tempat ini diacak-acak!"

Kevin melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Alek. Alek mencoba menghindar, namun gerakannya lambat karena cedera rusuknya. Pukulan itu mendarat telak di rahangnya, membuat Alek tersungkur ke aspal yang panas. Pandangannya berkunang-kunang. Di saat itulah, ia melihat dari sudut matanya, Kevin bersiap melayangkan tendangan ke arah perutnya—titik di mana rusuknya yang retak berada.

Alek memejamkan mata, bersiap untuk rasa sakit yang mungkin akan membuatnya pingsan.

Ckiiiiiitttttt!

Suara decitan ban motor yang mengerem mendadak memecah suasana. Sebuah motor sport merah meluncur dengan kecepatan tinggi, memotong jalan tepat di antara Kevin dan Alek yang sedang terkapar. Debu jalanan beterbangan, menutupi pandangan sejenak.

Sesosok pria tinggi tegap turun dari motor itu tanpa melepas helmnya. Ia langsung melayangkan sebuah tendangan putar yang sangat cepat dan bertenaga ke arah dada Kevin sebelum Kevin sempat menyentuh Alek.

"AGHH!" Kevin terpental dua meter ke belakang, menghantam pagar beton pesantren.

Alek membuka matanya dengan susah payah. Ia mengenali jaket kulit itu. Ia mengenali postur tubuh itu. Pria itu membuka kaca helmnya.

"Dimas?" gumam Alek tidak percaya.

Dimas tidak menoleh ke arah Alek. Ia berdiri dengan kokoh, menatap Kevin dengan pandangan yang lebih dingin dan lebih mengerikan daripada biasanya. Di belakang motor Dimas, Riki muncul dengan napas memburu, tampak baru saja membonceng Dimas atau menuntunnya ke sana.

"Gue emang benci sama Alek karena dia pengkhianat," suara Dimas terdengar berat dan penuh wibawa. "Tapi gue lebih benci sama pengecut yang nyerang orang sakit dan bawa-bawa tempat ibadah buat urusan dendam pribadi. Lo memalukan nama geng kita, Kevin."

Kevin bangkit sambil memegang dadanya yang sesak. Wajahnya merah padam karena malu dan marah. "Dimas?! Kenapa lo di sini? Lo harusnya di pihak gue! Kita harus kasih pelajaran buat si Alek ini!"

"Pelajaran?" Dimas berjalan mendekati Kevin dengan langkah pelan yang mengintimidasi. "Pelajaran yang gue ajarin ke lo adalah loyalitas dan martabat. Nyerang acara Milad pesantren? Lo udah gila, Kev. Itu bukan cara kita. Itu cara sampah."

"Tapi Alek—"

"Alek urusan gue!" potong Dimas dengan bentakan yang membuat Kevin terdiam. "Dan hari ini, gue mutusin kalau urusan gue sama dia bakal diselesaikan dengan cara laki-laki, bukan dengan cara licik kayak yang lo sama Bagas rencanain."

Dimas melirik Riki. "Rik, bawa si Alek masuk. Obatin dia. Biar si kampret ini gue yang urus."

Riki dengan sigap membantu Alek berdiri. "Ayo, Lex. Kita harus amankan area dalam. Bagas masih ada di sekitar sini, gue butuh lo buat identifikasi di mana dia mungkin sembunyi."

Alek menatap Dimas sejenak. Ada keraguan, ada rasa terima kasih, tapi juga ada kebingungan. Dimas, orang yang paling ingin menghancurkannya, justru menjadi perisainya di saat paling kritis.

"Kenapa, Dim?" tanya Alek singkat.

Dimas hanya mendengus, matanya tetap tertuju pada Kevin yang mulai bersiap menyerang balik. "Karena kalau ada yang boleh bunuh lo, itu harus gue. Dan gue nggak mau bunuh lo di depan gerbang pesantren. Buruan pergi sebelum gue berubah pikiran."

Riki memapah Alek masuk ke area dalam pesantren. Suasana di dalam masih relatif aman, namun ketegangan mulai terasa di antara para pengurus karena melihat Alek yang berlumuran darah.

"Rik, Bagas..." Alek mendesis sambil memegang perutnya. "Dia bukan tipe yang bakal nyerang terang-terangan kayak Kevin. Dia pasti nunggu di tempat yang nggak terduga."

"Tono udah lapor lewat HT, dia liat ada orang yang mencurigakan di gedung belakang panggung,, seperti nya itu ruangan kontrol" ujar Riki cepat. "

Suara geraman mesin motor Kevin yang dipaksa bungkam oleh Dimas perlahan memudar di belakang punggung Alek. Alek tidak menoleh lagi. Di gerbang sana, badai fisik sedang berkecamuk, namun di dalam jantung pesantren Al-Hikmah, sebuah badai yang jauh lebih destruktif sedang bersiap untuk menghancurkan segalanya. Alek tahu, jika dia gagal malam ini, bukan hanya reputasi Khansa yang hancur, tapi juga satu-satunya alasan yang membuat Alek ingin menjadi manusia yang lebih baik.

Alek berlari menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah area pesantren. Napasnya memburu, terasa panas dan menyakitkan di tenggorokan yang kering. Setiap langkah kaki yang menghantam tanah terasa seperti jarum yang menusuk tulang rusuknya yang masih diperban. Rasa nyeri itu berdenyut hebat, namun amarah dan rasa bersalah menjadi bahan bakar yang melampaui batas fisiknya.

Di depannya, gedung aula Al-Hikmah berdiri megah. Cahaya lampu panggung mengintip dari jendela-jendela tinggi, dan suara riuh rendah santriwati yang merayakan malam penutupan kegiatan sosial terdengar hingga ke luar. Mereka sedang berada di puncak kebahagiaan, tidak menyadari bahwa di ruang kendali lantai dua, seorang pengkhianat sedang menyiapkan "kado" perpisahan yang beracun.

Labirin di Tengah Kesucian

Alek tidak bisa langsung masuk melalui pintu utama yang dijaga ketat oleh beberapa santri senior dan ustaz. Dia memutar ke arah samping, melewati deretan jemuran santriwati yang melambai ditiup angin malam seperti barisan hantu putih. Dia menarik tudung jaket hitamnya serendah mungkin, mencoba menyatu dengan bayangan dinding yang lembap.

"Jangan sampai terlambat... tolong, jangan sekali ini saja," gumam Alek di antara deru napasnya.

Dia menyelinap melalui pintu teknis di bagian belakang gedung, tempat para petugas katering biasanya keluar masuk. Aroma nasi kebuli dan minyak telon menyeruak, sebuah aroma yang biasanya menenangkan, namun kini terasa mencekam di hidung Alek. Dia bergerak senyap, menyusuri lorong-lorong sempit yang dipenuhi tumpukan dekorasi bekas dan papan bunga.

Beberapa kali Alek harus mematung, merapatkan tubuhnya ke dinding saat melihat bayangan santriwati lewat di ujung lorong. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke pangkal leher. Jika dia tertangkap sebagai penyusup sekarang, dia akan diusir secara paksa sebelum sempat menyentuh ruang operator, dan saat itulah rencana Bagas akan meledak tanpa hambatan.

Pikiran Alek kembali melayang pada foto yang diceritakan Riki. Sebuah manipulasi digital yang keji. Bagas, dengan keahliannya yang disalahgunakan, telah mengubah foto Khansa saat kegiatan sosial menjadi sesuatu yang menghina martabatnya sebagai seorang santriwati bercadar. Di tempat se-sakral Al-Hikmah, fitnah seperti itu bukan sekadar ejekan; itu adalah vonis mati bagi kehormatan Khansa dan keluarganya.

Alek tahu persis di mana Bagas bersembunyi: Ruang Operator Multimedia di lantai dua aula.

Pengejaran di Tangga Kayu

Alek menaiki tangga kayu yang menuju ke balkon lantai dua. Setiap derit anak tangga terasa seperti ledakan granat di telinganya. Dia harus sangat hati-hati; satu suara salah bisa mengundang perhatian penjaga keamanan yang berpatroli. Begitu sampai di lantai atas, koridor terasa lebih sepi dan gelap. Hanya ada satu ruangan di ujung lorong yang pintunya sedikit terbuka, memancarkan cahaya biru pucat yang dingin dari monitor komputer.

Alek melambat. Dia mengatur napasnya agar tidak terdengar seperti mesin rusak. Dia melepas sepatu agar langkahnya tidak bersuara di atas lantai kayu. Dari celah pintu yang terbuka, dia bisa melihat punggung seseorang yang duduk membungkuk di depan deretan layar.

Itu Bagas.

Bagas tidak lagi terlihat seperti remaja culun yang sering mereka rundung di kelas. Posturnya tegang, jari-jarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang mengerikan, layaknya seorang konduktor yang sedang memimpin simfoni kehancuran. Di layar monitor besar, terlihat sebuah bilah kemajuan (progress bar) yang sedang berjalan di atas folder bernama DOKUMENTASI_AKHIR.

88%... 90%... 92%...

"Tinggal dikit lagi... semua orang bakal liat wajah asli lo, Khansa," gumam Bagas dengan tawa kecil yang terdengar gila di telinga Alek.

Alek bisa melihat apa yang ada di layar itu. Sebuah foto Khansa yang telah diedit secara sangat halus namun merusak. Bagas berniat menyisipkan foto itu di tengah-tengah video dokumentasi yang akan ditayangkan sebagai penutup acara, tepat saat Kyai dan seluruh pengurus sedang menonton.

Alek merasakan darahnya mendidih. Dia tidak tahan lagi melihat seringai puas di wajah orang yang selama ini ia anggap kawan.

Sabotase dan Kegagalan Rencana

Alek tidak menunggu lagi. Dia menendang pintu kayu itu hingga menghantam dinding dengan dentuman keras. BRAK!

Bagas terlonjak dari kursinya, hampir jatuh ke belakang karena terkejut. Matanya membelalak lebar saat melihat sosok Alek yang berantakan—baju yang kotor oleh tanah gerbang, wajah yang masih memiliki bekas lebam kebiruan, dan mata yang berkilat penuh dendam.

"Alek?! Gimana bisa—" Bagas menoleh ke arah jendela, seolah berharap melihat Kevin atau Bagas lainnya datang menyelamatkannya.

"Kevin nggak akan datang, Gas," suara Alek rendah, parau, namun sangat mematikan. "Dimas lagi 'mengurus' dia di depan gerbang. Sekarang, cuma ada gue dan lo."

Bagas dengan panik kembali ke layarnya, tangannya gemetar mencoba meraih tetikus (mouse) untuk menekan tombol Confirm. Alek tidak membiarkan itu terjadi. Dengan gerakan yang lebih cepat dari sebelumnya, Alek melompat melewati meja operator yang penuh dengan kabel dan peralatan audio yang sensitif.

Dia tidak memukul Bagas dulu. Prioritasnya adalah layar itu. Saat jemari Bagas hampir menyentuh tombol, Alek meraih kabel daya utama yang terhubung ke server proyektor.

"JANGAN!" teriak Bagas.

Alek menarik kabel itu dengan sekuat tenaga hingga soketnya terlepas dari dinding. CRACK! Percikan listrik kecil menyambar, dan seketika itu juga, seluruh monitor di ruangan itu padam. Di bawah sana, di aula utama, terdengar suara "Ooooh" yang kompak dari ratusan santriwati karena layar proyektor raksasa mendadak mati total saat video baru saja dimulai.

Alek berhasil. Rencana Bagas gagal seketika. Dokumentasi itu tidak akan pernah sampai ke bagian foto fitnah tersebut.

Kilatan Besi dan Dendam yang Memuncak

Alek terengah-engah, berdiri di tengah ruangan yang kini hanya diterangi oleh cahaya bulan yang pucat dari jendela kecil. Dia menatap Bagas yang terjerembap di lantai, dikelilingi oleh kabel-kabel yang terputus.

"Lo... lo hancurin semuanya, Lex!" Bagas meraung, suaranya penuh dengan rasa iri yang selama ini ia pendam. "Gue cuma mau dia hancur! Kenapa lo selalu jadi pahlawan? Lo itu berandalan! Lo nggak pantes dapet maaf dari dia!"

Bagas tertawa sinis, tawa yang lahir dari rasa putus asa. Dia tahu posisinya sekarang kalah telak. Secara fisik, dia bukan tandingan Alek. Namun, kebencian telah membutakan logikanya.

"Gue emang berandalan, Gas. Tapi gue punya batas," sahut Alek dingin. "Lo udah kelewatan. Khansa nggak pernah salah sama lo."

"Dia salah karena membuat loh berubah dan menjadi Alek yang bukan kami kenal !" Bagas berteriak, wajahnya merah padam.

Perlahan, Bagas bangkit dari lantai. Tangannya merogoh saku belakang celananya. Alek melihat gerakan itu dan langsung waspada. Dia mengira Bagas akan mengeluarkan ponsel atau benda tumpul lainnya.

Namun, yang keluar adalah sebuah dentingan logam yang tajam.

KLIK.

Suara bilah baja yang keluar dari sarangnya terdengar sangat jelas di keheningan ruangan itu. Bagas memegang sebuah belati lipat dengan tangan yang gemetar hebat, namun matanya terkunci pada dada Alek. Belati itu berkilau, memantulkan sedikit cahaya dari lampu koridor yang masih menyala di luar.

Alek membeku sejenak. Dia sering berkelahi di jalanan, dia pernah menghadapi botol pecah atau kayu, tapi melihat Bagas—anak yang biasanya diam dan mengerjakan tugas sekolahnya—memegang belati dengan niat membunuh, itu adalah tingkat kegilaan yang berbeda.

"Mundur, Alek! Gue bilang mundur!" Bagas mengacungkan pisau itu ke depan. "Gue nggak takut masuk penjara, yang penting lo nggak dapet apa-apa malam ini!"

Alek tidak mundur. Dia justru mengepalkan tinjunya, merasakan adrenalin mengalir ke setiap ujung sarafnya. Rasa sakit di rusuknya seolah menguap, digantikan oleh kesadaran murni bahwa pertarungan ini tidak lagi soal foto, tapi soal bertahan hidup.

Di bawah sana, terdengar suara pengurus pesantren yang mulai panik karena gangguan teknis. Langkah-langkah kaki terdengar menaiki tangga menuju ruang operator. Namun bagi Alek dan Bagas, dunia luar sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah ruang sempit berisi debu, bau kabel terbakar, dan seorang pemuda yang memegang senjata tajam.

"Lo mau main kasar, Gas?" desis Alek. Dia melepaskan jaketnya dan melilitkannya ke tangan kirinya sebagai pelindung improvisasi. "Ayo. Selesaikan di sini."

Bagas berteriak parau, sebuah jeritan ketakutan yang dipaksakan menjadi keberanian, lalu dia menerjang maju dengan belati terhunus.

Bersambung ke Bab 18: Pertarungan di Atas Langit-Langit...

“Terkadang, musuh yang paling berbahaya bukanlah dia yang memiliki otot paling besar, melainkan dia yang tidak lagi memiliki rasa takut akan kehilangan dirinya sendiri.”

Langkah selanjutnya:

1
Hana Agustina
saranny.. apapum kondisi like n komentar nya.. tlg teteo bwrkarua thor.. krn banyak sekali pelajaran dlm kisah ini, utk sy yg msh tertatih belajar utk perbaiki diri ini.. tetep semangat y thor.. cerita ini indah sekali
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!