NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Lantunan Deru Ombak

Status baru Gery dan Vanya ternyata menyebar lebih cepat daripada aroma kopi di restoran hotel pagi itu. Vanya, dengan kepribadiannya yang ekspresif, tidak bisa menyembunyikan binar matanya. Meskipun "kontrak" mereka bersifat fungsional, cara Vanya berjalan di samping Gery menuju meja prasmanan sudah cukup menjadi pengumuman bagi seisi kelas.

Restoran hotel dipenuhi riuh rendah suara piring dan denting sendok. Saat Gery duduk di satu meja bersama Dion dan Reno, Vanya datang menyusul dengan piring berisi buah-buahan, langsung mengambil tempat di samping Gery seolah itu adalah hal paling alami di dunia.

Nadia, Vivi, dan Rini duduk tepat di meja sebelah. Gery sempat merasa kikuk, ia melirik Nadia dengan ragu. Namun, di luar dugaan, Nadia justru menoleh dan memberikan senyum paling tulus yang pernah Gery lihat.

"Selamat ya, Ger, Van!" ucap Nadia dengan nada riang, tanpa ada jejak kekecewaan di wajahnya. "Gue seneng banget akhirnya kalian 'jadian'. Emang udah cocok banget sih dari awal duduk sebangku."

Vanya nyengir lebar, pipinya sedikit merona. "Makasih, Nad! Doain ya biar kita saling dukung belajarnya."

Gery hanya bisa tersenyum tipis sambil mengangguk. Ada rasa lega karena Nadia mendukungnya, namun di sudut hatinya yang paling dalam, ada sedikit rasa getir. Apakah Nadia begitu mendukung karena dia memang tidak memiliki perasaan apa pun padanya? Pikir Gery dalam hati. Namun, ia segera menepis pikiran itu; fokusnya sekarang adalah menjaga Vanya sesuai perjanjian mereka.

Setelah sarapan selesai, agenda study tour memasuki fase kolaborasi antar jurusan. Hari ini adalah panggung bagi kelas Tour Guide.

Enam bus kembali bergerak menuju destinasi pertama: Pura Luhur Uluwatu. Di dalam bus, suasana sedikit berbeda. Jika biasanya guru atau pemandu lokal yang berbicara, kini rekan-rekan dari kelas Tour Guide berdiri di depan, memegang mikrofon dengan wajah gugup namun antusias.

"Good morning, everyone! Today, my name is Andre from Tour Guide class, and I will be your guide to Uluwatu Temple," ucap salah satu siswa di depan dengan bahasa Inggris yang cukup fasih.

Gery memperhatikan dengan seksama. Ini adalah praktik kerja nyata bagi mereka. Siswa Tour Guide menjelaskan sejarah pura, aturan berpakaian (menggunakan kain sarung), hingga peringatan tentang monyet-monyet jahil di sana, bergantian menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris.

"Ger, dengerin tuh. Bahasa Inggrisnya bagus banget ya," bisik Vanya di samping Gery. Ia menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Gery, membuat beberapa teman di barisan depan bersiul menggoda.

"Iya. Kita yang perhotelan juga harusnya bisa sefasih itu kalau mau kerja di hotel internasional nanti," jawab Gery sambil mencatat beberapa kosakata baru yang ia dengar di buku saku kecilnya.

"Tenang, kan ada gue. Gue bakal ajarin lo sampai lancar, sesuai janji kita kemarin," Vanya menepuk tangan Gery dengan semangat.

Sepanjang perjalanan, para siswa jurusan Busana juga tampak sibuk mengamati pakaian adat yang dikenakan masyarakat Bali di pinggir jalan, sementara jurusan Restoran mendiskusikan potensi kuliner yang mereka lalui.

Di atas tebing Uluwatu yang terjal, di bawah langit biru yang bersih, Gery berdiri di samping Vanya. Ia melihat Nadia sedang asik berfoto dengan Vivi di kejauhan. Gery menyadari bahwa meskipun statusnya kini adalah "kekasih" Vanya, dunianya masih berputar di antara tanggung jawab belajar, persahabatan yang kuat, dan perasaan yang masih ia simpan rapi untuk Nadia.

Bali mulai menunjukkan sihirnya, bukan hanya lewat pemandangannya, tapi lewat bagaimana setiap siswa mulai menemukan peran dan jati diri mereka di tengah rombongan besar ini.

Matahari di Uluwatu mulai bergeser, menciptakan bayangan panjang di antara pilar-pilar batu pura. Di tengah riuhnya wisatawan dan monyet yang berlarian, Vanya menarik lengan kaos Gery dengan antusias.

"Ger, foto yuk! Masa kita nggak punya foto berdua di sini," pinta Vanya sambil menyerahkan kamera digitalnya kepada salah seorang teman sekelas.

Gery berdiri sedikit kaku di samping Vanya. Namun, dengan percaya diri, Vanya langsung merangkul lengan Gery dan menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu. Cekrek. Satu momen terabadikan.

Tidak butuh waktu lama bagi para "pengacau" untuk datang. Reno dan Dion yang melihat pemandangan itu langsung berlari mendekat.

"Woi! Jangan berduaan terus, nanti dipatok monyet lho!" teriak Reno sambil tertawa. "Sini, sini, kita foto bareng semuanya!"

Mendengar ajakan Reno, rombongan kecil itu segera berkumpul. Feri, Dion, Reno, Gery, Vanya, Nadia, Vivi, Yola, dan Rini—sembilan orang yang kini menjadi inti dari lingkaran pertemanan Bus 4—berdiri berjajar dengan latar belakang samudera Hindia yang biru membentang.

Setelah sesi foto bersama yang penuh tawa, mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak di sepanjang tebing. Suasana sore itu terasa sangat hangat bagi Gery. Di sepanjang jalan, Vanya tidak pernah melepaskan genggamannya. Ia memeluk lengan Gery dengan erat, sesekali tertawa mendengar celoteh Reno yang konyol.

Yang unik, teman-teman lainnya seperti Nadia, Vivi, atau Dion tidak lagi mengeluarkan ledekan pedas. Mereka bersikap seolah-olah pemandangan Vanya yang manja pada Gery adalah bagian dari dekorasi alam Bali—sesuatu yang wajar, diterima, dan tidak perlu dipertanyakan lagi.

"Ger, liat deh pura yang di ujung sana," bisik Vanya sambil menunjuk ke arah tebing yang menjorok ke laut. Tangannya masih memeluk lengan Gery dengan nyaman.

Gery mengangguk. "Bagus ya. Kayak di kartu pos."

Gery melirik ke samping, di mana Nadia sedang berjalan berdampingan dengan Vivi. Nadia tampak sangat menikmati pemandangan, sesekali menoleh ke arah Gery dan Vanya sambil tersenyum tenang. Tidak ada kecanggungan, tidak ada drama. Seolah-olah kesepakatan rahasia semalam di pantai telah menciptakan perisai yang melindungi mereka dari rasa cemburu yang tidak perlu.

Bagi Gery, sore itu adalah pelajaran tentang kenyamanan. Meski ia tahu bahwa pelukan tangan Vanya adalah bagian dari "kontrak" untuk saling menguatkan, ia tidak bisa menampik bahwa ia mulai terbiasa dengan kehadiran gadis itu di setiap langkahnya. Mereka berkeliling hingga sore hari, menikmati setiap sudut Uluwatu yang mistis, sebelum akhirnya diperintahkan untuk kembali ke bus.

Di dalam bus saat perjalanan pulang, Vanya yang kelelahan tertidur di bahu Gery. Gery menatap keluar jendela, melihat langit Bali yang mulai berubah menjadi jingga kemerahan. Ia sadar, perjalanan ini bukan hanya soal melihat tempat wisata, tapi soal bagaimana mereka semua—sembilan orang ini—mulai mengunci kenangan yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi dengan komposisi yang sama.

Malam itu, restoran hotel kembali riuh. Bau sabun dan parfum segar tercium dari para siswa yang sudah selesai membersihkan diri setelah seharian berpanas-panasan di Uluwatu. Gery duduk di antara teman-temannya, menikmati hidangan makan malam saat Pak Bambang, Wakil Kepala Sekolah, berdiri di depan mikrofon.

"Perhatian semuanya! Untuk agenda besok pagi, kita akan menyaksikan kreativitas dari jurusan Busana. Mereka akan mengadakan fashion show di aula utama hotel. Kehadiran seluruh siswa wajib, dan kalian semua akan menjadi juri untuk memberikan penilaian bagi karya teman-teman kalian!"

Suasana langsung ramai. Anak-anak jurusan Busana tampak gugup sekaligus bangga, sementara jurusan lain mulai berbisik-bisik menebak siapa yang akan menjadi model besok.

Di tengah keriuhan itu, Vanya mendekatkan wajahnya ke telinga Gery. Napasnya terasa hangat di kulit Gery. "Ger, habis makan kita ke pantai lagi yuk? Tempat yang semalam," bisiknya pelan, seolah takut ada yang mendengar.

Namun, indra pendengaran Reno ternyata lebih tajam dari yang dikira. Reno yang duduk tepat di seberang mereka langsung meletakkan sendoknya dan memasang wajah jahil.

"Wah, bisik-bisik apa tuh? Mau ke pantai semalam ya?" goda Reno dengan volume suara yang cukup terdengar oleh Dion dan Feri.

Vanya sedikit tersipu, tapi Reno tidak berhenti di situ. "Woi, ajak-ajak dong! Jangan berduaan terus. Kita juga mau nyantai kali, bosen di hotel mulu. Gue bawa gitar, kita nyanyi-nyanyi di sana biar makin asik."

Dion ikut mengangguk setuju. "Bener tuh, Van. Malem-malem gini di pantai sambil denger Reno main gitar kayaknya seru. Lagian kan kita satu tim, masa 'ajudannya' nggak dibawa?"

Vanya melirik Gery, meminta persetujuan lewat tatapan mata. Gery tersenyum kecil. Meskipun ia tahu Vanya mungkin ingin waktu pribadi, tapi melihat antusiasme teman-temannya, rasanya sulit untuk menolak.

"Ya udah, ajak yang lain juga. Nadia, Vivi, semuanya kalau mau ikut," ucap Gery akhirnya.

Akhirnya, rombongan kecil itu kembali menyeberang ke arah pantai. Kali ini suasananya jauh lebih ramai. Reno memimpin di depan dengan gitar tersampir di punggungnya, sementara Dion dan Feri membawa beberapa camilan yang mereka beli di minimarket dekat hotel.

Mereka membentuk lingkaran besar di atas pasir. Vanya duduk tepat di samping Gery, kembali memeluk lengan Gery seolah itu adalah tempat sandaran paling nyaman di dunia. Di seberang mereka, Nadia duduk bersama Vivi dan Yola, ikut hanyut dalam suasana malam yang tenang.

Reno mulai memetik senar gitarnya. Alunan lagu santai mulai mengalir, menyatu dengan suara deburan ombak yang tenang.

"Ayo nyanyi bareng!" ajak Reno.

Di sela-sela nyanyian, Gery sempat melirik Nadia. Gadis itu tampak sangat damai, ikut bernyanyi pelan sambil menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama. Meskipun Vanya ada di sampingnya sebagai "kekasihnya", Gery merasa momen ini sangat berharga karena mereka semua bisa berkumpul tanpa ada rasa canggung.

"Ger," bisik Vanya di tengah suara lagu. "Makasih ya udah bolehin mereka ikut. Ternyata lebih seru kalau rame-rame gini."

Gery menepuk punggung tangan Vanya lembut. "Tujuan kita ke Bali kan emang buat bareng-bareng, Van."

Malam itu, Pantai Kuta tidak hanya menjadi saksi perjanjian rahasia dua orang, tapi juga saksi eratnya persahabatan sembilan orang siswa SMK. Mereka tertawa, bernyanyi, dan melupakan sejenak beban tugas sekolah yang menanti di rumah. Esok hari, mereka akan melihat sisi lain dari kreativitas teman-teman mereka di fashion show, tapi malam ini, mereka hanya ingin menjadi remaja yang menikmati masa muda di bawah langit Bali.

Suasana santai di pinggir pantai itu tiba-tiba berubah tegang, namun penuh antisipasi. Reno perlahan memudarkan petikan gitarnya hingga menyisakan suara deburan ombak yang konsisten.

Gery melirik Dion dan Reno, mereka bertukar senyum penuh arti. Ini adalah momen yang sudah mereka bicarakan secara rahasia di kamar 402 tadi sore. Sebagai "tim sukses", mereka tahu Feri sudah menyimpan perasaan pada Vivi sejak awal semester satu, dan malam ini adalah puncak dari segala rencana kecil mereka.

Di tengah lingkaran pasir itu, Feri berdiri dengan wajah yang sedikit pucat di bawah temaram lampu pantai. Ia meraih tangan Vivi, menuntunnya berdiri ke tengah lingkaran. Vivi tampak bingung, matanya berkedip cepat menatap teman-temannya yang mendadak diam seribu bahasa.

"Vi..." suara Feri terdengar agak serak karena gugup.

Vanya, Nadia, Yola, dan Rini saling berpandangan dengan mulut sedikit menganga. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa sesi menyanyi santai ini akan berubah menjadi panggung pengakuan cinta. Vanya refleks meremas lengan Gery lebih erat, ikut merasakan ketegangan yang ada di udara.

"Gue nggak jago merangkai kata-kata kayak Gery atau melantunkan lagu kayak Reno," lanjut Feri, menarik napas panjang untuk menstabilkan jantungnya. "Tapi yang gue tahu, setiap kali kita di kelas, setiap kali gue liat lo ketawa, gue ngerasa perjalanan sekolah gue jauh lebih ringan. Vi, di Bali ini, di depan semua sahabat kita... gue mau nanya, lo mau nggak jadi pacar gue?"

Hening. Sunyi sejenak seolah dunia berhenti berputar.

Vivi tampak membeku, wajahnya memerah sempurna. Nadia dan Vanya menahan napas, menunggu jawaban yang akan menentukan nasib malam itu. Sementara itu, Gery, Dion, dan Reno bersiap dengan "kejutan" kecil mereka. Begitu Vivi mengangguk pelan sambil tersenyum malu-malu, Reno langsung menggenjreng gitarnya dengan kunci mayor yang ceria.

"DITERIMA! WOI, DITERIMA!" teriak Reno histeris, memecah kesunyian.

Dion dan Gery serentak bertepuk tangan kencang. Feri tampak menghembuskan napas lega yang sangat panjang, seolah beban satu ton baru saja diangkat dari pundaknya.

"Gila lo, Fer! Berani banget!" seru Vanya yang langsung bangkit dan memeluk Vivi dengan heboh. "Selamat ya, Vi! Akhirnya ada pasangan baru lagi di Bus 4!"

Nadia ikut menghampiri mereka, memberikan selamat dengan wajah yang sangat ceria. "Pantesan tadi sore Feri kelihatan gelisah banget, ternyata ini alasannya."

Gery bangkit dari duduknya, menepuk bahu Feri dengan bangga. "Rencana sukses, Fer. Selamat ya."

Malam itu, Pantai Kuta seolah menjadi saksi bahwa perjalanan ini memang ditakdirkan untuk mempererat hubungan mereka. Jika semalam adalah tentang Gery dan Vanya yang memulai "perjanjian" mereka, malam ini adalah tentang kejujuran perasaan Feri yang membuahkan hasil manis.

Kegembiraan itu berlanjut hingga larut malam. Reno memainkan lagu-lagu yang lebih semangat, dan mereka semua menari kecil di atas pasir. Gery melihat ke arah Nadia yang sedang tertawa bersama pasangan baru itu. Ada rasa damai melihat lingkaran pertemanan mereka semakin kuat. Bali bukan lagi sekadar tempat wisata bagi mereka, tapi tempat di mana rahasia diungkapkan dan ikatan hati mulai terjalin secara nyata.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!