Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Kebenaran Memilih Waktunya
Jam tujuh malam, mobil Alexey sampai di hotel mewah tempat acara gala berlangsung. Ia turun dari mobil dengan setelan formal hitam yang membuatnya terlihat lebih dewasa dan menawan. Melangkah masuk ke lobi yang sudah ramai dengan tamu undangan berpakaian elegan.
Matanya langsung menangkap sosok Haerim berdiri bersama Kang Mira dan seorang pria tinggi berjas—yang ia duga adalah ayah Haerim. Alexey menghampiri mereka dengan langkah tenang.
"Alexey! Akhirnya kamu sampai juga!" seru Haerim dengan nada ceria begitu melihatnya mendekat, senyumnya merekah lebar. "Aku kira kamu nggak jadi datang..."
Pria tinggi di samping Kang Mira mengulurkan tangannya dengan senyum ramah namun berwibawa.
"Selamat datang, anak muda," sapanya dengan nada hangat. "Perkenalkan, saya Kang Taesok, ayah Haerim. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu. Haerim dan istrinya sering menyebut namamu akhir-akhir ini."
Alexey menerima jabat tangan itu dengan tegas namun sopan.
"Alexey Liebert, Pak," perkenalkannya dengan nada datar namun hormat. "Terima kasih atas undangannya. Senang bisa hadir di acara ini."
"Mungkin ini alasannya kenapa putri saya akhir-akhir ini sering tersenyum sendiri," ujar Taesok sambil melirik ke arah Haerim dengan senyum jahil.
"Daddy!" rengek Haerim malu sambil menarik lengan ayahnya, wajahnya langsung memerah padam. "Jangan gitu dong! Malu-maluin aku aja di depan Alexey... Ayah nih..."
"Maaf ya, Alexey," ucap Kang Mira sambil tersenyum lembut. "Mommy izin sebentar, harus menyambut para tamu yang baru datang. Kamu ngobrol dulu saja sama Haerim. Nanti kita bisa ngobrol lagi."
Kang Mira menepuk bahu putrinya dengan lembut.
"ini yang kamu inginkan bukan sayang," ucapnya jahil sebelum berjalan menjauh bersama Taesok untuk menyambut tamu-tamu lain yang mulai berdatangan.
Setelah kedua orang tuanya pergi, Haerim berbalik menatap Alexey. Matanya menyapu penampilan Alexey dari atas ke bawah—setelan formal hitam yang pas di tubuhnya, rambut yang rapi, dan aura dingin namun menawan yang selalu ia pancarkan.
"Kamu... tampan banget malam ini," puji Haerim dengan suara pelan dan malu-malu, wajahnya sedikit memerah. "Jas hitam itu cocok banget sama kamu..."
"Ulangi," perintah Alexey dengan nada datar namun ada sedikit nada main-main di matanya. "Aku sepertinya tidak mendengar tadi. Kamu bilang apa?"
"Nggak mau!" tolak Haerim dengan kesal sambil memalingkan wajahnya, pipinya makin merah. "Udah tahu dengar, kok pura-pura nggak dengar! Nyebelin banget sih!"
"Kamu juga cantik dengan dress-mu," ucapnya dengan nada datar namun tulus, matanya menatap Haerim sekilas dari atas ke bawah. "Cocok untukmu."
"T-terima kasih..." jawab Haerim dengan malu, suaranya hampir seperti bisikan. Wajahnya semakin memerah mendengar pujian langsung dari Alexey. Ia tidak terbiasa dengan sisi Alexey yang seperti ini.
"Alexey, kamu mau minum atau makan sesuatu?" tanya Haerim sambil berusaha nutupin rasa malunya, mengalihkan pembicaraan. "Ada banyak hidangan di sana. Aku bisa ambilin kalau kamu mau..."
"Tidak," jawab Alexey datar sambil menatap Haerim intens. "Aku hanya ingin menatapmu seperti ini."
Haerim langsung membeku di tempat, matanya membulat, napasnya tertahan. Wajahnya langsung memerah total seperti kepiting rebus.
"A-Alexey... jangan bilang hal kayak gitu!" protesnya dengan suara bergetar, tangannya menutupi wajahnya yang panas. "Atau aku beneran bisa pingsan di sini! Jantungku nggak kuat kalau kamu tiba-tiba romantis begini..."
"Kenapa?" tanya Alexey dengan nada polos namun tatapannya tetap intens menatap Haerim.
"K-karena..." jawab Haerim dengan malu, suaranya hampir tak terdengar. "Karena aku... nggak terbiasa kamu kayak gini. Biasanya kan kamu dingin dan datar... Tiba-tiba bilang kayak gitu... jantungku nggak kuat, Alexey..."
Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Alexey langsung.
"Berarti mulai sekarang kamu harus kuat," ucap Alexey dengan nada datar namun ada sedikit nada main-main di suaranya.
"hehe..." Haerim terkekeh pelan, tangannya masih menutupi wajahnya yang memerah. "Kamu ini... Masa aku disuruh kuat sendiri? Nggak adil banget..."
Senyumnya merekah meski wajahnya masih panas, jantungnya masih berdebar kencang mendengar kata-kata Alexey yang tiba-tiba jadi tidak seperti biasanya.
Saat musik latar mulai dinyalakan dengan alunan lembut yang mengalun di seluruh ballroom, Haerim tiba-tiba menarik tangan Alexey dengan berani.
"Ayo, dansa sama aku," ajaknya sambil menarik Alexey menuju area dansa dengan senyum ceria. "Kamu bisa dansa kan? Kalau nggak bisa, aku yang pimpin..."
Junhwan yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan menatap mereka dengan rahang mengeras, tangannya menggenggam gelas sampanye dengan kuat.
"Alexey tidak pantas berada di posisi itu," gerutunya kesal dengan nada rendah penuh amarah. "Seharusnya aku yang di sana... bukan dia..."
Taejun yang berdiri di sampingnya menghela napas panjang sambil menepuk bahu Junhwan.
"Untuk apa kamu masih menyimpan perasaan pada Haerim?" ucapnya dengan nada realistis. "Lihat sendiri kan? Sikap dingin Haerim yang biasanya bisa berubah seceria itu saat bersama Alexey. Dia nggak pernah sekalipun tersenyum kayak gitu kalau sama kamu. Udah move on aja, bro..."
"HAERIM! KALIAN BERDUA SANGAT COCOK!" teriak Yubin dengan antusias dari kejauhan, tangannya melambai-lambai semangat sambil tersenyum lebar.
"Iya bener! Kalian tuh kayak ratu dan raja!" sahut salah satu teman sekelas Haerim yang lain dengan nada kagum.
"Pasangan paling sempurna malam ini!" tambah teman yang lainnya sambil bertepuk tangan pelan, mata mereka berbinar melihat Haerim dan Alexey yang berdansa dengan anggun di tengah lantai dansa.
Taesok yang baru selesai menyambut tamu-tamu terakhir, berdiri di samping istrinya sambil menatap putri mereka yang sedang berdansa dengan Alexey. Senyum tipis tersungging di wajahnya.
"Sepertinya sekarang putri kita tidak akan jadi pendiam lagi," ucapnya dengan nada lega sambil merangkul pinggang Kang Mira. "Lihat saja senyumnya. Sudah lama aku tidak melihatnya sebahagia itu."
"Aku juga senang melihat Haerim seperti itu," jawab Kang Mira dengan tulus, suaranya melembut. "Setidaknya ada yang bisa membantunya tersenyum... walaupun kita berdua sibuk bekerja dan jarang di rumah."
Matanya sedikit berkaca-kaca melihat putrinya tertawa lepas di pelukan Alexey.
Setelah musik latar berhenti, Haerim tiba-tiba menarik tangan Alexey dengan cepat dan menggandengnya erat.
"Ayo, ikut aku," ajaknya dengan nada penuh semangat sambil mulai melangkah.
"Kemana?" tanya Alexey datar sambil mengikuti langkah Haerim, alisnya terangkat sedikit penasaran.
"Aku mau nunjukin sesuatu," jawab Haerim sambil terus menarik Alexey melewati koridor menuju lift. "Ikut aja dulu..."
Mereka naik lift menuju lantai atas dan berjalan menyusuri koridor hotel yang sepi. Haerim berhenti di depan salah satu pintu kamar dan membukanya dengan kartu akses.
Alexey berdiri di ambang pintu dengan tatapan curiga.
"Apa yang ingin kamu tunjukkan di sini?" tanyanya dengan nada waspada.
Haerim tertawa geli melihat ekspresi curiga Alexey, tangannya menutupi mulut sambil terkikik.
"Jangan berpikir macam-macam dulu, Alexey!" ucapnya dengan nada main-main sambil mendorong punggung Alexey agar masuk. "Aku cuma mau memperlihatkan sesuatu yang penting. Serius deh, bukan yang kamu pikirin..."
Ia menutup pintu kamar dan berjalan menuju tasnya yang tergeletak di sofa.
Haerim mengeluarkan dua lembar foto dari tasnya dengan hati-hati. Ia berjalan menghampiri Alexey dan memberikan foto-foto itu dengan tangan sedikit gemetar.
"Aku menemukan ini di gudang rumahku tadi sore," jelasnya sambil menatap wajah Alexey dengan serius. "Foto ini... apa kamu mengenal wanita yang ada di foto ini, Alexey?"
Alexey terdiam, tangannya menerima foto-foto itu dengan gerakan kaku. Matanya menatap foto wanita yang sedang menggendong bayi dengan tatapan kosong—namun tangannya mulai gemetar.
"Itu Bibi Seoyon, kata Mommy," lanjut Haerim dengan nada pelan namun serius, matanya tidak lepas dari wajah Alexey. "Alexey... apa kamu mengenal wanita ini? Karena kalian... sangat mirip. Wajahnya, matanya, semuanya seperti versi perempuan darimu..."
Haerim melangkah lebih dekat, suaranya bergetar penuh kekhawatiran.
"Tolong jujur padaku, Alexey. Siapa sebenarnya Bibi Seoyon untukmu?"
"Itu mamaku," jawab Alexey dengan nada dingin dan datar, tatapannya masih terpaku pada foto.
"Kenapa kamu nggak cerita apa-apa ke aku?" tanya Haerim dengan nada kecewa, suaranya bergetar. "Apa aku nggak pantas tahu tentang kamu, Alexey? Sampai harus disembunyiin segala sesuatu... Apa aku sebegitu nggak pentingnya buat kamu?"
Matanya mulai berkaca-kaca, tangannya terkepal di sisi tubuhnya, berusaha nahan emosi yang meluap.
Saat Haerim berbalik ingin pergi, Alexey dengan cepat menarik lengannya dan menariknya ke dalam pelukan erat. Tangannya memeluk tubuh Haerim dengan possesif, tidak membiarkannya pergi.
"Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun darimu," bisik Alexey dengan suara rendah di telinga Haerim, nadanya bergetar menahan emosi. "Tapi ini terlalu berbahaya untukmu. Biarkan aku menyelesaikan dulu kasus kematian ibuku... Setelah itu, aku akan ceritakan semuanya. Kumohon... jangan pergi sekarang..."
Pelukannya semakin mengerat, seolah takut Haerim akan menghilang dari hidupnya.
"K-kasus yang kamu maksud itu..." tanya Haerim dengan suara terisak, air matanya mulai menetes membasahi kemeja Alexey. "Itu... pembunuhan? Bibi Seoyon... dibunuh?"
Alexey berdehem singkat sambil mengelus punggung Haerim dengan lembut mencoba menenangkannya.
"Jangan ceritakan apapun tentang ini pada siapa pun," bisiknya pelan namun tegas di telinga Haerim. "Kecuali pada ibumu. mungkin dia tahu sesuatu. Tapi untuk yang lain, jangan. Ini berbahaya, Haerim. Aku tidak mau kamu terlibat lebih dalam..."
Haerim melepaskan pelukan Alexey perlahan, mengusap air matanya yang masih basah di pipi. Ia menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri.
"Ayo keluar," ajaknya dengan suara serak sambil merapikan rambutnya. "Sebelum ada yang curiga kenapa kita lama-lama di sini. Nanti orang-orang malah berpikir yang aneh-aneh..."
Ia menatap Alexey sekilas dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Tapi... nanti kita harus bicara lagi, Alexey. Aku serius," tambahnya pelan namun tegas.
Saat mereka turun ke ballroom, Kang Mira yang sedang berdiri di dekat meja jamuan langsung melihat mereka. Ia menghampiri dengan senyum lembut namun ada kesan serius di matanya.
"Alexey," sapanya dengan nada sopan sambil menatap Alexey. "Boleh bicara sebentar denganku? Ada yang ingin aku sampaikan. Hanya sebentar saja kok..."
Ia melirik ke Haerim sekilas, memberi kode agar putrinya tidak mengikuti.
"Mom, aku ikut ya," pinta Haerim sambil melangkah maju, suaranya sedikit khawatir.
"Tidak, sayang," tolak Kang Mira dengan lembut namun tegas, tangannya mengangkat memberi isyarat agar Haerim berhenti. "Mommy harus bicara empat mata dengan Alexey. Ini penting. Kamu tunggu di sini saja, ya? Nggak akan lama kok..."
Tatapan Kang Mira serius namun tidak mengancam hanya ada kebutuhan untuk berbicara dengan Alexey secara privat.
Haerim menghela napas panjang sambil menatap punggung ibunya dan Alexey yang berjalan menjauh menuju area yang lebih sepi. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya.
"Pasti mereka mau membahas tentang Bibi Seoyon," gumamnya pelan dengan nada khawatir. "Mommy pasti tahu sesuatu... Aku harap semuanya baik-baik saja..."
Di taman hotel yang tenang dengan cahaya lampu redup, Alexey berdiri berhadapan dengan Kang Mira.
"Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Alexey dengan nada sopan namun dingin.
Kang Mira menatap Alexey dengan tatapan lembut namun penuh makna.
"Apa Haerim sudah memperlihatkan foto Seoyon padamu?" tanyanya pelan, suaranya bergetar sedikit.
Ia berhenti sejenak, tatapannya menerawang.
"Aku sempat melihat foto itu di tas Haerim saat kami berangkat ke hotel tadi," lanjutnya dengan nada penuh penyesalan. "Tapi aku sengaja tidak menghentikannya. Karena aku tahu... suatu saat kamu pasti akan mencari tahu. Dan Haerim... dia berhak tahu juga."
"Apa anda tahu sesuatu?" tanya Alexey dengan nada mendesak.
Kang Mira menundukkan kepalanya, air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata.
"Seoyon... dia sahabatku," ucapnya dengan nada sedih dan penuh penyesalan.
FLASHBACK:
Di apartemen Kang Mira, malam itu suasana tegang. Kang Mira memegang tangan Seoyon dengan erat, berusaha membujuknya.
"Seoyon, jangan pulang malam ini," pinta Kang Mira dengan nada khawatir. "Setidaknya tunggu sampai besok pagi. Aku merasa tidak enak..."
"Aku tidak bisa, Mira," tolak Seoyon dengan lembut namun tegas. "Alexey sedang sakit. Dan suamiku sedang dalam misi mercenary di Timur Tengah. Aku tidak bisa menunda. Dia butuh aku sekarang."
"Kalau begitu pulang dengan jet pribadi keluargaku!" tawar Kang Mira dengan nada memohon. "Aku juga akan kirimkan pengawal untukmu. Please, Seoyon... aku punya firasat buruk..."
"Tidak perlu, Mira," tolak Seoyon sambil tersenyum lembut, menggenggam tangan sahabatnya. "Aku sudah pesan tiket pesawat umum. Aku bisa pulang dengan aman. Kamu terlalu khawatir..."
Kang Mira yang sudah kehabisan cara akhirnya memeluk Seoyon dengan erat, air matanya mulai mengalir.
"Semoga kamu baik-baik saja... dan Alexey juga cepat sembuh," bisiknya dengan suara bergetar di telinga Seoyon. "Tolong... hati-hati..."
"Terima kasih, Mira," ucap Seoyon sambil membalas pelukan itu dengan hangat. "Kamu sahabat terbaik yang pernah aku punya. Aku akan baik-baik saja. Aku janji..."
FLASHBACK OFF:
Alexey terdiam.
"Jadi... kematian ibu itu gara-gara aku?" tanyanya dengan nada hancur, matanya mulai berkaca-kaca. "Karena aku sakit... karena aku memaksanya pulang malam itu..."
"BUKAN!" sela Kang Mira dengan tegas sambil memegang kedua bahu Alexey, memaksanya menatap matanya yang basah oleh air mata. "Bukan gara-gara kamu, Alexey. Dengar baik-baik..."
Suaranya bergetar namun penuh ketegasan.
"Di dunia ini terlalu banyak orang jahat," lanjutnya dengan nada sedih namun tegas. "Yang membunuh Seoyon adalah orang-orang jahat itu—bukan kamu. Jangan pernah, bahkan sesaat pun, menyalahkan dirimu sendiri untuk kejahatan yang dilakukan orang lain. Kamu mengerti?"
Air matanya mengalir deras, tangannya menggenggam erat bahu Alexey.
"Seoyon tidak akan pernah menyalahkanmu... dan aku juga tidak akan membiarkan kamu menyalahkan diri sendiri..."
"Sekarang kamu sudah tahu semuanya, Alexey," ucapnya dengan nada tegas namun penuh harap. "Jadi mommy minta bantuanmu... untuk menyelidiki kasus ini bersama-sama. Kasus yang sudah bertahun-tahun aku cari tahu sendiri tanpa hasil..."
"Apa Ibu punya sesuatu yang bisa membantu penyelidikan ini?" tanya Alexey dengan nada serius, tatapannya tajam penuh fokus.
"Ada," jawab Kang Mira sambil mengangguk. "Aku punya catatan harian ibumu. Seoyon memberikannya padaku beberapa minggu sebelum... kejadian itu. Dia bilang untuk dijaga baik-baik, seolah dia sudah merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi..."
Kang Mira menatap Alexey dengan tatapan penuh makna.
"Datang ke rumahku besok," pintanya dengan nada mendesak. "Ambil catatan harian itu. Di sana mungkin ada petunjuk yang kita butuhkan."