Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19) BERTEMU KEMBALI
Kamis, pukul 08.15 WIB
Suara mesin fotokopi yang berdenyut berirama memenuhi ruang administrasi di lantai dasar Gedung Permata Raya. Debu tipis mengelilingi ruangan yang penuh dengan rak-rak berisi berkas dokumen dan meja kerja yang sedikit berantakan. Sea menatap layar komputer dengan pandangan yang fokus, jari-jari tangannya bergerak cepat mengetikkan data ke dalam sistem. Tiga tahun telah berlalu sejak dia memulai bekerja di bagian arsip dan administrasi perusahaan ini—dan selama tiga tahun itu, dia berhasil menghindari satu orang yang seharusnya sering dia temui di gedung pencakar langit ini.
Rayyan Adiwijaya. Putra tunggal pemilik perusahaan, penerus yang telah membawa bisnis properti dan real estat ini menjelma menjadi salah satu yang terkemuka di Jakarta. Juga mantan kekasihnya yang membuat hatinya berdebar kencang hanya dengan menyebut namanya.
“Sea, tolong bantu fotokopi berkas kontrak proyek Green Valley ya! Pak Bambang mau segera mengambilnya,” teriak Maya, rekan kerja satu timnya yang sedang sibuk menyusun berkas di meja sebelahnya.
“Baik, langsung saja!” Sea berdiri dengan cepat, mengambil tumpukan kertas yang tebal dan berjalan menuju mesin fotokopi di sudut ruangan. Saat dia membuka penutup mesin, ingatan tentang tiga tahun yang lalu tiba-tiba menghantamnya dengan kuat.
“Jika dalam tiga tahun kita tidak bisa menemukan cara untuk menyatukan dunia kita, kita harus berpisah dan tidak boleh mencari satu sama lain. Tapi jika kebetulan kita bertemu lagi setelah itu… maka itu tandanya kita harus mengulang kisah lama kita.”
Kata-kata Rayyan saat itu masih jelas terdengar di telinganya. Saat itu mereka berdua sedang duduk di atas atap apartemen kecil Sea di kawasan Kemang, melihat matahari terbenam sambil merenungkan masa depan yang penuh ketidakpastian. Rayyan sedang menjalani program magang di luar negeri yang menjadi syarat untuk meneruskan perusahaan keluarga, sementara Sea baru saja menyelesaikan studi dan bertekad untuk membangun karirnya sendiri tanpa bantuan siapapun—terutama tanpa bantuan nama besar keluarga Adiwijaya.
Kesepakatan itu dibuat dengan berat hati. Mereka mencintai satu sama lain dengan sangat dalam, tapi juga tahu bahwa dunia mereka terlalu berbeda. Rayyan hidup di atas awang-awang dengan kesempatan dan kenyamanan yang tak terhitung jumlahnya, sementara Sea berasal dari keluarga biasa yang harus bekerja keras untuk setiap hal yang mereka miliki.
“Sea, kamu baik-baik saja kan? Wajahmu jadi pucat tiba-tiba,” ujar Maya yang sudah mendekat ke arahnya dengan wajah khawatir.
Sea terkejut dan segera tersenyum untuk menenangkannya. “Ah, tidak apa-apa, mungkin hanya kurang tidur kemarin malam aja. Berkasnya sudah siap kok, bisa kamu berikan ke Pak Bambang sekarang.”
Setelah Maya pergi, Sea menarik napas dalam-dalam dan kembali ke mejanya. Dia telah memilih bekerja di bagian arsip di lantai dasar dengan sengaja—tempat yang jarang dikunjungi oleh eksekutif perusahaan, termasuk Rayyan yang biasanya menghabiskan waktunya di lantai 35, di kantor eksekutif yang megah dengan pemandangan kota yang memukau.
Selama tiga tahun bekerja di sini, Sea hanya pernah melihat Rayyan melalui koran bisnis, majalah gaya hidup, atau di layar besar saat perusahaan mengadakan rapat umum tahunan. Setiap kali melihat wajah tampan pria itu dengan rambut hitam yang rapi dan senyum yang pernah membuat hatinya meleleh, Sea merasa campuran antara rasa rindu yang menyakitkan dan kepastian bahwa kesepakatan mereka adalah hal yang terbaik.
Namun hari ini tampaknya berbeda. Saat jam menunjukkan pukul 10.00, suara pembicara di area umum perusahaan tiba-tiba terdengar: “Mohon perhatian seluruh karyawan. Hari ini akan ada kunjungan langsung dari Bapak Rayyan Adiwijaya, Direktur Utama Perusahaan, untuk memeriksa kesiapan sistem administrasi dan arsip guna mendukung proyek baru perusahaan. Mohon bersiap dan menjaga kerapian area masing-masing.”
Hati Sea berhenti sejenak sebelum berdebar dengan sangat cepat. Dia merasa keringat dingin mengalir di punggungnya. Bagaimana bisa? Selama tiga tahun Rayyan tidak pernah sekali pun datang ke lantai dasar. Kenapa sekarang?
Dia segera berdiri dan mulai membersihkan mejanya dengan tergesa-gesa, menyusun berkas-berkas dengan rapi dan menghapus debu dari permukaan meja. Tangan nya sedikit gemetar karena kegelisahan. Apa yang harus dia lakukan jika bertemu dengan Rayyan? Apakah dia harus menyapa seperti orang asing saja? Atau apakah kesepakatan tiga tahun yang lalu masih berlaku?
BAB 2: KEMBALINYA YANG PERNAH HILANG
Lima belas menit kemudian, suara langkah kaki sepatu kulit yang keras terdengar di lorong luar ruangan administrasi. Sea merasa jantungnya berdebar semakin cepat, tapi dia tetap fokus pada layar komputernya seolah-olah sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya.
“Ini adalah bagian arsip dan administrasi, Pak Rayyan,” suara Pak Sudarmo, kepala departemennya, terdengar dari pintu ruangan. “Di sini kami menyimpan semua berkas penting perusahaan mulai dari kontrak proyek hingga data karyawan.”
“Baik, saya ingin melihat sistem pengelolaan berkas yang baru saja mereka terapkan. Selain itu, saya juga ingin bertemu dengan beberapa karyawan yang telah berkontribusi besar dalam menyusun arsip proyek Green Valley,” jawab suara yang sudah sangat akrab di telinga Sea. Suara itu lebih dalam dan mantap dibanding tiga tahun yang lalu—suara seorang pemimpin yang telah matang.
Sea menutup mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Dia merasa tubuhnya menjadi kaku saat langkah kaki tersebut semakin mendekat ke arah mejanya. Dia mencoba mengatur napasnya dan terus mengetik meskipun tidak ada yang dia ketik sebenarnya.
“Pak Sudarmo, bisa saya tahu siapa yang menangani penyusunan berkas proyek Green Valley?” tanya Rayyan.
“Ya, Pak Rayyan. Adalah Sea Anastasia, anak muda yang sangat cakap dan teliti. Dia yang bertanggung jawab atas seluruh dokumentasi proyek itu mulai dari tahap perencanaan hingga persetujuan akhir,” jawab Pak Sudarmo dengan bangga.
Sea merasa wajahnya menjadi panas. Dia tidak bisa lagi menghindari dan terpaksa menoleh ke arah suara tersebut. Ketika matanya bertemu dengan pandangan Rayyan, dunia seolah-olah berhenti berputar.
Rayyan berdiri tepat di depan mejanya, mengenakan jas hitam yang rapi dengan dasi berwarna biru muda. Wajahnya tampak lebih matang dan gagah, dengan alis yang tegas dan mata coklat yang dalam yang sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ada kejutan yang jelas terlihat di mata pria itu sebelum dia segera menutupinya dengan tenang.
“Sea… Anastasia,” ujar Rayyan dengan suara yang sedikit terengah-engah. “Senang bertemu denganmu.”
Sea berdiri dengan cepat, merasa tubuhnya gemetar sedikit. “I-iya saya juga, Pak Rayyan. Senang bertemu dengan Anda juga.”
Kata-kata itu terasa sangat asing di lidahnya. Memanggil mantan kekasihnya dengan gelar formal seperti itu adalah hal yang paling menyakitkan yang pernah dia lakukan.
Rayyan mengangguk perlahan, tapi matanya tetap tidak pernah lepas dari wajah Sea. “Saya telah melihat seluruh dokumentasi proyek Green Valley. Sangat rapi dan terstruktur dengan baik. Anda telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, Sea.”
“Terima kasih, Pak Rayyan. Itu adalah tugas saya sebagai karyawan perusahaan,” jawab Sea dengan suara yang tenang meskipun hatinya sedang bergolak seperti badai.
Pak Sudarmo yang melihat suasana sedikit kaku segera mencoba mengalihkan perhatian. “Nah, Pak Rayyan, kalau sudah melihat bagian ini, mari kita lanjutkan ke bagian sistem pengarsipan elektronik ya? Ada beberapa inovasi baru yang telah kami terapkan.”
Rayyan mengangguk, tapi sebelum dia berjalan pergi, dia menoleh kembali ke arah Sea. “Sea, bisakah Anda mampir ke kantor saya di lantai 35 setelah jam kerja hari ini? Saya ingin berbicara dengan Anda lebih lanjut tentang beberapa hal terkait proyek ini.”
Tanpa memberikan kesempatan Sea untuk menolak, Rayyan berbalik dan pergi bersama Pak Sudarmo, menyisakan Sea yang berdiri dengan tubuh yang kaku dan hati yang penuh dengan keraguan.
Sisa hari itu terasa sangat panjang bagi Sea. Rekan kerjaannya memperhatikan bahwa dia terlihat gelisah dan sering melamun. Maya bahkan datang bertanya kepadanya beberapa kali apakah dia benar-benar baik-baik saja. Sea hanya bisa tersenyum dan mengatakan bahwa dia hanya sedikit capek.
Ketika jam kerja akhirnya berakhir dan rekan kerjaannya mulai pulang satu per satu, Sea masih duduk di mejanya, merenungkan apakah dia harus memenuhi permintaan Rayyan atau tidak. Kesepakatan mereka tiga tahun yang lalu tetap jelas di benaknya: jika mereka bertemu lagi setelah tiga tahun, mereka harus mengulang kisah lama mereka. Tapi apakah itu masih relevan sekarang? Banyak hal yang telah berubah dalam tiga tahun ini.
Setelah berpikir lama, Sea akhirnya memutuskan untuk pergi ke lantai 35. Dia merasa bahwa dia tidak bisa menghindari Rayyan selamanya, terutama sekarang mereka bekerja di perusahaan yang sama. Selain itu, dia juga merasa ingin tahu apa yang ingin dibicarakan Rayyan padanya.