NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasang KB

Keesokan harinya, langit masih agak mendung ketika Celine memarkir mobilnya di area parkir rumah sakit. Dia mematikan mesin, tapi tidak langsung turun.

Tangannya menggenggam setir kuat-kuat. Napasnya tertahan, sembari melirik kaca spion, memastikan tidak ada wajah familiar di sekitar.

Setelah itu, dia memakai masker, dan menyelipkan rambutnya ke balik telinga.

“Cepat masuk, selesai, terus balik ke kantor,” gumamnya pada diri sendiri.

Begitu turun, Celine melangkah cepat, nyaris berlari kecil, melewati pintu utama rumah sakit. Dia menunduk, menghindari tatapan orang-orang, seperti sedang membawa rahasia besar.

Di dalam, suasana rumah sakit ramai. Suara langkah, panggilan nomor antrean, dan bau antiseptik bercampur jadi satu. Celine menuju lift, menekan tombol lantai poli.

Tangannya sedikit gemetar. Ketika pintu lift terbuka, papan besar bertuliskan POLI KEBIDANAN & KANDUNGAN (OBGYN) menyambutnya.

Celine menelan ludah. Dia berjalan menuju loket pendaftaran, lalu menyebutkan namanya pelan.

Petugas mengangguk. “Silakan tunggu ya, Bu. Nanti dipanggil.”

Celine duduk di kursi tunggu. Di sana ada beberapa ibu hamil, ada yang ditemani suami, ada yang sendirian. Celine justru merasa semakin tidak nyaman. Dia merapatkan tasnya ke dada, menunduk, lalu memainkan jari-jarinya.

Pikirannya melayang pada Dirga semalam. Pertengkaran kecil, tatapan Dirga, dan rasa kesal Celine.

Tak lama, suara perawat memanggil, “Ibu Celine!”

Celine langsung berdiri, menarik napas, lalu mengikuti perawat ke dalam.

Di ruangan pemeriksaan, dokter perempuan paruh baya menyambutnya ramah.

“Silakan duduk, Bu Celine. Keluhannya apa?”

Celine menelan ludah, lalu berkata pelan, “Saya mau memperpanjang KB.”

Dokter itu mengangguk, “Baik, sebelumnya Anda memakai KB apa?"

“Saya biasanya suntik, tapi sekarang pengen yang jangka panjang."

Dokter itu tersenyum kecil. “Oke. Berarti pilihan terbaik biasanya implan atau IUD,” ujar dokter tersebut, sembari menjelaskan secara runtut. Risiko, efek samping, dan prosedurnya.

Celine mengusap telapak tangannya yang basah. Dokter menatapnya. “Ibu terlihat tegang. Ada yang ibu khawatirkan?”

Celine tersenyum tipis, tapi senyumnya tidak sampai ke mata.

“Saya cuma nggak mau ada yang tahu,” jawabnya jujur.

Dokter itu mengangguk, memahami. “Tenang, Bu. Semua di sini rahasia medis. Tidak ada yang bisa akses tanpa ijin ibu.”

Celine mengangguk pelan. "Terima kasih, Dok. Saya pakai IUD saja."

Beberapa saat kemudian, selesai dari ruang tindakan, Celine berjalan cepat menyusuri lorong poli. Langkahnya terburu-buru, tangannya memegang tas erat, sementara pikirannya cuma satu, keluar secepatnya.

Namun, di tikungan dekat ruang tunggu, Celine menoleh sebentar ke arah lift, dan Celine tidak sengaja menabrak seseorang.

Tubuh itu kecil, ringan, dan nyaris langsung oleng.

“Eh, maaf! Maaf banget!”

Celine reflek menahan bahu orang itu supaya tidak jatuh. Seorang wanita muda menatapnya pelan. Usianya, mungkin baru sekitar dua puluh dua.

Wajahnya pucat, bibirnya hampir tidak berwarna, matanya terlihat kosong dan lelah. Seperti orang yang kurang tidur, atau orang yang baru saja melewati sesuatu yang berat.

Celine langsung panik. “Kamu nggak apa-apa?”

Wanita itu mengangguk kecil, tapi gerakannya lambat. Tangannya dingin ketika tanpa sengaja menyentuh tangan Celine.

“Maaf,” jawabnya pelan.

Celine mengernyit. “Kok kamu yang minta maaf? Aku yang nabrak.”

Wanita itu hanya menunduk. Celine memperhatikan lebih jelas. Bukan cuma pucat, ada semacam lemas yang tidak wajar. Keringat halus terlihat di pelipisnya, dan cara dia berdiri seperti sedang menahan sesuatu, entah pusing, entah sakit.

Celine menatap wajahnya lagi. “Kamu habis dari poli sini juga?”

Wanita itu tidak langsung menjawab. Dia hanya mengangguk sekali. Lalu, tanpa peringatan, tubuhnya sedikit goyah. Celine langsung refleks memegang lengannya lebih kuat. “Hei, hei, kamu pusing ya?”

Wanita itu menatap Celine, dan untuk pertama kalinya matanya terlihat seperti ingin menangis, tapi dia menahannya.

“Aku nggak apa-apa,” bisiknya.

Celine tahu itu bohong. Karena wajah itu, wajah orang yang berusaha keras terlihat baik-baik saja.

Celine menelan ludah. Dia ragu sebentar, tapi akhirnya bertanya dengan suara yang lebih lembut.

“Kamu sendirian?”

Wanita itu diam. Detik berikutnya, dia mengangguk. Celine merasa dadanya sedikit sesak.

"Kamu duduk dulu ya. Aku temenin sebentar.”

Wanita itu terlihat ingin menolak, tapi kakinya sudah terlalu lemah. Celine menuntunnya ke kursi terdekat.

Begitu duduk, wanita itu langsung menunduk, kedua tangannya menggenggam ujung tas kecilnya seperti orang yang sedang bertahan.

Celine duduk di sampingnya, menjaga jarak tapi tetap siaga.

“Kamu namanya siapa?” tanya Celine pelan.

Wanita itu menatap Celine sekali, lalu menjawab lirih, “Amira…”

Celine mencoba tersenyum. “Aku Celine.”

Amira mengangguk kecil. Celine menatap wajah Amira lagi, lalu bertanya hati-hati, “Kamu butuh bantuan? Aku bisa panggil perawat.”

Amira buru-buru menggeleng cepat.

“Nggak, aku cuma capek,” jawabnya.

“Kamu udah sarapan belum? Kok kamu kelihatan lemes banget?”

Amira menatapnya. Matanya berkedip pelan, seperti sedang berusaha memahami pertanyaan itu, seolah otaknya tidak sanggup memproses hal sederhana. Lalu Amira menggeleng pelan.

Detik berikutnya, air matanya jatuh. Awalnya hanya satu. Lalu dua. Lalu tiba-tiba bahunya bergetar. Amira menangis.

Diam-diam, tapi dalam. Tangis yang tidak meledak, justru lebih menyakitkan. Celine langsung panik.

“Eeh, jangan nangis,” Celine refleks meraih lengan Amira.

Celine membuka tasnya. Tangannya bergerak cepat, mengambil botol minum yang tadi dia bawa.

“Nih, minum dulu,” kata Celine, menyodorkan botol itu.

Amira menatap botol itu beberapa detik, lalu menerimanya dengan tangan gemetar.

"Makasih."

Amira minum sedikit, hanya satu teguk kecil, tapi itu cukup membuatnya tersedak pelan karena menahan tangis.

Celine mengusap punggung Amira perlahan, canggung tapi tulus.

“Pelan-pelan, nggak apa-apa.”

Amira menunduk, memeluk botol itu seperti pegangan hidup. Celine menatap wajah Amira yang makin pucat.

“Kamu sebenarnya kenapa?”

Amira menggeleng lagi.

“Aku .…”

Amira mencoba bicara, tapi terhenti. Celine menahan napas.

“Kamu sakit?” tanya Celine, mencoba menuntun tanpa memaksa.

Amira menggeleng pelan. "Bukan aku, tapi Ibuku."

"Ibu kamu sakit apa?"

"Dia sakit jantung, dan harapan untuk hidup sangat kecil. Dia bisa selamat kalau ada yang donor jantung, tapi kalaupun ada pendonor, aku juga nggak punya biaya, karena operasi tersebut nggak bisa ditanggung dengan kartu jaminan kesehatan yang kami punya."

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!