Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27- Tamu yang Tak Diharapkan
Pukul delapan pagi. Udara masih terasa dingin, namun bagi Alea, atmosfer di dalam toko bukunya terasa sangat menyesakkan. Ia baru saja membuka kunci pintu kaca saat sebuah bayangan tinggi muncul di balik jendela. Jantungnya sempat berhenti berdetak selama satu detik. Itu dia. Pria yang selama empat hari ini membuat pikirannya seperti neraka.
Aksa berdiri di sana. Mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, wajahnya tetap datar, tetap tenang, seolah empat hari kemarin hanyalah kedipan mata yang tidak berarti apa-apa.
Alea menarik napas panjang, mencoba menekan gemuruh di dadanya yang terasa seperti ingin meledak. Ia tidak akan lari ke gudang dan menangis. Tidak lagi. Dengan gerakan kaku, ia berjalan menuju meja kasir tanpa menyapa sedikit pun.
“Pagi.” Suara berat itu terdengar saat pintu berdenting terbuka. Aksa melangkah masuk, tangannya membawa sebuah kantong plastik kecil.
Alea tidak mendongak. Ia sibuk menata mesin kasir dan tumpukan struk, seolah-olah benda-benda itu adalah hal paling penting di dunia. “Toko belum siap melayani pelanggan. Silakan tunggu di luar kalau kamu mau beli sesuatu.”
Aksa terhenti tepat di depan meja kasir. Ia meletakkan kantong plastik itu dengan pelan. “Aku ke sini bukan untuk beli buku, Al. Aku mau selesaikan janji yang kemarin. Gudangnya sudah kamu bereskan?”
Mendengar kata janji, emosi Alea yang sudah ia bendung sejak hari pertama akhirnya retak total. Ia mendongak, menatap Aksa dengan tatapan yang tajam, terluka, dan penuh kebencian.
“Janji yang mana, Aksa? Janji empat hari yang lalu?” Alea tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan.
“Sudah basi. Lampunya sudah aku matikan sendiri. Barangnya sudah aku bereskan sendiri. Kamu terlambat empat hari. Untuk orang sepertimu, bukankah empat hari itu waktu yang sangat lama?”
Aksa mengernyitkan dahi. “Aku ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggal, Al. Benar-benar mendesak. Aku baru bisa ke sini sekarang.”
“Urusan mendadak selama empat hari tanpa satu pun pesan?” Alea melipat tangannya di depan dada, suaranya mulai bergetar.
“Kamu tahu tidak? Orang yang benar-benar berniat memegang janji itu akan memberi kabar sesibuk apa pun dia. Satu menit, Aksa. Kamu cuma butuh satu menit untuk mengetik aku tidak bisa datang. Tapi kamu tidak lakukan itu. Kamu sengaja membiarkan aku menunggu seperti orang bodoh.”
“Aku tidak bermaksud meremehkanmu, Al. Ada hal yang benar-benar mendesak di kantor dan—“
“Alasan klasik! Aku sudah bosan dengar alasan seperti itu!” potong Alea, suaranya kini naik satu oktav, membuat suasana toko yang sepi menjadi tegang. “Mungkin buat kamu ini sepele. Cuma soal lampu gudang, cuma soal tumpukan kardus yang berdebu. Tapi buatku, ini soal menghargai orang lain. Aku benci menunggu tanpa kepastian. Dan aku lebih benci lagi menyadari bahwa aku tidak cukup penting untuk sekadar diberi kabar.”
“Al, dengarkan aku dulu,” suara Aksa masih mencoba untuk tenang, tapi matanya menunjukkan bahwa dia mulai tertekan.
“Dengarkan apa lagi? Dulu ada orang yang juga selalu bilang sibuk dan mendesak setiap kali dia ingin lari dari tanggung jawab. Setiap kali dia ingin menjauh dariku, alasannya selalu pekerjaan!” Alea memalingkan wajah, air matanya mulai menggenang.
“Dan tahu tidak? Ternyata aku memang tidak pernah masuk dalam daftar prioritasnya. Ternyata, sedisiplin apa pun kamu, kamu sama saja seperti dia. Kalian semua sama.”
Aksa terdiam. Tatapannya berubah menjadi intens dan sedikit dingin. “Kamu sedang membandingkan aku dengan mantanmu yang brengsek itu?”
“Ya! Karena polanya sama, Aksa! Persis!” teriak Alea. Ia tidak peduli lagi jika suaranya terdengar sampai ke luar toko. “Kamu datang ke sini, buat aku merasa aman, buat aku percaya kalau ada orang yang bisa diandalkan setelah sekian lama aku hidup sendiri, lalu kamu hilang begitu saja! Kamu memicu trauma yang sudah susah payah aku kubur, Aksa. Kamu membuatku merasa dejavu!”
“Al, aku minta maaf kalau tindakanku membuatmu ingat masa lalumu. Tapi aku bukan dia. Aku bukan pria itu.” Aksa mencoba mendekat, namun Alea mundur satu langkah.
“Kalau kamu bukan dia, kamu pasti sudah kirim pesan!” Alea memukul meja kasir dengan telapak tangannya, membuat beberapa pulpen jatuh ke lantai.
“Cuma satu pesan, Aksa! Maaf aku tidak bisa datang. Sesulit itu? Kenapa tidak kamu lakukan? Karena menurutmu aku ini cuma perempuan kesepian di toko buku yang akan selalu ada setiap kali kamu mau kembali, kan? Kamu pikir aku ini tempat persinggahan yang tidak perlu diberi penjelasan?”
“Bukan begitu maksudku, Al. Kondisinya kemarin benar-benar kacau—“
“Pergi, Aksa. Silakan bawa urusan mendesakmu itu pergi dari sini.” Alea menunjuk pintu keluar dengan tangan yang gemetar hebat. “Aku tidak butuh bantuanmu lagi. Aku sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri, sejak dulu, bahkan sebelum kamu datang. Jangan buat aku berharap lagi pada orang yang tidak punya komitmen soal hal kecil sekalipun.”
Aksa tidak bergerak. Ia menatap Alea yang dadanya naik turun karena emosi yang meluap-luap. “Aku tidak akan pergi sampai kamu tenang dan mau dengar penjelasanku.”
“Aku tidak akan tenang selama kamu berdiri di depanku! Kamu itu cuma pengingat kalau aku ini bodoh karena sempat percaya padamu! Kamu membuatku merasa tidak berharga lagi!”
Alea berbalik, berniat lari ke gudang agar Aksa tidak melihatnya menangis tersedu-sedu, namun tangan Aksa yang besar dan hangat menahan lengannya dengan lembut tapi sangat kuat.
“Lepas! Jangan sentuh aku!”
“Al, lihat aku. Tolong, lihat aku dulu,” perintah Aksa. Suaranya kali ini tidak lagi datar, ada nada lelah dan frustrasi di sana.
Alea terpaksa menoleh. Ia menatap wajah Aksa dan baru menyadari sesuatu yang luput dari perhatiannya tadi. Kantung mata pria itu menghitam, wajahnya tampak sangat tirus, dan ada kelelahan yang luar biasa di matanya. Pria di depannya ini tampak seperti orang yang tidak tidur selama berhari-hari.
“Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf,” bisik Aksa, suaranya merendah. “Aku salah karena tidak memberi kabar. Aku mengaku salah. Tapi tolong, demi apa pun, jangan samakan aku dengan pria yang membuangmu dulu. Aku ke sini sekarang karena aku ingin memperbaiki semuanya, bukan untuk pergi lagi.”
Alea terdiam, napasnya masih memburu. Di antara rasa marah yang masih menyala, ada bagian kecil di hatinya yang ingin percaya, tapi rasa takutnya akibat trauma Hanif masih terlalu mendominasi. Ia merasa seperti berdiri di atas kaca tipis yang siap pecah kapan saja.
“Kamu pikir, maaf saja cukup setelah membuatku merasa seperti sampah selama empat hari?” tanya Alea dengan suara lirih yang hampir habis.
Aksa menatapnya dalam. “Tentu tidak cukup. Karena itu, beri aku waktu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu, kalau kamu tetap mau aku pergi, aku akan pergi dan tidak akan pernah mengganggumu lagi.”