Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.
Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.
Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.
Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.
Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?
Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.
Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Jebakan di Ruang Arsip
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langkah kaki itu semakin dekat. Bukan satu orang, melainkan beberapa orang. Haneen memberi isyarat tangan kepada Yan Ling untuk bersembunyi di balik rak tinggi di sudut ruangan yang paling gelap. Mereka menahan napas, memastikan tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka.
Pintu batu terbuka perlahan. Cahaya obor masuk ke dalam ruangan, menyinari debu yang melayang di udara. Tiga orang penjaga masuk, membawa pedang siap pakai. Mereka bukan penjaga biasa, melainkan anggota Divisi Disiplin yang dikenal kejam dan teliti.
"Periksa setiap sudut," perintah pemimpin penjaga itu. Suaranya berat dan berwibawa. "Ada gangguan energi aneh di sekitar bangunan ini tadi sore. Mungkin penyusup masih bersembunyi di dalam."
Haneen mengerutkan kening. Gangguan energi? Apakah alat pembuka kunci tadi meninggalkan jejak? Dia seharusnya sudah menghapus jejak itu sebelum masuk. Ternyata musuh lebih canggih dari yang dia kira.
Penjaga mulai memeriksa rak-rak buku. Mereka menggunakan alat pendeteksi aura portabel. Jika alat itu menyala, berarti ada orang bersembunyi. Haneen memegang pistol silennya erat-erat. Jika mereka ketahuan, mereka harus bertarung. Namun, bertarung berarti membunyikan alarm dan menarik lebih banyak musuh.
Yan Ling tampak tegang di balik rak sebelah. Tangannya menggenggam gagang pedang hingga buku-buku jarinya memutih. Haneen menggelengkan kepala sedikit, memberi isyarat agar Yan Ling tidak bertindak dulu. Mereka harus menunggu momen yang tepat.
Salah satu penjaga berjalan mendekati tempat sembunyi Haneen. Alat pendeteksi di tangannya mulai berbunyi tipis. Lampu kecil di alat itu berkedip kuning, menandakan adanya residu energi yang tertinggal.
"Ada sesuatu di sini," ucap penjaga itu. Dia mengangkat alatnya lebih tinggi, mencoba mencari sumber sinyal.
Haneen menghitung jarak. Lima meter. Tiga meter. Satu meter.
Saat penjaga itu berada tepat di depan rak tempat Haneen bersembunyi, Haneen melemparkan sebuah koin kecil ke sudut ruangan yang berlawanan. Koin itu dilengkapi dengan alat pengganggu sinyal mini dari sistem.
Saat koin itu jatuh, alat pendeteksi di tangan penjaga mendadak berbunyi keras dan lampunya menyala merah terang ke arah sudut ruangan itu.
"Di sana!" teriak pemimpin penjaga. Ketiga penjaga itu langsung berlari menuju sudut ruangan tempat koin jatuh, meninggalkan area tempat Haneen dan Yan Ling bersembunyi.
"Sekarang," bisik Haneen. Mereka keluar dari persembunyian dengan gerakan cepat dan senyap. Mereka tidak lari menuju pintu, karena pintu sudah dijaga oleh perhatian penjaga. Haneen menunjuk ke arah ventilasi udara di atas langit-langit ruangan.
"Bisa naik?" tanya Haneen.
"Bisa," jawab Yan Ling. Mereka melompat, mencengkeram tepi ventilasi, dan menarik tubuh mereka ke atas. Ventilasi itu cukup besar untuk dilewati orang dewasa. Mereka merangkak di dalam saluran udara yang sempit dan berdebu.
Dari dalam ventilasi, mereka bisa mendengar suara penjaga di bawah.
"Tidak ada siapa-siapa di sini, Pimpinan!" lapor salah satu penjaga. Mereka menyadari bahwa itu hanya gangguan palsu.
"Jangan lengah. Tutup semua pintu keluar. Kirim pesan ke Tetua, kita punya tikus di dalam gedung," perintah pemimpin penjaga itu.
Haneen dan Yan Ling terus merangkak maju. Saluran udara ini mengarah ke bagian belakang bangunan logistik. Haneen memeriksa peta digital di sistem. Saluran ini berakhir di halaman belakang tempat sampah dibuang. Itu jalur keluar yang kurang dijaga.
"Mereka akan mengunci gedung ini," ucap Yan Ling pelan saat mereka merangkak. "Kita tidak bisa keluar lewat pintu utama lagi."
"Kita tidak akan lewat pintu utama," jawab Haneen. "Kita lewat saluran pembuangan limbah. Bauannya tidak enak, tapi aman."
Mereka mencapai ujung ventilasi. Haneen menendang kisi-kisi ventilasi hingga lepas dan jatuh ke tumpukan sampah di bawah. Mereka melompat turun, mendarat dengan lembut di atas tumpukan karung bekas.
Area belakang memang gelap dan tidak ada penjaga. Namun, Haneen tahu waktu penyamaran mereka hampir habis. Sisa sepuluh menit. Mereka harus segera meninggalkan area sekte sebelum aura mereka kembali terlihat oleh menara pengawas.
"Lari," perintah Haneen. Mereka berlari menembus kegelapan halaman belakang, menuju tembok pembatas sekte. Tembok itu tinggi, namun Haneen memiliki alat pemanjat magnetik dari sistem.
Dia menempelkan alat itu di tembok, lalu menarik Yan Ling naik bersamanya. Mereka memanjat dengan cepat. Saat mereka mencapai puncak tembok, efek penyamaran mulai memudar. Aura mereka kembali terlihat samar-samar.
"Ada orang di atas tembok!" teriak seorang penjaga menara dari kejauhan. Panah energi mulai ditembakkan ke arah mereka.
"Loncat!" seru Haneen. Mereka melompat turun dari tembok sisi luar, masuk ke dalam hutan lebat yang mengelilingi sekte. Panah-panah itu meleset dan menancap di tembok batu.
Mereka tidak berhenti lari hingga mencapai sungai kecil di dalam hutan. Hanya setelah memastikan tidak ada yang mengikuti, mereka berhenti untuk menarik napas.
"Kita berhasil," ucap Yan Ling sambil bersandar pada pohon. "Tapi sekarang mereka tahu kita ada di dalam area sekte tadi malam. Pencarian akan semakin gila."
"Biarkan saja," jawab Haneen sambil membersihkan debu dari wajahnya. "Yang penting kita punya bukunya. Sekarang kita butuh seseorang yang bisa membuktikan bahwa catatan itu asli."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung…...
Jangan lupa like, komen dan share😁