Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak laki-lakinya itu.
Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.
Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.
Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Panik
Di meja makan, keluarga Wiratmadja kali ini makan tanpa adanya Vanya. Namun saat acara makan itu hampir selesai, seorang maid yang tadi ditugaskan untuk mengantarkan makanan ke kamar Vanya datang dengan terburu-buru.
"Tu-tuan, nyonya, i-itu... " karena terlalu panik, maid itu berkata dengan tidak jelas.
"Ada apa sih? Ngomong pelan-pelan aja biar jelas" tanya Sinta dengan lembut.
"Itu nyonya. Saya baru aja mengantar makanan ke kamar nona Vanya. Ta-tapi, nona Vanya nggak ada di kamarnya" jelas maid itu sedikit terbata.
"Apa maksut kamu nggak ada hah?!" tanya Danu sedikit menaikkan suara nya.
"Saya sudah mengecek kamar mandi dan semua ruangan di lantai 3, namun nona Vanya tetap tidak ada. Bahkan kedua ponsel dan dompet nya masih berada di kamarnya Tuan" jelas maid.
"Pah, ini ada apa? Kenapa Vanya tiba-tiba nggak ada?" Sinta langsung panik dan memeluk sang suami yang duduk di sebelah nya.
"Mama tenang dulu ya, kita suruh bodyguard buat cari Vanya" Danu mencoba menenangkan sang istri yang mulai menangis.
"Cepat suruh semua bodyguard dan juga orang kepercayaan kita untuk mencari putri saya!" perintah Danu kepada kepala bodyguard yang sudah di panggil oleh maid yang lain.
"Tapi pah, Vanya belum makan. Kemana anak itu pergi? Dan kenapa? hiks" Sinta menangis sesenggukan.
"Fian, kamu antarkan dulu nona Alexia pulang. Setelah itu kamu bantu yang lain untuk mencari adikmu" perintah Danu kepada Fian.
"Baik pah. Ayo Ly" Fian menggandeng tangan Lyora untuk mengikuti nya.
Saat di perjalanan, Fian tak terlalu fokus menyetir mobilnya. Hampir 2 kali ia menabrak orang yang ingin menyebrang jalan.
"Fian, tenang. Kita minggir dulu aja. Nggak baik berkendara dalam keadaan kacau seperti ini" ucap Lyora lembut. Dengan patuh Fian meminggirkan mobilnya di jalan yang lumayan sepi.
"Tenang Fian, adik kamu pasti ketemu" Lyora memegang lengan Fian untuk menenangkan.
'Kamu kemana sih Van? Kenapa nekat banget pake kabur-kaburan segala. Ini semua pasti salahku! Arghhh Vanya. Kamu dimanaaa?' jerit batin Fian. Ia mengacak-acak rambutnya.
"Lyora, maaf ya. Harusnya ini jadi moment penting kita. Maafin adik aku ya, dia emang suka berbuat ulah karna terlalu di manja sama mama dan papa" ucap Fian penuh sesal.
"Iya ngga papa kok Fian. Adik aku cowo juga suka gitu kok bikin orangtua ku khawatir. Kamu yang tenang ya. Atau aku pulang naik taxi aja biar kamu bisa ikut nyari adik kamu?" tanya Lyora penuh perhatian.
'Sial dia sebaik ini. Gw jadi nggak tega jadiin dia alat untuk ngebuat Vanya cemburu' ucap Fian dalam hatinya.
"Jangan Ly, aku anterin sampe rumah ya. Aku nggak enak lah sama om Alex"
"Aku udah lumayan tenang kok. Aku antar sekarang ya" lanjutnya.
Fian mengantar Lyora sampai ke rumahnya. Bahkan ia sempat berpamitan kepada ayah dari wanita yang ia claim sebagai pacar itu.
Setelah mengantar Lyora, Fian mulai menyusuri jalan untuk mencari keberadaan adiknya.
"Dimana kamu Vanya? Jangan buat kakak khawatir gini dong" ucap Fian mulai frustasi.
Fian mencoba menepikan mobilnya di pinggir jalan yang lumayan sepi. Lalu ia ambil ponsel yang berada di dashboard mobilnya.
"Hallo Rain" sapa Fian setelah sambungan telpon ahirnya tersambung.
"Iya hallo kak Fian. Ada apa ya?"
"Gini Rain, Vanya tiba-tiba kabur dari rumah. Apa kamu tau kira-kira dia pergi kemana?"
"Apa kak? Vanya beneran kabur? " teriak Rain di sebrang sana dengan histeris.
"Beneran kabur? Maksudnya apa Rain?"
"Em tadi Vanya sempat ngechat di grub kak katanya habis di tolak sama kak Fian. Terus karna kita ledekin dia jadi nya bilang kalau mau minggat. Aku ngira nya dia cuman bercanda kak. Lagian kak Fian tau sendiri Vanya itu orangnya nggak baperan"
"Dia cerita sama kalian kalau mau nembak aku?"
"Iya kak cerita. Bahkan kita tau sejak kapan dan karena apa Vanya bisa suka sama kakak"
"Yaudah kalo gitu, tolong kamu minta om Ronald buat bantuin nyari Vanya ya" pinta Fian. Ronald, papa Rain itu memiliki beberapa kenalan intel andalan yang sudah terkenal akan prestasinya.
"Iya kak. Aku juga akan kasih tau Lea juga biar dia bisa ikut bantuin nyari"
"Makasih ya Rain. Nanti kalo ada kabar tentang Vanya langsung kasih tau kakak ya"
Setelah telepon itu usai, Fian mulai mengabari beberapa kenalannya yang juga bisa membantu dalam mencari keberadaan Vanya.
Di tempat lain, Rain sedang menghubungi Lea perihal hilang nya Vanya.
"Hah? Apa? Vanya ilang? Anjir tuh anak nggak bercanda ternyata" teriak Lea setelah Rain selesai berbicara.
"Makannya itu. Kita ngira dia becanda woi. Eh malah minggat beneran. Tuh anak bener-bener nekat"
"Ini gw lagi dinner sama tunangan gw. Abis ini coba gw bantu nyariin tuh kupret satu"
"Oke oke thank's ya Gan, sorry kalo udah ganggu kencan lo"
"Nggak kok santai aja. Dia kan sahabat kita, ya walaupun agak gila dikit sih tapi ngga papa"
Setelah telpon itu usai, Tian yang dari tadi hanya diam mendengarkan pun langsung bertanya karena penasaran.
"Temen lo kenapa?"
"Kabur dari rumah. Sahabat gw yang satu itu emang paling ajaib. Ada aja gebrakan nya" jawab Lea sambil geleng-geleng kepala.
"Haha cocok tuh sama sahabat gw yang namanya Vano. Kaya nya kelakuan mereka sama-sama unik deh" balas Tian sambil terkekeh.
"Haha nanti kita jodohin aja mereka. Btw udah kan makan nya. Yuk pergi. Kita bantuin nyari sahabat gw" ajak Lea sambil beranjak berdiri.
Di sebuah ruang keluarga, kedua pasangan suami istri tengah bercengkrama sambil menikmati cemilan ringan.
"Loh sayang? Kamu mau kemana kok tumben malem-malem gini keluar?" tanya Rita. Ia adalah mama dari Rain, sepupu nya Vanya.
"Vanya ilang ma" jelas Rain singkat.
"Hah? Ilang?" tanya Ronald.
"Biasa pa dia buat ulah lagi. Kali ini dia kabur dari rumah" ucap Rain lebih jelas.
"Hem ada ada saja anak itu" Rita geleng-geleng kepala. Vanya memang di keluarga mereka terkenal bar bar dan suka bikin ulah. Padahal jika di sekolah ia sangat cuek sekali, bahkan sedikit lebih kalem.
"Yasudah papa bantu hubungin kenalan papa biar ikut nyari juga. Kasian Danu, udah mah anak kandung satu-satunya, tapi ada aja tingkahnya" Ronald terkekeh pelan di ujung ucapannya.
Meski begitu, Vanya tak pernah berbuat ulah di luar batas atau bahkan tindak kriminal. Mungkin hanya sedikit membuat jantung hampir melompat saja dari tempat nya. Ya ini salah satunya.
"Sama supir ya sayang. Bahaya malam-malam begini untuk anak gadis seperti kamu" perintah Rita.
"Iya ma. Aku pergi dulu ya" ucap Rain lalu mencium tangan kedua orangtuanya untuk berpamitan.
Di tempat lain, Fian baru saja menerima laporan dari orang suruhan nya. Mobilnya ia berhentikan di pinggir jalan dekat alun-alun kota.
"Arghhh! Dimana lagi kakak harus nyari kamu Vanya?" dengan kesal Fian memukul kemudi mobilnya untuk melampiaskan amarah.