Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Gema di Balik Cakrawala
Cahaya putih yang menelan Lembah Kematian Abadi perlahan memudar, menyisakan pemandangan yang akan terukir dalam sejarah dunia pendekar selama ribuan tahun.
Naga Kuno berumur 10.000 tahun itu kini tergeletak diam, tubuh raksasanya perlahan berubah menjadi butiran cahaya emas yang melayang ke angkasa.
Di tengah reruntuhan yang masih berasap, sebuah benda berbentuk lentera kuno dengan api biru yang abadi melayang rendah—Lentera Pencari Asal.
Tian Shan berdiri di depan lentera itu. Tubuhnya gemetar hebat; zirah cahaya dari avatarnya telah hancur, dan pakaian hitam-putihnya kini lebih banyak berwarna merah karena darahnya sendiri.
Ia meraih lentera itu dengan tangan yang bergetar.
Saat jari-jarinya menyentuh permukaan lentera, sebuah visi singkat tentang sepasang orang tua di tengah badai salju terlintas di benaknya.
Dari kejauhan, para pendekar yang selamat berteriak memanggil namanya.
Mereka ingin mendekat, ingin memuja sang penyelamat yang baru saja menumbangkan penguasa purba dengan avatar raksasanya.
Namun, Tian Shan tahu ia tidak punya waktu lagi. Tekanan dari pemanggilan avatar dan pertarungan dimensi telah merusak fondasi Qi-nya hingga ke titik nadir.
Ia tidak ingin ditemukan. Ia tidak ingin menjadi pahlawan yang di sanjung dalam keadaan rapuh.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, Tian Shan memutar Pedang Pemecah Langit membentuk lingkaran di bawah kakinya. Ruang di sekelilingnya mulai melengkung dan terdistorsi.
"Biarkan dunia mengingat namaku," bisik Tian Shan dengan suara parau, "namun jangan pernah biarkan mereka menemukan jejakku."
SHUUT!
Dalam sekejap mata, Tian Shan menghilang. Ia berteleportasi melalui celah dimensi yang tidak stabil, melintasi ribuan mil, melewati pegunungan es, lautan luas, hingga ke sebuah pantai terpencil yang tak bernama di ujung dunia yang berbeda.
Begitu kakinya menyentuh pasir pantai yang dingin, kekuatan yang menopang tubuhnya habis total.
Pedang kristalnya kembali ke dimensi kehampaan, dan Tian Shan jatuh tersungkur.
Ia jatuh pingsan di atas pasir, memeluk Lentera Pencari Asal dalam dekapan terakhirnya sebelum kegelapan total menjemput kesadarannya.
Sementara Tian Shan terbaring tak berdaya di pantai terpencil, dunia yang ia tinggalkan sedang berada dalam hiruk-pikuk yang gila.
Hilangnya Sang Legenda Naga secara misterius di depan mata ratusan pendekar melahirkan ribuan rumor yang tak terkendali.
Rumor pertama mengatakan bahwa Tian Shan sebenarnya bukan manusia, melainkan manifestasi dari kehendak langit yang telah kembali ke khayangan setelah tugasnya selesai.
Rumor kedua menyebutkan bahwa ia telah menyatu dengan jiwa Naga Kuno dan kini sedang bertapa di inti bumi untuk mencapai ranah Pendekar Suci.
Di kedai-kedai arak, orang-orang bahkan berbisik bahwa ia sengaja menghilang untuk mempersiapkan diri menghadapi ancaman yang lebih besar dari sekadar naga, sebuah kegelapan yang datang dari luar dimensi manusia.
Namanya, Tian Shan, kini bukan lagi sekadar nama orang.
Itu adalah simbol harapan, ketakutan, dan misteri yang menyelimuti seluruh benua.
Setiap kali badai turun atau petir menyambar, orang-orang akan menengadah ke langit, bertanya-tanya apakah Sang Legenda Naga sedang bertarung di balik awan itu.
Di pantai yang sunyi itu, hanya suara ombak yang menemani raga Tian Shan yang terluka.
Tidak ada pendekar yang memujanya, tidak ada musuh yang mengejarnya. Di sana, ia kembali menjadi "setetes air di tengah samudra luas" yang pernah ia katakan dulu.
Lentera Pencari Asal di pelukannya masih berpendar biru redup, seolah-olah sedang menjaga nyawa tuannya yang sedang tergantung pada seutas benang takdir.
Sang Naga telah tumbang, namun perjalanan untuk menemukan jati dirinya baru saja memasuki babak yang paling sunyi dan berbahaya.