"Ini adalah Novel Ringan dan Santai".
Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Legenda Di Atas Ring
Kuarter terakhir tersisa kurang dari dua menit. Keringat bercucuran, napas mulai memburu, dan tensi di lapangan basket semakin memanas. Siswa-siswi PH2 di pinggir lapangan sudah tidak bisa diam; mereka berdiri, berteriak, dan memukul-mukul botol air mineral kosong untuk menciptakan kegaduhan yang mendukung tim mereka.
Skor terpaut sangat tipis. Para senior PH1 mulai bermain kasar, mencoba mengunci pergerakan Gery. Namun, Sammy segera melihat celah. Ia berhasil mencuri bola dari point guard lawan, berbalik cepat, dan melempar umpan lambung yang sangat presisi ke arah Gery.
"Ger! Sekarang!" teriak Sammy menggelegar.
Gery menyambut bola di garis tiga angka. Seorang bek senior PH1 yang bertubuh besar langsung menghadangnya dengan tangan terbentang. Di sinilah momen itu terjadi. Gery melakukan crossover maut—sebuah gerakan tipuan yang sangat cepat ke arah kiri lalu ditarik mendadak ke kanan. Bek senior itu kehilangan keseimbangan, kakinya terbelit, dan ia terjatuh terduduk (ankle break) di atas semen lapangan.
Tanpa memedulikan lawan yang tersungkur, Gery memacu kecepatannya. Dua langkah di depan ring, ia mengambil tumpuan dengan kaki kirinya yang kuat. Tubuhnya meluncur ke udara seolah gravitasi tidak berlaku baginya.
BUM!
Kedua tangan Gery mencengkeram ring basket dengan sangat kuat, menghujamkan bola ke dalam jaring dengan tenaga yang luar biasa. Gery tidak langsung turun; ia bergelantungan di ring, tubuhnya sedikit berputar karena momentum ledakan tenaganya, sementara papan ring bergetar hebat.
Hening sejenak... lalu seluruh sekolah meledak dalam sorak-sorai yang memekakkan telinga.
"SLAM DUNK!!! GERY SLAM DUNK!!!" teriak Reno dari pinggir lapangan sampai wajahnya memerah.
Di tribun kehormatan yang tidak resmi, pemandangan luar biasa terjadi. Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah berdiri dari tempat duduknya sambil bertepuk tangan. Ibu Ratna menutup mulutnya karena tidak percaya anak didiknya yang biasanya tenang di kelas bisa seberingas itu di lapangan. Bahkan Pak Firman, sang guru olahraga bertangan besi, memberikan standing applause dengan senyum lebar yang jarang diperlihatkan.
Vanya, yang berada di barisan depan penonton, membeku dengan kamera digital di tangannya. Ia berhasil menangkap momen tepat saat Gery melayang di udara. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena rasa bangga yang luar biasa.
Gery mendarat dengan ringan, lalu menoleh ke arah teman-temannya sambil memberikan jempol pada Sammy. Di hari pertama class meeting ini, Gery tidak hanya memenangkan pertandingan, tapi ia telah mengukir namanya sebagai legenda baru di SMK Pariwisata.
Papan skor digital menunjukkan angka yang telak: 87-62. Sebuah kekalahan memalukan bagi para senior PH1, namun sebuah sejarah baru bagi kelas PH2. Saat wasit meniup peluit panjang, lapangan basket seolah berubah menjadi lautan manusia berbaju olahraga yang menyerbu ke arah Gery dan Sammy.
Gery berjalan keluar lapangan dengan napas yang masih memburu dan kaos yang basah kuyup oleh keringat. Begitu ia melewati garis lapangan, teman-teman sekelasnya langsung mengerubunginya seperti semut menemukan gula.
Reno, yang sedari tadi menonton dengan mulut menganga di pinggir lapangan, langsung menerjang Gery. Dengan semangat yang meluap-luap, ia merangkul leher Gery dan mengacak-acak rambut Gery yang sudah berantakan.
"Gila lu, Ger! Sumpah, gue beneran merinding liatnya!" seru Reno dengan nada tinggi yang berapi-api. "Gue yang badannya bongsor begini aja belum tentu bisa nyentuh ring kalau lompat, lah lo? Lo kayak punya pegas di kaki, lincah banget terus langsung BOOM! Nge-dunk kayak di NBA!"
Gery hanya bisa tertawa sambil berusaha melindungi rambutnya dari "serangan" Reno. "Hoki aja itu, No. Pas dapet momentum yang enak aja tadi," jawab Gery merendah, meski wajahnya tetap memancarkan kepuasan.
Sammy yang berjalan di samping mereka langsung menepuk pundak Reno. "Hoki dari mana? Itu hasil latihan keras kita dari SMP, No. Tapi emang bener sih, lompatan Gery hari ini lebih tinggi dari biasanya. Kayaknya gara-gara ada yang nyemangatin di pinggir lapangan nih," goda Sammy sambil melirik ke arah Vanya yang sedang berjalan mendekat membawa botol air mineral.
Mendengar godaan Sammy, Gery hanya tersenyum simpul. Sementara itu, rekan-rekan kelas lain yang tadinya hanya menonton dari jauh mulai berbisik-bisik kagum. Mereka baru sadar bahwa si "Gery yang pintar" ternyata juga seorang "Gery yang atletis".
Vanya akhirnya sampai di depan Gery. Ia tidak banyak bicara seperti Reno, ia hanya menyodorkan botol minumannya dengan wajah yang merah padam—entah karena panas matahari atau karena rasa bangga yang meledak-ledak di dadanya.
"Nih, minum. Jangan banyak gaya dulu, nanti pingsan," ucap Vanya dengan nada ketus yang dipaksakan, padahal matanya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum yang luar biasa pada cowok di depannya itu.
Gery menerima botol itu, meminumnya hingga separuh, lalu menatap Vanya. "Gimana? Fotonya dapet?"
Vanya hanya mengangguk pelan sambil memeluk kamera digitalnya erat-erat, seolah tidak ingin momen slam dunk tadi dilihat oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. Hari pertama class meeting belum berakhir, tapi PH2 sudah merasa seperti juara umum.
Baru saja keringat dari pertandingan pertama kering, pengumuman babak penyisihan kedua sudah bergema. Nasib seolah sedang menguji nyali kelas PH2; mereka kembali dipertemukan dengan senior, kali ini dari kelas 3 Jurusan Restoran 1 yang memiliki postur tubuh besar-besar karena terbiasa mengangkat beban berat di dapur.
Sammy menyeka keningnya dengan jersey yang sudah basah, menatap deretan pemain Resto 1 yang sedang melakukan pemanasan. "Ger, sial bener nasib kita. Lawan nggak ada yang enteng, senior mulu yang dikasih ke kita," keluh Sammy.
Gery justru tertawa ringan sambil mengencangkan tali sepatunya. "Justru itu indahnya basket kan, Sam? Makin tinggi temboknya, makin seru pas kita rubuhin."
Sammy tersenyum tipis. Ia teringat masa-masa SMP dulu; Gery memang tidak pernah berubah. Bukannya ciut, nyali sahabatnya itu justru semakin berkobar jika mencium aroma lawan yang tangguh.
Dion segera mengumpulkan mereka dalam satu lingkaran besar. "Ayo-ayo, fokus! Satu kemenangan lagi dan tiket semifinal di tangan kita. Tunjukin kalau PH2 bukan cuma jago bersihin kamar mandi dan beresin kamar, tapi kita penguasa lapangan!" teriak Dion memotivasi. Mereka menumpuk tangan di tengah, lalu berteriak serentak, "PH2 BISA!"
Pertandingan dimulai, dan benar saja, chemistry Sammy dan Gery membuat tim Resto 1 kocar-kacir. Jika di pertandingan pertama Gery yang menjadi bintang dengan dunk-nya, kali ini Sammy menunjukkan taringnya sebagai penembak jitu.
Sembari memberikan instruksi pertahanan pada rekan-rekannya, Sammy menghujani ring lawan dengan tembakan tiga angka yang sangat akurat. Sret! Sret! Sret! Bola masuk tanpa menyentuh besi ring berkali-kali. Mental anak-anak Resto 1 tampak terguncang melihat skor yang melesat jauh 42-11.
Saat jeda halftime, Vanya berjalan mendekat dengan kamera digital yang masih tergantung di lehernya. Ia memberikan handuk kecil pada Gery sambil berbisik, "Ger, slam dunk lagi dong! Yang tadi fotonya kurang fokus dikit, gue pengen dapet momen yang lebih pas lagi."
Gery meminum air mineralnya perlahan lalu menoleh ke Vanya dengan tatapan usil. "Lo pikir slam dunk itu segampang nawar harga di Pasar Sentiong apa? Butuh momentum, butuh persiapan fisik yang bener, nggak bisa asal-asalan, Van."
Vanya mengerucutkan bibirnya. "Ya elah, pelit amat. Kan biar keren di Facebook gue nanti."
"Kalau ada momennya, gue coba. Tapi nggak janji ya," pungkas Gery sambil kembali berdiri menuju tengah lapangan. Meskipun berkata begitu, dalam hati Gery sudah menyusun rencana untuk memberikan "pertunjukan" terakhir sebelum babak kedua usai.
Setelah jeda halftime usai, kejutan besar kembali terjadi. Dion melakukan rotasi pemain yang tak terduga. Ia memasukkan dirinya sendiri bersama Reno dan Adrian untuk memperkuat Gery dan Sammy. Formasi ini praktis menyatukan semua pemain inti terbaik PH2 ke dalam satu lapangan.
Melihat "Lima Serangkai" ini berdiri tegak di garis tengah, para senior dari Jurusan Resto 1 hanya bisa saling lirik dan menghela napas panjang. Aura optimisme mereka lenyap, digantikan rasa pesimis yang kental.
Permainan di babak kedua bukan lagi sebuah kompetisi, melainkan sebuah pertunjukan seni basket. Kelima orang ini bergerak layaknya satu organisme yang utuh. Kerjasama mereka begitu rapi hingga tim senior Resto 1 tampak kebingungan, seolah-olah mereka adalah anak SD yang baru belajar mendribel bola di hadapan para profesional.
Reno, yang terobsesi dengan aksi Gery di pertandingan pertama, berkali-kali mencoba melakukan lompatan tinggi. Namun, bukannya melakukan slam dunk, ia hanya mampu melakukan lay-up dengan gaya yang agak dipaksakan.
"Aduh, hampir!" seru Reno tiap kali gagal menyentuh ring. Gery yang melihat itu hanya tertawa sambil terus membagi bola ke arah Adrian dan Dion yang juga haus akan angka.
Peluit panjang akhirnya berbunyi. Papan skor menunjukkan angka yang sangat tidak masuk akal untuk level turnamen sekolah: 105-28. Selisih skor hampir 80 poin itu membuat penonton terdiam sejenak sebelum akhirnya meledak dalam gemuruh tepuk tangan.
Hari pertama Class Meeting ditutup dengan catatan sejarah yang luar biasa bagi kelas PH2. Mereka berhasil menyapu bersih kemenangan di semua lini:
- Futsal : Mengamankan tiket Semifinal setelah dua kemenangan telak.
- Basket : Mengamankan tiket Semifinal dengan skor bersejarah.
- Entrepreneur/Bazzar : Seluruh dagangan jajan tradisional Ludes Habis tak bersisa.
"Treble Winner, guys! Kita menang tiga kali hari ini!" teriak Dion sambil merangkul Gery dan Reno di tengah lapangan.
Ibu Ratna berjalan menghampiri mereka dengan wajah yang berseri-seri, bangga melihat anak-anak didiknya tidak hanya kompak dalam urusan jualan, tapi juga sangat tangguh di arena olahraga.
Vanya berjalan mendekat, kali ini ia tidak mengeluh soal foto. Ia menyodorkan handuk bersih ke Gery dengan senyum yang jauh lebih lembut. "Nggak usah dunk lagi juga nggak apa-apa. Skor 105 itu udah lebih dari cukup buat bikin gue bangga punya temen kayak lo," bisiknya pelan, yang hanya bisa didengar oleh Gery.
Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat, seluruh anggota kelas PH2 berkumpul di stand jualan mereka yang sudah kosong melompong. Mereka duduk lesehan di aspal, tertawa bersama, sambil membayangkan perjuangan yang lebih berat di babak semifinal besok.