Mo Yuyan, 16 tahun—putri angkat Ketua Sekte Abadi, yang dikenal sebagai gadis lembut, patuh, dan selalu menunduk.
Namun, semuanya berubah malam itu ...
Malam ketika dia dituduh mencuri pusaka sekte, dikhianati oleh orang-orang yang dia anggap keluarga … lalu dibuang ke dalam Jurang Pemakan Jiwa untuk mati!
Akan tetapi, Takdir membuatnya kembali!
Bukan sebagai Mo Yuyan yang dulu, melainkan sebagai Mo Yuyan yang baru.
Dimana sosok jiwa asing dari masa ribuan tahun ke depan mengambil alih raganya. Sosok yang dingin, angkuh, cerdas, dan terlalu tenang untuk seorang gadis yang baru menginjak dewasa.
Jiwa itu tersenyum dan mulai menghitung semuanya.
Sekte Abadi bahkan tidak menyadarinya, jika mereka ...
Baru saja membangkitkan seorang 'Ratu Racun' berjiwa psikopat dari masa depan.
"HUTANG INI AKAN AKU TAGIH SEMUANYA! KALIAN SEMUA AKAN MUSNAH!"
"ARRRGHHHH!!!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 06: Kemarahan Lianhua!
***
Suasana malam di dalam Sekte Abadi terasa terlalu tenang ...
Namun ketenangan malam itu, bukanlah sebuah ketenangan yang damai.
Itu adalah ketenangan sebelum ... badai.
Di dalam Paviliun miliknya, Mo Yuyan duduk bersila di atas lantai dengan sebuah tungku alkemis dihadapannya.
Itu adalah tungku kuno mliknya dari dalam ruang dimensi seribu racun, dimana tungku tersebut memiliki ukiran ular kobra bermata ungu yang sedang melilit.
Duan Xue berdiri di sudut ruangan dengan wqjah tegang.
"Apakah kamu benar-benar ingin meracik racun di dalam Sekte ini dengan tungku itu?" tanya Duan Xue.
"Ya. Kenapa memangnya? Apakah kamu merasa takut?" ujar Mo Yuyan dengan nada acuh.
Duan Xue mendengus, saat mendengar ucapan yang ditujukan kepadanya.
"Hmp! Aku bukan takut! Aku hanya tidak ingin mati kerena menghirup asap yang keluar dari tungku itu ..." jawab Duan Xue cepat.
"Hehehehe ... Tenang saja, jika kamu mati ... aku akan menguburkan jasadmu dengan baik," sahut Mo Yuyan sambil terkekeh.
Duan Xue: " ..... "
Nenek Du duduk dengan anggun di atas kursi kayu dengan anggun, wajahnya terlihat tenang.
"Yuyan ..." panggil Nenek Du.
"Ya, Nek ... Ada apa?" sahut Mo Yuyan.
"Jangan buat racun yang terlalu kuat dulu sekarang ..." ujar Nenek Du.
"Memangnya kenapa, Nek?" tanya Mo Yuyan sambil mengerutkan keningnya.
"Karena musuhmu masih belum mengetahui jati dirimu sebenarnya ... Jangan berikan kesempatan untuk mereka untuk bersiap. Kekuatan kamu belum seberapa dibandingkan mereka, perkuat dirimu kembali setelah malam ini ...." jawab Nenek Du.
Mo Yuyan menatap ke arah tungkunya, lalu dia mengangguk pelan.
" ... Baik, Nek ..."
-
Duan Xue mendekat ke arah Mo Yuyan, untuk melihat racun apa yang sedang dibuat oleh gadis itu.
Mo Yuyan sedang sibuk memindahkan cairan yang sudah siap ke dalam botol-botol kecil dari ruang dimensinya.
"Cairan apa itu, Yuyan?" tanya Duan Xue.
"Namanya Racun Mimpi Koblet ..." jawab Mo Yuyan sambil menunjukkan botol yang berii cairan berwarna ungu kehitaman.
Gluk!
Duan Xue menelan salivanya dengan susah payah, setelah mendengar nama racunnya.
"Apa itu 'Koblet'?" tanya Duan Xue.
"KOBra MeLET!" jawab Mo Yuyan.
"Kenapa namanya begitu? Tidak seram sama sekali!" gerutu Duan Xue.
"Tanyakan saja langsung sama Penulisnya, kalau mau peran kamu diganti sama yang lain ... Aku aja gak berani protes!" jawab Mo Yuyan, sambil melirik ke arah Author yang sedang asik ngetik.
Author melirik kejam ke arah Duan Xue, membuat Duan Xue kembali menjalankan perannya dengan baik.
"L-lalu ... Efeknya bagaimana?" tanya Duan Xue, sambil melirik ngeri ke arah Authornya.
"Racun ini tidak akan membunuh, namun akan membuat targetnya bermimpi buruk dikejar-kejar ular kobra raksasa yang sedang melet selama tujuh hari berturut-turut, sampai dia takut untuk memejamkan matanya kembali .." jawab Mo Yuyan.
Mo Yuyan melihat Duan Xue yang masih menatapnya dengan lekat.
"Apa lagi?!" tanya Mo Yuyan dengan nada jengah.
Duan Xue menunjuk ke arah botol-botol itu dengan tangan gemetar.
"Jika yang seperti itu tidak mematikan, berarti racun mematikan buatanmu itu seperti ... apa?"
Mo Yuyan tersenyum sangat manis, sebelum dia menjawab Duan Xue.
"Untuk yang satu itu ... Kamu belum layak untuk mengetahuinya ..." jawab Mo Yuyan dengan wajah dingin andalannya.
Mendengar jawaban Mo Yuyan, Nenek Du tertawa kencang.
"Hahahahaha! Pantas untuk menjadi cucuku ... Mulutnya sangat sadis! Hahahahaha!"
Mo Yuyan mengaduk ramuan yang dibuatnya dengan jarum perak miliknya.
Setiap gerakan tangannya sangat halus dan sesuai dengan presisi, layaknya seorang dokter senior dan seorang ... Algojo yang menyiapkan ramuan kematian untuk para hukuman.
Sementara itu, pecahan giok pusaka yang ada disampingnya, perlahan berdenyut hangat.
Mo Yuyan menatpnya dengan mata menyipit tajam.
"Nenek Du ..." panggil Mo Yuyan.
"Apakah kamu juga merasakannya?" tanya Nenek Du.
"Gioknya seperti ... Hidup! Seperti sedang memanggil sesuatu ..." jawab Mo Yuyan.
Duan Xue mencondongkan tubuhnya ke arah giok tersebut.
"Manggil apa? Gioknya tidak bergerak tuh dari tadi ..." ujar Duan Xue dengan wajah bingung.
"Aku juga tidak tahu! Aku hanya merasakan jika giok itu berdenyut, dan rasanya sangat hangat saat aku menyentuhnya ..." ujar Mo Yuyan.
Nenek Du menatap pecahan giok itu dengan sorot mata yang dalam.
"Sepertinya, ini bukanlah pecahan giok biasa. Ini adalah sebuah kunci ..." ujar Nenek Du, yang membuat Mo Yuyan menoleh ke arahnya.
"Kunci apa, Nek?" tanya Mo Yuyan.
"Kunci khusus yang hanya dipegang oleh pewaris asli dari Sekte Abadi ini ..." jawab Nenek Du dengan suara pelan.
Mo Yuyan menahan napasnya ...
Apakah dirinya adalah 'Pewaris Sah' dari pendiri Sekte Abadi sebelumnya?
Duan Xue mengerutkan keningnya.
"Bukankah Pendiri Sekte Abadi awal dikabarkan menghilang ratusan tahun yang lalu? Jika Yuyan memegang kunci itu, apakah dia keturunan asli dari salah satu Pendiri Sekte?" ujar Duan Xue, bertanya-tanya.
'Dugaan sementara memang seperti itu, namun kita belum tahu, siapa sebenarnya orangtua dari Yuyan ..." jawab Nenek Du.
Mo Yuyan menggenggam giok itu dengan kedua tangannya, ada secercah kerinduan dalam hatinya ... kerinduan yang ditinggalkan oleh jiwa sebelumnya.
"Jika benar begitu ... Aku ini bukan hanya sekedar 'anak angkat', kan?" gumam Mo Yuyan.
Nenek Du menatapnya dengan tatapan lembut.
"Kamu sebenarnya adalah 'Pewaris Sah' Sekte Abadi. Entah 'skema' apa yang sedang dirancang oleh para Tetua itu, ketika mereka tahu bahwa kamu adalah garis darah langsung dari Pendiri Sekte ini ..." ujar Nenek Du.
Ruangan itu hening beberapa saat, ketika Nenek Du berkata sperti itu.
Sementara Duan Xue, dia menatap Mo Yuyan seperti menatap sesuatu yang menakutkan.
'Ah ... pantas saja mereka sangat ingin membunuhmu ..." ujar Duan Xue.
Mendengar ucapan Duan Xue, Mo Yuyan malah tertawa.
"Hahahahahahaha ..."
Duan Xue terlonjak kaget, saat mendengar suara taw Mo Yuyan yang terdengar menyeramkan itu.
"Eh, kenapa kamu malah tertawa begitu?! Bikin kaget saja!" gerutu Duan Xue.
Mo Yuyan menatap Duan Xue dengan tatapan mata yang dingin.
"Kenapa aku tidak boleh tertawa, hah?! Aku tertawa karena aku punya alasan yang kuat untuk membunuh mereka semua sekarang ... Hahahahaha!"
Nenek Du: " .... "
Duan Xue: " .... "
Duan Xue berdecak kesal, saat mendengar jawaban Mo Yuyan.
"Tsk! Benar-benar gadis gila!"
"Oh! Terima kasih ..."
☣
Sementara itu, di sayap sebelah utara Sekte Abadi, Lianhua sedang berdiri di depan cermin dengan wajah kesal.
Tangannya mengepal dengan erat, sampai kuku-kukunya menusuk kulitnya.
"Mo Yuyan ... Ja-lang sia-lan itu ...!!!"
"Arrrghhhh!!!"
Prang!
Dia berteriak sambil menyapu semua barang-barang yang ada di atas meja riasnya ke lantai.
"Kenapa kamu susah sekali mati, Mo Yuyan??!!!"
Prang!
Para murid Sekte yang melayaninya dibelakang, berdiri dengan tubuh gemetar ketakutan.
"K-kakak Senior ..."
"DIAM KALIAN!!!" bentak Lianhua.
Dadanya terlihat naik-turun karena emosi, wajah yang biasanya lembut itu sekarang retak, menunujukkan wajah gadis itu yang sebenarnya.
"Aku sendiri yang memastikan dirinya jatuh ke dalam Jurang Pemakan Jiwa itu!" ujarnya penuh kebencian yang dalam.
"Aku juga yang memasukkan racun itu ke dalam tubuhnya!"
"Dan aku bahkan berdiri disana untuk memastikan, jika dia tidak akan pernah bisa kembali!"
"Namun kenapa? ... Kenapa dia bisa kembali dengan selamat setelah seminggu berada di sana?!"
Lianhua berbalik dengan tatapan yang tajam, matanya memerah karena emosi.
"Kenapa dia masih hidup, hah?!!!" teriaknya layak orang gila.
Murid junior yang menjadi pengikutnya menelan salivanya dengan gugup.
"M-mungkin ... karena keberuntungan ..." jawab salah satu murid tersebut dengan nada hati-hati.
"Keberuntungan ...??!!! ... Keberuntungan?!!! Hahahaha!"
Lianhua tertawa layaknya orang yang terputus urat kewarasannya, dan tidak lama setelah itu dia mengamuk sejadi-jadinya.
"ARRRGHHH ...!!!!"
Menyapu semua vas bunga dan teko teh yang ada di meja dekat dirinya.
PRANG! ... PRANG! ... PRANG!
"Kalian pikir, semuanya akan baik-baik saja saat dia sudah kembali, hah?! TIDAK! Semuanya tidak baik-baik saja!!" raung Lianhua, kesetanan.
"Tadi, dia menatapku tajam di Aula ... seolah-olah dia tahu semuanya ..." lanjut Lianhua dengan wajah ketakutan.
Para murid junior yang ikut dalam bersama dalam kejadian itu bergetar hebat, mereka tahu ... jika Mo Yuyan mengingatnya ... mereka semua akan ... tamat!
"Kakak Senior ... apakah dia akan mengingat semuanya?" tanya salah satu junior Lianhua.
Lianhua membeku sesaat, lalu dia menggeleng dengan cepat.
"Tidak ... tidak mungkin dia bisa mengingatnya!" gumam Lianhua.
Lianhua berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku jarinya dengan gugup.
"Nenek tua itu bilang, jika Mo Yuyan kehilangan ingatannya. Dan Ketua Sekte Mo juga mempercayainya ..." ujar Lianhua.
"T-tapi ... bagaimana jika dia berpura-pura kehilangan ingatannya, Kakak Senior?" tanya salah satu murid dengan suara berbisik.
Tiba-tiba ...
PLAK!
Lianhua menampar murid itu dengan kencang, sehingga murid itu jatuh dengan keras ke lantai dengan bibir pecah.
"Tutup mulutmu itu! Jangan bicara sembarangan!" teriak Lianhua dengan wajah garang.
Lianhua membalikkan tubuhnya, lalu dia menghela napas kasar.
"Haaah ...!"
Karena ucapan murid junior itu, rasa takut Lianhua semakin dalam.
Dia menatap ke arah cermin ...
Wajah cantiknya sekarang terlihat sedikit ... menyeramkan.
"Ini tidak bisa dibiarkan ... Mo Yuyan seharusnya sudah mati!" gumamnya sambil melirik ke arah pinggangnya.
Disana tergantung sebuah giok kecil, lalu dia meraihnya.
"Jika dia masih hidup ... maka aku harus membunuhnya sekali lagi!" lanjutnya sambil menyeringai kejam.
"Jangan lakukan itu, Kakak Senior! Dia sekarang berada dalam lindungan Ketua Sekte Mo!" peringat murid yang ditampar oleh Lianhua tadi sambil menangis.
Lianhua tersenyum tipis, saat mendengar perkataan itu.
"Ketua Sekte Mo? Hehehehe ..."
"Dia bukan seorang pelindung! Dia hanya orang bo-doh yang terlalu mudah untuk dibohongi ..." ujar Lianhua dengan nada angkuh.
Lianhua menatap keluar jendela dengan dagu terangkat tinggi.
"Mereka semua akan ... memilihku ..."
"Karena aku ... aku adalah harapan utama dari Sekte Abadi ini!"
☣
Sementara itu di sebuah ruangan yang gelapnya mengalahi malam, beberapa Tetua Sekte Abadi berkumpul di ruang rahasia itu.
Lampu minyak menggoyangkan bayangan mereka, membuat bayangan itu terlihat seperti sosok monster dunia bawah.
Salah satu dari mereka membuka percakapan.
"Mo Yuyan telah kembali ..." ujarnya dengan nada tidak senang.
Tetua yang tidak.hadir di aula siang tadi menggebrak meja dengan kencang.
Brak!
"Jangan bicara sembarangan! Dia sudah mati! Jasadnya sudah ..."
"Jangan bo-doh!" bentak salah satu Tetua, memotong ucapan Tetua itu.
"Dia benar-benar kembali! Aku melihatnya sendiri!"
Tetua itu menatap Tetua lainnya dengan wajah tidak percaya.
"Siapa yang menolongnya dan membawanya kembali?" tanya Tetua itu dengan tatapan tajam.
"Seorang wanita tua, yang mengaku sebagai seorang Tabib kelana ..." jawab Tetua lainnya.
"Mustahil! Mana ada Tabib Kelana yang berjalan sampai ke Jurang Pemakan Jiwa? Omong kosong!" sahut Tetua lainnya dengan nada geram.
"Sudah! Hentikan! Yang terpenting sekarang ... apakah dia sudah mengingat semuanya?" ujar Tetua yang sedari awal hanya diam saja.
Semua Tetua yang ada di sana langsung terdiam ...
"Wanita tua itu bilang, Ingatannya hilang karena racun penghilang ingatan ..." sahut salah satu Tetua yang hadir di Aula.
"Lalu, apakah kalian percaya begitu saja?" tanya salah satu Tetua sambil menyeringai.
"Aku tidak percaya!" sahut salah satu Tetua, sambil mengepalkan tangannya.
"Jika dia mengingat semuanya ... kita semua tamat ..."
"Bukan hanya itu ..."
"Mo Yuyan adalah pewaris tunggal dari darah pendiri Sekte ini!"
Kalimat tersebut membuat udara di dalam sana terasa lebih berat.
"Apa kalian yakin, dia pewaris utamanya?" tanya salah satu Tetua Sekte yang lebih tua.
"Ya, aku sangat yakin! Pusaka Sekte itu masih berada ditangannya. Itu adalah satu-satunya bukti, yang menandakan pewaris asli Sekte Abadi ini ..."
Tetua lain mendengus kesal.
"Pewaris Sah, huh?!"
"Bagaimana bisa seorang gadis lemah yang tidak bisa berkultivasi, bisa menjadi pewaris Sekte Abadi yang terkenal ini?" ujar Tetua itu dengan nada meremehkan.
Seorang Tetua yang lebih muda, menatap tajam ke arah Tetua itu.
"Jangan meremehkannya! Jika dia bisa kembali dengan utuh dari Jurang Pemakan Jiwa, kalian pasti tahu artinya, kan?"
Semua Tetua yang ada di sana terdiam kembali, dalam benak mereka, mereka sedang merancang berbagai rencana licik.
Tetua yang lebih tua menatap ke arah lampu minyak.
"Bagaimana jika Pendiri Sekte masih hidup ... dan dia kembali ..." gumamnya.
Tetua yang berwajah licik langsung memotongnya dengan nada tidak senang.
"Pendiri Sekte tidak akan pernah kembali! Dan Mo Yuyan tidak bisa dibiarkan hidup!" raungnya dengan mata nyalang.
Tetua lainnya langsung menyahut dengan nada dingin.
"Jika begitu, maka kita harus membunuhnya, sebelum dia menemukan pecahan pusaka tersebut ..."
"Bagaimana jika kita ... sudah terlambat?" tanya salah satu Tetua.
"Jika sudah terlambat ... maka kita bunuh dia dan hancurkan kepingan jiwanya sampai tidak tersisa lagi ..." sahut salah satu Tetua dengan kejam.
Para Tetua disana menutup mata sebentar, lalu mereka pun mengangguk setuju.
"Pertemuan ini jangan sampai diketahui oleh Ketua Sekte Mo ..."
"Tentu saja ..."
"Lalu, siapa yang akan bergerak?" tanya salah satu Tetua.
"Lianhua ..." jawab Tetua yang lebih muda.
"Tapi ... gadis itu terlalu emosional. Bukankah akan membahayakan kita semua?" ujar Tetua yang lebih tua usianya.
"Justru itu lebih bagus! Emosi adalah bilah pisau yang paling tajam, jika diarahkan dengan benar ..." sahut Tetua yang usianya lebih muda, sambil tersenyum.
"Jika Mo Yuyan sudah berubah, maka Lianhua bisa tewas dengan sia-sia ..."
"Itu soal mudah ... Jika dia tewas, maka kita hanya tinggal mencari penggantinya saja ..."
Semua Tetua yang ada di sana terdiam.
Karena dengan satu kalimat itu, semuanya sudah bisa dimengerti ...
Jika dimata mereka ... siapapun orangnya, mereka hanyalah 'alat' untuk meraih kekuasaan tertinggi.
Mereka semua tidak sadar, jika dibalik kehampaan ...
Ada sesuatu yang sedang mengintai mereka semua, tanpa mereka sadari kehadirannya.
☣☣☣
Note:
Aduh, Gaess! Pas aku baca ulang kembali, ceritanya acak2an dan tidak nyambung! 🤣🤣🤣🤣
Terpaksa aku revisi ulang semuanya ...
Selamat berpuasa ya kesayanganku semua ...
Harap bersabar kalau aku belum update, karena cerita yang sudah aku simpan, ternyata gak nyambung semua. Jadi aku revisi setiap bab tiap malam, berusaha mencari 'ilham' agar ceritanya nyambung dan menarik untuk kalian baca ...😂.
Dah, gitu aja ... aku cuma mau kasih tahu itu aja. Terima kasih yang sudah mendukung aku dari novel sebelumnya sampai ke novel ini, semoga kalian tetap sehat dan bahagia ...🙏🏻🤗💖💖💖💖.
Lope yuh ...😘