NovelToon NovelToon
Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Status: tamat
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:58.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Selama ini Tania hidup dalam peran yang ia ciptakan sendiri: istri yang sempurna, pendamping yang setia, dan wanita yang selalu ada di belakang suaminya. Ia rela menepi dari sorot lampu demi kesuksesan Dika, mengubur mimpinya menjadi seorang desainer perhiasan terkenal, memilih hidup sederhana menemaninya dari nol hingga mencapai puncak kesuksesan.
Namun, kesuksesan Dika merenggut kesetiaannya. Dika memilih wanita lain dan menganggap Tania sebagai "relik" masa lalu. Dunia yang dibangun bersama selama lima tahun hancur dalam sekejap.
Dika meremehkan Tania, ia pikir Tania hanya tahu cara mencintai. Ia lupa bahwa wanita yang mampu membangun seorang pria dari nol, juga mampu membangun kembali dirinya sendiri menjadi lebih tangguh—dan lebih berbahaya.
Tania tidak menangis. Ia tidak marah. Sebaliknya, ia merencanakan pembalasan.

Ikuti kisah Tania yang kembali ke dunia lamanya, menggunakan kecerdasan dan bakat yang selama ini tersembunyi, untuk melancarkan "Balas Dendam yang Dingin."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

"Nggak papa, Mas. Nggak perlu khawatir, Luna jemput aku, Mas, dia kan punya mobil," jawab Tania.

Kelegaan muncul dari wajah Dika, hal tersebut tidak luput dari Tania yang diam-diam mengamati.

Sarapan pagi mereka pun telah selesai, Tania mengantarkan Dika sampai ke depan rumah.

"Hati-hati di jalan ya, Mas," ucap Tania lembut, dengan senyum yang di paksakan. Gerak tubuhnya terencana.

"Tentu, Sayang. Kamu di rumah baik-baik ya, jangan nakal!" Dika mencubit pelan pipi Tania.

Tania merapihkan sejenak kerah kemeja yang Dika gunakan, meskipun sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu, Tania juga mencium lembut telapak tangan Dika, kemudian memeluk sejenak Dika.

Dika masuk ke mobilnya dan melambaikan tangan, Tania membalas lambaian tangan Dika dengan senyum yang kian meregang.

Selepas kepergian Dika, Tania masih berdiri di ambang pintu untuk beberapa saat. Senyuman yang tadi ia pamerkan perlahan memudar, menyisakan kerutan halus di sudut bibirnya.

Di balik ketenangan wajah Tania, roda-roda di kepalanya berputar kencang, dalam diamnya ia telah menyusun sebuah rencana rumit, sebuah skema yang rapi dan terperinci. Setiap kata manis yang baru saja ia ucapkan tadi adalah bagian dari strategi, setiap sentuhan lembut adalah taktik untuk menidurkan kewaspadaan Dika.

Tania mengambil napas dalam-dalam, sebelum akhirnya ia mendorong daun pintu lebar-lebar dan masuk kembali ke dalam.

Senyumnya yang menghilang bukan karena rencana jahat, tetapi karena tekad kuat untuk membuktikan kemampuan sebenarnya, membalikkan keadaan dan memastikan Dika merasakan kerugian yang sama.

Dibalik pintu tertutup itu, Tania bukan lagi istri yang lemah lembut, melainkan seorang yang siap melancarkan balas dendam, berjuang untuk keadilan versinya dan menunjukkan bahwa ia lebih dari sekedar bayangan Dika.

Bahwa hidupnya akan tetap berharga sekali pun tanpa andil dari suami yang telah mengkhianatinya tersebut.

...----------------...

Setelah kepergian Dika, kini giliran Tania bersiap untuk pergi ke salah satu perusahaan perhiasan yang cukup terkenal di Indonesia. PT Hartadinata Abadi Tbk(HRTA).

Beberapa tahun silam perusahaan tersebut belum terkenal seperti sekarang, kolaborasi tertutupnya dengan Tania sebagai desainer perhiasan, berhasil membawa perusahaan tersebut tercatat di bursa saham(IDX:HRTA).

Tania berdiri di depan cermin rias, menatap pantulan dirinya dengan seksama. Perlahan, senyum tipis terukir di bibir Tania. Bukan senyum sombong, melainkan senyum kepuasan—kepuasan karena merasa sepenuhnya siap.

Penampilannya hari ini lebih dari sekedar estetika; itu adalah pernyataan, Tania mengedipkan mata pada bayangannya sendiri, siap keluar dan memegang kendali hari ini.

Taxi yang Tania pesan pun sudah tiba di depan pagar rumahnya, Tania melangkah keluar dari rumah dengan keyakinan yang penuh.

Kali ini ia tidak akan lagi hidup dalam dunia yang dulu ia ciptakan sendiri; menjadi istri yang lemah lembut, setia dan berdiam diri di rumah, mengabdikan diri sepenuhnya sebagai seorang istri.

Tania mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya ia masuk ke dalam taxi dan duduk dengan anggun.

Penampilannya kali ini benar-benar berbeda, andai saja Dika melihat, mungkin saja Dika akan terpana.

Siapa yang menyangka, seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya memakai pakaian rumah, bisa tampil menawan.

Taxi yang Tania tumpangi pun perlahan melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya, pagi ini jalanan seperti memberikan kemudahan untuk Tania.

Pagi hari yang biasanya di penuhi dengan kendaraan, karena macet, hari ini jalanan begitu lenggang, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk Tania sampai ke tempat tujuannya.

Mobil taxi yang Tania tumpangi tepat berhenti di depan lobi utama, Tania keluar dengan elegan. Ia mengenakan gaun sheath berwarna biru safir yang memancarkan kesan profesionalisme dan kekuatan.

Dengan gestur yang sangat tenang, Tania merapikan lipatan kecil di roknya dan melangkah keluar sepenuhnya.

Tania tidak tergesa-gesa, setiap gerakan dibuat dengan penuh kesadaran, dari cara ia menutup pintu mobil hingga cara ia mulai berjalan.

Sepatu stilettonya menciptakan irama yang berwibawa di atas trotoar. Postur tubuhnya yang tegak dan dagunya yang sedikit terangkat menunjukkan kepercayaan diri yang mendalam.

Saat melangkah menuju gedung, pandangannya lurus ke depan, fokus pada tujuannya. Senyum tipis, nyaris tidak terlihat, tersungging di bibirnya—senyum seseorang yang tahu persis kapasitas dirinya dan siap mempertontonkannya.

Di balik sikap tenangnya, ada semangat membara untuk menghapus keraguan orang lain dan membuktikan bahwa ia siap memegang kendali. Hari ini—ia datang untuk menang.

"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu, Bu?" sampai di depan pintu masuk, Tania di sambut hangat, satpam yang berjaga di depan pintu masuk gedung.

"Pagi, saya ingin bertemu dengan Pak Rendi," jawab Tania tanpa ragu.

"Mari, biar saya antarkan ke resepsionis terlebih dahulu, karena saya tidak punya wewenang untuk mengantarkan Ibu langsung ke ruangan sekretaris pribadi bos," balas satpam tersebut.

Tania pun mengikuti langkah satpam di depan yang mengarahkannya ke bagian resepsionis di dalam gedung tersebut.

"Silahkan, Bu," ujar satpam tersebut dengan sopan.

"Terimakasih, Pak." Tania sedikit membungkukkan badannya.

"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya resepsionis.

"Pagi, saya mau bertemu dengan Pak Rendi."

"Baik, apakah Ibu sudah memiliki janji temu sebelumnya dengan Pak Rendi?" tanya resepsionis tersebut lagi.

"Iya," jawab Tania singkat.

"Baik, mohon di tunggu sebentar ya, Bu. Biar saya konfirmasi ulang, karena saat ini seharusnya Pak Rendi sedang menemani pak bos di ruang rapat."

Tania menunggu beberapa saat, sampai akhirnya Rendi turun ke lantai bawah sendiri, demi menjemput dirinya.

"Selamat pagi Bu Tania, mari saya antar ke ruangan pak Herry," sapa Rendi, sopan.

Koridor kantor yang sibuk seolah terdiam saat Tania juga Rendi mulai melangkah.

Keduanya berjalan beriringan tapi tidak terlalu dekat.

Langkah kakinya yang tenang memecahkan keheningan di area bilik kerja. Dengan punggung tegak dan dagu terangkat, Tania melenggang mulus melewati jajaran meja karyawan yang tertegun. Gaun sheath biru safir miliknya seolah mengalir mengikuti irama gerak tubuhnya yang penuh kendali.

Setiap mata memandang, diam-diam mengagumi aura kewibawaan yang terpancar dari Tania.

Para karyawan hanya bisa mencuri pandang, terpikat oleh pesona alaminya yang memancarkan kepercayaan diri.

Setiap langkahnya penuh perhitungan, tidak tergesa-gesa, menunjukkan kendali penuh atas dirinya dan situasi.

Beberapa karyawan menatapnya dengan rasa ingin tahu bercampur gentar. Keanggunannya adalah perisai—dingin dan efisien. Fokusnya hanya pada pintu kayu mahoni besar yang ada di ujung lorong.

Tania bergerak di antara kubikel dengan aliran yang mulus, seolah lantai marmer itu adalah panggung pribadi baginya.

Hingga akhirnya ia menghilang di balik pintu kayu mahoni besar bertuliskan 'CEO'.

Bersambung...

1
Rina Arie
good book
Eve_Lyn: kak...nanti baca juga novel aku yang baru yaa..smntra ak banyakin babnya..seru kak...cameo nya Hartadinata sekeluarga hehehe...
total 1 replies
Irene Rambing
Luar biasa naluri i ai
Eve_Lyn: terimakasih kak...udah baca sampe tamat...nanti baca novelku yang baru ya kak...lagi otw beberapa bab...seru ada cameonya Keluarga Hartadinata alias Tania,dll...hehehehe
total 1 replies
Irene Rambing
Begitulah klu orang tersakiti apalagi dia pinter.
Irene Rambing
maklum kalau pelakor memang seperti itu tingkah nya. urat malu sudah putus.
Irene Rambing
bagus banyak pembelajaran hidup.
Eve_Lyn: terimakasih kak...
total 1 replies
Eve_Lyn
luar biasa!
Arin
/Heart/
Osie
Google.. aku mampir..ku suka wanita tangguh yg gak menye menye..smart apalagi kalau dibarengi jago bela diri..beeuuh paket komplit banget dah
Eve_Lyn: terimakasih...nnti aku bikin novel kek gtu yaa kak hehehe...kalo si Tania mainnya di otak dia kak.hehehe
total 1 replies
cinta semu
jgn gegabah ...main cantik aja ...kuras harta Dika ,,kalo miskin mana ada pelakor nempel 😂😂
Arin
Orang-orang begini mana pernah puas. Sebelum ambisinya tercapai. Biarpun dengan cara licik sekalipun
Eve_Lyn: 2 bab lagi kak...jangan bosen yaa
total 1 replies
Hasanah
🤣🤣 di kra dengan mereka mnyerang Tania dengan foto itu awal dari kbahagian mereka tau2 x itu adlah awal khancuran
Eve_Lyn: terimakasih kakak...stay terus yaa kak hehehe...kita masih punya 40 bab k depan lagi...di pertengahan ada bab refresh di akhir akan ada konflik lagi...stay tune kak hehehehe
total 1 replies
Hasanah
🤣🤣🤣 Farah kmu slah lawan dia lupa bahwa Tania punya semua bukti x
Hasanah
🤣🤣🤣 di kira mereka udah mnang
Hasanah
🤣🤣 trnyta kmu sdar juga Farah klau Tania lbih maju dri kmu yg tidak ad ap2x
Hasanah
kpan si terungkanya
Hasanah
minimal punya malu kmu Farah jngan trllu ngelunjak
Hasanah
🤣🤣🤣 nikmati aj Farah
Arin
Aku kira Rei seperti dulu. Saat masih terus memantau Dika. Ternyata gampang juga terpengaruh hanya dengan kata-kata beracun dari Bianca. Tanpa cek dulu kebenarannya
Eve_Lyn: hihihihi...gak baik kalo trllu sempurna kak..wkwkwk
total 1 replies
Arin
Bawa kabur 800 juta itu banyak lo..... Kemana uangnya? Jadi apa? Gak berwujud. Malah jebak suami orang untuk menutupi utang-utang.....
Arin
Niatnya gertak Tania. Malah terkejut sendiri kan Farah??? 😄 Ternyata Tania punya hal yang kalau diungkap bisa jadi "BOOM" dan bisa merugikan dirimu nantinya. Persiapan saja dirimu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!