NovelToon NovelToon
Aku Anak Yang Kau Jual

Aku Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.

×××××××

"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"

"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.

"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."

Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Berdarah

Persiapan untuk pesta amal tahunan Malik Group terasa seperti persiapan menuju medan perang. Kediaman Malik yang biasanya tenang kini dipenuhi oleh penjahit kelas atas, pengatur acara, dan tim keamanan yang bekerja dalam efisiensi yang menakutkan. Di tengah hiruk-pikuk itu, Aira berdiri di tengah ruang ganti besarnya, menatap gaun yang telah dipilihkan Aristhide untuknya.

Gaun itu berwarna merah darah, terbuat dari sutra Italia yang berat dan jatuh dengan anggun hingga menyapu lantai. Potongannya sangat berani—dengan punggung terbuka yang menonjolkan lekukan tubuh Aira yang elegan, namun tetap memancarkan otoritas seorang wanita yang tak bisa dijinakkan.

"Gaun itu adalah pernyataan," suara Aristhide terdengar dari ambang pintu. Pria itu sudah mengenakan tuksedo hitam yang dipesan khusus dari London. Penampilannya malam ini benar-benar mewakili julukannya sebagai Sang Predator Menara Kaca.

Aira berbalik, menatap Aristhide dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Merah darah. Apakah ini simbol untuk apa yang akan terjadi malam ini?"

Aristhide mendekat, tangannya masuk ke saku celana dengan santai namun matanya terus mengunci Aira. "Malam ini bukan hanya soal mengumpulkan dana untuk yayasan. Malam ini adalah eksekusi publik. Bramantyo akan datang, Ratna akan datang, dan tentu saja... kembaran kesayanganmu."

Aira merasakan sedikit kecemasan merayap di dadanya. "Aina... dia tampak sangat tenang belakangan ini. Itu bukan gayanya. Biasanya dia akan mengamuk atau mencoba menghubungiku untuk mencaci-maki."

"Dia merasa punya kartu as," Aristhide mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Yudha melaporkan bahwa dia terlihat di sekitar kawasan ini beberapa malam lalu. Sepertinya dia sedang mengumpulkan 'amunisi'. Tapi biarkan saja. Seorang amatir yang merasa menang adalah target yang paling mudah dihancurkan."

Aristhide mengulurkan tangannya, memberikan sebuah amplop tebal berwarna hitam dengan segel emas. "Ini adalah naskahmu untuk malam ini. Di dalamnya ada bukti transfer asli dari akun rahasia Bramantyo ke dokter yang menukarmu dua puluh tahun lalu. Aku ingin kau yang memberikan ini langsung ke tangan ibumu di depan semua orang."

Aira menerima amplop itu. Terasa berat, seberat tanggung jawab yang kini ia pikul. "Kenapa bukan kau saja yang melakukannya?"

"Karena luka itu milikmu, Aira. Aku hanya menyediakan panggungnya. Penebusan hanya akan terasa manis jika kau sendiri yang menghujamkan pedangnya."

Satu jam kemudian, mereka tiba di gedung ballroom mewah yang telah disewa sepenuhnya oleh Malik Group. Cahaya lampu kristal memantul pada lantai marmer yang bersih, menciptakan ilusi bahwa mereka sedang berjalan di atas air. Ratusan tamu dari kalangan elite sudah memenuhi ruangan, saling berbisik saat pasangan yang paling dibicarakan di kota itu masuk.

Namun, suasana berubah drastis saat keluarga Bramantyo tiba. Mereka tidak datang dengan kepala tertunduk. Sebaliknya, Bramantyo berjalan dengan dada membusung, didampingi Ratna yang mengenakan perhiasan yang sangat mencolok, seolah ingin menunjukkan bahwa mereka belum bangkrut. Aina berjalan di belakang mereka, mengenakan gaun putih suci yang tampak ironis jika dibandingkan dengan rencana busuk di kepalanya.

Aina sempat menangkap tatapan Aira. Ia tersenyum—senyum yang penuh dengan racun kemenangan. Ia memegang tas tangan kecilnya dengan erat, seolah ada harta karun di dalamnya.

"Aristhide!" Bramantyo berseru dengan suara keras yang sengaja ditarik untuk menarik perhatian tamu-tamu di sekitarnya. "Terima kasih atas undangannya. Aku tidak menyangka kau masih punya cukup keberanian untuk mengundang pria yang putrinya kau culik."

Ruangan seketika menjadi sunyi. Bisikan-bisikan mulai merambat seperti api di rumput kering. Aristhide tidak terkejut. Ia justru tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya berarti kematian bagi lawan bicaranya.

"Penculikan adalah kata yang besar untuk seorang ayah yang menandatangani kontrak penjualan anaknya seharga lima puluh miliar rupiah, Tuan Bramantyo," sahut Aristhide dengan suara yang cukup tenang namun memiliki jangkauan yang luas.

Ratna maju ke depan, wajahnya memerah. "Kontrak itu tidak sah! Aira sedang dalam tekanan mental saat itu. Dan kau... kau memanfaatkan kerapuhannya untuk memuaskan nafsu bejatmu!"

Aira melangkah maju dari balik punggung Aristhide. Ia menatap wanita yang selama dua dekade ia panggil 'Ibu' itu dengan tatapan kosong. "Tekanan mental? Satu-satunya tekanan mental yang aku rasakan adalah saat aku menyadari bahwa aku dibesarkan oleh seorang wanita yang tega menukar bayi kandungnya yang meninggal dengan bayi sehat milik wanita lain."

Kali ini, keheningan di ballroom itu begitu pekat hingga suara jatuhnya sebuah pin pun akan terdengar jelas. Wajah Ratna seketika berubah dari merah menjadi putih pucat. Ia gemetar.

"Apa... apa yang kau bicarakan, anak nakal!" teriak Ratna gagap.

"Aku bicara tentang Sofia Malik," lanjut Aira, suaranya kini mantap dan penuh otoritas. "Aku bicara tentang bagaimana kalian mencuriku dari rahim ibuku hanya karena kalian butuh alat untuk mengamankan kekayaan keluarga Malik. Aku punya bukti tes DNA, catatan medis rumah sakit, dan pengakuan perawat yang kalian bayar."

Aira menyodorkan amplop hitam itu ke arah Ratna. "Buka ini. Di depan semua kolega bisnismu. Tunjukkan pada mereka bahwa kalung berlian yang kau pakai malam ini dibeli dengan uang hasil mencuri identitas seorang bayi."

Bramantyo mencoba merebut amplop itu, namun Yudha dan tim keamanan Aristhide segera menghalangi jalannya.

"Jangan terburu-buru, Ayah," sindir Aira. "Atau haruskah aku memanggilmu... Tuan Penculik?"

Di saat semua perhatian terfokus pada drama keluarga itu, Aina tiba-tiba melangkah ke tengah ruangan. Ia memegang sebuah remote kecil yang terhubung dengan layar proyektor besar di belakang panggung.

"Cukup sandiwaranya, Aira!" teriak Aina. "Kau bicara soal moralitas dan kebenaran, sementara kau sendiri sedang merangkak di tempat tidur Aristhide Malik demi kekuasaan! Lihat ini, kalian semua!"

Aina menekan tombolnya. Layar proyektor menyala, menampilkan foto-foto intim Aira dan Aristhide di kamar malam sebelumnya—saat Aristhide memasangkan kalung dan saat mereka berciuman panas. Foto-foto itu diambil dari sudut yang membuat mereka tampak seperti pasangan yang sedang melakukan transaksi nafsu daripada cinta.

Tamu-tamu terkesiap. Beberapa wanita menutupi mulut mereka karena terkejut. Reputasi Aristhide sebagai pengusaha dingin yang tak tersentuh kini tampak seperti skandal murahan.

"Itukah caramu mendapatkan bukti-bukti itu, Aira?" ejek Aina dengan suara melengking. "Dengan menjual tubuhmu pada musuh keluargamu sendiri? Kau tidak lebih baik dari seorang pelacur yang beruntung!"

Plak!

Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan. Bukan Aira yang menampar Aina. Tapi Aristhide.

Aristhide menatap Aina dengan pandangan yang begitu dingin hingga Aina jatuh terduduk di lantai. "Jangan pernah berani menyebut kata itu di depan wanitaku," desis Aristhide.

Aristhide kemudian berbalik menghadap layar proyektor yang masih menampilkan foto-foto itu. Ia tidak tampak malu. Sebaliknya, ia justru merangkul bahu Aira dan menatap para tamu dengan bangga.

"Foto-foto itu benar," ujar Aristhide lantang. "Aira adalah tunanganku. Dan setiap sentuhan yang kalian lihat di sana adalah milik seorang pria yang sedang mencoba menyembuhkan wanita yang telah dihancurkan oleh orang-orang di depan ini. Jika kalian ingin menghakimi, hakimilah pria yang menukar bayi dan menjualnya, bukan korban yang sedang mencari keadilan di pelukan pria yang mencintainya."

Aira menatap Aristhide dengan haru. Pria itu tidak menyangkal, ia justru melegitimasi hubungan mereka sebagai benteng pelindung.

Namun, kejutan malam itu belum berakhir. Polisi tiba-tiba masuk melalui pintu utama ballroom. Mereka tidak menuju ke arah Aristhide. Mereka berjalan langsung menuju Bramantyo dan Ratna.

"Tuan Bramantyo dan Nyonya Ratna, Anda ditahan atas tuduhan perdagangan manusia, pencucian uang, dan penipuan dokumen negara dua puluh tahun silam," ujar petugas polisi sambil mengeluarkan borgol.

Bramantyo mencoba melawan, "Ini fitnah! Aristhide Malik yang merencanakan semua ini!"

Saat Bramantyo dan Ratna diseret keluar, Aina berteriak histeris, mencoba mengikuti mereka, namun ia terhenti saat Aira berdiri di depannya.

"Kau punya satu kesempatan, Aina," bisik Aira. "Pergilah sekarang sebelum aku menyerahkan bukti bahwa kaulah yang memalsukan tanda tanganku di dokumen utang ayahmu. Jika kau pergi malam ini, aku akan membiarkanmu hidup dalam kemiskinan yang layak kau dapatkan. Tapi jika kau tinggal... kau akan membusuk di sel yang sama dengan mereka."

Aina menatap Aira dengan mata yang penuh kebencian sekaligus ketakutan. Ia menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya—keluarga, status, dan harga dirinya. Tanpa sepatah kata pun, Aina berlari keluar dari ruangan itu, meninggalkan kehancuran di belakangnya.

Aira bersandar pada Aristhide, merasa seluruh kekuatannya terkuras. "Apakah ini sudah berakhir?"

Aristhide mencium puncak kepalanya. "Untuk mereka, ini adalah akhir. Tapi untuk kita... ini hanyalah bab pembukaan."

Namun, di saku jas Aristhide, sebuah pesan baru masuk. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan satu kalimat singkat: "Kau pikir polisi bisa menahan Bramantyo lebih dari dua puluh empat jam? Periksa siapa yang sebenarnya membayar jaminan rumah sakit ibumu dulu."

Darah Aristhide membeku. Ada pemain lain di balik layar yang jauh lebih besar dari Bramantyo.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!