Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalang
Pintu kayu tua itu kembali berderit. Suara engselnya panjang dan kasar, memecah percakapan para pria yang berjaga. Seketika ruangan menjadi lebih tenang. Lima lelaki itu berdiri lebih tegak, seperti anjing yang mengenali tuannya.
Langkah sepatu yang teratur terdengar memasuki ruangan.
Elenna tidak perlu menebak, sepertinya ia tahu siapa dalang di balik penculikannya.
Aroma parfum tipis bercampur dengan bau kulit mahal menyusup ke udara pengap gudang itu. Sosok tinggi berhenti beberapa langkah di depannya. Bayangan tubuhnya jatuh panjang di lantai kayu.
Count.
Ia mengenakan mantel gelap yang rapi, kontras dengan tempat kumuh yang kini ia pijak. Wajahnya tetap tenang, hampir elegan, jika saja bukan karena bekas luka yang memanjang di pelipisnya. Luka yang belum sepenuhnya hilang karena kejadian di malam itu.
Luka yang ia ingat dengan jelas, karena itu adalah perbuatannya. "Sudah kau pastikan tidak ada yang melihat kalian kan?” suara Count rendah, terdengar datar.
“Tidak ada, Tuan,” jawab salah satu pria. “Kami selalu berhati-hati dalam melaksanakan tugas."
Count mengangguk singkat. Ia tidak langsung menatap Elenna. Sebaliknya, ia mengeluarkan kantong kulit kecil dari dalam mantelnya dan melemparkannya pada pria yang paling dekat.
Suara koin beradu terdengar jelas.
“Seperti yang dijanjikan.”
Salah satu pria membuka kantong itu sekilas. Matanya berbinar. “Lebih dari cukup, Tuan.”
“Bagus,” jawab Count dingin. “Kalian boleh pergi. Tidak perlu berjaga lagi.”
“Tapi—”
“Aku tidak mengulang perintah.”
Nada itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat kelima pria itu langsung mengangguk. Mereka tidak bertanya lagi. Satu per satu mereka keluar dari ruangan, meninggalkan bau keringat dan sepatu berat yang memudar perlahan.
Pintu tertutup, dan kini hanya tersisa dua orang, yaitu Count dan Elenna.
Keheningan terasa lebih berat daripada sebelumnya. Count akhirnya melangkah mendekat. Ia berhenti tepat di depan Elenna, menatapnya dari atas ke bawah, seperti menilai sebuah barang.
“Keberanianmu,” katanya pelan, “selalu mengagumkan.” Elenna menegakkan punggungnya meski pergelangan tangannya terasa perih oleh ikatan tali. “Apa salahku?” tanyanya tenang.
Ia tidak meninggikan suara. Tidak memohon.
Pertanyaan itu sederhana, dan terkesan apa adanya.
Count tersenyum tipis. "Kau sungguh ingin tahu?”
“Aku tidak pernah berniat menyakitimu,” lanjut Elenna. “Apa pun yang terjadi malam itu… aku hanya berusaha melindungi diriku.”
Tatapan Count berubah.
Malam itu.
Ruang dansa yang terang. Bisikan tamu. Gelas anggur yang jatuh. Dan tatapan-tatapan yang berubah ketika dirinya, seorang bangsawan, terlihat kehilangan kendali di hadapan seorang gadis yang bahkan bukan pewaris utama.
“Melindungi diri?” ulang Count pelan. “Kau membuatku terlihat seperti pria yang memaksa seorang gadis tak berdaya. Di depan tamu-tamu penting. Di depan keluarga bangsawan lain.”
Ia melangkah mengitari kursi Elenna perlahan.
“Reputasi adalah segalanya, Nona kecil. Dan malam itu, reputasiku retak karena perbuatanmu."
Elenna menahan napas ketika ia berhenti tepat di belakangnya.
“Kau juga melukaiku.” Jari Count menyentuh pelipisnya sendiri, tepat di bekas luka tipis itu. "Ini mungkin terlihat sepele bagimu,” lanjutnya, “tetapi luka pada wajah seorang bangsawan adalah bahan pembicaraan yang tak pernah benar-benar padam, dan ini menjadi pengingat akan kejadian di malam itu."
Ia kembali berjalan ke depan Elenna.
“Dan semua itu,” katanya, menatap lurus ke matanya, “karena seorang gadis yang lupa pada tempatnya.”
Elenna tidak mengalihkan pandangan.
“Aku tidak pernah berniat mempermalukanmu.” Ucap Elenna tetap menatap pada Count
“Namun, kau melakukannya secara tidak langsung.” Jawaban itu tajam.
Count berjongkok, menyamakan tinggi mereka. Untuk pertama kalinya jarak di antara mereka benar-benar dekat.
“Kau pikir dunia ini adil?” tanyanya lirih. “Kau pikir kebenaran akan membelamu? Tidak. Dunia hanya peduli pada siapa yang lebih berkuasa, dan aku adalah orangnya."
Ia berdiri kembali.
“Aku tidak akan membunuhmu,” katanya ringan. “Itu terlalu kasar, dan terlalu mencolok.”
Jantung Elenna berdetak lebih cepat, tetapi wajahnya tetap tenang.
“Lalu apa yang kau ingin lakukan padaku?” tanyanya lagi.
Count tersenyum sinis.
“Aku ingin kau merasakan ketakutan, ketidakberdayaan. Seperti yang kurasakan ketika semua mata menatapku malam itu.”
Ia berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan dan menuangkan air dari kendi tua ke dalam gelas logam. Ia meminumnya perlahan, seolah percakapan ini bukan apa-apa.
“Kau tahu,” lanjutnya tanpa menoleh, “festival Gadis Suci akan segera tiba.”
Elenna terdiam.
“Banyak tamu penting akan hadir. Banyak keluarga bangsawan akan berkumpul. Dan rumor,” ia menoleh kembali, “bergerak lebih cepat daripada angin.”
Mata Elenna menyempit sedikit. “Apa maksudmu?”
Count meletakkan gelasnya.
“Bagaimana jika, tepat sebelum festival itu, muncul desas-desus bahwa pendamping gadis Suci… menghilang semalam bersama sekelompok pria?”
Darah Elenna terasa dingin.
“Kehormatan seorang gadis sangat rapuh,” lanjutnya lembut. “Cukup satu cerita, satu saksi palsu, satu bisikan… dan semuanya akan runtuh, entah itu kehormatanmu, reputasimu, dan gelarmu."
“Kau-" Elenna berhenti sejenak, menahan gejolak di dadanya. “Kau ingin menghancurkan namaku.”
Count tersenyum tipis. “Aku hanya ingin keadilan bagi kita berdua."
Ia melangkah mendekat lagi.
“Kau mempermalukanku di pesta kala itu." katanya pelan.
“Aku mempermalukanmu di hadapan seluruh orang. Itu terdengar cukup adil, bukan?”
Elenna menelan ludah. Namun, suaranya tetap stabil ketika ia berkata, “Jika kau melakukan itu, keluarga Marquess tidak akan tinggal diam.”
“Ah,” Count terkekeh pelan. “Kau masih percaya mereka akan membelamu?”
Ia menatapnya tajam. “Kau bukan anak kandung, bukan pula pewaris utama, kau hanyalah anak haram yang tak dianggap"
Kata itu diucapkan dengan nada yang nyaris mengejek.
"Bagaimanapun aku masih menjadi bagian dari keluarga Marquess" ucap Elenna sembari menatap tajam Count
"Mereka tak akan mempermasalahkan apa yang terjadi pada anak yang bahkan tak pernah dianggap dikeluarganya sendiri" Ucap Count menyeringai kepada Elenna, seakan kemenangan berada padanya
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Elenna memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya kini, bukan ketakutan, melainkan kesadaran, bahwa tidak ada yang akan menolongnya di sini, karena begitulah posisinya.
“Jadi ini tentang harga dirimu,” katanya pelan. “Bukan tentang luka yang kuperbuat padamu."
Rahang Count mengeras sedikit.
Kau memang cerdas,” katanya. “Itulah sebabnya kau berbahaya.”
Ia berdiri tegak.
“Kau tidak terima terlihat rapuh untuk gadis seumuran dirimu."
Untuk sepersekian detik, keheningan itu berubah menjadi tegang.
Lalu Count tersenyum lagi, senyum yang lebih tipis dari sebelumnya. Dia memegang wajah Elenna, membelainya dengan perlahan
"Cuih"
"Berani-beraninya kau meludahiku!" Ucap Count dengan wajah penuh amarah, sembari mengusap wajahnya yang diludahi oleh Elenna
"Aku tak sudi disentuh oleh tanganmu yang menjijikan itu?" Ujar Elenna
"Dasar gadis tak tahu diri!" Ucap Count yang mukanya memerah karena amarah, ia mengangkat tangan kanannya ke arah Elenna