Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Siang itu, matahari Jakarta berada tepat di puncaknya, memanggang aspal jalanan dengan hawa panas yang menyesakkan.
Namun, bagi Arlan Mahendra, hawa panas itu sama sekali tidak terasa. Ia melangkah masuk ke lobi kantor Mahendra Group dengan senyum kemenangan yang tak bisa ia sembunyikan.
Kemejanya sedikit kusut, dan dasinya tersampir longgar, namun binar di matanya menunjukkan bahwa egonya baru saja mendapat asupan besar.
Ia baru saja membatalkan tiga rapat penting pagi ini. Baginya, kerugian miliaran rupiah akibat pembatalan itu tidak ada artinya dibandingkan keberhasilannya menaklukkan kembali Hana di atas ranjang.
Arlan merasa telah memenangkan peperangan. Ia merasa telah menghapus jejak Adrian Gavriel dari ingatan fisik Hana.
"Pak Arlan, klien dari Singapura sudah menunggu sejak dua jam lalu di ruang VIP," lapor sekretarisnya dengan wajah cemas.
Arlan hanya melambaikan tangan dengan acuh. "Suruh mereka menunggu sepuluh menit lagi. Aku perlu kopi."
Ia bersandar di kursi kebesarannya, menghirup aroma sisa parfum Hana yang masih tertinggal di kerah kemejanya. Ia merasa berkuasa. Ia merasa kembali menjadi pemilik tunggal atas Hana Ayunindya.
Berbeda dengan Arlan yang santai, di seberang distrik bisnis, sebuah taksi berhenti mendadak di depan lobi Gavriel Corp. Hana turun dengan langkah terburu-buru.
Wajahnya pucat, namun pipinya masih menyimpan rona merah yang samar, bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa malu dan amarah pada dirinya sendiri.
Hana melirik jam tangannya. Pukul 10.15 WIB. Ia terlambat lebih dari dua jam.
Rambutnya yang setengah basah hanya ia ikat asal, meninggalkan beberapa helai yang menempel di tengkuknya yang masih menyimpan jejak kemerahan tipis akibat ulah Arlan pagi tadi.
Ia merapatkan blazer-nya, mencoba menutupi segala tanda yang bisa mengkhianati apa yang baru saja terjadi.
Ia melangkah cepat menuju lift eksekutif, mengabaikan sapaan beberapa staf. Di dalam lift yang berdinding cermin, Hana menatap pantulan dirinya. Matanya tampak sayu. Ia merasa kotor.
Ia merasa telah mengkhianati tekadnya sendiri hanya karena momen kelemahan fisik yang sialnya masih bisa dimanfaatkan oleh Arlan.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai teratas. Hana keluar dan nyaris berlari menuju ruangannya. Namun, saat tangannya baru saja menyentuh knop pintu kayu jati yang kokoh itu, sebuah bayangan besar menyergapnya dari samping.
"Baru sampai, Hana?"
Suara itu berat, dingin, dan bergetar karena emosi yang tertahan. Belum sempat Hana menjawab, sebuah tangan kekar menyambar pergelangan tangannya.
Dengan satu sentakan yang tak terbantahkan, tubuh Hana ditarik dan didorong hingga punggungnya membentur tembok dingin di samping pintu ruangannya.
Bruakk!
Hana terkesiap. Ia mendongak dan menemukan sepasang mata elang milik Adrian Gavriel menatapnya dengan tajam. Jarak mereka begitu dekat hingga Hana bisa merasakan deru napas Adrian yang memburu.
Adrian mengunci tubuh Hana dengan kedua lengannya yang bertumpu pada tembok di sisi kepala Hana.
"Adrian... kau mengejutkanku," bisik Hana dengan suara bergetar.
Adrian tidak menjawab. Matanya menyisir wajah Hana, lalu turun ke lehernya yang tidak tertutup sempurna oleh kerah blazer. Rahang Adrian mengeras.
Sebagai pria, ia tahu persis arti dari tatapan sayu, bibir yang sedikit bengkak, dan aroma yang menguar dari tubuh Hana. Itu bukan aroma parfum kantor. Itu aroma percintaan yang baru saja usai.
"Rapat koordinasi dimulai jam delapan, Hana. Dan kau baru muncul jam sepuluh lewat dengan rambut basah dan tanda itu di lehermu?" Adrian bertanya dengan nada rendah yang mengerikan.
"Aku... aku tadi ada urusan pribadi dengan suamiku. Kau tahu statusku, Adrian," sahut Hana, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya.
"Suamimu?" Adrian tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti geraman. "Pria yang menghinamu mandul? Pria yang membawakanmu madu tapi memberikanmu racun? Kau membiarkannya menyentuhmu lagi setelah semua yang ia lakukan?"
"Adrian, lepaskan aku. Ini bukan urusanmu!" Hana mencoba mendorong dada Adrian, namun pria itu tak bergeming sedikit pun.
"Ini menjadi urusanku saat aku melihatmu hancur setiap hari, Hana! Aku cemburu!" Adrian berteriak parau, sebuah pengakuan yang akhirnya meledak setelah berbulan-bulan ia simpan dalam diam. "Aku muak melihatmu kembali pada pria brengsek itu hanya karena kau merasa terikat oleh selembar kertas pernikahan! Aku tidak suka mendengar, membayangkan, apalagi melihat jejaknya di tubuhmu!"
Hana terpaku. Ia belum pernah melihat Adrian sekejam ini. Selama ini Adrian adalah sosok pelindung yang tenang, namun kini pria di depannya adalah badai yang siap menghancurkan apa saja.
"Kau tidak punya hak untuk cemburu, Adrian," ucap Hana lirih, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Aku punya hak karena aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri!"
Tanpa memberikan kesempatan bagi Hana untuk memproses kalimat itu, Adrian merunduk. Dengan gerakan cepat dan penuh tuntutan, ia membungkam bibir Hana.
Itu bukan ciuman lembut yang penuh kasih sayang, itu adalah ciuman yang meledak karena rasa cemburu, kepemilikan, dan rasa sakit yang mendalam.
Hana membulatkan matanya. Ia mencoba meronta, memukul dada Adrian dengan tangannya yang bebas, namun kekuatan Adrian jauh melampauinya.
Ciuman itu terasa panas, seolah Adrian ingin menghapus rasa Arlan dari bibir Hana, ingin menanamkan identitasnya sendiri di sana.
Perlahan, perlawanan Hana melemah. Bukan karena ia menikmati pengkhianatan ini, tapi karena ia merasakan penderitaan yang sama hebatnya dalam setiap gerakan bibir Adrian. Ada keputusasaan yang nyata di sana.
Adrian melepaskan pagutannya, namun tetap menempelkan keningnya pada kening Hana. Keduanya terengah-engah.
"Jangan kembali padanya, Hana," bisik Adrian di depan bibir Hana yang kini merah merona. "Jangan biarkan dia menganggapmu sebagai piala yang bisa dia ambil kapan saja. Jika kau butuh seseorang untuk menghancurkannya, biarkan aku yang melakukannya. Tapi tolong... jangan biarkan dia memilikimu lagi seperti pagi tadi. Itu membunuhku."
Hana terisak pelan. Ia merasa terjepit di antara dua kutub yang sama-sama kuat. Arlan dengan manipulasi masa lalunya, dan Adrian dengan gairah masa depannya.
"Pergilah ke dalam, rapikan dirimu," ucap Adrian akhirnya sambil melepaskan kuncian lengannya. Ia berbalik, membelakangi Hana karena ia tidak sanggup melihat air mata wanita itu. "Dan jangan pernah berpikir bahwa apa yang terjadi di apartemenmu adalah kemenangan baginya. Itu hanya tanda bahwa dia pengecut yang menggunakan tubuh untuk menahan jiwa yang sudah lama lepas."
Hana tidak berkata apa-apa. Ia segera menyelinap masuk ke ruangannya dan mengunci pintu. Ia jatuh terduduk di balik pintu, menelungkupkan wajahnya di antara kedua lutut.
Hanya dalam waktu empat jam, ia telah disentuh oleh dua pria yang berbeda. Satu adalah suaminya yang sah namun berhati busuk, dan satu lagi adalah pria yang mencintainya dengan tulus namun kini bertindak nekat karena cemburu.
Hana meraba bibirnya yang terasa panas. Pikirannya kacau. Strateginya untuk bermain jinak dengan Arlan agar bisa mengambil kembali asetnya kini justru menjadi bumerang yang melukai perasaannya sendiri.
Di sisi lain, ciuman Adrian tadi seolah membangkitkan sesuatu yang selama ini ia tekan dalam-dalam, keinginan untuk benar-benar dicintai tanpa syarat.
Sementara itu, di luar ruangan, Adrian berdiri menatap jendela besar yang menghadap ke gedung Mahendra Group di kejauhan. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kau sudah keterlaluan, Arlan," gumam Adrian dengan suara dingin. "Kau pikir kau bisa menggunakan Hana sebagai pemuas egomu? Aku akan memastikan bahwa setelah ini, kau tidak akan punya apapun lagi. Bukan perusahaannya, bukan hartanya, dan terutama... bukan Hana."
Adrian segera merogoh ponselnya, menghubungi seseorang di bagian intelijen keuangan. "Lakukan sekarang. Tarik semua dukungan saham dari vendor utama Mahendra Group. Aku ingin mereka merangkak di kakiku sebelum matahari terbenam esok hari."
Apa yang akan terjadi di episode selanjutnya? Simak kisahnya terus yaaa....
...----------------...
Next Episode ....
ya terimasaja jd keset laki lu sm maura trus jd pengasuh sekalian.
ingat jng minta cerai lagi ngisin ngisini wedok an labil.