“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: YOGI MARLA DAN KEHANGATAN RUMAH
Setelah menghabiskan jus jeruknya yang terasa menyegarkan di tengah panasnya kantin yang mulai penuh sesak, Rimba Dipa Johanson meletakkan gelasnya dengan denting pelan. Ia menarik napas panjang, merasakan sisa-sisa adrenalin dari kejadian di auditorium tadi mulai mengendap. Rencananya sederhana: ia ingin segera pulang ke rumah pemberian Kakek Jayadi di belakang kampus, membersihkan diri, dan mungkin masuk kembali ke dimensi untuk menstabilkan kekuatan tingkat limanya yang baru saja ia peroleh.
Saat ia bangkit berdiri dan menyampirkan tas selempang pemberian Lara, suasana kantin yang tadinya riuh mendadak senyap. Ribuan pasang mata mahasiswa baru yang tadinya sibuk bercengkerama kini tertuju padanya.
Laki-laki yang tadi berdiri di atas kursi dan meneriakkan kata "Salut" kembali membuka suara. "Kawan, tunggu sebentar! Sebelum kamu pergi, boleh kami tahu siapa namamu?" tanyanya dengan nada penuh rasa hormat.
Rimba menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap wajah-wajah polos namun penuh semangat di depannya. "Namaku Rimba," jawabnya singkat sambil menyunggingkan senyum tipis yang ramah.
"Rimba... nama yang kuat," gumam mahasiswa itu. "Lalu, sekarang kamu mau ke mana? Apakah kamu akan pergi ke rektorat untuk memprotes kejadian tadi?"
"Tidak. Aku mau pulang," jawab Rimba santai. Baginya, urusan dengan panitia tadi sudah selesai di atas panggung. Ia bukan tipe orang yang suka memperpanjang drama jika tidak diperlukan.
Namun, tepat saat Rimba hendak melangkah menuju pintu keluar, kerumunan mahasiswa baru di depan pintu kantin terbelah. Seorang mahasiswi senior dengan jas almamater yang rapi masuk ke dalam. Wajahnya tampak jauh lebih tenang dan bijaksana dibandingkan panitia berbadan besar yang dihajar Rimba tadi. Ia membawa sebuah papan klip dan meminta perhatian semua orang.
"Mohon perhatiannya, teman-teman mahasiswa baru," ucap mahasiswi itu dengan suara lembut namun tegas. "Saya mewakili BEM dan panitia pelaksana orientasi kampus ingin menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang tidak menyenangkan di auditorium tadi. Kami sudah berdiskusi, dan kami memutuskan untuk mengubah total cara pelaksanaan orientasi. Tidak akan ada lagi bentakan, tidak ada lagi atribut konyol. Kita akan melakukannya dengan cara diskusi akademis yang lebih santai."
Ia kemudian memalingkan wajahnya, mencari sosok yang menjadi pemicu revolusi ini. Matanya terpaku pada Rimba. "Kamu... Rimba, kan?" tanyanya sambil memeriksa catatan di tangannya. "Bisakah kau mengajak teman-temanmu yang lain untuk kembali ke auditorium? Kami berjanji suasananya akan berbeda."
Rimba menatap gadis itu dengan tatapan datar. "Aku keluar dari auditorium bukan atas permintaan siapapun. Dan mereka keluar juga bukan karena ajakanku. Jadi, apakah mereka mau kembali atau tidak, itu adalah pilihan pribadi masing-masing. Aku tidak punya hak atau keinginan untuk mengatur mereka."
Ia menjeda sejenak, membiarkan kalimatnya meresap. "Bagiku pribadi, orientasi ini sudah selesai. Semua informasi yang aku butuhkan bisa kucari sendiri melalui buku panduan atau situs kampus. Jadi, aku akan tetap pulang."
Gadis panitia itu tampak sedikit kecewa, namun ia tidak bisa memaksa. Ia kemudian beralih ke massa mahasiswa baru. "Bagaimana dengan yang lain? Apakah kalian bersedia masuk kembali untuk memulai lembaran baru?"
Keheningan melanda kantin selama beberapa saat. Mahasiswa baru saling pandang, mencari jawaban di mata rekan-rekan mereka. Akhirnya, pemuda yang memimpin teriakan "Salut" tadi angkat bicara.
"Sepertinya kami sepakat dengan Rimba. Meskipun kalian mencoba pendekatan baru, suasana di dalam sana pasti sudah terasa canggung dan tidak asyik lagi. Kami lebih suka di sini, berkenalan satu sama lain dengan cara kami sendiri. Benar kan, teman-teman?"
"Iya! Benar!" sahut mahasiswa lainnya bersahutan.
Gadis panitia itu menarik napas panjang, menyadari bahwa wibawa panitia tahun ini telah runtuh sepenuhnya oleh seorang pemuda bernama Rimba. Tanpa kata lagi, ia berbalik dan meninggalkan kantin.
"Besok kamu ke kampus lagi, Rim?" tanya pemuda tadi kepada Rimba.
"Mungkin iya. Aku harus mengurus rencana studi ke dosen wali, meski jujur saja, aku belum tahu siapa dosen waliku," jawab Rimba sambil menyengir lebar, menunjukkan sisi manusiawinya yang kurang teliti.
"Hahaha, dasar! Ya sudah, sampai bertemu besok, Rimba!"
---
Rimba melangkah keluar menuju tempat parkir. Langkahnya santai, namun indra persepsinya yang sudah mencapai tingkat tinggi terus aktif. Begitu ia menghidupkan mesin Harley Davidson-nya dan melaju keluar gerbang kampus, ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Saraf-saraf tempurnya berdenyut.
Ada yang mengikutiku, batinnya.
Ia sengaja tidak langsung pulang ke rumah di belakang kampus agar lokasinya tidak terlacak. Rimba mengarahkan motornya menuju jalanan menanjak ke arah perbukitan di pinggiran kota yang sepi. Jalanan itu diapit oleh hamparan ilalang setinggi dada, tempat yang sempurna untuk menyelesaikan masalah tanpa saksi mata.
Setelah merasa lokasinya cukup sunyi, Rimba menghentikan motornya tepat di tengah jalan. Ia turun, melepaskan helm, dan menyandarkannya di spion. Sekitar lima belas meter di belakangnya, sebuah SUV hitam berdecit berhenti mendadak. Pintu-pintunya terbuka serempak, dan tujuh orang pria berbadan tegap dengan wajah sangar keluar dari sana.
"Siapa kalian? Dan untuk apa kalian mengikutiku sampai ke tempat sepi ini?" tanya Rimba dengan suara tenang, hampir seolah-olah ia sedang menanyakan arah jalan.
Pria yang berdiri paling depan, tampaknya pemimpin kelompok itu, menatap Rimba dengan sinis. "Kami di sini untuk menjemputmu. Kamu harus ikut kami untuk menerima hukuman atas kelakuanmu di kampus waktu itu."
Rimba terkekeh pelan. "Hukuman? Aku merasa tidak punya sengketa dengan kalian. Jadi, aku yakin kalian ini hanyalah orang suruhan. Katakan, siapa yang membayar kalian untuk menggangguku?"
"Kamu akan tahu sendiri nanti setelah wajahmu hancur," jawab pria itu kasar.
"Bagaimana kalau aku menolak?"
"Maka kami akan memaksamu!"
Rimba tersenyum sinis, kilatan cahaya dingin muncul di matanya. "Memaksa? Apakah kalian punya modal untuk itu? Tunjukkan padaku apa yang membuat kalian bermimpi bisa memaksaku."
"Tangkap dia!" perintah si pemimpin.
Enam orang anak buahnya segera merangsek maju. Rimba tidak ingin membuang waktu. Ia bergerak secepat kilat, kakinya seolah tidak menyentuh tanah. Menggunakan elemen angin untuk meningkatkan kecepatannya secara drastis, ia meluncur di antara para penyerang.
Bugh! Bugh! Bugh!
Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, enam orang itu terkapar dengan dada sesak akibat pukulan presisi Rimba. Tanpa berhenti, Rimba melesat ke depan sang pemimpin yang masih terpaku kaget. Satu pukulan ulu hati yang berat menghantam pria itu hingga ia terbang mundur dan menghantam bodi SUV hitamnya dengan keras hingga penyok.
Rimba berjalan santai menuju pria yang merintih kesakitan itu. Ia berjongkok di hadapannya, menatapnya dengan mata yang tak memiliki belas kasihan. "Sekarang, katakan. Siapa yang menyuruhmu?"
"Bunuh... bunuh saja aku... aku tidak akan bicara!" ringis pria itu sambil memegangi perutnya yang terasa seperti ditusuk besi panas.
"Oh, kamu tadi bilang ingin memaksaku, kan? Sekarang keadaannya terbalik. Aku yang akan memaksamu, karena aku punya modal yang jauh lebih besar darimu," bisik Rimba dengan seringai tipis yang mengerikan.
Rimba menekan satu titik saraf di dada kiri pria itu—sebuah teknik kuno yang ia pelajari di dimensi untuk merangsang reseptor rasa sakit secara maksimal. Seketika, pria itu melolong hebat. Tubuhnya menggeliat di tanah seperti cacing yang tersiram garam. Rasa sakitnya begitu luar biasa hingga ia kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri; celananya basah, ia mengompol karena rasa sakit yang tak tertahankan.
"Katakan... siapa?" tanya Rimba lagi, suaranya tetap datar, namun jarinya terus menekan titik saraf itu.
"Hentikan... tolong hentikan! Aku bicara! Aku bicara!" teriak pria itu di sela tangisnya. Rimba melepaskan tekanannya.
"Kami... kami disuruh oleh Yogi Marla. Dia ayah dari Leo Marla... pemuda yang kamu patahkan rahangnya kemarin," ucapnya terbata-bata.
"Yogi Marla? Siapa dia?"
"Dia pengusaha properti kelas atas di provinsi ini... orang kaya yang punya banyak koneksi preman," jelas pria itu dengan napas tersengal.
"Kamu pemimpin tertinggi kelompok ini? Atau ada bos lagi?"
"Aku hanya memimpin area ini. Pemimpin tertinggi kami namanya Lembu," rintihnya lagi.
Rimba berdiri, menatap mereka dengan jijik. "Kali ini aku masih berbaik hati membiarkan kalian hidup. Tapi sampaikan pesan ini pada Yogi Marla: Jika dia terus membela anaknya yang salah dengan cara seperti ini, maka aku pastikan kerajaan bisnisnya akan hancur dalam semalam. Dan jika kamu atau Lembu itu berani muncul lagi di hadapanku, nyawa kalian adalah taruhannya."
Tanpa menoleh lagi, Rimba kembali ke motornya, menghidupkan mesin, dan memacu Harley-nya kembali ke arah kota. Ia membiarkan tujuh pria malang itu tergeletak di tengah jalanan perbukitan yang sunyi.
---
Rimba melajukan motornya menuju rumah di belakang kampus. Ia merasa sedikit bersalah karena sudah empat hari tidak pulang semenjak pertama kali diantar Rendi. Ia takut Bu Mamai atau Pak Karno khawatir akan keselamatannya.
Begitu ia memarkir motornya di halaman yang asri, pintu depan langsung terbuka. Bu Mamai muncul dengan wajah cemas yang langsung berubah menjadi lega. "Aduh, Nak Rimba! Dari mana saja? Sudah empat hari tidak pulang, Bibi sampai bingung mau lapor ke Tuan Rendi atau tidak."
Rimba tersenyum hangat, merasa tersentuh oleh perhatian tulus wanita itu. "Maaf ya, Bu Mamai. Saya pergi jalan-jalan dan mengurus beberapa keperluan. Kan saya sudah bilang, saya bakal sering tidak di rumah."
"Iya, tapi kan tetap saja Bibi khawatir. Nak Rimba sudah makan? Mau Bibi buatkan sesuatu?"
Melihat binar harapan di mata Bu Mamai, Rimba tidak tega menolak. "Boleh deh, Bu. Masak apa saja yang ada, yang penting enak dan kenyang, saya lapar sekali."
"Siap, Nak Rimba! Tunggu sebentar ya!" Bu Mamai bergegas ke dapur dengan riang.
Rimba duduk di kursi kayu di teras rumah, menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata. Di depannya, Pak Karno sedang telaten menyapu daun-daun kering di bawah pohon mangga. Tak lama kemudian, langit yang tadinya panas mendadak mendung. Rintik hujan gerimis mulai turun, membasahi tanah kering dan mengeluarkan aroma yang menenangkan—bau tanah tersiram air yang menghiasi sore Rimba dengan kedamaian yang sederhana.
Di balik ketenangan itu, Rimba tahu badai bernama Yogi Marla mungkin akan datang lebih besar. Namun, sambil menghirup udara sore yang sejuk, Rimba hanya tersenyum. Biarkan badai itu datang; ia sudah siap untuk meratakannya.