NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: RUNTUHNYA KEKUASAAN ARENA

Kegemparan melanda Underground Arena. Saat penonton mulai bangkit untuk meninggalkan tribun, lampu sorot tiba-tiba menyala merah darah, berputar liar menyapu seluruh ruangan. Musik yang tadinya mereda kembali menghentak dengan volume yang lebih memekakkan telinga. MC dengan langkah terburu-buru menaiki arena, tangannya memegang mikrofon dengan erat.

"Tahan! Jangan pergi dulu, para pecandu adrenalin!" teriaknya, suaranya menggema ke setiap sudut. "Malam ini belum berakhir! Manajemen baru saja memutuskan untuk menghadirkan satu pertarungan extra yang tidak ada dalam jadwal! Sebuah duel penutup yang akan menentukan siapa raja malam ini!"

Sorakan penonton kembali pecah. Para pejudi yang tadinya lesu karena kekalahan besar di pertandingan pertama melihat ini sebagai secercah harapan. Mereka segera merangsek kembali ke kursi mereka, menyiapkan dompet dan ponsel untuk memasang taruhan terakhir. Bagi mereka, semakin banyak pertandingan, semakin besar peluang untuk menang—atau setidaknya, menghibur diri dengan melihat darah yang tertumpah.

"Kembali ke arena... sang penantang maut, WAWAN!" seru MC.

Rimba, yang baru saja hendak melangkah pergi, hanya mengangkat bahu. Ia melompat naik ke arena dengan gerakan ringan. Di seberangnya, sesosok pria melangkah masuk dengan gaya yang jauh berbeda dari D’Gorila.

"Dan inilah lawannya... Sang Eksekutor Tendangan... JOEY.... 'KICKMAN'!"

Joey masuk tanpa banyak tingkah. Tubuhnya kurus namun kencang, dengan urat-urat yang menonjol di sepanjang kakinya yang terlihat sangat kokoh. Wajahnya kalem, hampir tanpa ekspresi. Ia tidak berusaha memprovokasi Rimba dengan kata-kata kasar atau gerakan pamer otot. Joey lebih banyak menunduk, namun aura yang dipancarkannya sangat tajam dan fokus.

Rimba memicingkan mata. Ia mengaktifkan persepsinya dan sedikit terkejut. Oh, ternyata ada ikan besar di sini, batinnya. Joey bukan manusia biasa; ia adalah seorang kultivator tingkat 3 (Menengah). Di dunia biasa, orang seperti Joey bisa dianggap sebagai dewa petarung karena ia memiliki Qi yang mengalir di meridiannya, memberikan kekuatan dan kecepatan yang melampaui batas manusia murni. Namun, di hadapan Rimba yang sudah mencapai tingkat 5, Joey tak lebih dari sekadar pemula yang baru belajar berjalan.

Wasit memberikan aba-aba. "Bersiap... MULAI!"

Seketika, Joey melepaskan seluruh auranya. Tekanan energi yang keluar dari tubuhnya membuat suasana arena mendadak berat. Para penonton awam merasa sesak napas secara tiba-tiba tanpa tahu penyebabnya. Joey langsung meluncurkan serangan andalannya. Sebuah tendangan putar menyambar ke arah kepala Rimba dengan kecepatan luar biasa hingga menimbulkan bunyi desingan udara.

Rimba hanya mengangkat lengan kirinya dengan santai, menangkis tendangan itu seolah hanya mengusir nyamuk. Joey terkejut karena kakinya terasa seperti menghantam pilar baja yang tak tergoyahkan. Tanpa membuang waktu, ia melancarkan rangkaian kombinasi kickboxing yang mematikan: sebuah Front Kick lurus ke perut, disusul Side Kick ke rusuk, dan diakhiri dengan Spinning Back Kick yang mengincar dada. Semua serangan itu dilakukan dengan teknik sempurna dan kecepatan kilat.

Namun, semua tendangan itu hanya mengenai ruang kosong atau ditangkis dengan gerakan minimal oleh Rimba. Joey mulai panik. Ia mundur selangkah, lalu mengerahkan seluruh Qi ke kepalan tangan kanannya. Udara di sekitar tinjunya seolah bergetar hebat. Ia melepaskan sebuah pukulan lurus (Straight Punch) yang membawa gelombang energi besar ke arah dada Rimba.

Penonton menahan napas. Mereka melihat gelombang energi transparan yang melesat dari tinju Joey. Namun, Rimba hanya membuka telapak tangannya. Saat tinju Joey yang dipenuhi energi itu menyentuh telapak tangan Rimba, ledakan energi yang seharusnya menghancurkan tulang rusuk Rimba tiba-tiba buyar. Energi itu menguap begitu saja seperti asap yang tertiup angin kencang.

Joey terperanjat. Belum sempat ia menarik tangannya, Rimba sudah bergerak.

"Sekarang giliranku," bisik Rimba.

Rimba menyambut serangan susulan Joey dengan sebuah pukulan lurus. Tangan kiri Rimba bertemu dengan tangan kanan Joey.

KRAAK!

Suara tulang patah yang sangat keras terdengar hingga ke tribun belakang. Joey mengerang hebat saat lengan kanannya terkulai lemas dengan sudut yang tidak alami.

Tanpa memberi napas, Rimba masuk ke jarak sangat dekat, menerapkan teknik pukulan beruntun ala Wing Chun. Dalam waktu lima detik, seratus pukulan mendarat di wajah dan dada Joey—cepat, akurat, dan merusak. Di akhir serangannya, Rimba memutar tubuhnya dan melancarkan sebuah tendangan belakang (Sabetan Belakang) khas pencak silat yang berisi tenaga luar biasa.

Tubuh Joey terlempar secara horizontal, melewati pembatas arena, dan mendarat tak bergerak di antara kerumunan penonton. Arena kembali sunyi senyap. Joey yang dianggap legendaris hancur dalam sekejap.

Tiba-tiba, situasi berubah mencekam. Delapan orang petarung bayaran lainnya melompat naik ke arena, mengepung Rimba dari segala penjuru. Mereka mencabut senjata tajam dan memasang kuda-kuda penuh kebencian.

Di kursi penonton, Firman terkejut saat melihat bayangan hitam berkelebat dari arah kakinya. Sebelum ia bisa berteriak, bayangan itu sudah berada di atas arena, berdiri di depan Rimba. Cesar, sang serigala hitam, kini menunjukkan taringnya yang runcing sepanjang jempol manusia. Geraman rendah yang keluar dari tenggorokannya membuat kedelapan orang itu membeku di tempat.

"Tahan... tahan, Cesar," ujar Rimba sambil mengusap kepala serigalanya. "Mereka belum melakukan apa-apa. Kalau mereka berani menyerang, barulah kau boleh mengunyah mereka satu per satu."

Rimba kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Victor di bawah. "Victor! Apakah ini cara Underground Arena menyambut pemenangnya? Pengeroyokan?" Rimba tersenyum dingin. "Hati-hati. Jika mereka menyerangku, maka untuk setiap orang yang jatuh, aku akan mengalikan nilai kemenanganku menjadi seratus kali lipat. Aku jamin, bahkan jika kau menjual seluruh nyawamu dan keluarga Marla, kau tidak akan sanggup membayarnya."

Tubuh Victor menggigil hebat. Keringat dingin membasahi seluruh bajunya. Ia tahu Rimba tidak sedang menggertak. Kekuatan yang ditunjukkan pemuda itu barusan adalah sesuatu yang tak masuk akal.

"STOP! Turun kalian semua!" teriak Victor dengan suara parau. Kedelapan orang itu segera mundur dengan wajah pucat.

Rimba menoleh pada wasit yang masih membatu. "Kenapa tidak diumumkan? Aku menang, kan?"

Wasit itu gemetar, melirik takut-takut ke arah Cesar yang masih menggeram. Ia tidak berani mendekat untuk mengangkat tangan Rimba. "Pe... pemenangnya... WAWAN!" teriaknya dari jarak lima meter.

Rimba turun dari panggung, melangkah menuju loket taruhan. "Transfer semua kemenanganku. Sekarang."

Petugas loket menatap layar komputernya dengan tangan bergetar. "Ma... maaf Tuan, dana kas kami tidak mencukupi untuk nominal sebesar ini."

Victor segera datang, wajahnya pucat pasi seperti mayat. Setelah tahu ketersediaan dana tidak cukup ia melakukan panggilan telepon darurat. Entah kepada siapa, namun setelah pembicaraan singkat yang penuh ketakutan itu, dana akhirnya dialokasikan.

Ting!

Ponsel Rimba bergetar. Notifikasi masuk: saldo rekeningnya bertambah sebesar Rp1.500.020.200.000.000 (Seribu lima ratus triliun dua puluh miliar dua ratus juta rupiah).

"Terima kasih, Victor. Kapan-kapan kita main lagi," kata Rimba santai sambil melambaikan tangan. Victor jatuh terduduk, tersandar di dinding loket. Ia tahu hari ini adalah hari terakhirnya melihat matahari dengan tenang; kemarahan Yogi Marla akan segera menghancurkannya.

Rimba mengajak Firman keluar. Mereka kembali ke hiruk-pikuk pasar ikan dan memesan taksi online. Tujuan pertama adalah rumah Firman. Di dalam mobil, suasana terasa hangat meski Firman masih tampak sedikit syok.

"Kamu tinggal dengan orang tua, Fir?" tanya Rimba memecah keheningan.

"Iya, aku anak tunggal. Ayahku kerja di Pemda, ibuku ibu rumah tangga biasa," jawab Firman pelan. Ia lalu balik bertanya, "Kalau kamu sendiri, Rim?"

Rimba menatap jendela yang basah oleh gerimis. "Aku mixblood. Ayah Amerika, Ibu lokal. Tapi mereka sudah meninggal dalam kecelakaan waktu aku kecil. Aku dibesarkan kakekku di Desa Kenanga. Sekarang kakek juga sudah tiada. Aku... yatim piatu."

Firman terdiam, merasa bersalah. "Maaf, Rim... aku tidak bermaksud mengungkitnya."

"Tidak apa-apa, Fir. Itu takdir," jawab Rimba tenang.

Tak lama, mobil sampai di depan sebuah rumah sederhana. Sebelum Firman turun, Rimba mengeluarkan ponselnya. "Fir, berikan nomor rekeningmu."

"Hah? Untuk apa?"

"Tadi aku dapat uang lumayan banyak. Anggap saja ini uang rokok karena kau sudah menemaniku dan memberiku informasi penting. Sebagai teman, kau dilarang menolak."

Setelah dipaksa berkali-kali, Firman akhirnya memberikan nomor rekeningnya. "Terima kasih banyak, Rim. Sampai ketemu besok di kampus?"

"Sepertinya aku malas ke kampus minggu ini. Aku akan datang Senin depan saja saat kuliah perdana dimulai," kata Rimba sambil menyengir.

Taksi itu melaju meninggalkan Firman. Di dalam mobil, Rimba melakukan transfer singkat.

Sementara itu, Firman baru saja sampai di teras rumahnya saat ponselnya bergetar hebat. Ia membuka notifikasi m-banking. Matanya hampir keluar dari kelopaknya saat melihat angka yang masuk.

Rp5.000.000.000 (Lima miliar rupiah).

Firman berlari kembali ke pagar, hendak berteriak memanggil Rimba, namun taksi itu sudah hilang di belokan jalan. Ia berdiri mematung menatap langit malam yang mendung, membiarkan gerimis membasahi wajahnya.

"Rimba... kamu benar-benar orang yang tidak bisa diprediksi," gumamnya dengan tawa kecil yang bercampur haru. Ia baru sadar ia bahkan belum menyimpan nomor ponsel Rimba, namun ia tahu, pertemuan mereka adalah awal dari sesuatu yang luar biasa. Lima miliar bagi Rimba mungkin hanya recehan dari seribu lima ratus triliunnya, tapi bagi Firman, itu adalah perubahan nasib.

Di dalam taksi yang melaju menuju area sepi dekat kampus, Rimba mengelus bulu Cesar. Ia menatap saldo rekeningnya yang kini bisa membeli sebuah negara kecil. Pertempuran dengan keluarga Marla baru saja dimulai, dan ia sudah memulainya dengan sebuah skakmat finansial.

1
D'ken Nicko
mantap poll
D'ken Nicko
apa cerita kurang mantap kalau mc tdk dari keluarga yg WAH,,? knp cerita super tdk dari org awam .ZERO TO HERO
D'ken Nicko
lanjut
D'ken Nicko
semangat
D'ken Nicko
kren poll
D'ken Nicko
lanjut
D'ken Nicko
uang receh ,5T...wkwkwk
D'ken Nicko
bacaan favorit nmr satu ,tapi setiap up buat kecewa karna serasa sangat pendek
D'ken Nicko
super mantaaap
D'ken Nicko
KAGOLLL
D'ken Nicko
waduh nanggung amat thor ,up lagi..
D'ken Nicko
kurang panjang thor, up doble
maldi Suryana
bagus
Davide David
lanjut thor abdet lagi episodnya👍💪💪💪💪
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!