NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28 refleksi yang membunuh dan rasa terbalik

Dunia berputar. Bukan pusing biasa, tapi sensasi seolah-olah seluruh organ dalam tubuh ditarik keluar dan dipasang kembali secara terbalik. Langit di atas Stadion Awan Ungu yang tadinya merah darah kini berubah menjadi hijau pudar yang sakit. Matahari berwarna hitam, menyinari bumi dengan cahaya dingin yang membekukan tulang.

Han Shuo membuka matanya. Ia tidak lagi berada di stadion. Ia berdiri di atas permukaan air yang tenang namun keras seperti kaca. Di bawah kakinya, ia melihat bayangan stadion yang hancur, namun terbalik.

"Selamat datang di Dunia Cermin," suara Lady Azure bergema dari segala arah, namun tidak ada sosoknya di mana pun. "Di sini, kanan adalah kiri, panas adalah dingin, dan cinta... adalah kebencian."

Di sebelah Han Shuo, Ying muntah.

"Bos... perutku... rasanya seperti dipelintir," rintihnya.

Han Shuo segera memegang bahu Ying. "Bertahanlah. Atur napasmu. Jangan lawan arus energinya, ikuti saja."

Mei Lin dan Xiao Hua juga tampak pucat. Tanaman merambat Mei Lin layu seketika, berubah menjadi abu putih.

"Hukum alam di sini berbeda," analisis Mei Lin cepat, matanya menatap tajam ke arah tanaman aneh yang tumbuh dari langit ke bawah. "Fotosintesis bekerja terbalik. Mereka menyerap kegelapan untuk menghasilkan racun."

Bagian 1: Kedatangan Bayangan

Tiba-tiba, permukaan air di depan Han Shuo bergetar. Sebuah sosok perlahan naik dari dalam refleksi. Sosok itu mengenakan pakaian koki yang sama dengan Han Shuo, memegang pisau yang sama, dan memiliki wajah yang sama.

Bedanya hanya satu: Matanya. Mata sosok itu hitam total tanpa bagian putih, dan senyumnya menyeringai lebar hingga ke telinga, penuh dengan kekejaman murni.

"Siapa kau?" tanya Han Shuo waspada.

"Aku?" Sosok itu tertawa, suaranya seperti pecahan kaca yang digesek. "Aku adalah kau yang tidak kau akui. Aku adalah Han Shuo yang ingin membiarkan penduduk desa mati kelaparan agar kau bisa kabur. Aku adalah Han Shuo yang menikmati saat membunuh Mu Chen."

Han Bayangan. Manifestasi dari sisi gelap Gourmet yang selama ini ditekan oleh moralitas Han Shuo.

"Babak Semifinal: Duel Diri Sendiri," umum Lady Azure. "Hanya satu Han Shuo yang bisa keluar dari sini. Yang kalah akan menjadi bumbu penyedap bagi yang menang."

Bagian 2: Fisika Rasa yang Rusak

Sebuah meja masak muncul di antara mereka. Di atasnya terdapat bahan utama: Ikan Koi Yin-Yang. Ikan ini memiliki dua kepala, satu hitam dan satu putih, yang saling menggigit ekor satu sama lain membentuk lingkaran abadi.

"Masaklah 'Sup Penyatuan Jiwa'," perintah Lady Azure. "Waktu kalian: Sampai salah satu dari kalian gila."

Han Shuo segera menyalakan api di tangannya.

"Api Jantung Bumi!"

WUSH!

Namun, bukannya panas, api itu justru menyemburkan hawa dingin yang luar biasa. Tangan Han Shuo seketika terbungkus lapisan es tipis.

"ARGH!" Han Shuo menarik tangannya. "Api... dingin?"

Han Bayangan tertawa. Ia menjentikkan jarinya, dan sebuah api berwarna biru gelap muncul. Api itu tidak membakar, tapi membekukan udara di sekitarnya menjadi kristal panas.

"Kau tidak mengerti, 'Pahlawan'," ejek Han Bayangan. "Di sini, hukum termodinamika dibalik. Entropi menurun, bukan meningkat. Panas menyerap energi, dingin melepaskannya."

Han Shuo mencoba mencicipi garam yang ada di meja.

Manis. Sangat manis hingga membuat gigi ngilu.

Ia mencicipi gula.

Pahit. Seperti empedu.

Cabai terasa dingin seperti menthol, dan es batu terasa pedas membakar lidah.

"Sial..." Han Shuo berkeringat dingin. "Otakku... memori ototku... semuanya tidak berguna."

Setiap koki memiliki memori otot. Saat melihat garam, otak otomatis mengharapkan rasa asin. Saat melihat api, otak mengharapkan panas. Di Dunia Cermin, insting ini adalah racun. Han Shuo harus melawan refleks alaminya sendiri.

Bagian 3: Keunggulan Sisi Gelap

Han Bayangan bergerak dengan kecepatan kilat. Ia tidak ragu. Ia mengambil pisau dan memotong kepala Ikan Koi itu dengan brutal.

"Di dunia ini, kekejaman adalah kelembutan!" Han Bayangan melempar ikan itu ke dalam kuali berisi Minyak Es yang mendidih dingin.

Aroma masakan Han Bayangan mulai tercium. Itu aroma yang membingungkan—bau busuk yang entah bagaimana terasa sangat menggugah selera. Bau darah yang manis.

Sementara itu, Han Shuo kacau balau.

Ia mencoba menumis bumbu, tapi karena apinya dingin, bumbunya malah membeku. Ia mencoba menambahkan garam (yang manis) untuk menyeimbangkan rasa, tapi malah membuat masakannya menjadi sirup yang menjijikkan.

"Bos! Fokus!" teriak Ying dari pinggir arena, meski suaranya terdengar teredam seperti di dalam air. "Jangan pakai matamu! Pakai hatimu!"

"Hati?" Han Shuo terengah-engah. "Hati tidak bisa memasak fisika terbalik, Ying!"

"Sistem!" Han Shuo memanggil dalam hati.

[Sistem Error: Lingkungan Tidak Dikenal. Kalibrasi Ulang... Gagal.]

[Saran: Gunakan Mode Manual. Nonaktifkan Filter Persepsi.]

Han Shuo memejamkan mata. Jika indranya menipunya, maka ia harus mematikan indranya.

Ia mengingat prinsip dasar Taoisme Kuliner: Segala sesuatu berasal dari ketiadaan (Wu) dan kembali ke ketiadaan.

Jika panas adalah dingin, maka ia harus memperlakukan api seperti es.

Jika manis adalah asin, maka ia harus memperlakukan gula seperti garam.

"Teknik Meditasi: Pembalikan Cakra Rasa."

Han Shuo mulai memutar aliran Qi di tubuhnya ke arah berlawanan. Rasanya sangat menyakitkan, seolah-olah pembuluh darahnya dipelintir. Darah menetes dari hidungnya. Tapi saat ia membuka mata lagi, dunia terlihat berbeda.

Ia tidak lagi melihat api merah atau es biru. Ia melihat Gelombang Energi.

Bagian 4: Memasak dengan Paradoks

Han Shuo kembali ke mejanya. Waktu tinggal setengah. Ikan Koi miliknya masih utuh.

"Kau sudah terlambat," cemooh Han Bayangan.

"Waktu juga relatif di sini," gumam Han Shuo.

Ia tidak memotong ikan itu. Ia menggunakan Teknik Pukulan Lembut. Ia memukul tubuh ikan itu ratusan kali dalam satu detik dengan telapak tangan yang dialiri Api Dingin.

Getaran itu menghancurkan tulang dan daging di dalam kulit ikan tanpa merusak kulit luarnya. Ikan itu menjadi kantong berisi bubur daging.

Lalu, Han Shuo mengambil Cabai Neraka (yang di sini rasanya sedingin es) dan Madu Hutan (yang rasanya pahit dan pedas).

"Di dunia terbalik, kontradiksi adalah harmoni."

Han Shuo mencampur "Kepedasan Es" dan "Kepahitan Madu" ke dalam kuali. Ia memanaskan kuali itu dengan... Air.

Ya, di dunia ini, air mendidih menyerap panas, jadi ia menuangkan air ke bawah kuali sebagai bahan bakar, dan menggunakan api sebagai pendingin untuk menjaga tekstur.

Itu adalah kegilaan total. Sebuah tarian anti-logika.

Ying, Mei Lin, dan Xiao Hua menonton dengan mulut ternganga. Han Shuo terlihat seperti orang gila yang menyiram api dengan air dan membakar es, tapi aroma yang keluar dari kualinya mulai berubah.

Aroma itu bukan lagi aroma amis atau manis. Itu adalah aroma Nostalgia. Aroma yang membuat siapa pun yang menciumnya teringat pada momen paling damai dalam hidup mereka, namun sekaligus momen paling sedih.

Bagian 5: Penghakiman Cermin

Lonceng berbunyi (suaranya menyedot keheningan). Waktu habis.

Han Bayangan menyajikan mangkuknya: "Sup Dominasi Absolut".

Isinya berwarna hitam pekat, bergolak dengan wajah-wajah kecil yang menjerit dari uapnya.

Lady Azure (yang kini muncul sebagai refleksi raksasa di langit) mencicipinya.

"Mmm... Kekacauan yang sempurna. Rasa sakit yang nikmat. Teksturnya seperti memakan keputusasaan. 95 Poin."

Han Bayangan menyeringai. "Giliranmu, Pecundang."

Han Shuo maju membawa mangkuk putih polos. Isinya bening seperti air, dengan satu bola daging ikan utuh di tengahnya.

"Ini adalah 'Sup Keseimbangan Kekosongan'."

Lady Azure mencibir. "Terlihat hambar."

Ia menyendok kuah bening itu.

Begitu kuah itu masuk ke mulut Lady Azure, ekspresi wajah raksasanya beku. Langit hijau mulai retak.

Di dalam mulutnya, rasa "hambar" itu meledak.

Karena Han Shuo memasak dengan membalikkan logika, saat sup itu masuk ke tubuh Lady Azure (yang merupakan makhluk kegelapan/negatif), sup itu bereaksi sebagai Positif Mutlak.

Rasa dingin berubah menjadi kehangatan ibu.

Rasa pahit berubah menjadi manisnya kemenangan.

Rasa sakit berubah menjadi kesembuhan.

Bagi makhluk kegelapan, "Kesembuhan" dan "Cinta" adalah racun yang paling mematikan.

"ARGGHHH!" Lady Azure menjerit. "APA INI?! RASANYA... RASANYA SEPERTI PENGAMPUNAN! MENJIJIKKAN!"

Han Bayangan melihat reaksi itu dan mundur ketakutan. "Apa yang kau lakukan?!"

Han Shuo menatap bayangannya sendiri. "Aku memberimu apa yang paling kau takutkan: Penerimaan."

Han Shuo mengambil sendok dan memakan supnya sendiri. Lalu ia menyodorkan sesendok ke arah Han Bayangan.

"Makanlah. Kau adalah aku. Kita tidak perlu bertarung. Kita hanya perlu menerima bahwa kita lapar akan hal yang berbeda."

Han Bayangan gemetar. Ia mencoba menyerang, tapi aroma sup itu melumpuhkan niat membunuhnya. Dengan ragu, bayangan itu membuka mulut dan memakan sup tersebut.

Cahaya putih meledak dari dalam tubuh Han Bayangan.

"Sialan kau, Han Shuo..." Han Bayangan tersenyum, tapi kali ini senyumnya tulus, bukan menyeringai. "Masakanmu... lumayan."

Han Bayangan pecah menjadi ribuan keping kaca, lalu tersedot masuk ke dalam tubuh Han Shuo.

[Sistem Notifikasi: Integrasi Bayangan Berhasil.]

[Kultivasi Meningkat Pesat: Inti Emas Tahap Akhir (Late Stage Golden Core)!]

[Skill Baru: 'Domain Rasa Terbalik' (Anda bisa memanipulasi persepsi rasa musuh dalam radius 10 meter).]

Bagian 6: Pecahnya Dimensi

Dengan bersatunya Han Shuo dan bayangannya, keseimbangan Dunia Cermin hancur. Langit kaca retak seribu.

"TIDAK! Duniaku!" teriak Lady Azure.

"Duniamu palsu, Azure," kata Han Shuo, matanya kini memiliki sedikit kilatan hitam di tengah pupil emasnya—tanda penyatuan. "Dan rasa palsu tidak akan pernah mengenyangkan."

Han Shuo mengangkat Kuali Naga Merah-nya tinggi-tinggi. Dengan kekuatan Inti Emas Tahap Akhir, ia menghantam permukaan air/kaca di bawah kakinya.

PRANG!!!

Dunia Cermin hancur berkeping-keping.

Mereka jatuh kembali ke realitas, mendarat keras di tengah Stadion Awan Ungu yang asli. Langit kembali biru, matahari kembali kuning.

Di depan mereka, Lady Azure berdiri dengan napas terengah-engah, sayap pisaunya patah sebagian. Ia bukan lagi raksasa, hanya seorang wanita yang ketakutan.

Namun, sebelum Han Shuo bisa menangkapnya, sebuah tangan raksasa yang terbuat dari keramik putih muncul dari tanah dan meremas tubuh Lady Azure.

"Kau gagal, Azure," suara berat dan agung terdengar dari dalam Istana Kekaisaran di kejauhan. "Kau mempermalukan Asosiasi."

Lady Azure menjerit saat tubuhnya diremukkan menjadi patung porselen, lalu hancur menjadi debu.

Han Shuo menatap ke arah Istana Kekaisaran yang kini diselimuti awan hitam pekat.

"Peramal Agung..." desis Han Shuo.

Penutup: Menuju Meja Terakhir

Juri Gao, yang sudah pulih sepenuhnya, mendekati Han Shuo.

"Itu tadi... teknik yang mengerikan, Han Shuo. Kau memasak konsep 'Pengampunan' menjadi senjata."

"Kadang, pengampunan lebih menyakitkan daripada pisau, Tuan Gao," jawab Han Shuo. Ia melihat ke arah teman-temannya. Ying, Mei Lin, dan Xiao Hua selamat, meski kelelahan.

"Babak Final akan diadakan besok," kata Juri Gao serius. "Di dalam Aula Takhta Naga. Lawanmu bukan lagi koki manusia. Peramal Agung akan memanggil 'Koki Abadi' dari masa lalu menggunakan teknik terlarang."

"Koki Abadi?"

"Ya. Ayahmu... Han Feng."

Mata Han Shuo terbelalak. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.

"Mereka membangkitkan mayat ayahku untuk melawanku?"

"Bukan mayatnya," potong Xiao Hua yang tiba-tiba muncul dengan wajah serius. "Tapi Jiwa Kuliner-nya yang dicuri saat dia mati. Mereka akan memasukkan jiwa itu ke dalam boneka tempur."

Han Shuo mengepalkan tangannya hingga berdarah. Api di sekeliling tubuhnya berubah warna menjadi emas bercampur hitam.

"Baiklah. Jika mereka ingin aku memasak melawan ayahku... maka aku akan menyajikan hidangan pemakaman yang layak untuk seluruh Asosiasi Gourmet Kegelapan."

* Pencapaian: Mengalahkan Han Bayangan, menghancurkan Dunia Cermin, mencapai Inti Emas Tahap Akhir.

* Skill Baru: Domain Rasa Terbalik (Ilusi Rasa).

* Kehilangan: Lady Azure dibunuh oleh Peramal Agung (Silence).

* Plot Twist: Lawan di Final adalah Boneka Jiwa Han Feng (Ayah Han Shuo).

1
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
Nanik S
NEXT
Nanik S
Perjamuan dengan Harimau
Nanik S
Keren bener
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir ...awal yang beda dari lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!