Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Pagi itu, sinar matahari yang masuk ke jendela apartemen terasa terlalu silau bagi Rose. Kepalanya berputar, dan perutnya bergejolak hebat. Ia nyaris tidak sempat mencapai kamar mandi sebelum rasa mual itu meledak. Rose terduduk lemas di lantai marmer yang dingin, wajahnya sepucat kertas.
Nikolai, yang sedang menyiapkan kopi di dapur, langsung berlari saat mendengar suara Rose yang terbatuk dan muntah. Ketakutan menyambar dadanya. Ia berlutut di samping Rose, menyeka keringat dingin di dahi wanita itu dengan tangan yang gemetar.
"Rosemary? Sayang, ada apa?" Nikolai mencoba mengangkat tubuh Rose yang terkulai. "Kau keracunan? Atau stres karena keluarga Hudson?"
"Aku... aku tidak tahu, Nik. Perutku rasanya diaduk-aduk," bisik Rose parau.
Tanpa berpikir panjang, Nikolai menyambar mantelnya. Persetan dengan skandal. Persetan dengan fakta bahwa secara legal Rose masih istri Asher Hudson di mata publik. Nikolai menggendong Rose keluar dari apartemen, memasukkannya ke dalam mobil, dan melesat menuju Rumah Sakit Pusat Boston. Ia menggunakan kekuasaannya untuk memotong semua antrean, membawa Rose langsung ke unit gawat darurat terbaik.
Dokter memeriksa Rose dengan teliti. Awalnya mereka menduga kelelahan akut, namun dokter senior yang menanganinya menyarankan pemeriksaan lebih lanjut. "Nyonya Moore, mari kita lakukan USG untuk memastikan semuanya baik-baik saja di area perut Anda."
Nikolai berdiri di samping tempat tidur Rose, menggenggam tangannya erat seolah ia tidak akan membiarkan maut sekalipun menyentuh wanita itu. Saat gel dingin dioleskan ke perut Rose dan alat transduser mulai bergerak, sebuah gambar hitam putih muncul di monitor.
Dokter itu terdiam sejenak, membetulkan letak kacamatanya, lalu tersenyum lebar.
"Tuan Volkov, Nyonya Moore... ini bukan keracunan makanan. Ini adalah tanda kehidupan." Dokter menunjuk ke arah layar. "Selamat. Anda hamil delapan minggu."
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Nikolai. Ia menatap layar itu dengan mata yang membelalak. Delapan minggu? Ia menghitung mundur di dalam kepalanya. Delapan minggu yang lalu adalah saat pertama kali ia mendatangi kantor Rose, saat mereka menyatu kembali dengan gairah yang sudah tertahan selama lima tahun.
"Delapan minggu?" suara Nikolai serak karena emosi yang meluap.
"Dan ada kejutan lain," lanjut Dokter sambil memperbesar gambar. "Lihat di sini. Ada dua kantung kehamilan yang terpisah. Ini adalah bayi kembar."
Rose menutup mulutnya dengan tangan, air mata bahagia mengalir deras. Ia menatap Nikolai yang tampak seperti patung yang baru saja diberikan nyawa. "Nik... kembar?"
"Iya, Rosemary. Kembar," bisik Nik. Ia mencium punggung tangan Rose berkali-kali. Rasa bangga yang luar biasa menyeruak di dadanya. Rose, yang baru saja dihina mandul oleh keluarga Hudson, kini mengandung dua nyawa sekaligus darinya.
Rose menatap dokter itu, lalu menatap Nikolai dengan serius. "Dokter, saya harus memastikan satu hal untuk ketenangan batin saya. Tiga bulan sebelum saya bertemu kembali dengan... pria ini, saya sama sekali tidak disentuh oleh suami sah saya. Jadi, secara biologis..."
"Secara biologis dan medis, usia kehamilan ini tepat delapan minggu, Nyonya," dokter itu meyakinkan. "Ini adalah hasil dari penyatuan delapan minggu yang lalu. Bayi-bayi ini jelas milik Tuan Volkov."
Nikolai berdiri tegak, auranya berubah menjadi penuh kemenangan. Ia merasa seperti baru saja memenangkan perang terbesar dalam hidupnya. Ia adalah pria yang berhasil menghidupkan kembali rahim yang selama ini disebut gersang oleh orang-orang bodoh.
Setelah dokter meninggalkan ruangan untuk memberi mereka waktu pribadi, Nikolai memeluk Rose dengan sangat hati-hati, seolah Rose adalah permata yang paling rapuh di semesta.
"Kembar, Rosemary. Kau memberiku dua anak sekaligus dalam satu kali percobaan," Nikolai terkekeh, tawa yang penuh dengan ego laki-laki yang terpuaskan. "Bagaimana mungkin kau bisa secepat ini hamil, hm?"
Rose tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada bidang Nikolai. "Mungkin karena hatiku akhirnya menemukan pemiliknya lagi, Nik. Tubuhku tahu siapa yang ia inginkan."
Namun, Nikolai tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menatap Rose dengan pandangan menggoda yang nakal. "Tapi tunggu dulu... kenapa kamu tidak hamil sejak dulu saat kita bersama di Texas, Rose? Padahal saat itu kita melakukannya hampir setiap malam, iyaa walaupun kadang kita menghabiskan beberapa pengaman."
Rose terkejut dengan pertanyaan blak-blakan Nikolai. Wajahnya merona merah padam. Di sudut ruangan, seorang perawat yang sedang merapikan alat kesehatan tersenyum simpul mendengar ucapan frontal Nikolai.
"Nikolai! Diamlah!" Rose memukul lengan kekar Nikolai dengan gemas. "Ada orang lain di sini!"
"Aku serius, Sayang," lanjut Nikolai sambil menangkap tangan Rose dan menciuminya. "Jika aku tahu kau sesubur ini denganku, aku pasti tidak akan membiarkanmu memakai pil pencegah kehamilan dulu. Kita pasti sudah punya tim sepak bola sekarang."
"Kau ini benar-benar tidak punya urat malu ya?" Rose memukul dada Nikolai lagi, kali ini lebih keras, meski ia tidak bisa menahan tawa bahagianya.
Nikolai merasa berada di puncak dunia. Kabar ini adalah senjata pamungkasnya. Mia sedang hamil empat minggu dengan satu bayi, sementara Rosemary-nya mengandung bayi kembar darinya dalam usia delapan minggu. Ia ingin segera melempar fakta ini ke wajah Asher Hudson dan ibunya di Texas.
"Aku akan menyiapkan segalanya, Rosemary," bisik Nikolai di telinga Rose. "Rumah sakit ini akan dijaga ketat. Tidak ada media, tidak ada Hudson, dan tidak ada Moretti yang boleh mendekatimu. Kau dan anak-anak kita adalah prioritas utamaku sekarang."
Rose menggenggam tangan Nikolai, merasakan kekuatan yang luar biasa dari pria itu. "Nik, bagaimana dengan orang tuamu?
Wajah Nikolai mengeras sejenak, namun ia segera menenangkan Rose. "Biarkan aku yang mengurus mereka. Mereka tidak akan menyentuhmu. Jika ibuku menganggapmu tidak punya asal-usul, maka aku akan memberitahunya bahwa kau adalah ibu dari pewaris utama Volkov."
Nikolai mengelus perut Rose yang masih rata dengan penuh pemujaan. "Kau bukan wanita mandul, Rosemary. Kau adalah keajaiban. Dan aku akan memastikan seluruh dunia tahu bahwa kau adalah satu-satunya wanita yang pantas berdiri di sampingku."
Pagi itu di Boston, di tengah hiruk pikuk rumah sakit, sebuah rahasia besar telah terungkap. Rose Moore tidak lagi takut pada bayang-bayang masa lalu. Dengan dua nyawa yang tumbuh di rahimnya, ia merasa memiliki kekuatan untuk menghadapi badai apa pun yang dikirim dari Texas.
Sementara Nikolai, sang serigala yang selama ini dikenal dingin, kini tidak bisa berhenti tersenyum. Ia telah membuktikan bahwa cinta sejatinya bukan hanya sekadar perasaan, tapi juga sebuah kehidupan baru yang akan menghancurkan semua keraguan yang pernah ada.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰