NovelToon NovelToon
Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Karena Taruhan / Bad Boy / Cinta pada Pandangan Pertama / Harem / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29.

Noah berdiri di depan pintu kamar mandi wanita yang ada di hotel mewah berbintang, menunggu Qiara yang sedang membersihkan noda dan mengeringkan bajunya dengan pengering rambut yang memang di sediakan di sana.

Sebuah perasaan gugup dan takut memang menyelimuti hati Noah, khawatir Qiara merasa kesulitan saat menggunakan barang barang tersebut.

"Apakah Qiara bisa menggunakan kecanggihan kamar mandi yang di sediakan di hotel ini?" gumam Noah.

Lalu netra Noah menangkap Qiara yang keluar dari dalam kamar mandi.

"Kenapa kamu masih pakai jasnya, Qiara?" tanya Noah dengan nada cemas.

Qiara menatap ke bawah dan merasa malu, "Maaf, Noah. Aku tak mengerti cara menggunakan pengering rambut. Bahkan untuk menghidupkan kran saja aku tak bisa." pikir Qiara sambil menggigit bibir. Dia merasa kalah melihat kesederhanaan kamar mandi yang ada di rumah si kembar. Disana, fasilitasnya lebih mudah digunakan, lebih mirip dengan yang ada di kampung halamannya.

Namun, di hotel mewah ini, Qiara justru merasa rendah diri dan tersadar betapa miskin pengalamannya. Hatinya sempat terluka, "Apa yang akan berpikir buruk tentangku? Aku ini orang desa yang tak tahu apa-apa, seharusnya aku bisa lebih baik." gumam Qiara dalam hati.

Noah dalam hatinya sudah bisa menduga, apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan nada suara yang serak, ia bertanya pada Noah, "Apakah kamu mau membantuku, Noah?" Pipinya memerah, ada rasa malu yang menjalar di dalam hatinya saat mengatakan hal itu.

Qiara sebenarnya tidak ingin merepotkan Noah, tetapi dalam keadaan seperti ini, ia benar-benar membutuhkan bantuan dari orang lain karena ketidaktahuannya.

Tanpa Noah dan Qiara sadari, dari kejauhan ada 3 pasang mata yang sedang memperhatikan dengan seksama gerak gerik ke duanya dari kejauhan.

"Apakah lo yakin? Kalau gadis itu sepupu Noah," tanya Laras yang berdiri di samping Dila.

"Gue gak yakin, kan tadi gue cuman menduga duga. Setelah Natan bilang kalau Noah sedang mengantar Qiara ke kamar mandi. Karena sebelumnya Noah pernah berkata kalau ada sepupu yang tinggal di rumahnya sekarang ... Dan namanya itu Qiara," sahut Dila tanpa melihat ke arah Laras. Netra nya masih sibuk memperhatikan ke arah Noah dan Qiara yang malah masuk ke dalam kamar mandi bersama.

"Sial," gumam Dila dalam hatinya dengan tangan terkepal.

"Loh, kenapa mereka masuk ke dalam kamar mandi bersama?" celetuk Bianca.

"Terus tatapan gadis itu, seperti suka dengan Noah." timpal Laras.

Ucapan yang barusan keluar dari bibir Laras, sungguh menambah amarah dalam diri Dila.

"Apakah saudara sepupu itu boleh menjalin kasih?" celetuk Dila.

"Tentu saja, bahkan sekandung kalau saling mencintai saja banyak," sahut Laras.

"Aku akan memberikan pelajaran yang kan lo ingat sampai kapan pun Qiara," ujar Dila sembari menggertakkan gigi giginya.

***

Noah tampak sungguh-sungguh membantu mengeringkan baju Qiara dengan alat pengering rambut di dalam kamar mandi yang sepi. Sejenak ia berpikir untuk meminta bantuan Dila, namun kemudian ia ingat sifat posesif dan pencemburu berat dari pacarnya itu.

"Lebih baik aku yang mengurusnya sendiri, daripada masalah semakin menjadi-jadi," gumam Noah dalam hati. Ia menyadari betul, jika nanti ada murid lain yang memergoki mereka, ia mungkin masih bisa menjelaskan situasi sebenarnya.

Namun, bila berhadapan dengan pacarnya yang posesif, Noah tak ingin membayangkan nasib buruk yang akan menimpa Qiara. Terbayang di kepalanya bagaimana wajah marah pacarnya yang sulit diajak bicara dengan baik.

Sementara itu, Qiara terus memperhatikan Noah dengan tatapan penuh terima kasih. Kelembutan yang ditunjukkan Noah saat merawatnya membuat Qiara tersadar betapa tampannya laki laki yang sekarang ini berada di hadapannya itu.

"Noah memang orang yang sangat baik, aku sungguh merasa bersalah karena sebelumnya pernah menuduhnya yang melakukan hal buruk pada ku pada malam itu," batin Qiara, sembari terus memandangi wajah Noah.

"Qiara, sudah selesai," ucap Noah dengan lembut, mengakhiri lamunan gadis itu.

"Noah, lebih baik kamu antar aku pulang saja. Aku merasa tidak pantas berada di pesta semewah ini," ucap Qiara dengan polos dan jujur, matanya tampak berkaca-kaca.

"Aku tidak pernah membayangkan bahwa party yang selama ini ada dalam anganku, kenyataan malah akan lebih indah dan semewah ini. Aku benar-benar merasa minder dan tidak pantas berada di sini."

Sesaat setelah mendengar pengakuan Qiara, Noah merasa bersalah. Perasaan itu semakin menjadi-jadi ketika ia teringat ucapan ayahnya sebelum berangkat dinas. Ayahnya sempat mengungkapkan bahwa Qiara sebenarnya bukan berasal dari keluarga miskin. Namun, setelah kehilangan kedua orang tuanya, hidup Qiara berubah drastis. Apalagi dengan kehadiran pamannya yang hobi berjudi dan menghambur-hamburkan harta yang seharusnya menjadi milik Qiara.

Qiara kembali mengungkapkan isi hatinya, "Aku merasa seperti orang asing di antara mereka yang terlihat begitu mewah dan bahagia. Aku takut mereka akan menilai aku rendah karena aku tidak sepadan dengan mereka." Perasaan cemas dan sedih melanda hati Qiara, ia merasa tertekan oleh situasi yang ia hadapi.

Noah mencoba untuk merenung sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk menguatkan Qiara. Sebagai sahabat, Noah merasa bertanggung jawab untuk menjaga perasaan Qiara dan membuatnya merasa nyaman.

"Qiara jangan berbicara seperti itu, kamu pantas berada di tempat seperti ini. Kamu tidak perlu minder. Aku sungguh meminta maaf, karena sebenarnya kamu memiliki harta di ... " Ucapan Noah terhenti, kala ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mandi.

"Kan sudah selesai, lebih baik kita segera keluar dari sini Noah. Karena berduaan di dalam kamar mandi wanita, sungguh sebuah hal yang tidak terpuji," kata Qiara.

"Ya, kamu benar."

****

*

*

Suara riuh tepuk tangan pun nampak meramaikan aula hotel berbintang itu. Setelah Andre dan kedua orang tuanya melakukan pidato.

Sementara Qiara, berdiri sendirian di barisan paling depan. Ia terus saja menundukkan wajahnya, sungguh ia bentar benar merasa tidak pantas berada di tempat ini.

Bahkan Qiara yang mendengar orang orang yang ada di pesta itu membicarakannya perihal bentuk fisik yang ia miliki.

"Ya Tuhan. Aku hanya bersyukur dengan kesehatan dan ketidak kurangan fisik yang engkau berikan. Tapi kenapa? Mereka malah mengatakan jika bentuk fisik yang aku miliki itu menjurus ke arah yang buruk. Mereka berbisik mengatakan jika aku simpanan Om Om, makanya aku memiliki bentuk fisik seperti ini." gumam Qiara dalam hatinya dengan wajah sedih.

Sementara Natan dan Noah dari kejauhan nampak memperhatikan Qiara dengan intens. Dan hal itu membuat Tania yang ada di samping Natan dan Dila yang ada di samping Noah menatap Qiara penuh dendam kesumat.

* Akhirnya sesi pidato pun selesai. Music kencang yang sebelumnya sempat di matikan kini di hidupkan kembali *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!