"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Cawan Berbisa dan Perangkap Ratu
FAJAR di penjara Rebibbia tidak pernah membawa harapan; ia hanya membawa cahaya pucat yang memperjelas garis-garis jeruji besi di dinding. Dante Moretti sudah bangun sebelum bel pagi berbunyi. Ia duduk di tepi dipan, melakukan push-up satu tangan meskipun bahunya berdenyut kesakitan. Baginya, rasa sakit adalah pengingat bahwa ia masih hidup, dan hidup berarti ia masih memiliki sesuatu untuk dilindungi.
Sekitar pukul 07.00, suara derit roda nampan makanan terdengar di koridor. Itu adalah suara yang biasanya diabaikan, namun pagi ini, setiap dentingan logam terasa seperti detak jantung bom waktu.
Pintu sel kecil di bagian bawah terbuka. Sebuah nampan plastik berwarna jingga digeser masuk. Di atasnya terdapat sepotong roti keras, semangkuk bubur hambar, dan satu botol air mineral segel yang tampak biasa saja.
Dante berhenti dari aktivitasnya. Ia menatap botol air itu. Di bawah cahaya lampu neon, air di dalamnya tampak jernih, namun Dante teringat peringatan Aria: Jangan minum apa pun yang tidak diberikan oleh sipir bernama Lorenzo.
Ia menoleh ke arah celah pintu. Sipir yang berjaga pagi ini bukanlah Lorenzo. Itu adalah seorang pria bertubuh gempal dengan mata yang gelisah, yang terus melihat ke arah jam tangannya.
Dante mengambil botol air itu, memutarnya perlahan. Segelnya tampak sempurna, sebuah karya seni sabotase yang sangat teliti. Ia membuka tutupnya, dan bau almond pahit yang sangat samar—hampir tidak terdeteksi oleh hidung manusia biasa—menyengat indra penciumannya.
Sianida.
Dante tersenyum dingin. Valerio benar-benar putus asa. Ia meletakkan kembali botol itu di atas nampan, namun ia tidak membuangnya. Ia membutuhkan botol ini sebagai bukti.
Tiba-tiba, sipir itu mengetuk jeruji besi. "Habiskan sarapanmu, Moretti. Kau punya jadwal pemeriksaan medis dalam tiga puluh menit."
"Aku tidak lapar," sahut Dante datar. "Tapi sampaikan pada tuanmu, bahwa racun ini bahkan tidak cukup kuat untuk membunuh seekor tikus di Sisilia, apalagi seorang Moretti."
Wajah sipir itu seketika menjadi pucat pasi. Ia segera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor. Dante tahu, pesan itu akan sampai ke Valerio, dan itu akan memicu langkah terakhir sang sepupu yang haus kekuasaan.
Apartemen Rahasia Aria: Pukul 08.00 Pagi
Aria berdiri di depan layar monitor yang menampilkan aliran data dari penyadap suara yang dipasang Marco di dalam jaringan komunikasi Scorpion XIII. Ia mengenakan blazer hitam, tangannya memegang erat ponsel satelitnya.
"Nyonya, kita berhasil menangkap sinyalnya," ucap Marco sambil menunjuk ke arah grafik gelombang suara di layar. "Sipir di Rebibbia baru saja menelepon Valerio. Rencana peracunan gagal. Valerio sedang mengamuk. Dia memerintahkan semua pasukannya untuk bersiap melakukan 'Rencana Cadangan'."
"Apa rencana cadangannya?" tanya Aria, matanya berkilat tajam.
"Dia akan menyerang iring-iringan mobil Anda saat Anda menuju gedung pengadilan siang ini. Dia ingin menculik Anda untuk memaksa Dante menyerahkan kunci dekripsi Phoenix di depan hakim," jawab Marco.
Aria menarik napas panjang. Ini adalah momen yang ia tunggu. Ia tidak akan lari. Ia akan menjadi umpan yang paling mematikan bagi Valerio.
"Bagus," ucap Aria pelan. "Katakan pada Jaksa Fabbri bahwa aku akan berangkat ke gedung pengadilan tiga puluh menit lebih awal. Dan pastikan unit GIS (pasukan khusus kepolisian) sudah berada di posisi penyamaran di sepanjang jalur Via Tiburtina."
"Nyonya, ini sangat berbahaya bagi kondisi Anda," Marco mencoba memprotes.
"Ini adalah cara tercepat untuk menangkap Valerio tanpa harus menunggu persidangan yang berlarut-larut, Marco. Dia akan datang sendiri untuk menjemputku. Dan saat dia melakukannya, aku ingin kau memastikan semua kamera media sudah siap. Aku ingin dunia melihat 'Il Monarca' tertangkap seperti pencuri jalanan."
Jalanan Roma: Pukul 11.30 Siang
Iring-iringan mobil Aria terdiri dari tiga SUV hitam berlapis baja. Aria duduk di kursi belakang mobil tengah, tangannya mengusap perutnya yang terasa sedikit kencang karena stres. Di sampingnya, Marco memegang senapan serbu kompak, matanya terus memantau setiap kendaraan yang lewat.
"Target terdeteksi di koordinat 12-B," suara unit GIS terdengar melalui radio. "Dua truk logistik mencoba menjepit konvoi Nyonya Moretti."
"Terus jalan sesuai rencana," perintah Aria.
Tiba-tiba, di sebuah persimpangan yang agak sepi, sebuah truk besar meluncur dari arah samping dan menghantam SUV pengawal paling depan dengan kekuatan dahsyat.
BOOOM!
Konvoi terhenti seketika. Dari arah belakang, dua sedan hitam meluncur cepat dan memblokade jalan keluar. Belasan pria bersenjata dengan masker hitam melompat keluar, melepaskan tembakan ke arah ban dan mesin mobil Aria.
RAT-TAT-TAT-TAT!
Aria merunduk di lantai mobil. "Sekarang, Marco!"
Pintu SUV Aria terbuka, namun bukan untuk menyerah. Marco dan tim Reapers keluar dengan serangan balik yang sangat terorganisir. Di saat yang sama, tim GIS yang bersembunyi di dalam toko-toko di pinggir jalan mulai muncul, mengepung para penyerang Valerio.
Di tengah kekacauan itu, sebuah limusin antipeluru berwarna perak melaju mendekat. Pintunya terbuka, dan Valerio Moretti melangkah keluar dengan pistol di tangan. Ia tampak gila, matanya merah dan penuh dengan obsesi.
"ARIA! KELUAR!" teriak Valerio di tengah suara desingan peluru. "Berikan kuncinya padaku, dan aku akan membiarkanmu hidup bersama bayi pengkhianat itu!"
Aria perlahan keluar dari mobil, tangannya terangkat tinggi. Ia berdiri tegak di tengah medan pertempuran, wajahnya tampak sangat tenang—sebuah ketenangan yang menakutkan bagi siapa pun yang melihatnya.
"Kau ingin kuncinya, Valerio?" tanya Aria, suaranya diperkuat oleh mikrofon kecil yang terhubung dengan speaker luar mobil. "Kunci itu tidak ada padaku. Kunci itu sudah ada di tangan Jaksa Agung sejak satu jam yang lalu. Dan setiap langkahmu saat ini sedang disiarkan langsung oleh drone media di atas kita."
Valerio mendongak ke arah langit. Ia melihat tiga drone dengan lampu merah berkedip sedang merekam setiap gerakannya. Ia juga melihat helikopter polisi yang mulai mendekat.
"KAU MEMBOHONGIKU, JALANG!" Valerio mengangkat pistolnya, membidik langsung ke arah jantung Aria.
Namun, sebelum ia sempat menarik pelatuknya, sebuah peluru dari penembak jitu GIS mengenai tangan kanan Valerio.
"ARGH!" Valerio jatuh berlutut, senjatanya terlempar.
Dalam hitungan detik, pasukan khusus polisi menyerbu dan menekan Valerio ke aspal. Seluruh sisa pasukannya menyerah begitu melihat pemimpin mereka tak berdaya.
Aria berjalan mendekati Valerio yang sedang meronta di bawah tekanan lutut polisi. Ia membungkuk, menatap sepupu suaminya itu dengan tatapan jijik.
"Dante adalah seorang monster yang memiliki kehormatan, Valerio," bisik Aria. "Tapi kau? Kau hanyalah seorang pecundang yang mencoba mencuri mahkota yang tidak pernah ditujukan untukmu. Selamat menikmati sisa hidupmu di sel yang bersebelahan dengan orang-orang yang kau khianati."
Aria berbalik dan masuk kembali ke mobilnya, meninggalkan Valerio yang berteriak-teriak penuh kutukan.
Gedung Pengadilan Roma: Pukul 14.00 Siang
Suasananya jauh lebih tenang saat Aria sampai di gedung pengadilan. Valerio sudah dalam perjalanan menuju penjara dengan pengawalan militer. Skandal Project Phoenix kini telah meledak sepenuhnya, memaksa beberapa menteri untuk mengundurkan diri dalam hitungan jam.
Aria masuk ke ruang sidang tertutup tempat Dante sudah menunggu. Dante duduk di kursi saksi, tampak lebih bersih setelah mendapatkan perawatan medis yang layak.
Hakim mengetuk palu. "Sidang dibuka. Jaksa Agung, silakan ajukan kesepakatan perlindungan saksi."
Aria berdiri di samping suaminya. Ia membacakan draf yang telah ia susun dengan sangat teliti. "Pemerintah Italia setuju untuk memberikan pengampunan penuh atas semua dakwaan masa lalu bagi Aria Moretti. Dante Moretti akan dijatuhi hukuman penjara dua puluh tahun di unit khusus, dengan kemungkinan pembebasan bersyarat setelah sepuluh tahun jika kesaksiannya berhasil menjatuhkan seluruh anggota 'The Circle'. Selama masa tahanan, Dante Moretti akan mendapatkan akses kunjungan keluarga tanpa batas."
Dante menoleh ke arah Aria, matanya berkaca-kaca. Sepuluh tahun. Itu adalah harga yang mahal, namun itu adalah sebuah janji akan masa depan. Ia akan melihat anaknya tumbuh besar. Ia akan memiliki rumah untuk pulang suatu hari nanti.
"Apakah Anda menerima syarat ini, Tuan Moretti?" tanya Hakim.
Dante memegang tangan Aria, meremasnya dengan penuh janji. "Saya menerima."
Enam Bulan Kemudian
Cahaya matahari sore musim panas menyinari taman kecil di dalam fasilitas perlindungan saksi di luar kota Roma. Tempat itu dijaga ketat, namun sangat nyaman, dengan pemandangan perbukitan Tuscany yang indah.
Aria duduk di kursi goyang, menggendong seorang bayi perempuan yang baru berusia satu bulan. Bayi itu memiliki rambut hitam legam dan mata abu-abu badai yang sangat mirip dengan ayahnya.
"Ayo, Letizia... lihat siapa yang datang," bisik Aria lembut.
Pintu gerbang taman terbuka. Dante masuk dengan kawalan dua petugas polisi yang bersahabat. Ia tidak lagi mengenakan seragam penjara, melainkan kemeja kasual yang diberikan Aria. Meskipun ia masih harus kembali ke fasilitas penahanan setiap malam, hari-harinya dihabiskan bersama keluarganya sebagai bagian dari kesepakatan khusus.
Dante berjalan mendekat, wajahnya tampak jauh lebih muda dan penuh kedamaian. Ia berlutut di depan Aria dan mengambil bayi Letizia ke dalam pelukannya.
"Dia sangat cantik, Aria," bisik Dante, mencium kening putrinya. "Dia adalah hal yang paling murni dalam seluruh sejarah Moretti."
Aria menyandarkan kepalanya di bahu Dante. Perang itu sudah berakhir. Valerio dan The Circle telah hancur. Meskipun mereka masih harus hidup di bawah perlindungan dan bayang-bayang masa lalu, mereka memiliki sesuatu yang tidak pernah dimiliki oleh para pendahulu mereka.
Cinta yang menang atas darah.
"Kita melakukannya, Dante," ucap Aria.
"Kita melakukannya, Nyonya Moretti," sahut Dante, menatap cakrawala Tuscany yang luas. "Dan kali ini, tidak akan ada lagi sumpah berdarah. Hanya ada sumpah untuk menjagamu dan dia selamanya."
Matahari terbenam dengan warna emas yang sempurna, menutup babak panjang kegelapan mereka dan membuka lembaran baru yang penuh dengan cahaya.
END SEASON 2