NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Monika pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Seolah apa yang terjadi tadi bukan urusannya. Nafasku masih terasa sesak, tubuhku lemas, dan perutku terasa tidak nyaman.

Leon menggenggam pergelangan tanganku dengan hati-hati.

“Kita ke rumah sakit sekarang,” ucapnya tegas.

Aku tak menolak. Untuk pertama kalinya, aku tidak peduli pada tatapan orang-orang atau apa kata mereka. Yang kupikirkan hanya satu — bayiku.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Leon beberapa kali melirikku.

“Kamu sakit di mana?” tanyanya pelan.

“Perutku terasa kencang… kayak ada yang beda,” jawabku jujur.

Leon mempercepat laju mobilnya.

Sesampainya di rumah sakit, aku langsung diperiksa. Leon setia menunggu di luar ruang dokter, wajahnya tampak tegang. Entah sejak kapan dia terlihat begitu khawatir padaku.

Dokter memeriksaku cukup lama. Detak jantung bayiku terdengar melalui alat USG. Suara itu… membuat dadaku menghangat sekaligus perih.

“Tidak ada pendarahan,” ujar dokter dengan suara tenang. “Tapi ibu mengalami sedikit shock. Bayinya merespons ketegangan ibunya, jadi terasa tidak nyaman. Ibu harus banyak istirahat dan jangan terlalu stres.”

Shock.

Aku memejamkan mata. Jadi benar… semua teriakan, dorongan, dan ketegangan tadi membuat bayiku ikut merasakan dampaknya.

“Apakah bayinya baik-baik saja, Dok?” tanyaku lirih.

“Untuk saat ini baik. Tapi jaga kondisi emosional ibu, ya. Kandungan ibu masih sensitif.”

Aku mengangguk pelan.

Keluar dari ruang periksa, Leon langsung berdiri.

“Gimana?” tanyanya cepat.

“Bayinya nggak apa-apa,” jawabku singkat.

Leon menghela napas lega. “Syukurlah.”

Aku menatapnya beberapa detik. Kenapa dia selalu ada di saat aku benar-benar sendirian? Kenapa bukan suamiku?

Bayangan wajah Devan kembali muncul di pikiranku. Entah sekarang dia sedang apa… atau mungkin bersama siapa.

“Aku yakin ini karena kejadian tadi,” gumamku pelan.

Leon mengepalkan rahangnya. “Dia nggak seharusnya memperlakukan kamu seperti itu.”

Aku tersenyum hambar. “Aku sudah terbiasa.”

Leon menatapku tajam, seakan tidak suka mendengar kalimat itu keluar dari mulutku.

“Kamu nggak pantas terbiasa disakiti, Rania.”

Air mataku jatuh semakin deras. Semua rasa sakit yang selama ini kupendam seperti menemukan jalannya untuk keluar.

“Leon… andai aku tidak hamil, aku ingin cerai dari Mas Bram. Aku benar-benar nggak mau terjebak di pernikahan seperti ini,” isakku lirih. “Jadi istri kedua itu tidaklah mudah… setiap hari rasanya seperti menelan duri.”

Leon terdiam. Tatapannya sendu menatap wajahku yang pasti sudah berantakan.

“Sabar, Rania… aku yakin semua akan baik-baik saja,” ucapnya lembut.

Tangannya terulur, mengusap air mataku dengan hati-hati. Sentuhannya hangat, penuh ketulusan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada paksaan. Hanya ketenangan.

“Aku capek, Leon…” suaraku bergetar. “Capek pura-pura kuat. Capek pura-pura nggak sakit setiap kali merasa nggak dianggap.”

Nama Rania terdengar begitu rapuh saat kuucapkan tentang diriku sendiri. Bahkan aku hampir tak mengenali perempuan yang berdiri di depan Leon saat ini.

Leon mengepalkan rahangnya pelan. “Kamu nggak seharusnya ada di posisi ini.”

“Tapi aku sudah terlanjur di sini,” jawabku pahit. “Dan sekarang aku hamil. Aku nggak bisa egois.”

Leon menggeleng pelan. “Memilih bahagia itu bukan egois.”

Aku menatapnya, tercengang.

“Anakmu butuh ibu yang kuat. Ibu yang bahagia. Bukan ibu yang tiap malam menangis diam-diam,” lanjutnya tegas namun tetap lembut.

Aku menggigit bibir bawahku, menahan tangis baru yang hendak pecah.

“Kalau suatu hari kamu benar-benar memilih pergi…” suara Leon melembut, “pastikan itu keputusan yang membuatmu hidup, bukan sekadar bertahan.”

Terima kasih, Leon… aku pulang dulu ya,” ucapku pelan.

“Iya, hati-hati ya,” jawabnya lembut.

Aku mengangguk lalu tersenyum kecil ke arahnya. Senyum yang mungkin terlihat biasa, tapi bagiku terasa berat — karena di dalamnya ada rasa syukur, rasa nyaman… dan rasa yang tak boleh tumbuh lebih jauh.

Aku melangkah menjauh.

Baru beberapa langkah, beberapa perawat menghampiri Leon.

“Dok, pasien di ruang tiga sudah menunggu ya.”

“Iya, Dok Leon, tadi keluarga pasien juga cari,” sahut perawat lain sambil tersenyum.

Aku menoleh sekilas.

Leon membalas dengan senyum profesionalnya. Wajahnya berubah tenang dan tegas, berbeda dari pria lembut yang tadi menghapus air mataku.

Ternyata… dia memang bukan pria sembarangan.

Leon — dokter muda yang dikenal ramah, tampan, dan bertanggung jawab. Tak heran para perawat begitu menghormatinya.

Dadaku terasa aneh.

Di saat suamiku sendiri tak pernah mengantarku periksa kandungan, justru pria lain yang berdiri di sisiku.

Aku menunduk, memeluk perutku pelan.

“Maafkan Mama ya… kalau hidup Mama rumit sekali,” bisikku lirih.

Langkahku terasa lebih pelan saat meninggalkan rumah sakit. Entah kenapa, setiap kali bersama Leon, aku merasa tenang. Terlalu tenang.

Dan itu berbahaya.

Karena aku masih istri orang.

Aku menarik napas panjang.

Tidak. Aku tidak boleh salah arah.

Aku harus pulang.

Pulang ke rumah… yang terasa seperti bukan rumah lagi.

Sesampainya di rumah, langkahku terhenti sesaat.

Mobil Mas Bram sudah terparkir di depan. Begitu juga mobil Monika.

“Tumbennya Mas Bram sudah pulang…” batinku pelan.

Entah kenapa jantungku tiba-tiba berdegup tak nyaman.

Aku menarik napas panjang lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Pintu baru saja tertutup di belakangku saat—

Plaaak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.

Aku terhuyung. Pandanganku berkunang-kunang. Rasa perih menjalar cepat dari pipi hingga ke kepala.

“Perempuan murahan!!” bentak Bram penuh amarah.

Aku menatapnya dengan mata membesar, tak percaya.

“Mas…?” suaraku nyaris tak terdengar.

Monika berdiri tak jauh dari sana, menyilangkan tangan di dada dengan ekspresi puas. Tatapannya sinis menelanjangiku dari ujung kepala sampai kaki.

“Kamu pikir aku nggak tahu kamu jalan sama laki-laki lain?” lanjut Bram geram. “Diantar-jemput dokter muda itu? Malu-maluin!”

Dadaku sesak.

Jadi ini… ulah Monika.

“Aku ke rumah sakit, Mas,” jawabku bergetar sambil memeluk perutku refleks. “Aku periksa kandungan. Tadi aku hampir jatuh karena—”

“Alasan!” potongnya kasar. “Kamu senyum-senyum sama dia! Dilihat orang-orang!”

Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan.

“Mas, aku hamil anak Mas…” suaraku pecah. “Aku nggak mungkin macam-macam.”

Bram tertawa sinis. “Hamil bukan berarti kamu jadi perempuan suci!”

Setiap katanya seperti pisau.

Tanganku gemetar. Bukan hanya karena sakit di pipi, tapi karena hati yang terasa dihancurkan di depan mata.

Monika melangkah mendekat, pura-pura menenangkan.

“Sudahlah, Mas… mungkin Rania cuma kesepian. Namanya juga istri kedua,” ujarnya lembut namun penuh racun.

Aku menatapnya tak percaya.

“Jangan memutarbalikkan keadaan, Mbak,” kataku lirih namun tegas. “Aku cuma periksa kandungan.”

Bram kembali menatapku tajam.

“Mulai sekarang, kamu nggak usah keluar rumah sendirian. Dan jangan pernah berhubungan lagi dengan dokter itu!”

Aku terpaku.

Hak apa yang sebenarnya kumiliki di rumah ini?

Tubuhku masih gemetar. Bayiku…

Ya Tuhan, jangan sampai anakku merasakan ketakutan ini lagi.

Untuk pertama kalinya, di tengah rasa sakit dan hinaan, sesuatu di dalam diriku berubah.

Jika bertahan berarti terus diinjak…

maka mungkin aku memang harus mulai menyiapkan langkah untuk pergi.

***

1
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!