Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Di Balik Tinta Merah
Sore itu kantor Aksara Muda mulai sepi, tapi gue masih berkutat dengan beberapa draf yang perlu dipoles. Saat hendak menuju ruang arsip, gue melewati ruangan Genta yang pintunya sedikit terbuka. Niat gue cuma mau lewat, tapi suara percakapan telepon yang cukup keras dari dalam bikin langkah gue terhenti.
"Iya, Ma. Genta tahu. Genta nggak akan bikin malu keluarga lagi... Iya, posisi Editor Kepala ini bakal Genta jaga. Nggak akan ada celah buat kesalahan."
Gue mematung. Suara Genta kedengaran beda banget. Nggak ada nada otoriter atau dingin yang biasanya dia pakai buat nakut-nakutin gue. Suaranya terdengar... kecil. Kayak anak kecil yang lagi disidang karena nilai ujiannya.
Gue mengintip sedikit lewat celah pintu. Genta duduk membelakangi meja, menatap kosong ke arah jendela. Bahunya yang biasa tegap itu kelihatan sangat lesu.
"Genta bukan Papa, Ma. Genta nggak akan gagal kayak naskah Papa yang bangkrut itu. Genta bakal pastiin semuanya berjalan sesuai standar... Iya, Genta tutup dulu."
Genta meletakkan ponselnya, lalu dia melepas kacamata dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia mendesah panjang, sebuah desahan yang penuh beban, beban yang selama ini dia tutupin pakai kemeja rapi dan sikap kaku yang nggak masuk akal.
Gue mundur selangkah, napas gue agak berat. Tiba-tiba semua potongan teka-teki tentang Genta mulai menyatu di kepala gue. Kenapa dia benci banget sama typo. Kenapa dia gila efisiensi. Kenapa dia selalu bertingkah kayak robot yang diprogram buat sempurna. Ternyata, dia bukan monster karena bakat lahir, tapi karena dia dipaksa buat nggak boleh punya celah. Dia dihantui sama kegagalan masa lalu keluarganya yang mungkin dianggap aib.
Dada gue mendadak sesak. Bayangan Genta yang selalu ngomel soal "naskah kura-kura" gue sekarang berubah jadi bayangan seorang pria yang ketakutan setiap kali melihat kesalahan kecil, karena satu kesalahan berarti dia gagal jadi "kebanggaan" mamanya.
Gue nggak jadi ke ruang arsip. Gue malah jalan ke dapur kantor, bikin teh chamomile hangat. Gue tahu dia sukanya Americano pahit, tapi saat ini, dia butuh sesuatu yang bisa bikin sarafnya rileks, bukan malah makin tegang.
Gue mengetuk pintu ruangannya pelan. Genta langsung tegak, buru-buru pakai kacamatanya lagi, dan dalam sekejap, mode ‘Robot’ itu balik lagi.
"Masuk," katanya, kembali datar.
Gue taruh teh itu di mejanya. Dia ngerutin dahi. "Saya nggak pesan teh, Aruna."
"Bapak nggak perlu pesan semuanya buat saya kasih, kan?" balas gue, tapi kali ini tanpa nada nyolot yang biasanya. Suara gue lembut, bahkan mungkin terlalu lembut sampai dia kelihatan bingung. "Minum aja, Pak. Biar otaknya nggak isinya cuma tinta merah terus."
Genta menatap teh itu, lalu menatap gue. Ada curiga di matanya, tapi kemudian dia melihat tangan gue yang tanpa sadar merapikan tumpukan kertas di mejanya yang sudah rapi, sebuah gerak-gerik protektif yang bahkan gue sendiri nggak sadar lakuin.
"Kamu... dengar sesuatu tadi?" tanyanya pelan.
Gue terdiam sebentar, lalu narik napas panjang. "Bapak tahu nggak? Di novel saya, tokoh Kastara itu kaku karena dia takut dunia bakal hancur kalau dia salah satu huruf aja. Tapi akhirnya dia sadar, kalau pembaca lebih suka tokoh yang manusiawi, yang boleh salah, yang boleh capek."
Genta tertegun. Dia nggak membantah. Dia cuma meraih gelas teh itu, menyesapnya perlahan.
"Tehnya... enak," gumamnya singkat.
Gue tersenyum tipis. Malam itu, gue pulang dengan perasaan yang beda. Rasa benci gue ke Genta benar-benar sudah hilang perlahan, diganti sama rasa ingin jagain pria itu. Gue nggak mau lagi ngetes batas kesabarannya. Gue mau jadi orang yang bikin dia merasa kalau punya typo dalam hidup itu... nggak apa-apa.
Karena mulai sekarang, siapa pun yang berani bikin Genta merasa gagal, mereka harus urusan sama gue duluan.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻