Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: PERTUKARAN SANDERA
#
Di gudang, Arjuna berdiri kaku ngeliatin layar komputer yang Ratna nyalain. Di layar itu ada live feed dari kamera studio TV yang masih broadcast walau kualitasnya jelek, goyang goyang, tapi cukup jelas untuk lihat apa yang terjadi.
Cukup jelas untuk lihat ayahnya yang berlutut dengan darah di mana mana. Cukup jelas untuk lihat Adrian yang pegang pistol ke kepala ayahnya.
"Tidak," bisik Arjuna. Tangannya ngepal sampe kuku mencakar telapak tangannya sendiri sampe berdarah tapi dia gak berasa. "Tidak tidak tidak ayah kumohon..."
"Arjuna," Ratna coba pegang bahunya tapi Arjuna ngelepasin diri. "Arjuna dengarkan aku, kita harus fokus matiin The Protocol dulu. Kalau kita gak matiin sekarang, lebih banyak orang yang..."
"AKU GAK PEDULI ORANG LAIN!" Arjuna berteriak. Bener bener berteriak sampe tenggorokannya sakit. "Itu ayahku di sana! Ayahku yang mau dibunuh! Dan kau bilang aku harus fokus ke orang lain?!"
"Ayahmu akan mau kau selamatkan orang lain," jawab Ratna keras. Suaranya gak lembut lagi sekarang. "Dia akan mau kau matiin sistem ini walau itu artinya dia harus mati. Karena itu yang dia ajarkan padamu. Itu yang..."
"JANGAN BILANG APA YANG DIA MAU!" Arjuna pukul dinding sampe tangannya berdarah. "Jangan bilang seolah Ibu kenal dia lebih baik dari aku! Dia ayahku! AYAHKU!"
Di layar, Adrian mulai bicara. Suaranya terdengar lewat speaker yang pecah pecah.
"Arjuna," katanya sambil natap ke kamera. Senyum yang menyebalkan itu masih ada di wajahnya. "Aku tau kau nonton ini. Aku tau kau ada di suatu tempat, lagi coba matiin The Protocol ku dengan bantuan wanita tua itu."
Ratna mengencang. Gimana dia tau?
"Tapi sayangnya untuk kau," lanjut Adrian, "sistem ku gak bisa dimatiin semudah itu. Bahkan dengan server cadangan Hendrawan yang pintar itu. Karena aku... aku udah predict dia akan bikin backup. Udah siapin countermeasure."
"Dia bohong," bisik Ratna sambil balik ke keyboard, ketik lebih cepat. "Dia cuma mau bikin kita panik. Aku hampir masuk ke sistem. Tinggal tiga menit lagi..."
"Tapi aku bukan orang yang gak punya hati," kata Adrian di layar. Dia turunkan pistolnya dari kepala Hendrawan. "Aku kasih kau pilihan, Arjuna. Pilihan yang adil."
Dia jalan ke Sari. Pegang rambutnya, tarik kepalanya ke atas paksa sampe Sari meringis kesakitan.
"Kau bisa lanjutin coba matiin The Protocol. Mungkin berhasil, mungkin tidak. Atau..."
Dia lepas Sari, ambil ponsel dari sakunya. Ketik sesuatu. Lalu tunjukin ke kamera.
Di layar ponselnya ada alamat. Alamat gedung tua di pelabuhan.
"Atau kau datang ke sini. Sendirian. Tukar dirimu dengan ayahmu dan gadis kecil yang kau sayangi ini. Kau punya satu jam. Kalau lebih dari itu..."
Dia angkat pistolnya lagi. Kali ini ke Sari.
"Aku mulai tembak mereka. Satu per satu. Mulai dari yang termuda."
Layar mati.
Broadcast berakhir.
Gudang jadi hening. Cuma suara Ratna yang ngetik dan napas Arjuna yang berat kayak habis lari marathon.
"Jangan," kata Ratna tanpa ngeliat Arjuna. "Jangan pikirin untuk pergi ke sana. Itu jebakan."
"Aku tau itu jebakan," jawab Arjuna. Suaranya pelan sekarang. Terlalu pelan. "Tapi aku gak punya pilihan."
"Kau PUNYA pilihan!" Ratna berhenti ngetik. Berbalik natap dia dengan mata yang marah. "Kau bisa percaya padaku! Percaya aku akan matiin sistem ini! Percaya Hendrawan dan Sari akan bertahan sampe aku selesai!"
"Dan kalau mereka gak bertahan?" Arjuna natap balik. "Kalau Adrian beneran mulai nembak mereka? Kalau aku duduk di sini dengan aman sambil orang yang aku sayangi mati satu per satu?"
"Maka kau hidup dengan penyesalan itu," jawab Ratna kejam. "Hidup dan lanjutin perjuangan. Bukan mati sia sia karena kau terlalu emosional untuk pikir jernih!"
"Ibu gak ngerti," Arjuna menggeleng. Tangannya gemetar ambil pistol dari lantai dimana dia jatuhkan tadi. "Ibu gak punya anak. Gak punya orang yang Ibu cinta sampe rela mati untuk mereka. Jadi Ibu gak bisa ngerti gimana rasanya harus pilih antara hidup sendiri atau mati bareng mereka."
"Aku pernah punya," bisik Ratna. Suaranya patah sekarang. "Aku pernah punya suami. Pernah punya adik. Dan mereka semua mati karena Adrian. Mati satu per satu di depan mataku karena aku terlalu lemah untuk lindungi mereka. Jadi JANGAN bilang aku gak ngerti!"
Arjuna berhenti. Natap Ratna yang sekarang nangis, bahunya bergetar.
"Maafkan aku," katanya pelan. "Aku... aku gak tau."
"Tentu kau gak tau," Ratna lap air matanya kasar. "Karena aku gak pernah cerita. Gak pernah mau inget. Tapi sekarang kau paksa aku inget. Paksa aku rasain lagi sakit kehilangan mereka."
Dia berdiri. Jalan ke Arjuna. Pegang wajahnya dengan kedua tangan.
"Jangan jadi kayak aku," bisiknya. "Jangan hidup dengan penyesalan karena kau gak bisa selamatkan mereka. Hidup dengan penyesalan karena kau mati sebelum sempet bikin perbedaan."
"Tapi kalau aku gak pergi..."
"Maka aku yang akan pergi," potong Ratna. "Aku yang akan tukar diri dengan mereka. Kau tinggal di sini. Selesaikan hack. Matiin The Protocol. Selamatkan kota ini."
"Tidak!" Arjuna ngelepasin tangannya. "Ibu gak bisa! Ibu yang cuma bisa matiin sistem! Kalau Ibu pergi, siapa yang..."
"Hendrawan udah ajarin aku semua yang perlu aku tau," jawab Ratna sambil balik ke komputer. "Udah kasih aku semua akses. Aku tinggal eksekusi. Dan itu... itu bisa dilakuin siapa aja yang bisa ikutin instruksi. Bahkan kau."
Dia ketik beberapa command terakhir. Layar berubah. Muncul interface yang lebih simple. Dengan tombol besar bertulisan "EKSEKUSI SHUTDOWN PROTOKOL".
"Lihat?" katanya. "Gampang. Kau cuma perlu pencet tombol itu pas timer di layar sampe nol. Timer sekarang ada di lima menit. Pas nol, kau pencet. The Protocol mati. Kota selamat."
"Tapi Ibu..."
"Aku akan pergi ke gedung pelabuhan itu," lanjut Ratna sambil ambil pistol cadangan dari tas. "Akan coba negosiasi dengan Adrian. Beli waktu sampe kau matiin sistem. Dan kalau aku mati..."
Suaranya bergetar.
"Kalau aku mati, setidaknya aku mati sambil coba tebus dosa. Dosa karena aku dulu yang ajarin Adrian jadi monster. Karena aku yang kasih dia skill untuk bunuh begitu banyak orang."
"Ibu gak bersalah," kata Arjuna. "Adrian yang pilih jadi monster. Bukan Ibu yang paksa dia."
"Tapi aku gak coba hentikan dia cukup keras," bisik Ratna. "Dan sekarang waktunya untuk aku hentikan dia. Untuk terakhir kalinya."
Dia jalan ke pintu. Berhenti sebentar.
"Jaga Sari," katanya tanpa noleh. "Kalau dia selamat, kalau kau berdua selamat, jaga dia. Cintai dia. Hidup bahagia bersamanya. Untuk semua yang gak sempet hidup bahagia."
"Ibu..."
"Dan Arjuna," akhirnya dia noleh. Senyum yang sedih tapi juga damai. "Terim kasih. Terima kasih udah kasih aku kesempatan terakhir untuk jadi berguna. Untuk jadi lebih dari cuma wanita tua yang sembunyi dari masa lalu."
Dia pergi sebelum Arjuna sempet jawab. Pintu gudang ditutup. Suara motor nyala. Lalu pergi.
Meninggalkan Arjuna sendirian dengan komputer, dengan timer yang terus berjalan, dengan pilihan yang gak ada yang benar.
Empat menit lima puluh detik.
Empat menit empat puluh detik.
Arjuna duduk di depan komputer. Natap layar dengan mata yang kosong. Di pikirannya ada gambaran Sari. Sari yang nangis. Yang takut. Yang nungguin dia datang selamatkan dia.
Tapi dia gak bisa. Dia harus di sini. Harus pencet tombol ini pas timer habis.
Tiga menit.
Tangannya gemetar di atas mouse. Mata gak bisa lepas dari timer.
Dua menit tiga puluh detik.
Pintu gudang terbuka lagi. Arjuna langsung berdiri, ambil pistol. Tapi yang masuk bukan musuh.
Yang masuk adalah Sari.
Sari yang entah gimana lepas dari ikatan. Yang entah gimana kabur dari Adrian. Yang sekarang berdiri di sana dengan napas tersengal, baju robek, wajah penuh darah yang bukan darahnya.
"Sari?" Arjuna gak percaya. "Gimana kau... gimana kau bisa..."
"Ratna," jawab Sari sambil jalan limbung ke arahnya. Arjuna langsung tangkap dia sebelum jatuh. "Ratna datang. Dia serang bodyguard Adrian. Kasih aku kesempatan kabur. Dia bilang... dia bilang aku harus balik ke sini. Harus pastiin kau gak pergi ke jebakan Adrian."
"Dimana Ratna sekarang?" tanya Arjuna sambil peluk Sari erat. "Dia aman?"
Sari menggeleng pelan. Tangannya gemetar pegang baju Arjuna.
"Dia ditangkap," bisiknya. "Adrian tangkap dia. Dan sekarang dia... dia yang jadi sandera. Dia, Hendrawan, dan Pixel. Mereka bertiga."
"Tidak..." Arjuna rasakan kakinya lemas. "Tidak dia gak boleh..."
"Dia mau kayak gitu," Sari natap dia dengan mata yang basah. "Dia bilang ke aku sebelum aku kabur. Dia bilang 'lari. Selamatkan Arjuna dari kebodohannya sendiri. Jangan biarkan dia mati untuk orang tua kayak aku'."
Dua menit.
Timer terus berjalan.
"Kita harus matiin sistem," kata Sari sambil lepas dari pelukan, jalan ke komputer. "Harus pencet tombol itu pas timer habis. Itu kan yang Ratna bilang?"
"Iya tapi..." Arjuna natap layar. "Tapi kalau kita matiin The Protocol, Adrian gak punya alasan untuk tahan mereka. Dia akan bunuh mereka semua."
"Atau dia gak akan," kata Sari. "Mungkin dia bluff. Mungkin dia cuma mau kita pikir dia akan bunuh mereka supaya kita gak matiin sistem."
"Dan kalau dia gak bluff?"
Sari diam. Gak bisa jawab.
Satu menit tiga puluh detik.
"Aku gak bisa," bisik Arjuna. Tangannya turun dari mouse. "Aku gak bisa pencet tombol itu kalau itu artinya ayahku mati. Ratna mati. Pixel mati. Aku gak bisa hidup dengan darah mereka di tanganku."
"Tapi kau bisa hidup dengan darah ribuan orang lain?" tanya Sari. Suaranya gak marah. Cuma lelah. "Kau bisa hidup tau kau punya kesempatan selamatkan mereka tapi kau pilih gak ambil kesempatan itu?"
"Itu beda."
"Kenapa beda?" Sari pegang wajahnya. Paksa dia natap matanya. "Kenapa nyawa orang yang kau kenal lebih berharga dari nyawa orang yang gak kau kenal? Mereka semua manusia. Semua punya keluarga. Semua punya orang yang sayang mereka."
"Karena aku kenal mereka!" Arjuna berteriak. "Karena aku cinta mereka! Karena mereka... mereka keluargaku. Dan aku gak bisa... aku gak bisa kehilangan keluarga lagi. Gak sanggup."
Satu menit.
Sari peluk dia. Peluk erat sambil nangis di dadanya.
"Aku tau," bisiknya. "Aku tau kau gak sanggup. Aku juga gak sanggup. Tapi kita harus. Harus karena itu yang benar. Yang mereka mau kita lakukan."
"Aku gak peduli apa yang benar," Arjuna peluk balik. "Aku cuma peduli kau. Peduli ayah. Peduli..."
"Maka peduli juga sama ribuan orang di luar sana yang lagi mati," potong Sari. Dia lepas pelukan. Jalan ke komputer. Tangan di atas mouse. "Aku akan pencet. Aku yang nanggung dosa ini. Kau gak perlu..."
"Tidak," Arjuna pegang tangannya. "Kalau ada yang harus nanggung, kita nanggung bareng."
Tiga puluh detik.
Mereka berdua berdiri di depan komputer. Tangan di atas mouse. Natap timer yang terus turun.
Dua puluh detik.
"Maafkan aku yah," bisik Arjuna. "Maafkan aku karena aku gak bisa selamatkan kau."
"Gak ada yang perlu dimaafkan," jawab Sari. "Kau udah selamatkan aku berkali kali. Sekarang waktunya aku selamatkan orang lain."
Sepuluh detik.
Sembilan.
Delapan.
"Aku cinta kau," kata Arjuna.
"Aku juga cinta kau," jawab Sari.
Lima.
Empat.
Tiga.
Dua.
Satu.
Mereka pencet tombol bareng.
Layar berubah. Muncul tulisan: "SHUTDOWN PROTOKOL DIMULAI. ESTIMASI WAKTU: 60 DETIK."
Progress bar mulai jalan. Perlahan. Terlalu perlahan.
Lima puluh detik.
Empat puluh detik.
Di luar, lampu lampu kota mulai nyala satu per satu. Listrik kembali. Sistem kembali. Kehidupan kembali.
Tiga puluh detik.
Tapi di hati Arjuna ada sesuatu yang mati. Sesuatu yang gak akan pernah bisa hidup lagi.
Dua puluh detik.
Pintu gudang meledak terbuka. Adrian masuk dengan pistol terhunus. Di belakangnya ada Hendrawan, Ratna, dan Pixel. Semua diikat. Semua terluka. Tapi masih hidup.
"BERHENTI!" Adrian berteriak. "Berhenti atau aku bunuh mereka sekarang!"
Sepuluh detik.
Arjuna dan Sari berdiri di depan komputer. Melindungi dengan tubuh mereka.
"Sudah terlambat," kata Arjuna. "Sistemmu hampir mati. Dalam beberapa detik, The Protocol akan shutdown total. Dan kau... kau gak bisa apa apa."
Lima detik.
Adrian angkat pistolnya. Tembak.
Bukan ke Arjuna. Bukan ke Sari.
Tapi ke komputer.
BANG.
Komputer meledak. Percikan api. Asap.
Progress bar berhenti di 98 persen.
"TIDAK!" Sari berteriak.
Tapi sudah terlambat. Komputer rusak total. Shutdown gak selesai.
The Protocol masih aktif.
Adrian tersenyum. "Aku bilang kan? Kalian gak bisa menang melawan aku. Gak akan pernah bisa."
Dia jalan ke mereka. Pistol masih terangkat.
"Sekarang," katanya pelan. "Sekarang aku akan kasih kalian pelajaran terakhir. Pelajaran tentang apa yang terjadi sama orang yang coba lawan aku."
Dia arahkan pistol ke Hendrawan.
"Mulai dari pengkhianat ini."
"JANGAN!" Arjuna lari. Tapi terlambat.
BANG.
Hendrawan jatuh.
Dan dunia Arjuna hancur untuk kedua kalinya.