"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Pengawasan Sang Predator
Alana duduk di balik meja kerja marmernya dengan jemari yang masih bergetar. Layar komputer di hadapannya menampilkan deretan jadwal yang rumit, email yang menumpuk, dan dokumen legal yang bahasanya sama sekali tidak ia pahami. Ia adalah lulusan sastra yang terbiasa dengan puisi dan narasi lembut, bukan angka-angka dingin dan istilah akuisisi perusahaan.
"Tarik napas, Alana. Kamu hanya perlu bertahan sampai jam lima sore," bisiknya pada diri sendiri, meski ia tahu itu adalah kebohongan besar. Di Perusahaan, sekretaris CEO tidak pernah pulang jam lima sore.
Baru saja ia mencoba memahami sistem pengarsipan digital, telepon di mejanya berdering nyaring. Ia tersentak, hampir menjatuhkan tumpukan kertas di sampingnya.
"Ya, Pak Arkan?" jawabnya seformal mungkin.
"Masuk. Sekarang. Bawa berkas proyek Cendana Hills yang seharusnya sudah selesai ditinjau kemarin."
Suara itu datar, tanpa emosi, namun memiliki otoritas yang membuat tulang belakang Alana terasa kaku. Masalahnya adalah: Alana tidak tahu di mana berkas Cendana Hills itu berada. Ia mulai membongkar laci meja Elena dengan panik. Ada lipstik, parfum mahal, surat tagihan kartu kredit atas nama kakaknya—tapi di mana map itu?
Setelah pencarian gila-gilaan selama tiga menit, ia menemukan map berwarna biru tua di laci paling bawah. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuju pintu jati besar itu dan masuk tanpa sempat mengatur napas.
Arkan sedang berdiri di depan dinding kaca, membelakanginya. Bahunya yang lebar terbungkus kemeja putih yang disetrika sempurna. Tanpa menoleh, ia berkata, "Kamu terlambat tiga menit, Elena. Kecepatanmu menurun."
"Maaf, Pak. Saya... saya sedang memastikan tidak ada data yang terlewat," Alana berbohong lagi. Ia meletakkan map itu di atas meja.
Arkan berbalik. Ia tidak langsung memeriksa map itu. Ia justru berjalan mendekati Alana, melangkah perlahan seolah-olah sedang menyudutkan mangsa di hutan rimba. Alana mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh tepian meja kerja yang dingin.
"Baca bagian kesimpulan untukku," perintah Arkan sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Alana menelan ludah. Ia membuka map itu dengan tangan dingin. Matanya menyisir deretan angka dan istilah teknis. Internal Rate of Return, Break-even Point, Amortisasi... Kepalanya mulai pening.
"Ehm, proyek ini... akan memberikan keuntungan besar karena lokasi yang strategis dan... kenaikan harga tanah setiap tahunnya?" Alana mencoba menyimpulkan dengan logika umum.
Suasana seketika menjadi sangat sunyi. Arkan menyipitkan mata, raut wajahnya berubah menjadi lebih tajam dari sebelumnya.
"Hanya itu?" tanya Arkan dengan nada merendah yang berbahaya. "Elena yang kukenal akan menjelaskan detail risiko likuiditas dan persentase bunga bank yang melonjak di kuartal ketiga. Sejak kapan kamu menjadi begitu... sederhana, Elena?"
Arkan kini hanya berjarak beberapa senti dari Alana. Ia meletakkan kedua tangannya di tepian meja, mengunci tubuh Alana di antaranya. Alana terperangkap. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Arkan dan aroma maskulin yang mulai memabukkan indranya.
"Atau mungkin... kamu memang bukan Elena?" Arkan berbisik tepat di depan wajah Alana.
Jantung Alana berdegup begitu kencang hingga ia takut Arkan bisa mendengarnya. "Saya hanya... sedang tidak enak badan, Pak. Fokus saya sedikit terganggu."
"Begitukah?" Arkan menjangkau helai rambut Alana yang keluar dari gelungannya, menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu dengan gerakan yang sangat lambat. "Sakit bisa mengubah kemampuan analisis seseorang, tapi sakit tidak bisa mengubah bentuk telinga atau tanda lahir, bukan?"
Alana mematung. Apakah Arkan menyadari sesuatu? Ia segera menunduk, tidak berani membalas tatapan itu. "Jika Bapak tidak puas dengan kinerja saya hari ini, saya akan memperbaikinya di jam lembur nanti."
"Lembur?" Arkan menyeringai, sebuah senyum tipis yang tampak sangat tampan sekaligus kejam. "Tentu. Kamu akan lembur bersamaku malam ini. Ada jamuan makan malam dengan investor dari Singapura, dan kamu harus mendampingiku sebagai sekretaris pribadi."
"Tapi Pak, saya—"
"Tidak ada penolakan. Pakai gaun yang sudah kukirimkan ke ruanganmu. Jam tujuh malam, sopirku akan menjemputmu."
Arkan menjauhkan tubuhnya, melepaskan "kuncian" yang membuat Alana hampir pingsan karena kekurangan oksigen. Ia kembali ke kursi kebesarannya seolah tidak terjadi apa-apa. "Sekarang keluar. Dan jangan biarkan kopi di luar sana dingin lagi."
Alana keluar dengan kaki lemas. Di mejanya, benar saja, sudah ada sebuah kotak hitam besar berlogo brand ternama. Di dalamnya terdapat sebuah gaun malam berbahan satin berwarna merah marun yang sangat berani. Ada juga sebuah catatan kecil di atasnya:
“Jangan biarkan kacamata jelek itu merusak gaun ini. Pakai lensa kontakmu, atau aku sendiri yang akan melepas kacamatamu di depan semua orang.” — A.
Alana meremas catatan itu. Pria itu benar-benar iblis. Arkan tidak hanya mempekerjakannya, dia sedang mengendalikan setiap gerak-gerik Alana.
Sore harinya, Alana menghabiskan waktu di toilet kantor, mencoba memasang lensa kontak yang belum pernah ia pakai seumur hidupnya. Matanya memerah, tapi ia berhasil. Ia memoles wajahnya dengan riasan tipis, sangat berbeda dengan riasan tebal kakaknya. Saat ia memakai gaun itu, ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk pinggangnya yang ramping dan pundaknya yang putih bersih.
Tepat jam tujuh, sebuah Rolls-Royce hitam menunggunya di lobi. Di dalam mobil, Arkan sudah menunggu. Ia mengenakan tuksedo hitam yang membuatnya tampak seperti pangeran dari kegelapan.
Saat Alana masuk ke mobil, Arkan berhenti bermain dengan ponselnya. Matanya terpaku pada Alana selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Ada kilat kekaguman yang sempat melintas, sebelum kembali tertutup oleh topeng kedinginannya.
"Lumayan," komentar Arkan singkat. "Tapi ingat tugasmu. Jangan banyak bicara, cukup tersenyum dan pastikan dokumen kontrak tetap aman di tanganmu. Dan satu lagi..."
Arkan condong ke arah Alana, tangannya menarik pinggang Alana agar duduk lebih dekat dengannya di kursi belakang yang luas itu.
"Selama di pesta, jangan sebut namaku dengan embel-embel 'Pak'. Panggil aku Arkan. Kita harus terlihat... lebih dari sekadar atasan dan bawahan untuk meyakinkan investor bahwa perusahaan ini dikelola dengan kepercayaan penuh."
"Tapi itu tidak profesional," protes Alana.
Arkan menarik dagu Alana agar menatapnya. "Di duniaku, profesionalisme ditentukan oleh hasil, bukan panggilan. Paham, Sayang?"
Kata 'Sayang' yang diucapkan Arkan dengan nada sarkastik itu membuat sekujur tubuh Alana merinding. Mobil pun melaju membelah kemacetan Jakarta, membawa Alana menuju malam yang akan mengubah hidupnya selamanya. Ia tidak tahu bahwa di pesta nanti, ia tidak hanya akan berhadapan dengan investor, tapi juga dengan orang dari masa lalu Elena yang bisa membongkar penyamarannya dalam sekejap.
Di sisi lain, Arkan melirik Alana dari sudut matanya. Ia tahu gadis ini bukan Elena. Elena memiliki tato kecil di belakang lehernya, sementara gadis ini bersih. Arkan sengaja membawanya ke pesta ini untuk satu tujuan: melihat sejauh mana "tikus kecil" ini bisa menari sebelum ia benar-benar menjeratnya dalam perangkap yang tak bisa dihindari.