Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Ai Membawa Kebahagiaan
Di ruang bawah tanah yang tersembunyi itu, suasananya justru terasa jauh dari kata tegang.
Ayah Kai duduk santai di salah satu sofa besar, kemejanya tergulung rapi di lengan, sementara di sampingnya, Ibu Kai sedang menggendong Ai dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Bayi kecil itu tampak ceria, tangannya bergerak-gerak, sesekali tertawa kecil seolah dunia di sekitarnya benar-benar aman.
Yuki duduk tidak jauh dari mereka, memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Ada keharuan, ada rasa syukur, dan ada kehangatan yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya. Ia masih sering cemas, masih kadang terbangun dengan jantung berdebar, tapi melihat keluarga ini melihat bagaimana mereka menerima Ai dengan penuh kasih membuat napasnya terasa lebih ringan.
Ayah Kai melirik ke arah cucunya, lalu tersenyum lebar. “Anak ini benar-benar membawa suasana berbeda ke rumah,” katanya santai. “Dulu tempat ini hanya dipakai untuk rapat, rencana keamanan, atau sekadar tempat berlindung. Sekarang… rasanya seperti rumah sungguhan.”
Ibu Kai tertawa kecil, mengelus pipi Ai. “Karena ada tawa bayi di sini. Rumah tanpa tawa itu hanya bangunan kosong.”
Ayah Kai mengangguk setuju. Ia lalu menoleh ke Yuki. “Kau tidak perlu khawatir berlebihan, Nak. Selama kami di sini, tidak ada yang akan menyentuhmu atau Ai. Kai juga sedang melakukan bagiannya di luar sana.”
Yuki menunduk sedikit, lalu tersenyum tipis. “Terima kasih, Ayah… Ibu… Aku… benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi.”
“Tidak perlu berkata apa-apa,” jawab Ibu Kai lembut. “Cukup istirahat, jaga kesehatanmu, dan rawat Ai dengan tenang. Itu sudah lebih dari cukup.”
Ai tiba-tiba tertawa kecil, seperti mengerti pembicaraan mereka. Ayah Kai ikut tersenyum, lalu mengulurkan jari ke arah tangan kecil itu. Ai langsung menggenggamnya, membuat pria itu terkekeh pelan.
“Lihat?” katanya sambil menatap istrinya. “Di luar sana mungkin dunia sedang ribut, tapi di sini… kita masih bisa tersenyum.”
Ibu Kai mengangguk, matanya penuh kehangatan. “Dan kita akan terus tersenyum, sampai Kai pulang membawa kabar baik.”
Di ruang bawah tanah yang kokoh dan aman itu, di tengah segala ancaman yang masih mengintai di luar, mereka memilih menikmati momen sederhana keluarga, tawa kecil seorang bayi, dan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Yuki sering kali duduk termenung di sudut ruangan bawah tanah itu, memandangi Ai yang tertidur pulas di pelukannya, lalu mengingat semua yang sudah ia lewati. Kadang ia masih sulit percaya hidupnya benar-benar berubah seratus persen.
***
Dulu, setiap hari adalah ketakutan. Setiap langkah penuh kewaspadaan. Setiap suara keras bisa membuat jantungnya seolah berhenti. Ia hidup dalam bayang-bayang ancaman, dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat aman, tetapi justru menjadi neraka baginya.
Sekarang… semuanya terasa seperti dunia lain.
Ia diratukan oleh Kai suaminya yang selalu memperlakukannya dengan lembut, yang tak pernah meninggikan suara, yang selalu memastikan ia dan Ai baik-baik saja sebelum memikirkan hal lain. Bukan hanya itu, ia juga disayang oleh Ayah dan Ibu Kai seperti anak mereka sendiri. Para asisten, bahkan anak buah Kai yang biasanya terlihat dingin dan keras, memperlakukannya dengan penuh hormat dan perhatian. Tidak ada tatapan merendahkan. Tidak ada bentakan. Hanya kepedulian yang tulus.
Kadang Yuki tersenyum sendiri, lalu berbisik pelan, “Ini seperti mimpi…”
Seperti mimpi di siang bolong bertemu seseorang yang terasa seperti pangeran, datang tanpa ia minta, menariknya keluar dari kegelapan, lalu menempatkannya di dunia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia menatap Kai yang sedang berbicara dengan salah satu asistennya di kejauhan. Pria itu memang hidup di dunia yang keras, penuh bahaya, penuh keputusan dingin. Dunia Kai adalah dunia yang gelap. Tapi entah kenapa, di sisi Yuki dan Ai, pria itu justru menghadirkan warna kehangatan, perlindungan, dan ketenangan yang selama ini hanya bisa ia impikan.
“Hidupmu memang gelap,” gumam Yuki dalam hati, “tapi di sisiku… kau seperti cahaya.”
Ia menunduk, mencium kening Ai yang mulai bergerak gelisah dalam tidur. Hatinya terasa penuh. Penuh syukur. Penuh harapan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yuki merasa… ia benar-benar hidup, bukan sekadar bertahan.
Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat.
Dua bulan sudah mereka tinggal di ruang bawah tanah itu—tempat yang awalnya terasa seperti persembunyian, kini perlahan berubah menjadi rumah kedua. Di sana, hari-hari diisi dengan rutinitas sederhana, tawa kecil Ai, obrolan ringan Yuki bersama Ibu Kai, serta perhatian Ayah Kai yang selalu tampak santai tapi penuh kewaspadaan.
Dan di salah satu pagi yang cerah, momen itu pun tiba.
Ai, yang kini sudah berusia sepuluh bulan, berdiri dengan kedua kaki kecilnya yang masih gemetar. Tangannya berpegangan pada meja rendah di ruang keluarga bawah tanah. Matanya berbinar, seolah sedang menantang dirinya sendiri.
“Sayang… pelan-pelan ya,” ucap Yuki sambil berjongkok di depan putrinya, kedua tangannya terbuka, siap menangkap kapan pun Ai jatuh.
Ibu Kai berdiri di samping, menahan napas, wajahnya penuh harap. “Ayo, Ai… ke sini… ke Oma…”
Ayah Kai sudah siap dengan senyum lebar, sementara salah satu asisten mengangkat ponsel, merekam setiap detik dengan hati-hati. Mereka tidak ingin melewatkan satu pun momen berharga itu.
Ai melepaskan pegangan.
Satu langkah kecil. Goyah. Lalu satu langkah lagi.
“Ya Tuhan… dia jalan!” seru salah satu asisten, suaranya nyaris berbisik karena tak ingin mengganggu konsentrasi si kecil.
Ai terhuyung, hampir jatuh, tapi ia menahan diri, lalu melangkah lagi. Tiga… empat langkah… dan akhirnya ia jatuh ke pelukan Yuki.
Yuki tertawa sambil memeluk putrinya erat. “Kamu hebat sekali, Nak… hebat sekali…”
Ai malah tertawa kecil, bangga, seolah mengerti bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang besar.
Ibu Kai menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. “Cepat sekali dia tumbuh…”
Ayah Kai tersenyum lebar, lalu menepuk bahu Yuki dengan lembut. “Momen seperti ini… yang membuat semua perjuangan terasa sepadan.”
Asisten itu masih merekam, memastikan semuanya tersimpan rapi. “Tuan Kai pasti ingin melihat ini nanti,” katanya sambil tersenyum.
Yuki mengangguk, menatap Ai yang kini mencoba berdiri lagi dengan penuh semangat. Hatinya hangat. Di tengah persembunyian, di tengah segala ancaman yang masih ada di luar sana, mereka tetap bisa menciptakan kenangan indah.
Dan pagi itu, tawa kecil Ai yang belajar berjalan menjadi pengingat sederhana: hidup terus berjalan… dan harapan selalu tumbuh, bahkan di tempat yang paling tak terduga.
***
Untukmu yang memilih membuka halaman demi halaman novel ini terima kasih.
Setiap kata di sini lahir dari rasa, luka, dan harapan yang mungkin pernah singgah di hatimu.
Bacalah perlahan, resapi, dan biarkan ceritanya menemanimu.
Semoga kamu menemukan bagian dirimu sendiri di antara baris-barisnya.