Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menimbang
Hari Minggu itu, sejak bangun pagi saja Lala sudah merasa lelah. padahal ia belum melakukan apa-apa. Undangan pernikahan sepupunya tergeletak rapi di meja, tapi rasanya seperti beban. Bukan karena ia tidak ikut bahagia, melainkan karena ia sudah bisa menebak apa saja yang akan ia dengar nanti.
Tante-tante.
Pertanyaan-pertanyaan.
Nada bercanda yang terasa seperti tuntutan.
Ia sempat berniat mencari alasan agar tidak datang, tapi suara mamanya di telepon terdengar tidak bisa ditawar.
“Dateng ya, La. Jangan putus silaturahmi. Mama sama ayah udah di sini,” kata mamanya.
Nada yang bukan memohon, tapi juga bukan memerintah lebih ke harapan.
Akhirnya Lala mengalah. Ia berangkat sendiri menggunakan taksi online, duduk diam sepanjang perjalanan sambil menatap keluar jendela. Gedung resepsi semakin dekat, dan perasaan tidak nyamannya ikut menguat.
Sesampainya di sana, acara resepsi sudah dimulai. Ia melewatkan ijab kabul yang berlangsung pagi hari. Siang itu, setelah Zuhur, suasana gedung ramai oleh tamu yang datang dan pergi, tawa, dan ucapan selamat yang bersahut-sahutan. Lala berniat hanya sebentar datang, salaman, lalu pulang.
Tapi rencananya buyar begitu saja.
Belum juga lima menit ia berdiri, salah satu tantenya yang terkenal paling bawel langsung menarik perhatiannya.
“Lalaaa,” panggilnya dengan senyum lebar.
“Kamu kapan nyusul?”
“Ayo cepet, ini tinggal kamu doang loh yang perempuan belum nikah di antara sepupu-sepupu kamu.”
Lala tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip refleks daripada keikhlasan.
“Iya, Tante. Nanti,” jawabnya singkat.
Kata nanti itu lagi.
Kata yang selalu jadi tameng.
Ia tidak menunggu percakapan berlanjut. Dengan alasan mengambil minum, Lala menjauh dari kerumunan. Ia berdiri agak ke pinggir, mengamati ruangan dari kejauhan. Sepupu-sepupunya tertawa, saling pamer cincin, perut membesar, atau rencana rumah baru.
Dadanya terasa sesak.
Kenapa semua orang berbicara seolah menikah adalah garis finish?
Seolah hidup baru benar-benar dimulai setelah itu.
Seolah semua yang belum menikah sedang tertinggal.
Dari kejauhan, Lala melihat mamanya berjalan menghampirinya. Langkahnya tergesa, wajahnya terlihat khawatir begitu bertemu tatapan mata Lala.
“La...”
“Mah,” potong Lala cepat, suaranya tertahan tapi jelas.
“Mamah kalo mau ngomong hal yang sama kayak yang lain, aku pulang sekarang ya.”
Ia mengatakannya tanpa menunggu kelanjutan kalimat mamanya. Bukan karena ia tidak sayang, tapi karena ia tahu kalau pembicaraan itu dimulai, ia tidak yakin bisa menahannya dengan kepala dingin.
Lala berdiri di sana, di tengah pesta yang meriah, merasa sendirian di antara begitu banyak orang.
Mamannya Lala terdiam beberapa detik. Ekspresinya berubah. bukan marah, bukan tersinggung, tapi kaget melihat nada putrinya yang biasanya menahan diri, kali ini terdengar benar-benar lelah.
Mama menghela napas pelan, lalu mendekat satu langkah.
“Lala,” katanya lebih lembut, “Mama nggak mau ngomong kayak mereka.”
Lala masih berdiri kaku, tasnya ia pegang erat.
“Terus mau ngomong apa, Mah?” tanyanya pelan, nyaris seperti tantangan.
Mama menoleh sebentar ke arah keramaian, memastikan tidak ada yang terlalu memperhatikan mereka. Setelah itu ia kembali menatap Lala, matanya sedikit berkaca.
“Mama cuma mau tau... kamu kenapa keliatan capek banget sama semua ini.”
Kalimat itu membuat Lala terdiam. Bukan karena ia tidak punya jawaban, tapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sedang diinterogasi.
“Aku nggak nyaman, Mah,” jawab Lala akhirnya jujur. “Di sini, sama pertanyaan-pertanyaan itu. Aku ngerasa salah terus cuma karena belum nikah.”
Mama mengangguk pelan, seolah mencerna.
“Mama tau kamu ngerasa ditekan. Mama liat itu,” katanya. “Tapi Mama juga capek, La... capek denger orang nanya hal yang sama ke Mama.”
Lala menoleh cepat.
“Mereka nanya seolah Mama gagal,” lanjutnya lirih. “Seolah Mama nggak becus ngurus anak perempuan sendiri. Mama cuma pengen kamu aman, punya temen hidup. Itu aja.”
Hening menyelimuti mereka. Suara musik dan tawa tamu terasa jauh.
“Aku nggak bilang nggak mau nikah, Mah,” kata Lala pelan. “Aku cuma... belum siap. Dan aku benci dipaksa dan kelihatan seolah aku salah.”
Mama menatap Lala lama. Lalu, dengan suara yang lebih hati-hati, ia berkata,
“Kemarin Rendra, ada kan”
Jantung Lala berdegup sedikit lebih cepat.
Mama melanjutkan, “Mama nggak nanya kapan. Mama cuma mau tau... itu beneran, atau cuma alasan biar Mama berhenti nanya?”
Lala menunduk. Wajah Rendra terlintas begitu saja di kepalanya. danau sore hari, kue kecil, cincin sederhana di telapak tangan yang sedikit gemetar.
“Beneran, Mah,” jawab Lala akhirnya.
Mama tersenyum tipis. Bukan senyum puas, tapi senyum lega.
“Yaudah,” katanya. “Kita pulang aja, ya. Kamu keliatan nggak betah.”
Lala mengangkat wajahnya, sedikit terkejut.
“Beneran?”
Mama mengangguk.
“Beneran. Hari ini bukan harinya kamu.”
Lala menarik napas panjang, sesuatu di dadanya terasa sedikit lebih ringan. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa dipilih bukan dituntut.
Dan di perjalanan pulang nanti, di dalam taksi yang sunyi, Lala tahu satu hal:
ia tidak bisa terus menghindar.
Cepat atau lambat, ia harus memutuskan. bukan demi orang lain, tapi demi dirinya sendiri.
Di dalam taksi online, Lala duduk di kursi belakang sambil menatap keluar jendela. Jalanan siang itu ramai, tapi pikirannya justru berisik sendiri. Percakapan singkat dengan mamanya terus terulang di kepalanya, bercampur dengan suara Rendra beberapa hari lalu tenang, tapi sarat beban.
Ada seseorang.
Kalimat itu yang tadi ia ucapkan ke mamanya. Dan sekarang, ia baru benar-benar menyadari betapa besar maknanya.
Ponselnya bergetar pelan di tangan. Nama Rendra muncul di layar.
Ren:
Lo masih di acara sepupu lo?
Lala menarik napas, lalu membalas.
Lala:
di jalan pulang. Capek.
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Ren:
Gue tebak juga. Mau gue jemput di rumah?
Lala hampir tersenyum refleks. Hampir. Tapi tangannya berhenti di atas layar. Ia mengetik, lalu menghapus. Mengetik lagi.
Lala:
Gak usah. Gue mau sendirian dulu.
Tidak lama, balasan datang.
Ren:
Oke. Gue di sini ya kalau lo butuh.
Sesederhana itu. Tidak memaksa. Tidak bertanya macam-macam. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dada Lala terasa semakin penuh.
Sesampainya di rumah, Lala langsung masuk ke kamar. Ia menaruh tas sembarang, melepas sepatu, lalu duduk di tepi ranjang tanpa menyalakan lampu. Cahaya sore masuk dari sela gorden, membuat bayangan panjang di lantai.
Untuk pertama kalinya, Lala benar-benar membiarkan dirinya berpikir.
Tentang mamanya.
Tentang pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah berhenti.
Tentang Rendra dan caranya hadir tanpa banyak suara, tapi selalu tepat waktu.
“Kenapa harus dia sih...” gumam Lala pelan, lebih ke dirinya sendiri.
Ia teringat jelas ekspresi Rendra saat mengatakan nikah. Tidak dramatis. Tidak berlebihan. Tapi matanya… penuh harap dan takut sekaligus. Seolah ia sudah siap ditolak, tapi tetap nekat meminta.
Lala merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit.
Ia tidak jatuh cinta seperti di film-film. Tidak ada degup yang meledak-ledak. Tapi ada rasa aman yang pelan-pelan tumbuh dan itu justru yang paling menakutkan.
Karena rasa aman berarti kemungkinan kehilangan.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini panggilan dari Mama.
“Lala udah di rumah?” tanya mamanya.
“Udah, Mah.”
“Hari ini makasih ya udah datang,” ucap Mama. “Mama tau kamu nggak nyaman.”
Lala terdiam sebentar.
“Iya, Mah.”
Mama melanjutkan, suaranya lebih hati-hati, “Tentang yang tadi... Mama nggak akan maksa sekarang. Tapi kapan-kapan, kalau kamu siap cerita, Mama dengerin.”
Telepon ditutup. Lala menatap layar yang sudah gelap.
Hari itu tidak memberinya jawaban. Tapi satu hal jadi jelas.
ia tidak bisa lagi berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Di luar, langit mulai gelap. Dan di dalam diri Lala, sesuatu perlahan bergeser bukan menuju keputusan, tapi menuju keberanian untuk akhirnya jujur.
Malam turun pelan-pelan. Lala masih di kamar, lampu tetap mati, hanya cahaya dari layar ponsel yang sesekali menyala. Ia sudah mandi, berganti baju rumah, tapi pikirannya belum juga sampai rumah.
Nama Rendra kembali muncul. Kali ini bukan chat telepon.
Lala menatap layar itu lama. Beberapa detik. Lalu mengangkatnya.
“Ren.”
“Suara lo kedengaran capek,” kata Rendra tanpa basa-basi.
“Emang,” jawab Lala jujur.
Rendra tidak langsung menimpali. Ada jeda singkat, cukup untuk membuat Lala tahu ia sedang benar-benar mendengarkan.
Lala tersenyum tipis, senyum yang tidak terlihat siapa-siapa.
“Lo tuh nyebelin tau gak,” katanya pelan.
“Hah? Kenapa lagi gue?” Rendra terkekeh kecil.
“Karena lo selalu dateng dengan cara yang... aman,” kata Lala, jujur tanpa sadar. “Gue jadi bingung sendiri.”
Tawa Rendra mereda. Suaranya jadi lebih rendah.
“La... gue nggak minta jawaban sekarang. Bahkan kalau jawaban lo nanti bukan iya, gue tetep di sini.”
Kalimat itu membuat dada Lala menghangat sekaligus sesak.
“Ren,” Lala ragu, “kalau misalnya... misalnya gue bilang gue takut?”
“Takut itu wajar,” jawab Rendra cepat, seolah sudah siap dengan jawaban itu. “Gue juga takut.”
“Takut apa?”
“Takut lo nolak. Takut kehilangan lo sebagai temen. Tapi gue lebih takut kalau gue diem aja dan nyesel.”
Hening lagi. Kali ini tidak canggung. Lebih seperti dua orang yang sama-sama lelah tapi enggan menutup sambungan.
“Ayah lo gimana sekarang?” tanya Lala akhirnya.
Rendra menghela napas. “Masih sama. Lebih sering tidur. Kadang sadar, kadang enggak. Tapi tiap gue pulang, dia selalu nanya hal yang sama.”
Lala menelan ludah.
“Makanya,” lanjut Rendra, “kalau lo akhirnya bilang enggak... gue terima. Beneran. Gue cuma pengen lo tau kenapa gue sampai sejauh itu minta.”
“Gue ngerti, Ren,” suara Lala sedikit bergetar. “Dan justru itu yang bikin gue makin berat.” lanjutnya dalam hati.
“Ambil waktu lo,” kata Rendra lembut. “Gue nggak kemana-mana.”
Setelah telepon ditutup, Lala tetap memegang ponselnya. Kali ini bukan karena bingung, tapi karena hatinya sedang belajar menerima satu hal sederhana. Rendra tidak datang membawa tuntutan.
Ia datang membawa kejujuran.
Lala bangkit dari ranjang, membuka gorden. Malam di luar sunyi. Untuk pertama kalinya sejak lama, Lala merasa tidak sepenuhnya sendirian menghadapi tekanan dunia.
Belum ada jawaban.
Belum ada keputusan.
Tapi ada satu langkah kecil yang baru ia sadari.
ia tidak lagi ingin lari sejauh itu dari kata nikah setidaknya, bukan jika kata itu datang dari Rendra.
Dan itu... membuatnya takut sekaligus tenang.
semangat kak... salam dari Edelweiss...