Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.
"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik kegelapan malam
Dengan susah payah Jordan memaksa Adrian untuk memberikan setengah sahamnya kepada Georgio, dengan iming-iming akan mengembangkan perusahaan kecil itu menjadi besar saat dia sudah sukses kembali. Dengan berat hati Adrian akhirnya menyetujuinya, sebagai harga untuk kebangkitan Jordan.
Kini, Jordan telah pindah dari rumah kecil yang suram itu. Ia kembali menempati rumah mewahnya yang dulu sempat disita, berkat suntikan dana dan campur tangan tim hukum Georgio yang bekerja dengan kecepatan tanpa cela. Perusahaan Jordan yang hancur, kini berada dalam proses rekonstruksi yang dikendalikan penuh oleh Cassano Grup. Jordan memang sudah mendapatkan asetnya kembali, namun rasanya seperti mengenakan pakaian yang kebesaran, semua kekuasaan itu palsu, hanya pinjaman yang bisa ditarik kapan saja.
Di kantornya, Jordan duduk menghadap layar komputer, menganalisis laporan keuangan yang disajikan oleh tim baru. Ia mengenakan setelan jas mahal, rambutnya tertata rapi. Secara fisik, ia telah kembali ke wujud Jordan yang dulu, pengusaha muda yang sukses. Namun, matanya menyimpan bara api yang siap meledak.
“Tuan Jordan,” sapa Albert, kepala asisten kepercayaan Georgio, yang kini nyaris menjadi bayangan Jordan. Albert selalu ada di sana, mengawasi, memastikan Jordan mengikuti setiap instruksi dari atasannya. Albert diperintahkan Georgio untuk menjadi sekretaris Jordan. Sedangkan Cassandra menggantikan posisi sementara Albert, menjadi sekretaris Georgio. Tujuan Georgio tentu untuk memata-matai pergerakan Jordan, yang kelak bisa membuatnya lebih mudah menghancurkannya untuk kedua kalinya.
Jordan menyahut datar, tanpa menoleh. “Laporan triwulan ini. Kenapa keuntungan dari lini properti masih belum ada keuntungan? Bukankah Gio menjanjikan pemulihan cepat?” ujar Jordan, yang membuat Albert belum sempat membuka suara.
Albert berdiri tegak di samping meja. “Bapak Georgio sudah berjanji, Tuan. Namun, beliau juga berpesan, Semua yang dihancurkan oleh kebodohan tidak bisa dibangun kembali dalam semalam. Proses pembersihan hutang dan pengembalian aset membutuhkan waktu. Kalau terburu-buru takutnya kita akan membuat kesalahan."
Kata kebodohan dan kesalahan yang keluar dari mulut Albert terasa seperti pukulan. Jordan mengepalkan tangan di bawah meja. Georgio jelas sengaja mempersulit dirinya. Seakan semua yang dia kerjakan harus sesuai izinnya.
“Sampaikan padanya,” ujar Jordan, suaranya dingin, “Saya sudah memberikan apa yang dia minta. Sekarang dia harus menepati janjinya.”
Albert hanya tersenyum tipis, senyum profesional yang tidak mencapai matanya. “Saya akan menyampaikannya, Tuan Jordan. Namun, saya harus mengingatkan, Tuan sebaiknya fokus pada pemulihan perusahaan, bukan pada hal-hal lain..” ujar Albert.
Jordan terdiam, Hal lain apa yang dia kerjakan? Selama ini dia hanya fokus pada pemilihan perusahaan, tidak ada hal lain. Tapi memang belakangan ini dia juga sering menemui Annabella, mencoba memperbaiki hubungan mereka. Jordan sungguh menyesal memperlakukan Annabella dengan keji dulu. Penyesalan itu menjadi bahan bakar yang memaksanya menelan harga diri.
"Apa dia masih mencintai Annabella? Kenapa hal seperti ini harus dia permasalahkan? Selain dikantor saya hanya sibuk dengan dia."Albert menggeleng.
"Tidak, tuan. Bapak Georgio mencinta istrinya, sudah lama tidak berhubungan lagi dengan nona, Annabella."
Jordan bangkit dari kursi, berjalan menuju jendela, menatap pemandangan kota yang sudah kembali"Sudahlah, kamu boleh keluar."ucapnya
Albert mengangguk. "Baik. Bapak Georgio juga berpesan, semua yang di ambil, akan diganti, asalkan Tuan Jordan mematuhi."
Setelah Albert meninggalkan ruangan, Jordan meninju dinding di sebelahnya.
"Sialan!" Kesalnya, rahangnya mengeras. "Dia tidak akan pernah berhenti sampai saya benar-benar hancur. Tapi saya tidak akan pernah menyerah. Saya akan mengambil kembali semuanya."
Jordan memang sudah kembali ke permukaan, sudah bernapas lega dari lumpur kehancuran. Tapi udara yang ia hirup kini beracun, terkontaminasi oleh kendali Georgio, pertarungan ini belum berakhir. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk menusuk dari belakang, setelah ia cukup kuat berdiri di kakinya sendiri.
★★★
Cassandra mengetuk gelas ditangannya menggunakan jarinya, dia duduk di meja makan seorang diri dengan pikiran yang melayang entah kemana. Sebelah tangannya menopang dagunya, mengenakan baju tidur sutra mewah.
Malam ini rasanya sangat membosankan bagi Cassandra. Malam ini Georgio tidak dirumah karena ada perjalanan bisinis, namun hanya satu hari, besok dia kembali. Tapi Cassandra sudah terbiasa tidur berdua dengannya. Membuatnya menjadi ketergantungan.
Cassandra sebenarnya ingin ikut, ditambah dia sekarang menjadi sekretaris sementara Georgio. Wajar kalau Cassandra juga ikut, tapi dia malah melarangnya dan memilih mengajak Albert. Katanya untuk tender kali ini, Albert lebih paham. Dan dia meminta Cassandra untuk dirumah, tidak boleh kemana-mana.
Sore tadi mereka berangkat, dan akan kembali sore besok. Cuma sehari tapi rasanya sepekan. Sibuk dengan lamunannya tiba-tiba ponselnya Cassandra berdering. Nama Olivia tertera disana.
Dengan malas Cassandra mengangkatnya. "Ada apa?"ujarnya.
"Aku di clab, tapi kali ini tenang saja, aku tidak mabuk."Cassandra menghela nafas kasar.
"Jangan memintaku kesana lagi, kamu lupa? Namamu sudah jelek Dimata suamiku. Kalau kejadian lagi, aku tidak akan boleh berteman denganmu."Cassandra menjawab dengan malas.
"Aku tau, aku bukan mengajak untuk minum, tapi aku melihat orang yang kamu kenal ada disini."Cassandra mengerutkan dahinya.
"Siapa?"tanyanya penasaran.
"Annabella, dia mantan suamimu kan?"mata Cassandra melebar mendengar itu. Seorang Annabella ke clab malam? Yang benar saja.
"Serius?"tanya Cassandra memastikan.
"Kenapa aku harus bohong, ya serius lah." Cassandra berdiri dari duduknya. Dia langsung berlari menuju tangga.
"Tunggu disana, awasi dia jangan sampai hilang."ucap Cassandra dan mematikan sambungan telepon nya sepihak.
Dia harus melihat langsung dan memastikan kenapa Annabella ada disana. Seorang protagonis tidak akan seliar itu.
★★★
Suara dentuman musik menari di udara, diruangan remang-remang yang hanya di terangi lampu-lampu disko. Cassandra celingak-celinguk mencari keberadaan Olivia, terlihat Olivia duduk disofa dengan seorang pria disebelahnya. Cassandra hanya geleng-geleng kepala melihatnya, Olivia ini benar-benar liar, namun Cassandra tidak peduli, yang dia pedulikan saat ini hanya keberadaan Annabella.
"Oliv, Dimana dia."Olivia bangkit, berdiri disebelah Cassandra.
Karena terhalang keramaian, Olivia menggeser, manarik Cassandra sedikit sembari menatap sekitar mencari keberadaan Annabella. "Itu dia bukan?"tunjuk Olivia pada seorang gadis menggunakan dress peach, tengah duduk di bar dengan meneguk minumannya. Dia terlihat seperti banyak masalah.
Cassandra mengangguk."Benar, tapi dia kenapa ya?"tanya Cassandra penasaran. Ekspresi Cassandra yang serius memperhatikan Annabella membuat Olivia menggaruk tengkuknya heran. Kenapa Cassandra se peduli itu dengan Annabella. Apa mungkin dia berniat balas dendam, karena pernah menjadi cinta suaminya?
"Aku rasa dia patah hati mungkin."tebak Olivia. Cassandra beralih menatap Olivia.
"Patah hati?" Tanya Cassandra yang di angguki Olivia. Cassandra kembali menatap Annabella. Bisa jadi dia memang patah hati, tapi dengan siapa? Georgio kah atau Jordan? Tapi, Cassandra merasa tidak mungkin karena Georgio, ucapan Georgio padanya waktu itu, rasanya sudah cukup untuk menghilangkan rasa cinta Annabella untuk Georgio. Tapi kalau bukan Georgio, berati Jordan? Cassandra tersenyum kecil, rasa penasarannya sepetinya harus di tangani.
"Aku mau ketempat dia, mau ikut?"tanya Cassandra yang di angguki semangat oleh Olivia.
"Boleh, sepertinya menyenangkan disana dari pada disini."Cassandra hanya mengangguk dan berjalan menghampiri Annabella yang di ikuti Olivia.
Cassandra dan Olivia duduk di sisi kanan dan kiri Olivia. Annabella yang sepertinya sudah mabuk, hanya menatap mereka berdua sekilas dan kembali meneguk minumannya.
"Kalian kesini kalau mau menertawakan saya, lebih baik pergi."ucapnya pelan. Olivia memandangi Cassandra yang juga dibalasnya, seakan meminta Cassandra membuka suara.
"Siapa bilang kita mau menertawakan kamu. Kita hanya prihatin, kalau butuh teman cerita aku siap mendengar."ucap Cassandra dengan senyum miringnya.
Annabella menatap Cassandra. "Jangan sok baik, saya tau kamu dan dia yang sudah menghancurkan hidup saya dan Jordan. Kalian berdua memang serasi, sama-sama iblis."ucap Annabella, dia terus meneguk minumannya.
"Baiklah, kalau itu aku mengakui, tapi kali ini aku tidak ada menganggu mu, Gio pun tidak, lalu kenapa kamu kesini?" Annabella mengangkat jarinya, menunjuk Cassandra. Matanya yang sayu menatap panjang Cassandra.
"Kenapa kalian membantu Jordan? Harusnya aku yang membantunya, selama ini aku tidak pernah memperhatikan dia. Dia baik padaku tapi aku selalu memikirkan orang yang ternyata hatinya busuk."Annabella meremas lengan telanjang Cassandra sedikit kasar hingga membuatnya sedikit meringis menahan sakit. Namun dia tetap diam, tidak menghindar ataupun membalas.
"Jordan bahkan setiap hari meminta maaf, tapi aku diam saja. Aku masih marah padanya, saat hancur kenapa tidak mencari ku, kenapa mencari kalian. Orang tuaku juga berkuasa."Cassandra tergelak mendengar ucapan Annabella.
"Orang tuamu sudah sekuat, Gio?"tanya Cassandra, Annabella tampak berfikir.
"Memang tidak, tapi aku bisa membantunya."
"Kenapa tidak membantunya dari awal? Kenapa saat pulang dari rumah sakit jiwa malah mencari Gio?"Annabella mendorong Cassandra sedikit, tapi tidak membuatnya terjatuh.
"Itu semua karena tipuan dia! Perlakuannya seolah-olah masih menginginkan ku, ternyata tidak. Dia memang pandai bersandiwara."Cassandra hendak membuka suara. Namun dari kejauhan dia melihat siluet seseorang yang dia kenali.
Cassandra berdiri dari duduknya, lalu menarik tangan Olivia menjauh, Olivia yang tidak siap pun hampir terjatuh, untung Cassandra dengan sigap menahannya.
Cassandra melepaskan tangan Olivia saat mereka sudah berada di lorong. Keluar dari keramaian itu. "Kamu kenapa sih, kok buru-buru gitu."
Cassandra menghela nafas panjang. "Ada Jordan, sepertinya mencari Annabella."mendengar itu Olivia mengangguk mengerti.
"Mereka baikan ya?"tanya nya. Cassandra mengangkat bahunya, tentu dia tidak tahu.
"Aku harap begitu."ucap Cassandra, mendengar itu Olivia mengangguk sesaat tapi setelahnya dia melebarkan bola matanya terkejut.
"Apa!?"teriaknya membuat Cassandra terkejut mendengar teriakkan tiba-tiba Olivia. "Kenapa malah biarin mereka baikan?"
"Apa salahnya."ucap Cassandra santai dan melangkah pergi. Mereka akhirnya memilih duduk sebentar disana. Menyewa ruangan VVIP, lagian Cassandra juga sendirian dirumah, jadi tidak perlu khawatir dengan apa pun.
Namun dikota yang berbeda seorang pria melihat dua wanita itu dari cctv, bibirnya tersungging senyum mengerikan, seakan siap menerkam mangsanya.