NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Komedi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Audit Butik yang Heboh

Sesuai janjinya, sore itu Arga membawa Nara ke sebuah butik eksklusif. Nara merasa seperti alien yang baru turun dari piring terbang saat melihat deretan baju yang harganya setara dengan biaya makan seblaknya selama sepuluh tahun.

"Ga, ini harganya nggak salah ketik? Nol-nya kebanyakan satu kayaknya," bisik Nara saat melihat label harga sebuah gaun sutra.

"Harga mencerminkan kualitas material dan nilai estetika, Nara. Jangan dikonversi ke satuan seblak, itu perbandingan yang tidak apel ke apel," sahut Arga lempeng.

Arga mulai berkeliling, ia tidak seperti pria lain yang hanya menunggu di sofa. Ia benar-benar memeriksa bahan, potongan jahitan, sampai tingkat kecerahan warna.

"Mbak, tolong ambilkan yang ini. Potongannya sesuai dengan lekuk tubuh Nara, dan warnanya akan memberikan kontras yang baik dengan warna kulitnya," ujar Arga pada pelayan butik sambil menunjuk sebuah gaun berwarna hijau zamrud (emerald green) yang tampak sangat anggun namun tetap simpel.

Nara masuk ke ruang ganti dengan perasaan deg-degan. Saat ia keluar, ia merasa bukan seperti dirinya. Gaun itu pas di tubuhnya, memperlihatkan bahunya yang kecil namun memberikan kesan jenjang.

Arga yang sedang membaca majalah ekonomi langsung terhenti. Ia meletakkan majalahnya, berdiri, dan berjalan mendekati Nara. Ia tidak berkata apa-apa selama satu menit penuh, hanya menatap Nara dari ujung rambut sampai kaki.

"Gimana, Ga? Jelek ya? Apa aku kelihatan kayak lemper dibungkus daun pisang?" tanya Nara panik karena Arga hanya diam.

Arga maju satu langkah, merapikan sedikit helai rambut Nara yang jatuh ke dahi.

"Secara visual... ini adalah anomali yang paling indah yang pernah saya lihat. Dinda boleh punya standar London, tapi kamu... kamu punya standar yang membuat saya lupa bagaimana cara menghitung."

Nara tersipu parah.

"Duh, Pak Audit kalau gombal bikin aku mau pingsan di atas karpet mahal ini."

"Jangan pingsan sekarang. Saya belum membayar gaun ini," sahut Arga, kembali ke mode kaku, meskipun matanya masih memancarkan kekaguman yang dalam.

Malam sebelum acara, Nara sedang duduk di meja rias mencoba memakai masker wajah. Tiba-tiba ponsel Arga yang tergeletak di meja samping bergetar. Sebuah pesan muncul di layar kunci.

Nara tidak sengaja membacanya,

Arga, aku tahu kamu terpaksa menikahinya karena janji orang tuamu. Tapi besok malam, biarkan aku menunjukkan apa yang sebenarnya kamu lewatkan. See you, Dinda.

Nara terdiam, masker wajahnya yang tadi terasa dingin mendadak terasa panas. Ia menyadari bahwa Sandra bukan sekadar mantan, tapi seseorang yang tahu titik lemah Arga.

Arga keluar dari kamar mandi, melihat Nara yang terdiam menatap ponselnya. Arga segera mengambil ponselnya dan membaca pesan tersebut. Ia tidak menghapusnya, ia justru menunjukkan pesan itu pada Nara secara transparan.

"Nara, dalam dunia audit, transparansi adalah kunci," ujar Arga.

"Dia mencoba melakukan provokasi. Apa kamu terpengaruh?"

Nara berdiri, melepas maskernya dengan sekali tarikan (yang sebenarnya agak sakit).

"Terpengaruh? Nggaklah! Aku cuma lagi mikir... besok malam, aku harus dandan secantik apa ya biar si Mbak London itu sadar kalau dia itu cuma masa lalu yang sudah kadaluarsa dan tidak layak konsumsi?"

Arga tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat bangga. Ia menarik Nara ke dalam pelukannya, meskipun wajah Nara masih sedikit belepotan sisa masker.

"Itu istri saya. Variabel yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun, bahkan oleh seorang perfeksionis sekalipun."

Arga mencium Nara dengan lembut, sebuah ciuman yang menjadi janji bahwa besok malam, mereka tidak hanya akan datang sebagai pasangan nikah paksa, tapi sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan oleh hantu masa lalu mana pun.

"Ga..." bisik Nara di pelukan Arga.

"Ya?"

"Besok kalau aku nggak sengaja numpahin jus ke baju dia, itu termasuk denda nggak?"

Arga tertawa pelan.

"Jika kamu melakukannya dengan presisi, saya akan menganggapnya sebagai biaya operasional yang sah."

Malam itu, di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Nara menyadari satu hal yaitu Pernikahan paksa ini mungkin berawal dari kontrak, tapi cinta yang mereka miliki sekarang adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa diaudit oleh siapa pun.

Malam pesta tahunan firma audit Wiratama & Associates akhirnya tiba. Bagi Arga, ini adalah kewajiban profesional. Bagi Nara, ini adalah misi bertahan hidup di tengah kepulangan hantu masa lalu bernama Dinda.

Sejak satu jam yang lalu, kamar utama unit 1205 telah berubah menjadi zona bencana kosmetik. Nara berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya dalam gaun hijau zamrud pilihan Arga. Secara visual, gaun itu sempurna. Namun, di dalam kepala Nara, sebuah perang batin sedang berkecamuk.

"Ga..." panggil Nara lemas.

Arga yang sedang merapikan jam tangan di depan cermin lain menoleh.

"Ya, Nara? Ada masalah dengan distribusi warna di wajahmu?"

"Aku nggak pede, Ga. Serius," Nara memutar tubuhnya, menatap lekukan gaunnya yang elegan.

"Mbak London itu... dia pasti tingginya kayak model, pinter ngomong pakai bahasa Inggris yang British-nya medok, dan kalau ketawa suaranya kayak denting piano mahal. Sedangkan aku? Aku kalau ketawa malah kayak knalpot motor sember. Terus tadi aku baru sadar, jempol kaki aku kayaknya lagi bengkak, jadi sepatu ini rasanya kayak menjepit masa depanku."

Arga menghentikan kegiatannya. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Nara. Tangannya hinggap di bahu terbuka Nara, memberikan rasa hangat yang sedikit meredakan gemetar di tubuh istrinya.

"Nara, dengarkan saya," suara Arga berat dan stabil.

"Secara teknis, Sandra mungkin memiliki kualifikasi yang kamu sebutkan. Tapi dia adalah data masa lalu yang sudah didepresiasi sampai nol. Kamu? Kamu adalah aset lancar yang nilainya terus naik di mata saya. Jangan membandingkan apel dengan... ubur-ubur. Apel itu membosankan, ubur-ubur itu menarik karena sulit ditebak."

Nara cemberut.

"Kamu baru aja nyamain aku sama ubur-ubur di hari sepenting ini? Romantisnya kamu emang butuh diaudit ulang, Ga!"

Arga sedikit tersenyum, senyum tipis yang hanya diperlihatkan untuk Nara.

"Ubur-ubur yang cantik. Ayo berangkat. Jangan biarkan sepatu itu menang melawan harga diri kita."

Begitu mereka tiba di hotel bintang lima tempat pesta diadakan, jantung Nara rasanya ingin pindah ke lutut. Ballroom hotel itu dipenuhi orang-orang berpakaian mahal yang berbicara soal inflasi, audit forensik, dan investasi saham.

"Ingat, Nara," bisik Arga saat mereka melangkah masuk.

"Tetap di samping saya. Jangan makan berlebihan sebelum kita menyapa pemilik firma."

"Iya, iya, tenang aja. Aku bakal bersikap sangat... istri auditor," sahut Nara sambil mencoba menyeimbangkan tubuhnya di atas high heels yang rasanya seperti alat penyiksaan abad pertengahan.

Tiba-tiba, kerumunan di depan mereka terbelah. Seorang wanita berjalan mendekat dengan keanggunan yang menyakitkan mata. Gaun peraknya berkilau, rambutnya disanggul rapi tanpa cela, dan senyumnya oh, senyum itu adalah definisi dari kata perfeksionis.

"Arga," sapa wanita itu.

Suaranya halus, persis seperti bayangan Nara.

"Lama tidak berjumpa. Kamu tidak berubah, tetap terlihat seperti pria yang paling teliti di ruangan ini."

Arga mengangguk kaku.

"Dinda... Selamat atas kepulanganmu ke firma."

Dinda kemudian mengalihkan pandangannya pada Nara. Matanya memindai Nara dari atas ke bawah dalam satu detik, ini sebuah audit visual yang membuat Nara mendadak merasa gaun hijaunya berubah jadi daun pisang.

"Dan ini... Nara?" tanya Sandra dengan nada yang sangat sopan tapi terasa meremehkan.

"Istri pilihan orang tuamu? Sangat... colorful. Arga memang selalu butuh sesuatu yang kontras untuk menyeimbangkan hidupnya yang abu-abu."

Nara merasakan tangannya berkeringat. Rasa minder itu menyerang secara brutal.

Kontras? Maksudnya dia berlian, aku batu kerikil gitu?

1
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!