Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diplomasi Buffet dan Tragedi Calamari
Nara mulai sangat terusik dengan sindiran yang keluar dari Dinda yang terkesan halus tapi sangat kejam.
"Halo, Mbak London," balas Nara, mencoba tetap konyol untuk menutupi kegugupannya.
"Iya, aku Nara. Kontras itu bagus, Mbak. Kalau semuanya abu-abu, nanti dunia dikira film dokumenter zaman dulu yang nggak ada suaranya."
Dinda terkekeh kecil, suara yang benar-benar mirip denting piano.
"Lucu sekali. Arga, kudengar kamu sekarang sering pulang cepat. Padahal dulu, kamu adalah orang yang paling betah lembur bersamaku untuk menyelesaikan laporan akhir tahun."
Arga mempererat genggamannya pada pinggang Nara.
"Prioritas berubah, Dinda. Laporan akhir tahun tidak bisa menyambut saya dengan pelukan saat saya lelah tapi Nara bisa."
Nara melirik suami auditnya sambil tersenyum bangga tertahan yang ditutupi dengan tangannya.
Dinda pamit untuk menyapa rekan lain, meninggalkan Nara yang merasa kecil di tengah kemegahan itu.
"Ga, aku ke pojokan bentar ya. Mau netralisir rasa minder pakai siomay," bisik Nara.
"Jangan jauh-jauh, Nara," pesan Arga sebelum ia ditarik oleh beberapa direktur untuk berdiskusi.
Nara berdiri di depan meja buffet dengan perasaan campur aduk. Ia mengambil sepiring kecil calamari goreng. Tepat saat ia ingin menyuap, Clarissa muncul di sampingnya seperti hantu di film horor.
"Gimana, Nara? Udah lihat Dinda secara langsung?" Clarissa berbisik sinis.
"Lihat cara dia bicara sama Arga? Mereka punya bahasa yang sama. Kamu? Kamu cuma tamu asing di dunia Arga."
Nara mendengus, mencoba tetap tenang meski hatinya mencelos.
"Bahasa yang sama? Maksudnya bahasa kalkulator? Nggak apa-apa, Mbak. Di rumah, aku dan Arga punya bahasa sendiri. Namanya bahasa... kasih sayang yang nggak butuh diterjemahin pakai rumus akuntansi."
Tapi, saat Nara melihat Arga di kejauhan sedang tertawa kecil (kecil sekali, tapi tetap tawa) saat berbicara dengan Dinda, rasa cemburu yang membabi buta itu muncul. Nara merasa tidak percaya diri. Apa benar ia hanya penghibur sementara Arga butuh seseorang yang selevel seperti Dinda?
Karena terlalu asyik melamun sambil cemburu, Nara tidak sadar ia mengunyah calamari yang ukurannya terlalu besar. Dan karena sepatunya kekecilan, ia kehilangan keseimbangan saat seseorang menyenggolnya.
GLUP!
"Uhuk! Uhuk!" Nara tersedak wajahnya membiru.
Clarissa panik bukannya menolong.
"Eh, Nara! Jangan mati di sini! Nanti reputasi firma rusak!"
Nara memegang lehernya, matanya melotot. Di tengah ballroom yang mewah, istri sang Auditor Utama sedang bertarung nyawa melawan cumi goreng.
Arga, yang memiliki insting deteksi bahaya terhadap Nara, langsung berlari menembus kerumunan. Ia melihat Nara yang sedang berjuang bernapas. Tanpa peduli pada jas mahalnya, Arga melakukan prosedur Heimlich dari belakang.
PLOP!
Calamari itu meluncur keluar dari mulut Nara dan secara ajaib sekaligus konyol, Calamari itu mendarat tepat di atas sanggul perak Dinda yang baru saja lewat di depan mereka.
Hening, satu ballroom terdiam.
Dinda membeku, ia bisa merasakan ada sesuatu yang berminyak dan kenyal hinggap di mahakarya rambutnya. Ia menyentuh sanggulnya, mengambil potongan cumi itu, dan wajah perfeksionisnya retak seketika.
"Nara... apa ini?" tanya Dinda, suaranya bergetar antara marah dan malu.
Nara, yang baru saja bisa bernapas, terbatuk-batuk kecil.
"Aduh, Mbak... maaf! Itu... itu calamari dari masa depan. Dia kayaknya pengen kenalan sama Mbak Sandra karena Mbak terlalu cantik sampai cumi aja pengen hinggap."
Clarissa hampir pingsan menahan tawa dan malu. Sementara Arga, alih-alih memarahi Nara atau meminta maaf secara berlebihan pada Dinda, justru menarik Nara ke dalam pelukannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arga, suaranya penuh kekhawatiran yang nyata.
Ia memeriksa wajah Nara, mengabaikan tatapan ratusan orang.
"Aku nggak apa-apa, cuma malu banget, Ga. Aku pengen jadi ubur-ubur beneran terus ngilang ke laut," bisik Nara sambil menyembunyikan wajahnya di dada Arga.
Arga kemudian berbalik menghadap Dinda dan para petinggi firma yang berkumpul. Dinda masih menatap mereka dengan tatapan menuntut permintaan maaf yang dramatis.
"Semuanya," suara Arga menggema di ballroom.
"Saya minta maaf atas insiden kecil ini. Istri saya, Nara, memang memiliki cara yang unik untuk mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak selalu soal angka yang kaku. Kadang, kita butuh kejutan... bahkan jika itu berupa calamari."
Arga merangkul bahu Nara dengan sangat bangga.
"Dinda, maafkan rambutmu. Tapi saya lebih bersyukur istri saya selamat dari tersedak daripada memikirkan tatanan rambut siapa pun di ruangan ini. Karena bagiku, keselamatan Nara adalah prioritas utama yang tidak bisa dinegosiasikan dengan sopan santun formalitas."
Nara mendongak, menatap Arga dengan mata berkaca-kaca. Rasa mindernya hilang seketika, digantikan oleh rasa baper yang meledak-ledak. Sang Robot benar-benar memilihnya di depan semua orang, termasuk di depan standar London-nya.
Setelah insiden cumi tersebut, Arga membawa Nara ke area dansa yang lebih sepi di balkon hotel. Musik melankolis terdengar dari dalam.
"Ga, makasih ya udah belain aku tadi. Aku tadi beneran ngerasa kayak... aku nggak pantes di sini," ujar Nara pelan.
"Apalagi ada Dinda."
Arga menarik tangan Nara, menaruhnya di pundaknya, sementara tangannya sendiri melingkar di pinggang Nara. Mereka mulai bergerak pelan mengikuti irama musik.
"Nara, dalam audit, ada yang namanya 'Nilai Wajar'. Dan nilai wajarmu di hati saya tidak dipengaruhi oleh pendapat Dinda atau Clarissa," ujar Arga.
Ia mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya ke dahi Nara.
"Kamu mungkin konyol, sering bikin kacau, dan hampir mati gara-gara cumi. Tapi kamu adalah satu-satunya orang yang membuat saya ingin berhenti menjadi robot."
Nara tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada Arga.
"Tapi Ga, denda buat kejadian cumi tadi ada nggak?"
Arga mengecup puncak kepala Nara.
"Ada... Dendanya adalah kamu harus memakai sepatu ini sampai kita sampai di mobil, dan setelah itu, saya akan menggendongmu sampai ke dalam apartemen."
"Ih, itu mah bukan denda! Itu hadiah!" seru Nara girang.
"Dan satu lagi," bisik Arga.
"Mulai malam ini, saya resmi menghapus semua janji paksa orang tua kita dari ingatan saya. Saya tetap bersamamu bukan karena kontrak mereka, tapi karena saya sudah terlanjur melakukan investasi perasaan yang tidak mungkin bisa saya tarik kembali."
Nara tertawa, lalu mengeratkan pelukannya.
"Siap, Pak Audit! Tapi jangan kaget ya kalau nanti di rumah aku minta audit pelukan selama dua jam!"
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang penuh polusi namun terasa sangat indah bagi mereka, Nara menyadari bahwa meskipun ia tidak sepintar Dinda atau seanggun Clarissa, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki siapa pun yaitu Kunci utama untuk meng-akses hati sang Auditor Utama.