NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 6: Cemburu Buta

Tiga hari telah berlalu sejak Aluna tinggal di mansion Arsen. Tiga hari yang terasa seperti tiga bulan penuh dengan aturan ketat, pengawasan konstan, dan kehadiran Arsen yang selalu mengintai di setiap sudut hidupnya.

Pagi itu, Aluna terbangun dengan suara ketukan di pintu kamarnya. Bu Sinta masuk dengan nampan berisi sarapan pancake dengan sirup maple, buah-buahan segar, dan jus jeruk.

"Selamat pagi, Nona. Pak Arsen sudah berangkat ke kantor sejak pukul 06.00 WIB. Beliau meninggalkan pesan bahwa Anda boleh istirahat di rumah hari ini. Tidak ada jadwal meeting," ucap Bu Sinta sambil meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.

Aluna duduk, sedikit lega mendengar ia tidak harus berhadapan dengan Arsen hari ini. Tiga hari terakhir, setiap detik bersama pria itu terasa menyesakkan tatapannya yang selalu mengikuti, tangannya yang selalu mencari alasan untuk menyentuh, dan kata-katanya yang terus menerus mengingatkan Aluna bahwa ia adalah "miliknya".

"Terima kasih, Bu Sinta," ucap Aluna pelan.

Setelah Bu Sinta keluar, Aluna meraih ponselnya bukan ponsel pemberian Arsen, tetapi ponsel pribadinya yang ia sembunyikan di dalam laci. Ia menyalakannya dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang melihat.

Layar ponselnya dipenuhi notifikasi puluhan pesan dari teman-teman kuliahnya, dari kakaknya, bahkan dari dosen pembimbingnya yang menanyakan keberadaannya.

Yang paling banyak adalah pesan dari Dimas teman dekat sekaligus teman satu jurusannya yang memang sudah lama menyukai Aluna.

Dimas: Luna, kamu kemana? Kok nggak masuk kuliah 3 hari?

Dimas: Kamu sakit? Butuh bantuan?

Dimas: Aku khawatir, Luna. Tolong balas pesanku.

Dimas: Kalau kamu nggak bales, aku datang ke rumahmu.

Aluna menggigit bibir bawahnya. Ia tidak bisa membiarkan Dimas datang ke rumah kontrakannya ibunya akan bingung, dan lebih buruk lagi, jika Arsen tahu...

Dengan tangan gemetar, Aluna mengetik balasan.

Aluna: Dimas, maaf baru bales. Aku baik-baik aja kok. Cuma lagi sibuk kerja. Jangan khawatir.

Balasan Dimas datang hampir seketika.

Dimas: Kerja? Kamu udah kerja? Sejak kapan? Kenapa nggak bilang?

Aluna: Baru kemarin-kemarin ini. Aku dapat tawaran part time di perusahaan properti. Lumayan buat bantu biaya kuliah.

Dimas: Oh gitu. Syukurlah kalau kamu baik-baik aja. Aku kangen ngobrol sama kamu, Luna. Kapan kita bisa ketemu? Nanti siang aku bebas, mau makan siang bareng?

Aluna menatap pesan itu lama. Sebagian dirinya ingin mengatakan tidak mengingat aturan Arsen yang melarangnya berhubungan dengan pria lain. Tetapi sebagian lain dirinya bagian yang masih memberontak, yang masih ingin merasa normal ingin sekali bertemu teman, merasakan percakapan biasa tanpa diawasi, tanpa tekanan.

Aluna: Boleh. Jam 12 di kafe deket kampus?

Dimas: Oke! Sampai jumpa, Luna. Can't wait! 😊

Aluna menatap ponselnya dengan perasaan bersalah bercampur lega. Ia tahu ini berbahaya. Tahu ini melanggar aturan Arsen. Tetapi ia butuh ini butuh merasakan kebebasannya kembali, meski hanya untuk beberapa jam.

Pukul 11.30 WIB, Aluna bersiap-siap untuk keluar. Ia mengenakan pakaian casual sederhana kaos putih dan celana jeans yang ia bawa dari rumah lama, bukan pakaian-pakaian mewah pemberian Arsen. Ia juga melepaskan jam tangan Cartier dari pergelangan tangannya dan menyembunyikannya di laci tidak ingin ada penanda Arsen melekat di tubuhnya saat bertemu Dimas.

Saat hendak keluar kamar, Bu Sinta muncul di koridor dengan ekspresi khawatir.

"Nona Aluna mau ke mana?" tanyanya hati-hati.

"Saya... mau ke kampus sebentar, Bu. Ada urusan dengan dosen," bohong Aluna.

Bu Sinta terlihat ragu.

"Tapi... Pak Arsen tidak memberitahu saya kalau Nona ada jadwal keluar hari ini."

"Ini mendadak, Bu. Saya sudah izin lewat chat kok," bohong Aluna lagi, berusaha terdengar meyakinkan.

Bu Sinta masih terlihat tidak yakin, tetapi akhirnya mengangguk.

"Baik, Nona. Saya akan minta sopir siapkan mobil--"

"Tidak usah, Bu," potong Aluna cepat. "Saya naik transportasi online saja. Lebih praktis."

Sebelum Bu Sinta bisa protes, Aluna sudah berjalan cepat menuruni tangga dan keluar dari mansion.

Kafe dekat kampus terasa seperti rumah bagi Aluna tempatnya biasa berkumpul dengan teman-teman, mengerjakan tugas, atau sekadar ngobrol santai. Saat ia masuk, Dimas sudah duduk di meja pojok, melambaikan tangan dengan senyum lebar.

"Luna!" panggilnya.

Aluna tersenyum senyum tulus pertamanya dalam tiga hari terakhir dan berjalan menghampiri Dimas.

Dimas bangkit dan tanpa ragu memeluk Aluna pelukan persahabatan yang hangat dan familiar. Aluna membalas pelukan itu, merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Aku kangen banget, Lu," ucap Dimas sambil melepas pelukan. "Kamu nggak tau betapa sepinya kuliah tanpa kamu."

Mereka duduk, dan Dimas langsung memesan makanan untuk mereka berdua nasi goreng dan es teh manis, makanan favorit Aluna yang sederhana dan jauh dari hidangan mewah di mansion Arsen.

"Cerita dong, Lu. Kerja di perusahaan properti gimana? Apa tugasnya berat?" tanya Dimas penasaran.

Aluna tersenyum tipis.

"Lumayan berat. Atasannya... orangnya sangat perfeksionis dan keras."

"Keras gimana? Kamu nggak dimarahin kan?"

"Enggak sih, cuma... dia tipe orang yang sukanya serba teratur. Semua harus sesuai keinginannya," jawab Aluna hati-hati, tidak ingin terlalu banyak bercerita.

Dimas mengernyit.

"Kalau sampai terlalu berat, resign aja, Lu. Jangan memaksakan diri. Kesehatan mental kamu lebih penting."

Aluna terharu mendengar kekhawatiran Dimas. Inilah yang ia rindukan seseorang yang peduli tanpa motif tersembunyi, tanpa keinginan untuk mengontrol.

"Terima kasih, Dimas. Aku akan ingat itu."

Mereka mengobrol tentang banyak hal tentang kuliah yang Aluna lewatkan, tentang gosip kampus, tentang rencana tugas akhir. Dimas tertawa saat menceritakan kelucuan teman-teman mereka, dan Aluna ikut tertawa tawa yang lepas, yang tidak dibuat-buat.

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata kelam yang mengawasi dari luar kafe.

Mata yang dipenuhi amarah.

Arsen Mahendra berdiri di seberang jalan, di dalam mobilnya yang gelap dengan kaca film tebal. Matanya terpaku pada pemandangan di dalam kafe Aluna yang tertawa bersama seorang pria muda, mereka yang berbicara dengan akrab, dan yang paling membuat darahnya mendidih:

Pria itu menyentuh tangan Aluna.

Hanya sentuhan ringan di punggung tangan, gestur persahabatan yang tidak berarti apa-apa. Tetapi bagi Arsen, itu adalah pengkhianatan.

Rahangnya mengeras. Tangannya mencengkeram setir dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Pak Joko," ucapnya dengan suara yang terkontrol namun dipenuhi amarah yang membara. "Siapa pria itu?"

Pak Joko, yang duduk di kursi pengemudi, melirik ke dalam kafe dan langsung mengenali Dimas dari hasil investigasi yang pernah dilakukan.

"Itu Dimas Prasetyo, Pak. Mahasiswa teknik sipil, teman satu angkatan dengan Nona Aluna. Berdasarkan data yang kami kumpulkan, dia sudah menyukai Nona Aluna sejak setahun lalu."

Arsen tidak menjawab. Tangannya bergerak ke ponsel, membuka aplikasi GPS tracker yang terhubung dengan ponsel khusus Aluna.

Tetapi titik merah yang menunjukkan lokasi Aluna... tidak bergerak dari mansion.

Ia tidak membawa ponsel itu.

Ia dengan sengaja meninggalkannya.

Arsen tersenyum tipis senyum yang dingin dan berbahaya.

"Dia berani," gumamnya pelan. "Dia berani melanggar aturanku."

Tanpa menunggu lebih lama, Arsen keluar dari mobil dan menyeberang jalan dengan langkah panjang yang penuh kemarahan yang ditahan. Ia mendorong pintu kafe dengan keras, membuat beberapa pengunjung menoleh.

Aluna yang sedang tertawa bersama Dimas tiba-tiba merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya. Ia menoleh dan jantungnya berhenti berdetak.

Arsen berdiri di pintu masuk kafe, mengenakan jas hitam sempurna, tetapi ekspresi di wajahnya... mengerikan.

Mata kelamnya terpaku pada Aluna dengan tatapan yang bisa membunuh. Lalu perlahan, tatapan itu beralih pada Dimas tatapan penuh kebencian murni.

"A...Arsen..." Aluna bangkit dari kursinya, tubuhnya gemetar.

Arsen berjalan menghampiri meja mereka dengan langkah yang terkontrol namun mengancam. Seluruh kafe seolah terdiam, semua mata tertuju pada sosok pria tampan yang memancarkan aura berbahaya itu.

"Kita. Pulang. Sekarang," ucap Arsen dengan suara rendah yang hanya bisa didengar Aluna dan Dimas.

Dimas, yang tidak paham situasi, bangkit dari kursinya dengan ekspresi bingung.

"Maaf, Anda siapa? Kenapa Anda--"

Arsen mengalihkan tatapannya pada Dimas, dan tatapan itu membuat Dimas terdiam ada sesuatu yang sangat menakutkan di mata pria itu.

"Aku atasannya," jawab Arsen dingin. "Dan dia sedang dalam jam kerja. Jadi singkirkan tanganmu dari yang bukan milikmu."

Dimas mengernyit, melirik Aluna yang wajahnya pucat pasi.

"Luna, kamu kenal orang ini?"

Sebelum Aluna bisa menjawab, Arsen sudah meraih pergelangan tangannya dengan genggaman keras tidak menyakiti, tetapi sangat possessive dan menariknya berdiri.

"Jangan pernah menyentuhnya lagi," ucap Arsen pada Dimas dengan nada yang membeku. "Jangan pernah menghubunginya. Jangan pernah mendekatinya. Karena kalau kamu melakukannya... aku akan menghancurkan hidupmu."

"Arsen, hentikan!" Aluna mencoba menarik tangannya, tetapi genggaman Arsen tidak bergeming.

Dimas terlihat marah sekarang.

"Anda tidak bisa mengancam saya! Dan Luna, kamu tidak harus ikut dia kalau kamu tidak mau--"

"Dia mau," potong Arsen dengan suara yang berbahaya. "Dia sudah terikat kontrak denganku. Dia milikku. Dan aku... tidak berbagi."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Arsen menarik Aluna keluar dari kafe. Aluna sempat menoleh pada Dimas yang berdiri dengan ekspresi syok dan marah, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Di luar kafe, Arsen terus menarik Aluna menuju Bentley yang terparkir. Ia membukakan pintu belakang dengan kasar dan mendorong Aluna masuk tidak keras hingga menyakiti, tetapi jelas dipenuhi kemarahan.

Arsen masuk menyusul, menutup pintu dengan keras.

"JALAN!" bentaknya pada Pak Joko.

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kafe dan Dimas yang masih berdiri terpaku.

Di dalam mobil, suasana mencekam. Arsen duduk dengan rahang mengeras, napasnya terdengar berat, tangannya mengepal kuat di pangkuannya. Aluna duduk di pojok, menjauh sebisa mungkin, tubuhnya gemetar.

Mereka tidak kembali ke mansion.

Mereka menuju Mahendra Tower.

Sesampainya di gedung, Arsen menyeret Aluna tidak kasar tetapi tidak lembut juga menuju lift eksekutif. Mereka naik ke lantai 38 dalam keheningan yang menyesakkan.

Begitu tiba di lantai 38, Arsen langsung menarik Aluna ke ruang kerjanya dan menutup pintu dengan keras.

Klik.

Suara pintu dikunci dari dalam.

Aluna berbalik dengan cepat, matanya membelalak.

"Arsen, buka pintunya--"

"DIAM!" bentaknya, suaranya memenuhi ruangan luas itu.

Aluna tersentak, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Arsen berjalan perlahan mendekat, setiap langkahnya seperti predator yang mengelilingi mangsa. Aluna mundur hingga punggungnya menyentuh dinding kaca besar.

Tidak ada jalan keluar.

Arsen sudah berada tepat di depannya, mengurungnya di antara kedua tangannya yang bertumpu di dinding memenjarakan Aluna.

"Aku memberitahumu aturannya," ucap Arsen dengan suara rendah yang bergetar karena amarah yang ditahan. "Aku memberitahumu dengan sangat jelas: jangan berhubungan dengan pria lain. Jangan. Pernah."

"Dimas itu hanya teman--"

"AKU TIDAK PEDULI!" bentak Arsen lagi, kali ini lebih keras. Tangannya menghantam dinding di samping kepala Aluna, membuat Aluna terlonjak ketakutan.

"Aku tidak peduli dia teman, sahabat, atau apa pun! Yang aku lihat adalah tangannya menyentuhmu! Dia tertawa bersamamu! Kamu tersenyum padanya dengan cara yang... yang tidak pernah kamu lakukan padaku!"

Suara Arsen terdengar serak sekarang, campuran amarah dan... rasa sakit.

Aluna menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Karena dengan Dimas, saya merasa bebas! Saya bisa tersenyum tanpa tekanan! Saya bisa menjadi diri saya sendiri tanpa--"

"Tanpa apa?" potong Arsen, wajahnya semakin mendekat. "Tanpa aku? Kamu lebih bahagia tanpa aku, begitu?"

"Ya!" Aluna akhirnya meledak juga. "Ya, saya lebih bahagia tanpa Anda yang terus mengontrol saya seperti boneka! Tanpa Anda yang mengurung saya! Tanpa Anda yang--"

Kata-katanya terputus saat Arsen tiba-tiba menarik Aluna ke dalam pelukannya pelukan yang keras, possessive, putus asa.

"Jangan," bisik Arsen dengan suara serak di telinga Aluna. "Jangan katakan kamu lebih bahagia tanpa aku. Jangan... karena aku tidak bisa hidup dengan pikiran itu."

Aluna merasakan tubuh Arsen gemetar, gemetar karena amarah atau emosi lain yang ia tidak mengerti.

"Kamu tidak tahu apa yang kurasakan saat melihatmu dengan pria lain," lanjut Arsen, suaranya pecah. "Rasanya seperti seseorang mencabut jantungku dari dada. Seperti dunia runtuh. Seperti... seperti aku kehilangan segalanya lagi."

Lagi?

Aluna mengernyit, tetapi sebelum ia bisa bertanya, Arsen melepaskan pelukannya dan menatap Aluna dengan mata yang memerah tidak menangis, tetapi dipenuhi emosi yang intens.

"Kamu. Milikku," ucapnya dengan suara yang bergetar. "Hanya milikku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun siapa pun mengambil mu dariku."

Tangannya terangkat, menyentuh pipi Aluna dengan gerakan yang kontras lembut, penuh rasa sayang yang gelap.

"Kalau aku harus mengurungmu di sini, di ruangan ini, agar kamu tidak bertemu pria lain lagi... aku akan melakukannya."

Aluna menggelengkan kepala, air mata mengalir.

"Anda tidak bisa--"

"Aku bisa," potong Arsen. "Dan aku akan."

Ia mundur selangkah, meraih ponselnya dan mengetik sesuatu. Beberapa detik kemudian, pintu ruang kerja terbuka dan dua pria berbadan besar bodyguard Arsen masuk.

"Mulai sekarang," ucap Arsen tanpa mengalihkan tatapan dari Aluna, "Aluna tidak boleh meninggalkan gedung ini tanpa izinku. Jaga dia. Jangan biarkan dia keluar. Jangan biarkan dia menghubungi siapa pun."

"Baik, Tuan Arsen," jawab salah satu bodyguard.

Aluna menatap Arsen dengan horor.

"Anda... Anda mengurung saya?"

"Ya," jawab Arsen tanpa ragu. "Sampai kamu belajar untuk tidak pernah melanggar aturanku lagi."

Ia berjalan menuju pintu, tetapi berhenti sejenak dan menoleh pada Aluna.

"Kamu akan tinggal di ruangan sebelah ruanganmu dulu. Makanan akan diantarkan tiga kali sehari. Kamu boleh meminta apa pun yang kamu butuhkan, kecuali... kebebasan."

"Arsen, kumohon--"

"Ini untuk kebaikanmu, Aluna," potong Arsen dengan nada final. "Agar kamu ingat... siapa yang memilikimu."

Dan dengan itu, ia keluar dari ruangan, meninggalkan Aluna dengan dua bodyguard yang berdiri di depan pintu penjaga sangkar barunya.

Aluna jatuh terduduk, isak tangis pecah dari bibirnya.

Ia baru saja melihat sisi gelap Arsen yang sebenarnya.

Sisi yang cemburu buta.

Sisi yang possessive hingga melampaui batas kewarasan.

Dan ia menyadari dengan mengerikan bahwa pria itu benar-benar tidak akan pernah membiarkannya pergi.

Tidak peduli seberapa ia memohon.

Tidak peduli seberapa ia menangis.

Arsen Mahendra telah mengklaimnya.

Dan klaim itu... absolut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!