Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Lagian, gue hanya mencari kursi belakang. Tapi sepertinya mobil milik lo itu gak pintu belakang, ya?" tanya Qiara dengan polos, tak menyadari jika ia sedang ditegur karena tak mengerti.
"Mobil ini adalah mobil sport dua kursi, bodoh! Lo seharusnya tahu kalau mobil seperti ini tidak memiliki kursi belakang," ejek Natan, merasa heran dengan kepolosan Qiara yang belum pernah melihat mobil sport seperti miliknya.
Sementara itu, Qiara lagi lagi di buat sangat malu karena baru menyadari bahwa mobil Natan adalah mobil sport yang hanya memiliki dua kursi, tidak ada pintu atau kursi belakang.
"Kenapa gue tidak sadar sebelumnya? Jadi, apa yang harus gue lakukan sekarang? Pasti setelah ini Natan akan terus terusan mengejek gue," batin Qiara dalam hati, merasa bingung akan nasibnya jika harus naik mobil seperti itu. Ia merasa tidak ada pilihan lain selain tetap ikut bersama Natan.
"Gue harap setelah ini, tidak ada kebodohan yang akan gue lakukan," gumamnya pelan.
**
*
**
Mobil yang dikemudikan Natan melaju dengan kecepatan sedang, namun perasaannya berbeda.
Terbayang oleh Natan kekonyolan-kekonyolan yang selalu dilakukan Qiara di hadapannya, membuatnya tersenyum simpul.
"Kenapa lo itu senyum-senyum sendiri sih, Natan? Kayak orang gila aja," celetuk Qiara sambil mencibir.
Mendengar ucapan Qiara malah membuat Natan tertawa terbahak-bahak, tak dapat membendung rasa geli di hatinya.
"Lah, kok ketawanya malah makin kenceng sih?" ujar Qiara dengan wajah bingung, mencoba menggali alasan di balik tawa Natan yang menggelegar.
"Ya iyalah, soalnya gue beneran nggak tahan ingat semua kebodohan yang lo lakukan, Qiara. Semuanya terus berkelebat di pikiran gue, seperti film komedi yang tak ada habisnya," sahut Natan sambil tertawa.
"Seperti nya lo itu cocok deh ikut sitkom," ejek Natan, yang mana membuat Qiara langsung memainkan bibirnya.
Melihat Natan yang masih saja tertawa, pipi Qiara memerah seolah merasakan kepanasan yang datang dari dalam. Rasa malu dan kesal bercampur menjadi satu, membuatnya tak tahu harus bereaksi bagaimana. Sementara waktu terus berlalu, perjalanan pun menjadi lebih mengasyikkan dengan canda tawa mereka berdua.
"Kenapa gak sampai sampai rumah sih? Bosen, dari tadi cuman dengerin si Natan ketawa ketawa gak jelas," gerutu Qiara dalam hatinya. Bahkan hembusan nafas kasar kuah keluar dari hidungnya beberapa kali.
Qiara tampak memalingkan pandangannya ke jendela mobil di sampingnya, seolah mencari sesuatu yang mampu meredakan rasa jengkelnya.
"Kok kita gak sampai-sampai sih!" keluh Qiara kesal.
"Bentar lagi," sahut Natan dengan nada datar.
"Huh." Qiara benar-benar merasa kesal oleh sikap Natan yang terlihat menertawakan dirinya.
"Seharusnya yang menjemput ku tadi itu Nolan, bukan adik kembarnya yang jahil ini," gerutu Qiara dalam hati. Meski ucapannya hanya terlontar pelan, namun Natan masih bisa mendengar ucapan Qiara dengan jelas.
"Sebenarnya gue itu juga ogah jemput lo, tapi Nolan memang sedang sibuk dan Noah pergi dengan pacarnya entah ke mana," ungkap Natan sambil masih mempertahankan ekspresi kesalnya.
Mendengar nama Noah yang beberapa hari ini selalu baik dan perhatian padanya, ternyata memiliki pacar, Qiara merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Ia mulai merenung, mencoba memahami perasaan yang muncul dalam hatinya.
"Mengapa aku merasa seperti ini? Apakah ini rasa kecewa atau rasa lain yang lebih dalam?" batin Qiara. Jika dibandingkan dengan saudara kembar lain seperti Natan dan Nolan, memang Noah-lah yang selalu berlaku baik dan penuh perhatian padanya. Mungkin itu sebabnya kenapa Qiara merasa terganggu saat tahu Noah ternyata memiliki pacar.
Melihat ekspresi wajah Qiara yang nampak berubah, setelah dirinya menyebut tentang pacar adik kembarnya itu, Natan seakan mengerti.
"Kenapa lo masang ekspresi kecewa seperti itu? Jangan-jangan lo suka lagi sama Noah! Ha ha ha."
Tertawa Natan seraya menggoda Qiara. "Eh... Eh... Mendingan jangan deh, pacar Noah itu posesif dan seperti singa marah. Lo bisa dicakar habis-habisan sama pacar Noah itu," sambung Natan.
"Benarkah pacar Noah seburuk itu?" batin Qiara, seraya menyesali perasaan yang muncul kembali. "Ya, pantes juga sih dia posesif, gue yang bukan pacarnya aja diberi perhatian lebih, bikin gue baper. Apalagi pacarnya sendiri," lanjut Qiara dalam hati, merasakan kekecewaan yang begitu mendalam.
Melihat Qiara yang memasang wajah berpikir, Natan pun nampak melanjutkan ucapannya.
"Besok kalau masuk sekolah, mendingan lo pura-pura gak kenal aja sama Dila, pacarnya Noah. Gue beneran takut kalau sampai lo kena hajar sama dia. Dia itu termasuk anggota geng wanita yang power di SMA kita."
Natan berusaha memberikan nasihat pada Qiara, demi kebaikan nya.
Tak lama kemudian, mobil yang di kemudikan oleh Natan pun memasuki gerbang rumah milik para kembar yang memang bisa dibuka dengan menggunakan remot.
Saat mobil berhenti di halaman depan rumah mewah tersebut, Qiara terlihat bingung.
"Cara buka pintu mobilnya gimana, ya?" gumam Qiara seraya menatap pintu mobil yang polos, tanpa ada tarikan atau tombol yang terlihat.
Gumaman Qiara nyatanya terdengar sampai telinga Natan.
"Iya, bentar ya, habis ini gue bukain pintu mobilnya. Gue lagi baca pesan dari kedua saudara kembar gue nih," kata Natan sambil tetap memandang layar ponselnya.
"Ya ampun, Natan! Bukain dulu, dong? Gue ... Gue mau ke kamar mandi," ucap Qiara dengan suara yang terdengar sedikit mendesak, padahal sebenarnya ia hanya ingin segera pergi ke kamarnya untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah dan sakit akibat tindakan Nolan yang merenggut kesuciannya.
Natan akhirnya menoleh dari ponselnya dan mengeluarkan nada khawatir saat berkata, "Qiara, Nolan lagi demam, dia menggigil setelah pulang dari rumah sakit." Mendengar hal tersebut, perasaan Qiara semakin tercampur aduk. Dia berusaha untuk tetap tenang, namun hatinya merasa gelisah serta bingung.
Rasa khawatir mulai menghantui hati Qiara.
"Apakah itu alasannya? Mengapa Nolan tidak pergi ke rumah sakit? Apakah dia sedang sakit?" Pertanyaan itu terus mengganjal di benaknya, membuatnya merasa gelisah.
Sementara itu, Natan melanjutkan, "Dan Noah menginap di apartemen milik Dila. Dia nanti akan berangkat sekolah dari sana."
Mendengar itu, ekspresi wajah Qiara langsung berubah menjadi terkejut. Ada rasa kecewa dan cemburu yang memenuhi hatinya.
Namun, tiba-tiba Natan merangkul Qiara, mencoba meredakannya.
"Udahlah, Qiara, biarkan saja Noah nginap di apartemen Dila. Bagaimanapun juga, Dila itu pacarnya Noah, jadi jangan dipusingkan dan jangan cemburu, oke? Mungkin saja mereka sudah sering melakukan hal-hal seperti pasangan suami istri," ungkap Natan dengan enteng, tanpa menyadari dampak kata-katanya.
Qiara langsung menatap Natan dengan tatapan maut, merasa kesal dengan perkataan temannya yang tidak sensitif. Dengan gerakan kasar, ia melepaskan tangan Natan dari pundaknya.