NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Peron yang Berdarah

Bab 23: Peron yang Berdarah

Stasiun Manggarai pada jam sepuluh pagi adalah manifestasi dari kegilaan Jakarta. Ribuan nyawa berdesakan di bawah atap seng yang panas, suara deru mesin kereta listrik bersahutan dengan pengumuman keberangkatan yang bergema datar dari pengeras suara. Bau besi beradu rel, keringat manusia, dan minyak pelumas menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk itu, Anindya berdiri mematung di dekat pilar beton besar peron empat.

Ia mengenakan jaket hoodie kebesaran berwarna abu-abu gelap, tudungnya ditarik rendah menutupi sebagian wajahnya yang dipasang masker medis.

Bagi orang yang lewat, ia hanya seorang mahasiswi biasa yang menunggu kereta. Namun, di balik masker itu, rahang Anindya mengeras. Matanya terus bergerak, memindai setiap wajah yang lewat dengan ketajaman yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa hidup dalam ancaman.

Di dalam tas selempangnya, ia sudah menyiapkan sebuah alat perekam digital yang aktif. Ia tidak sepenuhnya percaya pada apa pun lagi, termasuk Satria. Namun, informasi tentang "dokumen palsu" itu terlalu berharga untuk diabaikan.

"Anindya," sebuah suara berat namun bergetar menyapa dari samping.

Anindya tidak langsung menoleh. Ia menjaga jarak, memastikan tidak ada orang lain di belakang pria itu.

Satria berdiri di sana, namun sosoknya tidak lagi memancarkan kemewahan seorang tuan muda. Ia mengenakan topi bisbol yang ditarik sangat rendah. Saat ia sedikit mendongak, Anindya bisa melihat memar keunguan di sudut bibir Satria dan goresan luka di pipinya.

"Mas Satria... apa yang terjadi?" bisik Anindya, ada sedikit rasa nyeri di hatinya melihat kondisi pria yang dulu begitu angkuh itu.

Satria tertawa getir, sebuah tawa yang berakhir dengan ringisan kesakitan. "Ayah sudah kehilangan akal sehatnya, Nin. Dia tahu aku mengambil sesuatu dari brankas Ibu. Dia menghajarku di depan para pengawalnya seolah aku ini pencuri di rumah sendiri.

Satria merogoh bagian dalam jaketnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar yang ujungnya sudah agak lecek. "Ini dia. Dokumen asli perjanjian tahun 2018. Aku ingin kau lihat sendiri betapa rendahnya cara mereka memperlakukan keluargamu."

Anindya menerima amplop itu. Dengan tangan yang terasa dingin, ia membukanya sedikit. Di sana, di atas kertas bermaterai lama, ia melihat nominal hutang ayahnya. Angka 10.000.000 tertulis dengan tinta hitam, namun ada coretan tambahan yang sangat halus—tiga angka nol di belakangnya ditambahkan dengan warna tinta yang nyaris sama, namun jika dilihat di bawah cahaya matahari stasiun yang terik, terlihat perbedaan tekanan pulpennya.

Hutang sepuluh juta telah disulap menjadi satu miliar.

"Hanya karena sepuluh juta... mereka merampas delapan tahun hidupku?" Anindya berbisik, suaranya tercekat di tenggorokan. "Hanya karena uang yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu tas branded Nyonya Lastri, mereka membuatku menjadi budak?"

"Maafkan aku, Nin. Aku benar-benar minta maaf," Satria menunduk, bahunya gemetar. "Ayah ingin memilikimu bukan hanya karena hutang, tapi karena dia tahu kau aset. Dia ingin mengontrolmu sejak kecil karena dia melihat potensimu bisa membahayakan atau menguntungkan bisnisnya suatu hari nanti."

Namun, momen penebusan dosa itu seketika dibubarkan oleh suara teriakan dari arah tangga penyeberangan.

"ITU DIA! JANGAN LEPASKAN!"

Tiga pria bertubuh tegap dengan kaos ketat hitam dan tas selempang kecil muncul dari kerumunan. Mereka bergerak seperti hiu yang membelah air, menabrak para penumpang tanpa ampun.

Orang-orang berteriak marah saat tersenggol, namun para pria itu tidak peduli. Mata mereka terkunci pada amplop cokelat di tangan Anindya.

"Lari, Anindya! Pergi dari sini!" Satria mendorong Anindya dengan kuat ke arah kereta jurusan Bogor yang baru saja berhenti dan membuka pintunya.

Anindya tersentak. Ia ingin menarik Satria, namun pria-pria itu sudah terlalu dekat. Salah satu dari mereka, yang memiliki bekas luka di dahi, menerjang Satria dan menjatuhkannya ke lantai semen peron yang kotor.

"Satria!" Anindya berteriak, kakinya ragu untuk melangkah.

"PERGI, NIN! JANGAN BIARKAN MEREKA MENGAMBILNYA!"

Satria berteriak sambil memeluk kaki pria berbekas luka itu, mencoba menahannya sekuat tenaga meskipun kepalanya ditendang dengan kasar.

Pemandangan itu menghancurkan hati Anindya, namun logikanya yang tajam segera mengambil kendali. Jika ia tertangkap di sini, dokumen itu akan dimusnahkan, Satria akan menderita sia-sia, dan ayahnya tidak akan pernah mendapatkan keadilan. Ia harus menjadi dingin. Ia harus menjadi egois demi kemenangan yang lebih besar.

Anindya berbalik dan melompat masuk ke dalam gerbong yang sudah penuh sesak. Para penumpang di dalam tampak bingung dan ketakutan melihat aksi kejar-kejaran itu.

"Tunggu! Jangan tutup dulu!" teriak pria kedua yang hampir berhasil mencapai pintu.

Pintu otomatis mulai bergeser menutup. Pria itu menyelipkan lengannya di antara pintu, mencoba menahannya agar tidak terkunci. Kekuatan mesin pintu beradu dengan tenaga pria itu. Penumpang di dekat pintu berteriak histeris, takut tangan itu akan terjepit atau putus.

Anindya melihat mata pria itu melalui celah pintu—mata yang dingin, mata yang sama yang dulu sering ia lihat pada orang-orang suruhan Tuan Wijaya di desa. Rasa takutnya tiba-tiba berubah menjadi kemarahan yang membara. Ia teringat bukunya yang dibakar. Ia teringat ayahnya yang lumpuh.

Anindya melangkah maju. Dengan sekuat tenaga, ia menghentakkan tumit sepatu ketsnya ke arah jari-jari pria yang mencengkeram bibir pintu itu.

"ARGH!" Pria itu mengerang kesakitan dan menarik tangannya refleks.

Brak! Pintu terkunci rapat.

Kereta mulai bergerak perlahan. Anindya berdiri di depan kaca pintu, napasnya memburu. Ia melihat ke arah peron yang semakin menjauh. Ia melihat Satria yang diseret paksa oleh dua pria lainnya menuju pintu keluar stasiun. Satria tidak melawan lagi, wajahnya tertunduk, namun matanya sempat menatap ke arah kereta yang membawa Anindya pergi.

Anindya merosot duduk di lantai gerbong, mengabaikan tatapan aneh dari penumpang lain. Ia memeluk amplop cokelat itu erat-erat di dadanya, seolah itu adalah nyawanya sendiri. Air matanya akhirnya jatuh, mengalir melewati masker dan membasahi jaketnya.

"Aku akan menghancurkan mereka, Satria... Aku bersumpah akan menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya," bisik Anindya dalam isak tangis yang tertahan.

Di tengah guncangan kereta, Anindya tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan terlalu lama. Ia mengambil ponsel cadangannya. Ia harus segera bergerak sebelum Tuan Wijaya menutup akses komunikasinya atau melacak posisi ayahnya kembali.

Ia menghubungi Arini, pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang sudah ia hubungi sebelumnya.

"Mbak Arini... aku punya dokumen aslinya. Aku sedang menuju stasiun pusat. Tolong jemput aku dengan pengamanan. Mereka sudah berani menggunakan kekerasan fisik di tempat umum."

"Anindya? Kau tidak apa-apa? Tenanglah, kami sudah menyiapkan tim. Langsung naik taksi ke titik koordinat yang aku kirimkan. Jangan kembali ke apartemenmu!"

Anindya menutup telepon. Ia membuka amplop itu kembali. Ia mengeluarkan selembar kertas kecil yang terselip di balik dokumen hutang. Itu adalah tulisan tangan Satria yang terburu-buru:

“Nin, di balik dokumen ini ada kunci loker stasiun Gambir nomor 214. Di sana ada laptop lama Ayah yang berisi rekaman suara rapat gelap proyek Sukasari. Itu senjata terakhirmu. Maafkan aku karena hanya bisa memberikan ini. Hiduplah untuk kita berdua."

Anindya meraba bagian belakang amplop, dan benar saja, ada sebuah kunci kecil yang ditempel dengan isolasi.

Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Anindya. Ia menyadari bahwa Satria telah merencanakan ini semua. Satria tahu dia akan tertangkap, dan dia menjadikan dirinya sebagai tumbal agar Anindya bisa mendapatkan bukti pamungkas.

Sifat Anindya yang dulu lembut kini telah benar-benar mengeras menjadi baja. Ia menatap bayangannya di kaca jendela kereta yang gelap saat memasuki terowongan. Ia melihat seorang pejuang, bukan lagi seorang korban.

"Permainan ini akan berakhir sekarang, Tuan Wijaya," gumam Anindya. "Bukan dengan tangisan, tapi dengan jeruji besi yang menunggumu."

Kereta berhenti di stasiun berikutnya. Anindya berdiri, membetulkan letak tasnya, dan melangkah keluar dengan tatapan yang sangat tajam. Ia tidak lagi berlari karena takut; ia berjalan karena ia tahu persis ke mana ia harus pergi untuk mengakhiri mimpi buruk ini selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!