Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. AMSALIR
Segala sesuatu telah selesai dipersiapkan. Untuk lima hari ke depan, meski tanpa makanan dan minuman, Zhen Yi telah siap sepenuhnya. Takkan ada yang menyangka bahwa ia memiliki trik yang begitu apik, bagi mereka, segala yang ia lakukan hanyalah kehendak Dewa.
Kereta kuda yang mengiringi keberangkatannya pun telah siap. Tak ingin merasa ditipu, Permaisuri dan Selir Ling Xian memutuskan untuk ikut serta. Di dalam kereta megah berukir naga, Selir Ling Xian duduk dengan angkuh.
"Aku ingin lihat, Ibunda, trik apa yang akan digunakan wanita itu? Begitu inginkah dia menjadi bagian dari kita sampai rela mempertaruhkan nyawa?" desisnya. Ru Xuan mengintip dari balik tirai jendela.
Selir Ling Xian menarik lengan baju Ru Xuan perlahan. "Hentikan! Duduklah dengan anggun. Kita hanya perlu menyaksikan pertunjukan menarik ini."
Ru Xuan perlahan mundur dan memperbaiki posisi duduknya.
"Kita akan lihat bagaimana dia bertahan di sana. Mustahil ada yang bisa selamat, udara yang begitu dingin, apalagi tanpa makanan dan minuman," jelas Selir Ling Xian penuh keyakinan. "Sehari saja tanpa pakaian hangat kita bisa jatuh pingsan, apalagi ini selama lima hari."
Setelah semuanya siap, rombongan mulai bergerak. Kereta kuda Kaisar dan Permaisuri memimpin di depan, diikuti kereta Selir Ling Xian dan Zhen Yi. Sementara itu, Pangeran Wang Zihan menunggangi kuda hitamnya yang gagah di barisan paling belakang, tepat di belakang kereta Zhen Yi.
Sementara itu, di kereta paling belakang, Zhen Yi tampak begitu tenang, sangat kontras dengan kegelisahan yang menyelimuti Pangeran Wang Zihan.
Di dalam kereta, Dali sesekali memeriksa kembali segala keperluan nonanya. "Pil Bara, salep, dan racun bunga Wolfsbane. Semuanya sudah lengkap."
"Dali," panggil Zhen Yi pelan. "Mau sampai berapa kali kamu mengeceknya? Sudah lebih dari tiga kali kamu memastikan hal itu."
Tanpa Dali sadari, ia memang terus berulang kali memeriksa persediaan milik nonanya. Ini adalah kali pertama mereka harus berpisah dalam situasi berbahaya, sehingga rasa cemas dan khawatir tak bisa ia bendung.
Dengan wajah pucat, Dali mendekat. "Nona, apa Anda yakin akan menggunakan racun bunga Wolfsbane? Bunga itu sangat mematikan, Nona!"
Dengan tatapan penuh tekad, Zhen Yi mengangguk. "Jangan khawatir, Dali. Racun itu akan memberikan efek mati suri. Dengan dosis yang tepat, racun ini bisa memperlambat detak jantung hingga ke titik minimum. Dengan begitu, aku bisa menghemat energi dan meredam rasa lapar."
"Yang paling penting, ingatlah ini, saat pintu terbuka nanti, kamu harus segera menghampiriku dan memberikan pil penawar itu. Jika tidak, aku mungkin tidak akan pernah bangun lagi," tambahnya, memastikan Dali memahami taruhannya.
Dali mengangguk mantap. "Tentu saja, Nona. Apa pun yang terjadi, saya pasti akan memberikan pil penawar itu. Nona jangan khawatir."
Di barisan paling belakang, Pangeran Wang Zihan terus memacu kudanya dengan gelisah. Pandangannya tak lepas dari kereta kayu yang membawa Zhen Yi. Berkali-kali ia mencoba mendekatkan kudanya ke sisi jendela kereta, seolah ada tali tak kasatmata yang menariknya untuk terus berada di dekat wanita itu.
Seolah merasakan ikatan batin yang kuat, Zhen Yi menyibak sedikit tirai sutranya. Benar saja, ia langsung disambut oleh tatapan tajam namun penuh kekhawatiran dari Wang Zihan. Pria itu menatapnya dalam-dalam.
Keadaan di barisan belakang cukup sepi. Memanfaatkan celah itu, Zhen Yi perlahan mengulurkan tangannya ke luar jendela.
Wang Zihan dengan tangkas memacu kudanya lebih dekat, lalu segera meraih jemari Zhen Yi. Kehangatan telapak tangan sang Pangeran seketika menjalar ke seluruh tubuh Zhen Yi. Untuk sejenak, dunia seolah berhenti berputar, hanya ada tautan jemari mereka di tengah ketegangan.
Sadar bahwa mata-mata selalu mengawasi setiap gerak-geriknya, Zhen Yi justru bertindak lebih berani. Alih-alih menjauh, ia malah menarik tangan Wang Zihan lebih dekat dan menempelkannya ke pipinya dengan lembut.
Wang Zihan sedikit tersentak, namun ia tak kuasa menolak. Ia mengusap pipi Zhen Yi dengan penuh perasaan, membuat debar di dada mereka kembali berdesir hebat. Sepasang mata yang berada dalam rombongan, yang tengah mengintai merekam kejadian itu dengan jelas di dalam ingatannya.
Merasa umpannya sudah cukup untuk memancing sang mata-mata, Zhen Yi tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar. Ia segera menutup kembali tirai keretanya rapat-rapat. Wang Zihan yang sempat terpaku, akhirnya memacu kudanya kembali ke posisi semula, berusaha menyembunyikan gejolak di wajahnya.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, iring-iringan itu sampai di kaki lembah Kuil Puncak Kesunyian. Di hadapan mereka puncak gunung menjulang tinggi dengan di selimuti salju abadi.
Sebelum keluar, ia menatap Dali dengan seksama. Ia memegang bahu pelayan itu. "Ingat semua pesanku, Dali. Jangan meleset barang sedetik pun."
Dali mengangguk dengan mata berkaca-kaca, namun berusaha tetap tegar.
Pintu kereta terbuka. Hembusan angin dingin seketika menembus tulang. Dengan anggun dan penuh wibawa Zhen Yi turun dari dalam kereta. Sesuai perkataannya ia akan berdoa di dalam kuil selama lima hari. Matanya menatap jauh ke puncak, memantapkan hatinya siap menghadapi jurang terjal sekalipun.
BONUS VISUAL.😉
Zhen Yi
Wang Zihan
takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏