NovelToon NovelToon
Mawar Di Jalan Bunga

Mawar Di Jalan Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Lari Saat Hamil / Beda Usia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.

Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Harga Melindungi

Matahari mulai condong ke barat, membiarkan bayangan gedung-gedung tinggi di Kota Fauna memanjang seperti jari-jari raksasa yang hendak mencengkeram.

Di dalam ruang kerjanya yang kedap suara, Arlan menggenggam ponselnya dengan buku jari yang memutih. Setelah ragu sekian lama, ia akhirnya menekan sebuah nomor yang sudah bertahun-tahun ia hapus dari daftar kontak, namun tak pernah hilang dari ingatannya.

“Ada apa, teman lama yang menyebalkan?” tanya sebuah suara di ujung telepon.

Nadanya serak, penuh dengan sarkasme yang tajam.

“Aku membutuhkan bantuanmu,” jawab Arlan tanpa basa-basi.

Suaranya datar, mencoba menyembunyikan keputusasaan yang mulai menggerogoti logikanya.

“Oh! Menarik sekali. Seorang Arlan Bramantyo yang suci membutuhkan bantuan dari orang sepertiku? Apa itu?”

Arlan menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak.

“Apakah kamu bisa melawan keluarga Sanjaya?”

Hening sejenak di seberang sana. Suara tawa kecil yang dingin kemudian terdengar.

“Sanjaya? Jadi kamu sekarang berada di Kota Fauna? Kamu sedang bermain api di sarang ular, Lan.”

“Aku serius, Vincent.”

“Jujur saja,” suara Vincent berubah serius.

“Keluarga itu memiliki posisi tinggi di pemerintahan. Mereka punya pengaruh di kepolisian, kejaksaan, hingga preman berdasi. Salah langkah sedikit, tidak ada jejak hari esok bagimu karena cara kerja mereka sangat rapi. Jika kau memintaku menyerang secara frontal, aku tidak bisa. Itu namanya bunuh diri. Tetapi jika kau ingin aku bergerak dalam bayangan... aku bisa.”

“Dengan cara apa?”

“Aku akan mengumpulkan bukti-bukti busuk yang tidak bisa kau dapatkan di permukaan, seperti catatan hitam, aliran dana gelap, atau skandal yang mereka kubur. Sisanya? Kau pikirkan sendiri bagaimana cara meledakkannya. Aku akan memberimu peluru, tapi kau yang harus menarik pelatuknya.”

“Baiklah. Aku tunggu kabar darimu.”

Arlan meletakkan ponselnya di meja dengan hati bergetar. Bahkan Vincent, pria yang dikenalnya sebagai penguasa kegelapan di Kota Flora yang tak takut pada apa pun, tidak berani menyatakan perang secara terbuka pada keluarga Sanjaya. Arlan menyadari bahwa jalan yang ia tempuh untuk melindungi Gisel masih sangat panjang dan penuh duri.

“Kamu menghubungi Vincent?” tanya Rey, Wajahnya tampak cemas.

“Ya. Hanya dia yang bisa kita harapkan sekarang untuk menembus dinding tebal Sanjaya.”

“Kamu yakin? Berhubungan dengannya tidak akan berakhir baik, Lan. Dia itu iblis,” ujar Rey berat.

“Aku tahu. Tapi aku harus melakukannya. Jika hukum yang kau pegang tidak bisa menyentuh mereka, maka aku akan menggunakan cara mereka untuk melindungi keluargaku.”

Rey menatap Arlan dengan tatapan yang sulit diartikan. Sahabatnya ini adalah laki-laki kaku yang selama ini hidup lurus di atas aturan. Namun, demi gadis yang baru dinikahinya beberapa hari lalu, Arlan rela menginjakkan kakinya di jalan berlumpur yang mungkin tidak ada jalan pulangnya.

“Aku akan menghubungi mentorku di firma pusat,” kata Rey sembari menepuk pundak Arlan, mencoba memberi kekuatan.

“Beliau pernah menangani kasus yang bersinggungan dengan mereka. Siapa tahu ada celah legal yang bisa kita gunakan.”

“Terima kasih.” Arlan tulus mengatakannya.

Sementara itu, di kantin sekolah, suasana tampak riuh. Gisel duduk bersama Sena dan Diana. Ketiganya menikmati es teh di tengah cuaca yang panas. Gisel mencoba bersikap biasa saja, meski pikirannya masih terngiang-ngiang akan peringatan Bu Indah tadi pagi.

Sena, yang selalu ceria, menyenggol lengan Gisel sambil mengedipkan mata dengan genit.

“Sel, jujur deh... apa kamu setiap malam...”

“Setiap malam kenapa?” tanya Gisel, mengerutkan kening.

Ia benar-benar tidak menangkap maksud sahabatnya.

“Itu lho, Sel. Melakukan... itu,” Sena menggerakkan jarinya memberi isyarat yang membuat wajah Gisel seketika memerah hingga ke telinga.

“Tidak! Jangan berpikiran aneh-aneh,” jawab Gisel cepat.

“Hah? Yang benar saja? Kalian kan sudah…” Diana ikut terkejut, namun segera membekap mulut Sena saat menyadari beberapa siswa mulai menoleh ke arah mereka.

“Kalian tahu alasanku menikah dengannya. Kami punya kesepakatan sendiri, jadi jangan membayangkan hal-hal yang tidak jelas,” tegas Gisel.

“Benar juga sih,” gumam Diana.

“Tapi syukur deh kalau Om Arlan masih mau memperlakukanmu dengan baik, bahkan mengantar-jemput mu seperti tuan putri.”

Wajah Diana mendadak berubah serius. Ia merendahkan suaranya.

“Tapi, Sel... ada kabar buruk dari Jalan Bunga. Ibuku mendengar desas-desus kalau keadaan Om Arman sedang tidak baik. Katanya ada pihak kuat yang mencoba menggulingkan posisinya sebagai penguasa gang di sana.”

Jantung Gisel seolah berhenti berdetak. Ia mencengkeram kuat gelas es tehnya. Sejak meninggalkan rumah itu, ia belum menghubungi Om Arman sama sekali. Ada rasa canggung, marah, sekaligus rindu yang bertumpuk menjadi satu.

Gisel segera merogoh ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Fajri, putra Om Arman. Tak butuh waktu lama, balasan masuk.

Fajri: Tenang saja, Sel. Ayah sudah merencanakan semuanya dengan baik. Kami tidak akan jatuh begitu saja.

Gisel mengembuskan napas lega, meski kekhawatiran itu tidak hilang sepenuhnya. Jika penggantian penguasa ini ada campur tangan keluarga Sanjaya, maka posisi Om Arman jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Teror yang sempat mereda seminggu ini terasa seperti ketenangan sebelum badai.

“Om Arlan sudah di depan gerbang. Apa kalian mau bareng?” tanya Gisel setelah menerima pesan dari suaminya.

“Boleh?”

“Tentu saja.”

“Wah, asyik! Lumayan hemat ongkos angkot,” seru Sena girang.

Ketiganya berjalan keluar menuju gerbang sekolah dengan tawa yang masih tersisa. Namun, keceriaan itu lenyap saat langkah mereka terhenti oleh sekelompok siswa laki-laki yang dipimpin oleh Raka. Mereka berdiri menghadang jalan dengan angkuh.

“Mau ke mana, Mawar Jalan Bunga?” ejek Raka.

Sena dan Diana segera memasang badan di depan Gisel, mencoba melindungi teman mereka.

Tanpa aba-aba, salah satu kawan Raka melayangkan tinju ke arah Sena. Gisel, yang refleksnya sudah terlatih selama bertahun-tahun di bawah gemblengan Om Arman, bergerak secepat kilat. Ia menarik kedua sahabatnya ke belakang dan menghalau tinjuan itu dengan kedua lengannya yang mungil.

Dugh!

Suara benturan itu terdengar keras. Lengan Gisel menahan hantaman kuat dari remaja laki-laki yang badannya jauh lebih besar.

“Gila! Apa yang kalian lakukan?!” teriak Sena histeris saat melihat lengan Gisel langsung memerah.

Raka tersenyum tipis, matanya menatap Gisel dengan penuh minat.

“Ternyata benar kabar itu. Gisel memang bisa bela diri. Apa Om-mu yang mengajarkannya?”

Gisel menahan rasa berdenyut hebat di lengannya. Ia tetap berdiri tegak, meski napasnya memburu. Perawakannya yang kecil memang membuatnya kalah tenaga, dan ia ingat pesan Om Arman: “Gisel, kau tidak cocok untuk duel jarak dekat yang mengandalkan tenaga. Gunakan kecepatan mu untuk menghindar, atau cari senjata jika terdesak.”

“Apa maumu, Raka?” tanya Gisel dengan suara rendah yang mengancam.

“Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan saja kalau kau memang ‘barang’ yang berharga,” jawab Raka santai.

Ia memberi isyarat pada kawan-kawannya untuk mundur.

“Sampai jumpa lagi, Nyonya Bramantyo.”

Raka berlalu pergi, meninggalkan Gisel yang masih gemetar menahan amarah dan sakit. Sena dan Diana segera memeriksa lengan Gisel yang kini mulai membiru.

Gisel mencoba menyembunyikan lengannya saat masuk ke dalam mobil Arlan, namun Sena dan Diana yang masih syok langsung mengadu begitu pintu mobil tertutup.

“Om! Gisel dipukul sama Raka di gerbang tadi!” lapor Sena tanpa saringan.

Wajah Arlan yang tadinya tenang berubah drastis. Ia yang awalnya ingin menjalankan mobil mendadak mengerem, lalu meraih lengan Gisel. Matanya memancarkan kekhawatiran yang begitu nyata saat melihat memar besar di sana. Arlan segera turun dan berlari ke sebuah minimarket di dekat sana, kembali dengan sebungkus es batu dan handuk kecil.

“Kenapa tidak berteriak minta tolong atau langsung hubungi aku?” tanya Arlan sambil mengompres lengan Gisel dengan sangat lembut.

Ia merasa bersalah. Kejadiannya masih di dalam sekolah, Arlan tidak bisa menyalahkan pengawalnya. Pengawal yang ia bayar tidak bisa masuk ke dalam lingkungan sekolah sehingga hanya bisa berjaga di luar.

“Tidak sempat, Om. Lagipula, aku bisa menahannya,” jawab Gisel sambil meringis.

“Lenganmu memar parah, Gisel. Apakah ini retak? Kita ke rumah sakit sekarang,” ujar Arlan, nada suaranya penuh tekanan emosional.

“Tidak perlu, Om. Ini hanya memar biasa. Dua atau tiga hari juga sembuh. Aku sudah sering mendapatkan yang lebih parah dari ini dulu,” Gisel memberikan senyum kecil yang tulus, mencoba menenangkan pria di hadapannya.

Arlan menatap Gisel dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Hatinya perih mendengar kalimat “sudah sering mendapatkan yang lebih parah”. Ia menyadari bahwa di balik kecantikan dan kepintaran Gisel, ada sejarah luka yang panjang.

Sena dan Diana menatap keduanya dengan perasaan bersalah.

“Maafkan kami ya, Sel. Gara-gara melindungi kami, kamu jadi luka.”

“Tidak apa-apa. Kalian kan sahabatku,” jawab Gisel manis.

Arlan kembali menjalankan mobilnya. Di balik kemudinya, tangannya mencengkeram setir dengan sangat kuat. Kejadian barusan meyakinkannya satu hal: serangan kepada Gisel sudah mulai masuk ke lingkungan sekolah. Ia harus mempercepat gerakannya.

Jika Sanjaya ingin bermain kasar, maka Arlan akan memastikan bahwa ia memiliki cukup kekuatan untuk mematahkan setiap tangan yang mencoba menyentuh istrinya.

1
Ai Umana sari
ikan cucut, Lanjut🌻
Suci Maulana
bagus banget plisss update truss😍😍😍
Meymei: diusahakan up 1 bab setiap hari kak 🙏🥰
total 1 replies
snow Dzero
selamat menjalankan ibadah puasa
snow Dzero
bagus dan menarik
snow Dzero
semangat Thor cerita nya bagus
snow Dzero
awalan cerita yang menarik,semoga penulisan dan karakter setiap peran konsisten 💪
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meymei: belum sanggup kek nya kak 🤭
total 1 replies
indy
Rumit juga masa lalu Arlan. Ternyata Keira bukan anaknya Arlan.
indy
sempat bingung kakak😄
Meymei: maaf ya kak🤭entahlah ini sistemnya 😅
total 1 replies
dini Risayatmi
assalamualaikum kak,
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏
Meymei: iya kak, maaf ya saya revisi 🙏
total 1 replies
indy
wah nggantung😄
indy
kasihan gisel
Meymei: iya kak, author jg gak tega
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
fakta bgt emang kalo yg ekonominya bagus selalu di bela tanpa memilah dlu mana yg benar mana yg salah
𝐈𝐬𝐭𝐲
aku mampir thor...
indy
hadir kakak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!