Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Drama di Sore Hari
.
Bu Rosidah, Riana, Lila dan gilang, menghempaskan tubuhnya di atas sofa setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. Peluh membasahi badan, dan perut mereka kembali keroncongan. Tenaga mereka seakan terkuras habis.
Almira mencibir melihat mereka. “Baru juga segitu,” gumamnya. “Cuma bersihin meja makan, dan dapur, itu pun dilakukan berempat. Mereka sudah seperti orang yang baru pulang dari medan perang. Apa kabar jika mereka harus membersihkan seisi rumah?”
Beberapa saat kemudian, terdengar bel pintu berbunyi.
“Siapa sih, bertamu jam segini? Tahu orang capek juga," keluh Riana enggan membuka pintu. Padahal posisinya paling dekat dengan pintu.
Almira yang sebenarnya ingin pura-pura acuh, segera bangkit dari tempat duduknya. “Itu pasti Mbak Rini yang datang,” pikirnya.
Dan benar, begitu pintu terbuka, Almira mendapati seorang gadis muda dengan wajah cantik yang polos tanpa riasan, melambaikan tangan dengan senyum lebar.
"Assalamualaikum, Bu Mira,” ucapnya sopan. Penampilannya sederhana, namun tetap memancarkan aura positif.
Almira tersenyum senang menyambut kedatangan Mbak Rini. "Waalaikumsalam, Mbak. Ayo masuk," ajak Almira seraya membuka pintu lebar-lebar.
"Siapa yang datang?” tanya Gilang yang tahu-tahu sudah berdiri di belakang Almira.
"Ini pembantu di rumah Sifa,” jawab Almira cepat sambil mengedipkan mata pada Mbak Rini. Lalu wanita itu menggandeng tangan Mbak Rini untuk masuk ke dalam rumah.
Mbak Rini pun mengangguk kecil tanda mengerti. "Selamat sore, Pak," ucap Mbak Rini sambil menundukkan kepalanya. "Saya di suruh kesini sama Bu Sifa untuk membantu Bu Mira bersih-bersih,” lanjutnya mengikuti instruksi yang sebelumnya sudah diatur bersama Almira.
"Bersih-bersih?" tanya Bu Rosidah yang langsung menegakkan badan. "Kenapa baru datang sekarang? Kenapa tidak sejak tadi?" Wanita paruh baya itu berteriak marah. Setelah ia susah payah capek-capek di dapur baru bantuan datang.
Mbak Rini yang terkejut menoleh ke arah Almira. Pasalnya sudah lama ia bekerja pada Almira, tapi tak pernah bertemu dengan Bu Rosidah dan yang lain. Bahkan bertemu Gilang pun baru hari ini. Selama ini ia hanya melihat wajah Gilang yang ada di bingkai besar foto pernikahan Almira.
Melihat kebingungan Mbak Rini, Almira segera paham. “Ah, Mbak Rini, perkenalkan. Beliau itu Bu Rosidah, ibu mertuaku. Yang di itu Riana, adik iparku. Dan… yang paling cantik dan seksi itu… “ Almira menjeda ucapannya untuk mengambil napas. “... adik madu-ku."
"Apa…?” Mbak Rini menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan telapak tangan. "Ad- dik ma- du…?" Suara gadis itu tercekat di tenggorokan. Gadis yang menatap Almira dengan mata berkaca-kaca. “Istri sebaik Bu Mira dimadu?” gumamnya dalam hati.
"Yuk, Mbak kita langsung bersih-bersih di kamarku dulu,” ajak Almira yang langsung menarik tangan mbak Rini.
"Iya, Bu,” jawab Mbak Rini mengikuti langkah Almira mengambil alat kebersihan, lalu segera pergi ke lantai atas.
“Saya turut prihatin, Bu," ucap Mbak Rini ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar. Tanpa sadar gadis itu memeluk Almira.
"Aku gak papa kok, Mbak," jawab Almira menerima pelukan. “Mungkin memang ujian rumah tanggaku memang seperti ini," lanjutnya menghapus setitik air mata yang tanpa sengaja kembali menetes.
“Bu Mira terima begitu saja? Kenapa gak hempaskan saja PELAKOR itu, Bu? Kalau Rini yang jadi Bu Mira, sudah Rini jambak rambutnya. Rini cakar mukanya yang kebanyakan dempul itu!” Malah Mbak Rini yang merasa tidak terima. Gadis itu bahkan berbicara sambil mencengkeram jarinya. Gigi-gigi gerahamnya saling beradu seakan dirinya yang tersakiti.
Almira menggelengkan kepala seraya terkekeh. Mbak Rini benar-benar bisa menghiburnya. "Biarkan Tuhan saja yang bertindak," jawabnya. Ia memang dekat dengan mbak Rini, tapi tak sedekat itu juga hingga harus menceritakan segala rencana yang akan ia tempuh.
“Sabar ya, Bu. Saya yakin ibu pasti bisa lalui ini," ucap Mbak Rini memberi semangat.
“Makasih, Mbak. Ya udah, Mbak Rini mulai aja bersih-bersihnya!" Almira mengalihkan pembicaraan, tak mau terus membicarakan hal yang menurutnya tak penting.
“Siap, Bu!" Mbak Rini pun mengangguk sigap dan segera bergerak dengan cekatan. Almira melihat gadis itu memang benar-benar enerjik. Seperti tak kenal lelah. Mungkin karena tuntutan hidup yang mengharuskannya demikian.
Selang satu jam, Rini selesai dengan pekerjaannya. Mereka pun kembali turun ke bawah. Rini membawa alat kebersihan, sedangkan Almira membantu membawa keranjang pakaian kotor dan sprei dan selimut yang akan di cuci.
Gilang dan keluarganya yang ada di ruang tengah menoleh saat mereka lewat. Dan segera tahu kalau Rini akan mencuci pakaian Almira.
"Heh, kamu! Cuci sekalian pakaian ku dan anak-anakku!" perintah Bu Rosidah dengan gayanya yang sok berkuasa.
"Maaf, Bu," ucap Rini yang menghentikan langkah. “Tapi saya hanya ditugaskan oleh Bu Sifa untuk mengerjakan tugas dari Bu Mira, bukan yang lain.” Jawaban yang tentu saja sudah diajarkan oleh Almira.
Setelah berkata demikian, Rini segera menyusul langkah Almira ke ruang loundry yang tentu saja sudah dia hafal.
Bu Rosidah dan yang lain mengumpat geram. Benar-benar kesal dengan pembantu yang belagu, juga Almira yang sama sekali tidak menurut.
Setelah memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci 3 in 1, yang nantinya akan mati sendiri jika pakaian sudah dalam keadaan bersih, kering, dan siap setrika, Almira dan mbak Rini pergi ke dapur. Almira ingin membuat nasi goreng untuk dirinya sendiri.
Mencium aroma harum, Bu Rosidah dan Riana mendekat dan segera duduk di kursi meja makan. Namun, setelah menunggu beberapa saat, ternyata Rini hanya menghidangkan sepiring nasi goreng dan telur dadar buat Almira.
“Heh, Babu! Mana untuk kami?" bentak Riana.
“Maaf, Mbak. Saya hanya membuat untuk Bu Mira, sesuai dengan perintah Bu Sifa." Mbak Rini menjawab dengan santai tanpa takut sedikitpun.
Bu Rosidah menatap sinis ke arah Almira dan Mbak Rini. "Enak ya, bisa ongkang-ongkang kaki. Dasar menantu tidak berguna! Harusnya kamu suruh dia melayani kami juga. Saya ini Mertua yang harus kamu hormati. Apa dia tidak paham?!" Bu Rosidah benar-benar merasa geram karena perintahnya tak dituruti.
Almira yang sedang mengunyah nasi goreng, berhenti sejenak dan menoleh ke arah Bu Rosidah. "Ibu mau Mbak Rini melayani Ibu juga?" tanyanya polos.
Bu Rosidah mengangguk cepat dengan wajah senang.
"Boleh sih. Tapi… Ibu berani bayar berapa?” Almira kembali menyuapkan telur dadar ke dalam mulutnya.
Bu Rosidah mendelik tajam. "Dasar menantu kurang ajar!" gerutunya.
Almira hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Sementara mbak Rini, setelah membersihkan peralatan bekas memasak segera kembali ke ruang loundry untuk melihat apakah pakaian Almira sudah siap di setrika.
"Bu, gimana kalau kita pakai pembantu juga?” pinta Riana. “Kan enak kita gak usah capek beres-beres. Nih lihat, kuku-kukuku rusak gara-gara bersih-bersih tadi.”
“Ini gara-gara kamu!" Bu Rosidah menuding Almira. “Dasar menantu tidak berguna. Harusnya kamu yang bersih-bersih, bukan mertua!"
“Memangnya, menantu ibu cuma aku?" sindir Almira setelah menenggak habis jus jeruk Made in Mbak Rini. “Buktikan dong, Bu, kalau menantu Ibu yang satunya itu paling berguna."
“Aku kan hamil, Mbak!" Lila menyahut cepat, tak mau dirinya disuruh-suruh.
Satu kata yang selalu menjadi pemakluman. Almira mencebik menatap ke arah ibu mertua. “Memangnya, waktu ibu hamil Riana sama Gilang juga harus bermalas-malasan? Bukannya wanita hamil justru harus banyak gerak biar persalinan lancar?"
“Itu karena dokter yang menyarankan!" bantah Lila cepat.
Gilang memijit pelipisnya. Rumahnya yang dulu tenang kini selalu diwarnai perdebatan. Dia benar-benar pusing.
“Orang yang gak pernah hamil mana paham?" sindir Riana.
“Memangnya kamu pernah hamil?" Celetuk Mira dengan mata menyelidik.
“Kamu!!" Riana menyembunyikan wajah gugupnya. “Aku kan bicara tentang Mbak Lila. Dasar tidak berguna. Sudah miskin, sombong pula. Sok-sokan pake pembantu!"
Almira tersenyum sinis lalu berdiri dari duduknya untuk membawa piring dan gelas kotor ke wastafel. “Gak papa miskin, temanku kan kaya!" Membalikkan badan dan kepala dengan cepat. Andai tidak berhijab, pasti sudah seperti iklan shampo Sunsilk.
semangat thor