NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: KECURIGAAN KARIN

Sore Hari – Parkiran Kampus

​Valerie sengaja menunggu sepuluh menit setelah kelas usai agar tidak terlihat keluar bersamaan dengan Revan. Namun, saat ia sampai di mobil hitam Revan yang terparkir di pojok, pria itu sudah menunggu di dalam.

​Begitu Valerie masuk dan menutup pintu, Revan langsung menyerahkan sebotol air mineral dingin.

​"Bagaimana rasanya duduk di kursi panas, Nyonya Revanza?" tanya Revan dengan nada menggoda yang sangat jarang ia gunakan.

​"Kau jahat sekali, Mas! Karin hampir saja curiga!" protes Valerie sambil memukul pelan lengan Revan. "Tapi hukuman ini berakhir hari ini, kan?"

Revan terkekeh, suara tawa yang rendah dan hangat yang hanya bisa didengar oleh Valerie.

 ​"Siapa bilang?" Revan menyalakan mesin mobil. "Hukumanmu berlaku sampai ujian tengah semester. Jadi, biasakan dirimu duduk di sana, Erie. Karena aku menyukai cara matamu menatapku saat aku menjelaskan pasal-pasal hukum."

Ketenangan di kelas Hukum Perdata terusik pada minggu ketiga hukuman Valerie. Pagi itu, pintu ruang kuliah terbuka, namun bukan Revan yang masuk pertama kali. Seorang pria dengan setelan kasual namun elegan, blazer biru navy di atas kaos putih, melangkah masuk dengan senyum lebar yang ramah.

Dia adalah Julian, dosen muda asisten yang baru saja menyelesaikan studinya di Italia dan diperbantukan untuk mengajar mata kuliah pilihan di Fakultas Seni. Namun, pagi ini ia mampir ke Fakultas Hukum untuk memberikan pengumuman terkait proyek kolaborasi Seni-Hukum.

"Selamat pagi semuanya," suara Julian terdengar santai, sangat kontras dengan bariton Revan yang berat.

Mata Julian langsung tertuju pada baris terdepan, tempat Valerie duduk kaku. "Wah, aku tidak menyangka ada mahasiswi secantik ini duduk di baris paling depan kelas Hukum yang kaku ini."

Karin di sebelah Valerie langsung berbisik heboh, "Val! Lihat itu! Akhirnya ada oksigen di kampus ini! Dia jauh lebih manusiawi daripada 'Iblis' kita!"

Valerie hanya tersenyum canggung. Namun, sedetik kemudian, hawa dingin yang familiar menyelimuti ruangan. Revan melangkah masuk. Ia berhenti tepat di samping Julian, wajahnya datar seperti es, namun matanya menatap tajam ke arah tangan Julian yang bertumpu di pinggir meja Valerie.

"Terima kasih atas pengumumannya, Pak Julian. Saya rasa waktunya sudah habis," ucap Revan dingin, tanpa basa-basi.

"Ah, Pak Revanza. Santai sedikit, Pak. Saya hanya sedang menyapa mahasiswi rajin ini," Julian terkekeh, lalu menoleh kembali pada Valerie. "Valerie, kan? Saya sudah lihat portofolio lukisanmu di galeri fakultas. Sangat luar biasa. Mungkin kita bisa bicara lebih banyak soal proyek kolaborasi itu setelah kelas ini? Di kafe depan?"

Valerie melirik Revan. Rahang suaminya itu mengeras, dan pulpen di tangannya seolah hampir patah. "Saya... saya ada jadwal lain, Pak," jawab Valerie cepat.

"Hanya sebentar, Valerie. Sebagai dosen pembimbing barumu di mata kuliah kolaborasi, saya rasa ini penting," Julian mengedipkan sebelah mata, lalu berpamitan pada Revan.

Setelah Julian keluar, atmosfer di kelas berubah menjadi sangat mencekam. Revan berdiri di depan podium, tidak langsung memulai kuliah. Ia menatap Valerie cukup lama, tatapan yang membuat Valerie merasa seolah ia baru saja melakukan pelanggaran hukum berat.

"Buka buku kalian halaman 245," perintah Revan pendek. Suaranya satu oktav lebih rendah dari biasanya.

Sepanjang kuliah, Revan benar-benar menjadi "ganas". Ia memberikan pertanyaan-pertanyaan sulit yang mencecar mahasiswa, namun target utamanya tetap baris terdepan.

"Saudari Valerie," Revan berjalan mendekat, ia berdiri tepat di depan meja Valerie, hingga ujung sepatunya bersentuhan dengan meja gadis itu. "Jika seorang pihak dalam kontrak merasa terganggu oleh pihak ketiga yang mencoba melakukan intervensi, langkah hukum apa yang bisa diambil?"

Valerie menelan ludah. Ia tahu Revan tidak sedang bertanya soal pasal, ia sedang membicarakan Julian. "Melakukan gugatan perbuatan melawan hukum, Pak... karena mengganggu hak orang lain."

"Tepat," desis Revan. Ia membungkuk, tangannya bertumpu di meja Valerie, mengurung gadis itu di antara tubuhnya dan kursi. Dari jarak sedekat ini, hanya Valerie yang bisa melihat kemarahan dan kecemburuan yang berkilat di mata Revan. "Dan dalam hukum, sesuatu yang sudah memiliki 'kontrak eksklusif' tidak boleh disentuh oleh pihak luar. Mengerti?"

Karin di sebelah Valerie gemetar. "Val... kenapa Pak Revan menatapmu seolah ingin memenjarakan seseorang hidup-hidup? Seram sekali!"

Sore Hari – Di Dalam Mobil

Begitu pintu mobil tertutup, Revan tidak langsung menyalakan mesin. Ia melonggarkan dasinya dengan kasar, lalu menoleh pada Valerie yang duduk diam.

"Apa kau akan menemuinya di kafe itu?" tanya Revan tanpa ekspresi, namun suaranya sarat dengan tuntutan.

"Tentu saja tidak, Mas. Aku kan pulang bersamamu," jawab Valerie lembut.

"Dia menyentuh mejamu, Erie. Dia menatapmu seolah kau adalah lukisan yang bisa ia beli," Revan mendengus dingin. "Mulai besok, Bimo akan menunggumu tepat di depan pintu kelas Seni. Tidak ada diskusi di kafe, tidak ada pembimbingan di luar jam kuliah."

Valerie menahan tawa melihat sisi kekanakan suaminya yang sangat posesif. Ia memberanikan diri meraih lengan Revan. "Mas... apa kau cemburu pada Pak Julian?"

Revan terdiam, lalu ia menatap Valerie dengan pandangan yang sangat intens, ia menarik Valerie hingga mendekat ke arahnya. "Aku tidak cemburu pada pria yang bahkan tidak tahu bahwa kau tidak suka kopi pahit dan selalu tidur dengan lampu menyala. Aku hanya sedang menandai apa yang menjadi milikku, Erie. Dan Pak Julian baru saja masuk ke daftar hitamku."

Valerie tersipu, namun hatinya menghangat. "Hukuman duduk di depan itu... ternyata bukan hanya untuk mengawasiku ya? Tapi untuk menunjukkan pada orang lain bahwa aku 'diawasi' olehmu."

Revan tidak menjawab, "Jangan pernah tersenyum pada pria itu lagi di kelasku. Atau hukumanmu akan ditambah menjadi asisten pribadiku di kantor dosen setiap hari." ucap Revan sebelum melajukan mobilnya.

Karin bukan orang bodoh. Sepanjang sisa hari itu, otaknya terus memutar ulang kejadian di kelas Hukum. Tatapan Pak Revan bukan sekadar tatapan dosen galak pada mahasiswinya. Itu adalah tatapan seorang pria yang sedang menjaga wilayah kekuasaannya.

"Ada yang tidak beres," gumam Karin sambil bersembunyi di balik pilar besar dekat lobi gedung Fakultas Hukum.

Ia melihat Valerie berjalan keluar dengan langkah terburu-buru, matanya melirik ke kanan dan ke kiri seolah takut ketahuan seseorang. Tak lama kemudian, sebuah sedan hitam mewah, yang Karin kenal sebagai mobil Pak Revan, berhenti di sudut parkiran yang agak gelap dan tersembunyi.

Karin menahan napas saat melihat Valerie dengan cekatan membuka pintu depan mobil tersebut dan masuk ke dalamnya.

"Demi apa?!" Karin menutup mulutnya dengan tangan. "Valerie... dia benar-benar simpanan Pak Revan?!"

Tanpa pikir panjang, Karin segera menyetop ojek online yang kebetulan lewat. "Mas, ikuti mobil hitam itu! Jangan sampai kehilangan jejak, tapi jangan terlalu dekat!"

1
Nur Mei
semangat ngetiknya kak😁
EILI sasmaya: Terimakasih, 🥰
total 1 replies
sweet chil
tetap semangat Thor .. 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!