Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahira Menghasut Nathan
Mahira duduk di apartemennya sambil ngeliatin layar laptop. Di layar itu ada rekaman CCTV mansion Erlangga.
CCTV yang dia sadap dua minggu lalu dengan bantuan teknisi yang dia bayar mahal. Rekaman pagi ini nunjukin pertengkaran Nathan dan Naura di ruang makan.
Mahira nonton dengan seksama, bibir nya melekuk jadi senyum tipis yang mengerikan.
"Aku tidur sama Mahira karena aku cinta dia! bukan kamu!"
Suara Nathan dari rekaman bikin Mahira tersenyum lebih lebar.
"Bagus sayang, bagus." dia berbisik sambil mengelus layar laptop. "Terus sakiti dia, terus bikin dia menderita."
Rekaman terus jalan, sampe bagian dimana Nathan banting pintu dan pergi. Mahira ngeliat Naura yang jatuh berlutut sambil nangis.
"Kasian ya." Mahira ngomong dengan nada mengejek. "Kasian gadis polos yang gak tau apa-apa, hamil anak pria yang gak cinta sama dia."
Mahira menutup laptop, ngambil ponselnya, lalu mengirim pesan pada Nathan.
...💌...
Mahira: Sayang, kamu udah sampe kantor? aku khawatir, kamu keliatan stress banget tadi pagi waktu di kantor.
Nathan membalas cepet.
^^^Nathan: Iya, aku lagi di ruangan, lagi pusing mikirin sesuatu.^^^
Mahira: Mau aku kesana? Aku bisa temenin kamu.
^^^Nathan: Gak usah, nanti siang aja kita makan siang bareng.^^^
Mahira: Oke sayang, aku tunggu.
Mahira menaruh ponselnya sambil senyum licik. Sempurna, semuanya berjalan sesuai rencana. Nathan makin tergantung sama dia, dan Naura makin tersiksa.
Tinggal selangkah lagi, sebelum Mahira benar-benar mendapatkan Nathan sepenuhnya.
***
Jam dua belas siang Mahira dateng ke kantor Nathan. Dia pake dress putih yang innocent, makeup natural, rambut dikuncir ekor kuda, keliatan kayak gadis baik baik.
Sangat berbeda dari penampilannya pagi tadi, yang seksi dan menggoda.
Hari ini Mahira mau keliatan polos, keliatan seperti korban, bukan pelakor.
Nathan udah nunggu di lobby, mereka pergi makan siang ke restoran Jepang yang sepi. Duduk di private room yang ga ada orang lain.
"Kamu keliatan capek banget sayang." Mahira ngomong sambil mengelus tangan Nathan di atas meja.
"Aku emang capek," Nathan mendesah panjang. "Naura bikin pusing pagi ini."
"Kenapa? Ada apa?" Mahira bertanya dengan nada khawatir yang sempurna.
Nathan cerita tentang pertengkaran pagi tadi, tentang Naura yang ngidam, tentang dia yang nolak, sampe akhirnya mereka bertengkar hebat.
Mahira dengerin dengan seksama, kadang ngangguk, kadang ngasih ekspresi shock di waktu yang tepat.
"Dia bilang dia hamil," Nathan akhirnya ngomong dengan suara pelan.
Mahira pura pura kaget "Apa? Di-dia hamil?"
"Iya, dua bulan, dia bilang itu anak aku."
"Kamu yakin itu anak kamu?" Mahira bertanya hati hati.
Nathan menatap Mahira dengan pandangan bingung. "Maksudnya?"
Mahira menunduk, kayak ragu mau ngomong. "Aku gak enak ngomong ini. Nathan, tapi aku khawatir sama kamu."
"Ngomong aja Mahira, apapun itu."
Mahira napas panjang, menatap Nathan dengan mata yang dibuat berkaca kaca. "Kamu tau kan di dunia kita, banyak wanita yang memanfaatkan kehamilan buat menjebak pria kaya."
Nathan menegang. "Kamu bilang Naura bohong?"
"Aku gak bilang dia bohong," Mahira cepet klarifikasi. "Aku cuma pengen kamu mikir jernih, apa kamu bener bener yakin bayi itu anak kamu?"
"Naura bilang dia ga pernah sama pria lain."
"Dan kamu percaya begitu aja?" Mahira bertanya dengan nada yang dibuat lembut tapi ada racun di baliknya. "Nathan sayang.. kamu pria yang sangat kaya, banyak wanita yang mau manfaatin kamu."
"Tapi Naura bukan wanita kayak gitu."
"Kamu yakin?" Mahira mendekatkan wajahnya. "Dia nikah sama kamu karena apa? karena cinta? Atau karena dia butuh uang buat operasi ibunya?"
Kata-kata Mahira mulai masuk ke otak Nathan.
"Aku gak tau."
"Dan sekarang dia hamil, tepat waktu kan? pas kontrak masih jalan, pas dia bisa minta uang lebih, pas dia bisa ikat kamu lebih kuat." Mahira terus racuni pikiran Nathan. "Aku gak mau kamu dimanfaatin sayang, aku gak mau kamu terluka."
Nathan mengusap wajahnya kasar. "Tapi aku mabuk malam itu, aku ga inget apa apa, bisa aja emang aku yang."
"Atau l, bisa aja dia manfaatin kamu yang lagi mabuk, buat bikin kamu pikir kamu yang bikin dia hamil." Mahira memotong "Nathan, kamu harus test DNA, kamu harus pastikan bayi itu bener anak kamu atau bukan."
Nathan menatap Mahira lama. "Kamu serius?"
"Sangat serius, ini buat kebaikan kamu Nathan, aku ga mau kamu tanggung jawab sama anak yang bahkan bukan darah daging kamu." Mahira megang tangan Nathan erat "Lagian, akhir-akhir ini aku liat Naura deket banget sama Layvin."
Nama Layvin bikin Nathan langsung alert. "Layvin? asisten aku?"
"Iya," Mahira ngangguk pelan. "Aku beberapa kali liat mereka ngobrol lama, Layvin sering ke mansion kan? dia sering bantu Naura."
"Itu karena aku yang suruh dia, buat bantu Naura kalau ada apa-apa."
"Atau karena Layvin emang peduli lebih dari seharusnya?" Mahira menaikkan alis. "Nathan, aku gak mau nuduh tanpa bukti, tapi coba kamu pikir, Layvin itu pria yang baik, perhatian, selalu ada buat Naura, sementara kamu sibuk sama pekerjaan dan sibuk sama aku."
Nathan mengepalkan tangan di atas meja, otaknya mulai penuh dengan pikiran negatif.
Layvin.
Naura.
Bayi.
"Mereka gak mungkin..." Nathan berbisik tapi suaranya gak yakin.
"Aku gak bilang mereka pasti, tapi kamu harus waspada Nathan." Mahira mrngelus punggung tangan Nathan. "Cinta bisa tumbuh dari perhatian, dan Layvin kasih perhatian yang kamu ga pernah kasih ke Naura."
Racun Mahira mulai menyebar ke seluruh pikiran Nathan. Dia inget waktu Naura sakit, Layvin yang bawa ke rumah sakit.
Dia inget waktu dia ga ada, Layvin yang sering ke mansion. Dia inget foto-foto Naura yang senyum waktu sama Layvin.
"Sialan!" Nathan memukul meja pelan.
"Sayang," Mahira memeluk tangan Nathan. "Aku gak mau kamu sakit hati, aku cuma mau kamu tau kebenaran, test DNA itu penting, kalau bayi nya emang anak kamu, ya kamu tanggung jawab, tapi kalau bukan."
"Kalau bukan aku akan," Nathan ga nerusin kalimatnya tapi matanya penuh amarah.
Mahira tersenyum dalam hati, Nathan udah mulai curiga sama Naura. Udah mulai curiga sama Layvin, tinggal dikasih sedikit dorongan lagi.
"Sayang," Mahira ngecup pipi Nathan. "Apapun yang terjadi, aku akan selalu di samping kamu, aku akan selalu dukung kamu."
"Aku tau." Nathan memeluk Mahira. "Terima kasih udah ingetin aku, aku hampir lupa kalau aku harus lebih hati hati."
"Sama-sama sayang, aku cuma ga mau kamu dimanfaatin."
Mereka makan siang dengan Nathan yang udah penuh pikiran curiga. Setelah makan, Nathan balik ke kantor dengan kepala penuh rencana.
Dia akan suruh Layvin jaga jarak dari Naura. Dia akan test DNA bayi Naura nanti pas lahir. Dia akan pastikan gak ada yang bisa manfaatkan dia.
Sementara Mahira pulang ke apartemen dengan senyum kemenangan. Dia buka laptop lagi, nonton rekaman CCTV mansion real time.
Di layar, Naura lagi duduk di taman sambil mengelus perutnya, nangis sendirian.
"Nangis terus gadis bodoh," Mahira ngomong sambil ketawa pelan. "Nangis sampai kamu ga punya air mata lagi, karena aku belum selesai sama kamu."
Mahira gak peduli Naura sahabatnya, gak peduli Naura hamil. Dan dia gak peduli sama bayi yang gak bersalah.
Yang Mahira pedulikan cuma satu, yaitu Nathan. Mendapkan Nathan sepenuhnya.
Dan kalau harus menginjak Naura, menginjak bayi yang gak bersalah, menghancurkan hidup orang yang polos, Mahira akan lakukan tanpa ragu.
Karena Mahira bukan sahabat, ia adalah ular berbisa, yang bersembunyi di balik senyum manis. Monster yang menyamar jadi malaikat, pelakor paling jahat yang pernah ada, dan yang gak punya hati nurani.
Dan Naura yang polos, dia gak tau badai apa yang akan menghantamnya. Gak tau sahabatnya sendiri, yang lagi menyusun rencana, untuk menghancurkannya.
Sementara Mahira, duduk di apartemen mewahnya, sambil meminum wine merah, dan merencanakan kehancuran total Naura.
Dengan senyum yang mengerikan, senyum yang bisa membuat siapapun jadi takut. Karena mata Mahira, bukan mata manusia normal. Tapi mata monster yang siap membunuh, demi mendapatkan apa yang dia mau.
ada laki2 lain yg perhatian dn menjaga,kenapa gk sm laki2 itu
lagian nathan jg selingkuh lbh baik naura pergi menjauh dari nathan.
daripd sakit hati tiap hari.
suami yg blm lepas dr masa lalunya gk akn percaya sm omongan istri sah nya.
buat apa tetap cinta dn bertahan.
pergi,cari kebahagiaanmu bersama anakmu sj