NovelToon NovelToon
Mengejar Mauren

Mengejar Mauren

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Gangster / Teen School/College / Persahabatan / Romansa / Kegiatan Olahraga Serba Bisa
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati yang Masih Abu-abu

Darah Rommy berdesir melihat Axel main ke rumah Mauren, tapi dia diam saja sampaitiba di rumah.

“Ngapain dia ke rumah Mauren?” kata Rommy dalam hati.

Di rumah Mauren, Mauren baru mau masuk rumah sehabis mengantarkan Tony dan Rommy pulang sampai depan pagar.

“Selamat pagi, Ren,” sapa Axel dengan senyumnya yang dibuat-buat.

Mauren terkejut sejenak, tapi kemudian menyambut Axel dengan senyum manisnya.

“Pagi, Axel,” sapa balik Mauren. “Ada angin apa nih bawa kemari?”

“Enggak, kemarin ada saudara dari Bali datang, dia bawain oleh-oleh cokelat tempe dari Bali,” jawab Axel. “Ini, buat kamu satu. Cobain rasanya unik kok.”

“Oh, terima kasih, nanti aku coba,” kata Mauren sambil meletakkan cokelat itu ke meja. “Yuk kita ngobrol di teras aja.”

“Omong-omong, barusan Rommy dan Tony aku lihat datang kemari. Ngapain mereka, Ren?” tanya Axel to the point.

“Oh, ada yang perlu dibicarain,” kata Mauren yang paham harus hati-hati bicara kalau sama Axel. “Tunggu sebentar ya, aku buatin minum dulu.”

“Eh nggak usah…,” kata Axel.

Namun Mauren tetap masuk ke dapur dan menyiapkan minum untuk Axel. Sebenarnya itu hanya alasan Mauren untuk menghindar dari Axel. Dia malas ngomong sama Axel, dia ngomongnya soal kekerasan terus, dan Mauren sebenarnya nggak suka kekerasan, meski dia menekuni karate. Kalau kata orang nggak nyambung. Entah kenapa dia lebih cocok ngomong sama Rommy.

Tapi bagaimanapun Axel adalah pahlawan buat Mauren yang telah membebaskannya dari drama penculikan Mat Kojak. Walaupun Mauren meragukan hal tersebut benar-benar kejadian nyata. Di teras, Axel masih menunggu dengan gelisah, tapi Mauren sengaja lama di dapur, berharap Axel bosan dan pulang sendiri.

Sementara itu, sesampainya di rumah, Rommy makin merasa nggak enak hatinya karena Axel datang ke rumah Mauren tadi. Tanpa pikir panjang, dia langsung naik ke motornya sendiri dan langsung tancap gas ke rumah Mauren.

“Mau ke mana lagi, Rom?” Mama Rommy nanya, tapi nggak dijawab sama Rommy dan jawabannya cuma hembusan angin dan suara knalpot yang menjauh.

Nggak berapa lama dia lihat Axel masih ada di rumah Mauren, duduk sendirian di teras, ditinggalkan Mauren yang masih berpura-pura menyiapkan minum buat Axel. Rommy segera menstandar motornya di depan halaman rumah Mauren, bersebelahan dengan motor Axel.

Walaupun Rommy mengenakan helm, dia langsung bisa mengenali sosok musuh besarnya itu. Tanpa basa-basi dia langsung mendatangi Axel dan menghardik, “Mau apa kamu kemari?”

“Jangan dekati Mauren!” kata Axel sambil melayangkan pukulan yang membuat Rommy kehilangan keseimbangan dan terjatuh di rerumputan. Belum sempat Rommy berdiri, Axel sudah mencoba menyerangnya lagi.

Mauren yang melihat itu dan membawa minuman untuk Axel langsung berlari menghambur keluar lalu menarik Axel dengan panik.

Axel tidak menghiraukan dan masih terus berusaha menyerang Rommy yang masih jatuh di tanah dan hanya bisa bertahan melindungi wajahnya agar tidak menjadi sasaran amukan Axel.

Mauren yang merasa tidak dihiraukan kembali menarik badan Axel sambil berseru, “Axel! Aku bilang berhenti!”

Barulah Axel menghentikan serangan gencarnya dan Rommy segera berdiri.

“Ada apa ini ramai-ramai?” tanya Papa Mauren yang keluar melihat keributan kedua anak muda itu.

“Nggak tahu, Pa, begitu melihat Rommy, Mauren lihat Axel langsung menyerang Rommy yang sedang memarkirkan motornya,” kata Mauren.

“Kenapa begitu, Xel?” tanya Papa Mauren.

Axel diam saja sambil terus melotot ke arah Rommy dengan posisi siap menyerang lagi. Sementara Rommy kali ini sudah bersiap-siap kalau-kalau Axel menerjangnya lagi.

“Axel, aku bilang hentikan!” teriak Mauren yang segera berdiri di tengah-tengah kedua musuh bebuyutan itu.

Axel dengan mata nyalang lalu menuding ke arah Rommy dan berkata, “Aku tunggu kau di Sasana Tinju Cobra sore ini jam 4. Itu kalau kau benar-benar lelaki!” Lalu Axel tanpa basa-basi menaiki motornya dan segera menarik gasnya membuat suara nyaring yang memekakkan telinga dan langsung meninggalkan rumah Mauren.

Papa Mauren hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Axel yang tidak ada sopan santunnya itu.

“Mari masuk ke rumah, lihat tangan kamu berdarah, Rom,” kata Mauren. “Biar aku olesin Betadine.”

Kemudian mereka semua masuk ke rumah Mauren. Sementara Mauren mengambil Betadine, Rommy duduk di teras. Sebenarnya lukanya tidak terlalu sakit. “Tapi kalau diolesin Betadine sama Mauren, siapa bisa nolak?” kata Rommy dalam hati sambil tersenyum girang.

Mauren lalu keluar dengan membawa Betadine.

“Rom, duduk di dalam aja,” ajak Mauren. Rommy kemudian masuk lalu duduk di ruang tamu.

Papa Mauren lalu keluar membawa sebotol air mineral dan berkata kepada Mauren, “Ren, cuci dulu luka Rommy pakai air mineral ini, sebelum diolesin Betadine, biar nggak infeksi.”

“Ya, Pa,” jawab Mauren.

“Saya nggak apa-apa kok, Om,” ujar Rommy yang merasa nggak enak hati atas kebaikan Mauren dan papanya. Lalu dia meringis kesakitan karena luka di lengannya terasa perih waktu dicuci dengan air mineral.

Tapi ini perih beneran, bukan perih pura-pura.

“Ah kamu, Rommy, bagaimana mau jadi petinju, baru luka sedikit aja sudah meringis begitu,” goda Papa Mauren sambil tertawa.

“Mending kena pukul, Om, daripada luka beginian,” jawab Rommy sambil masih meringis kesakitan.

“Ah, bilang aja minta dipukul sama aku kayak kemarin waktu sparing,” Mauren ikut menggoda genit.

Mauren dan papanya tertawa terbahak-bahak, tapi kali ini Rommy nggak bisa ikut ketawa, karena menahan perihnya lecet di tangan.

HP Rommy tiba-tiba bergetar, dan ada pesan masuk dari Axel!

“Hai anak mama! Urusan kita belum selesai! Kutunggu kau jam 4 di Sasana Tinju Cobra.”

“Pesan dari siapa, Rom?” tanya Mauren.

Rommy lalu menunjukkan pesan dari Axel itu kepada Mauren.

“Kau akan datang?” tanya Mauren.

“Aku nggak ada pilihan lain, Ren,” kata Rommy. “Dia akan merasa menang kalau aku nggak datang.”

“Om akan ikut datang ke Sasana Tinju Cobra,” kata Papa Mauren. “Kebetulan Coach Bruno adalah kawan lama Om waktu kita masih tinju dulu.”

“Oya, kenapa kamu balik lagi ke rumahku?” tanya Mauren. “Ada yang ketinggalan?”

“Eh, i.. iya, buku catatanku mungkin ketinggalan di sini,” kata Rommy bohong. “Aku cari-cari di rumah nggak ada.”

“Kayaknya nggak ada yang ketinggalan tuh?” kata Mauren.

“Nggak apa. Mungkin keselip di mana, ntar aku cari lagi di rumah,” kata Rommy.

Papa Mauren tersenyum kecil, teringat masa muda dulu saat PDKT ke Mama Mauren juga pakai modus yang serupa.

“Omong-omong Tante ke mana, Om?” tanya Rommy.

“Dia sedang ke pasar, belanja,” jawab Papa Mauren. “Paling juga sebentar pulang.”

Kemudian Rommy membuka HP-nya dan mengirim pesan kepada Tony, isinya:

“Ntar lu ada waktu jam 4, bro? Gua minta tolong elu nanti jadi pembantu gua di sudut. Axel ngajak sparing di sasana Cobra jam 4 sore ini. Dan aku harus datang, ini soal harga diri.”

1
bartolomeus marsudiharjo
Gue banget
bartolomeus marsudiharjo
Seru banget. Menjanjikan.
jc: terimakasih
total 1 replies
Noname
Karya Ai ?
jc: bukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!