NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Harga dari Sebuah Kenyamanan

Mobil melaju perlahan.

Kota asing itu terbentang di depan kami—mewah, luas, dan menakutkan dengan caranya sendiri. Gedung-gedung tinggi berlapis kaca memantulkan cahaya sore, jalanan rapi dengan mobil-mobil mahal yang lalu lalang seolah semua orang di sini hidup tanpa perlu berhenti bernapas. Semuanya terasa terlalu teratur. Terlalu sempurna. Dan entah kenapa, itu membuatku sedikit gugup.

Aku duduk diam di kursi penumpang, mataku bergerak ke sana kemari, mencoba menyerap semuanya. Haruka menyetir dengan santai, satu tangannya di kemudi, ekspresinya tenang—seolah kota ini bukan sesuatu yang baru, bukan sesuatu yang perlu dikagumi.

“Kota ini… beda,” kataku akhirnya, memecah keheningan yang sebenarnya tidak canggung.

Haruka melirik sebentar. “Kamu tidak suka?”

“Bukan,” aku menggeleng pelan. “Cuma… terlalu besar. Terlalu hidup.”

Ia tersenyum kecil. “Kamu akan terbiasa.”

Kalimat itu seharusnya terdengar menenangkan. Tapi entah kenapa, aku merasakannya seperti peringatan yang dibungkus halus.

Kami terus mengobrol sepanjang jalan—lebih banyak aku yang bicara, bertanya tentang gedung-gedung yang kami lewati, bahasa yang terdengar asing di telingaku, orang-orang dengan langkah cepat dan wajah serius. Haruka menjawab seperlunya. Singkat. Tepat. Seperti biasa.

Mobil mulai meninggalkan pusat kota. Jalanan berubah, lebih sepi, lebih hijau. Pepohonan rapi berjajar di kiri kanan, pagar-pagar tinggi mulai terlihat. Sampai akhirnya mobil berbelok ke sebuah gerbang besar berwarna hitam dengan ukiran halus.

Mobil berhenti.

Gerbang itu terbuka perlahan.

Aku menahan napas.

Di baliknya, berdiri sebuah rumah—bukan, sebuah bangunan—yang benar-benar indah. Terlalu indah untuk kusebut rumah begitu saja. Dindingnya tinggi, berwarna terang, jendela-jendela besar memantulkan cahaya sore. Halaman luas terawat sempurna, air mancur kecil di tengah, dan jalan masuk yang bersih tanpa satu pun daun gugur.

Aku menoleh padanya tanpa sadar.

“Ini… serius?”

Haruka memarkir mobil dengan tenang. “Iya.”

Aku menelan ludah. “Ini rumah siapa?”

Ia mematikan mesin, lalu menoleh ke arahku. “Rumahku. Ayo masuk.”

Tangannya meraih tanganku begitu saja—alami, seolah itu hal paling wajar di dunia—dan menarikku keluar dari mobil. Kakiku menapak pelan, mataku masih menyapu bangunan itu dengan tak percaya.

Begitu pintu utama terbuka, aku benar-benar kehilangan kata.

Interiornya… menakjubkan. Langit-langit tinggi, lampu gantung besar berkilau lembut, lantai marmer dingin di telapak kakiku. Semua tertata rapi, elegan, tanpa terasa berlebihan. Bau bersih dan hangat memenuhi ruangan, seperti rumah yang selalu siap menyambut siapa pun—tapi juga seperti tempat yang tidak sembarang orang boleh masuk.

Aku melangkah masuk pelan, lalu tanpa sadar langsung duduk di sofa besar di ruang tengah. Tubuhku terasa berat. Perjalanan panjang akhirnya menuntut balas.

“Haruka,” kataku sambil merebahkan punggung. “Kamu kok nggak capek sih? Aku ini capek banget loh. Serasa pengen digendong.”

Ia berdiri di dekat pintu, menatapku dengan ekspresi sulit ditebak. “Coba lihat dulu barang-barangnya,” katanya santai.

“Barang-barang apa?” tanyaku malas, tapi mataku sudah bergerak mengikuti arah pandangnya.

Aku bangkit setengah duduk. “Itu… semuanya?”

“Iya.”

Aku berjalan mendekat, membuka satu per satu tas itu. Gaun. Kemeja. Jaket. Sepatu. Aksesori. Semuanya terlihat mahal, lembut, dan… bukan dunia yang biasa kutinggali.

Aku menoleh padanya. “Haruka… ini kebanyakan.”

Ia bersandar santai. “Coba saja dulu.”

Aku mendesah, tapi ada rasa penasaran yang menang. Aku mengambil satu gaun, melangkah ke kamar ganti yang ternyata ada di sudut ruangan. Saat kain itu menyentuh kulitku, aku terdiam. Bahannya lembut. Jatuhnya pas.

Beberapa menit kemudian, aku keluar.

“Gimana?” tanyaku ragu, berdiri canggung di hadapannya.

Haruka menatapku. Tidak langsung menjawab.

Pandangan matanya bergerak pelan—bukan menilai, bukan menghakimi. Lebih seperti… memastikan. Seolah ingin mengingat setiap detail.

“Iya,” katanya akhirnya. “Bagus. Cantik banget. Kayak kamu.”

Wajahku langsung panas.

Aku mendengus kecil, menutupi rasa maluku dengan nada bercanda. “Cium dong kalau gitu.”

Aku pikir ia akan mengabaikannya. Atau menertawakannya.

Tapi Haruka melangkah mendekat.

Tangannya terangkat, berhenti sebentar di udara—seolah memberi kesempatan bagiku untuk mundur. Aku tidak melakukannya.

Ia menunduk sedikit. Ciumannya singkat. Lembut. Tidak tergesa. Seperti janji kecil yang tidak diucapkan.

Aku terpaku sesaat.

“Curang,” gumamku pelan setelah ia menjauh.

Ia tersenyum kecil. “Kamu yang minta.”

Aku mencoba beberapa pakaian lagi. Setiap kali keluar, aku selalu menoleh padanya, menunggu reaksinya. Dan setiap kali itu pula, ia membuat pipiku kembali memanas dengan pujian-pujian sederhana yang justru terasa lebih dalam karena diucapkan tanpa banyak ekspresi.

Akhirnya aku kembali duduk di sofa, napasku sedikit terengah.

“Haruka,” kataku pelan, kali ini tanpa bercanda. “Kamu biasa hidup begini?”

Ia duduk di sebelahku, jaraknya dekat tapi tidak menekan. “Begini bagaimana?”

“Semua ini,” aku menggerakkan tangan, menunjuk rumah, barang-barang, kenyamanan yang terasa… berlebihan. “Apa kamu nggak pernah capek?”

Ia diam cukup lama.

“Kenyamanan itu ada harganya,” katanya akhirnya.

Aku menoleh. “Harga apa?”

Ia menatap lurus ke depan. “Nanti kamu akan tahu.”

Jawaban itu membuat perutku menghangat sekaligus mengencang. Ada sesuatu di balik kalimat itu—sesuatu yang belum ia izinkan untuk kusentuh.

Aku bersandar pelan ke bahunya. “Untuk sekarang… aku cuma mau istirahat.”

Tangannya terangkat, melingkari bahuku tanpa ragu. “Istirahatlah.”

Aku tidak langsung menjawab. Aku hanya menggeser tubuhku sedikit, mencari posisi yang lebih nyaman, lalu dengan sengaja menyandarkan kepala lebih berat di bahunya. Bukan karena benar-benar lelah—tapi karena aku ingin.

Ia membiarkanku.

Aku menghela napas panjang, sengaja dibuat dramatis. “Capek banget,” gumamku. “Kayaknya kakiku nggak bisa dipakai lagi.”

“Kamu mau pindah ke kamar?” tanyanya pelan.

Aku menggeleng cepat. “Nanti. Di sini dulu.”

Ia tidak membantah. Tangannya tetap di bahuku, jari-jarinya diam tapi hangat. Aku memejamkan mata, menikmati rasa aman yang aneh—asing, tapi membuatku ingin berlama-lama.

Beberapa detik berlalu.

“Haruka,” panggilku lagi.

“Hm?”

“Aku haus.”

Ia langsung berdiri. “Air?”

Aku membuka satu mata, menatapnya dengan senyum kecil. “Teh hangat.”

Ia mengangguk tanpa komentar, berjalan ke arah dapur. Aku memperhatikannya dari sofa—langkahnya tenang, punggungnya lurus, seolah dunia selalu berjalan sesuai ritmenya. Anehnya, melihatnya menuruti hal-hal kecil dariku membuat dadaku terasa hangat.

Ia kembali membawa cangkir, lalu duduk di sebelahku lagi. “Pelan-pelan. Masih panas.”

Aku menerimanya, tapi tidak langsung minum. “tiupin dong ,” pintaku sambil mendorong cangkir itu kembali ke arahnya.

Ia menatapku sebentar. “Alya.”

“Aku capek,” kataku ringan, sambil bersandar lagi. “Tolong.”

Ia menghela napas kecil—bukan kesal, lebih seperti menyerah—lalu memegang cangkir itu dan menyodorkannya ke bibirku. Aku tersenyum puas dan menyesap pelan.

“Nggak kebanyakan manjanya?” tanyanya.

Aku menatapnya sambil minum. “Kamu keberatan?”

Ia diam beberapa detik. “Tidak.”

Jawaban singkat itu membuatku tersenyum lebih lebar.

Setelah minum, aku kembali bersandar, bahkan lebih dekat. Kali ini aku benar-benar memeluk lengannya, pipiku menempel di lengannya.

“Haruka.”

“Hm?”

“Rumah kamu gede banget,” kataku lirih. “Tapi kenapa rasanya… sepi?”

Ia tidak langsung menjawab. Tangannya bergerak pelan, mengusap punggung tanganku sekali—gerakan kecil yang nyaris tak terasa, tapi cukup untuk membuatku diam.

“Karena jarang ada yang tinggal di sini,” katanya akhirnya.

Aku mendongak sedikit. “Sekarang ada aku.”

Ia menoleh. Tatapan kami bertemu. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang tidak sepenuhnya ringan.

“Iya,” katanya pelan. “Sekarang ada kamu.”

Aku tersenyum, lalu tiba-tiba berdiri dan menarik tangannya. “Aku mau lihat kamar.”

“Kamu mau jalan?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Digendong.”

Ia menatapku—kali ini jelas menimbang.

Aku memonyongkan bibir, sengaja berlebihan. “Capek banget loh.”

Beberapa detik berlalu.

Lalu tanpa banyak bicara, ia mengangkatku begitu saja. Aku terkejut, refleks melingkarkan tangan ke lehernya.

“Hei—!”

“Pegangan,” katanya datar.

Aku tertawa kecil, puas, menyandarkan kepala ke bahunya. “Kamu baik banget sih.”

“Kamu kebanyakan minta,” balasnya.

“Tapi diturutin,” sahutku cepat.

Ia tidak membalas, tapi aku bisa merasakan getaran kecil di dadanya—ia tertawa pelan.

Kamar itu luas, rapi, dan tenang. Ia menurunkanku ke atas kasur dengan hati-hati, seperti aku sesuatu yang mudah pecah.

Aku tidak langsung bangun. Aku berguling sedikit, lalu menepuk sisi kasur. “Temenin.”

“Alya…”

“Sebentar aja.”

Ia akhirnya duduk di tepi kasur. Aku langsung menarik lengannya dan memeluknya lagi, wajahku tersembunyi di dadanya.

“Kamu besok ngapain?” tanyaku setengah mengantuk.

“Belum tahu.”

“Temenin aku jalan,” pintaku.

“Kamu mau ke mana?”

“Mana aja,” jawabku malas. “Yang penting sama kamu.”

Ia terdiam cukup lama.

“Baik,” katanya akhirnya.

Aku tersenyum tanpa membuka mata.

Di rumah yang terlalu besar, di dunia yang belum sepenuhnya kupahami, aku memejamkan mata dengan satu keyakinan sederhana—

Untuk saat ini,

aku diizinkan untuk manja.

Hari ini adalah hari dimana aku merasa sangat bahagia, dan juga merasa punya segalanya, yang membuatku nyaman.

Bahkan tanpa aku sadari waktu sudah menjukkan pukul 3 pagi..

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!