Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Aduan Maura siang tadi benar-benar membakar sumbu emosi Arlan. Hanya karena persoalan makanan yang dimasak Hana tadi pagi, Arlan merasa harga diri istri mudanya telah diinjak-injak.
Tanpa menunggu waktu lama, ia meninggalkan kantor dan memacu kendaraannya pulang, siap menumpahkan amarahnya pada Hana.
Bagi Arlan, sikap Hana sangat kekanakan. Ia merasa Hana seharusnya sadar posisi, Maura adalah istrinya juga. Pernikahan kedua ini ia lakukan demi mendapatkan keturunan yang tak kunjung diberikan Hana.
Dan ia berharap Hana bisa menerima Maura dengan tangan terbuka, bahkan jika nanti Maura hamil, Arlan menganggap Hana akan ikut menjadi ibu juga. Sebuah logika yang hanya masuk akal bagi dirinya sendiri.
Begitu sampai, Arlan langsung menghentak masuk menuju dapur. Ia menduga Hana sedang menyiapkan makan malam seperti biasa. Namun, langkahnya terhenti. Arlan terpaku menatap punggung Hana.
Rambut hitam panjang yang selalu ia puja, yang biasanya tergelung rapi dalam cepol yang anggun, kini telah hilang. Rambut itu kini tergerai pendek di atas bahu dengan warna coklat terang yang berani.
"Hana! Kamu apakan rambutmu?!" pekik Arlan geram.
Hana terlonjak. Ia tidak menyadari Arlan sudah berada di rumah. Dengan tenang, ia berbalik menatap suaminya. "Kamu sudah pulang? Maaf, aku tidak menyambutmu. Kupikir kamu langsung mengurung diri di kamar bersama istri barumu," sindir Hana telak.
Arlan melangkah maju, tangannya mencengkeram kedua lengan Hana dengan kasar. "Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku tanya, kenapa rambutmu berubah? Kenapa kau merusaknya?!"
Hana dengan sentakan kuat melepaskan cengkeraman Arlan. "Kau punya mata, Mas. Aku mengubahnya karena aku ingin. Itu rambutku, bukan milikmu lagi."
"Kembalikan rambut hitam panjang itu! Aku tidak suka warna coklat!" bentak Arlan.
Hana berkacak pinggang, menatap Arlan dengan mata yang menyala. "Aku akan mengembalikan rambutku jika kau bisa mengembalikan suamiku yang dulu! Aku ingin Arlan yang hanya milikku, bukan Arlan yang membagi ranjangnya dengan wanita lain!"
"Cukup, Hana! Aku lelah bertengkar!" Arlan memijat pelipisnya. "Kenapa kau begitu egois tidak bisa menerima Maura? Aku melakukan poligami ini juga demi masa depan kita, demi keluarga kita!"
Hana tidak menjawab. Ia berbalik dan menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan hati hancur. Egois? Siapa yang sebenarnya egois? Mana ada wanita di dunia ini yang rela berbagi napas suaminya dengan wanita lain. Baginya, diceraikan jauh lebih terhormat daripada harus dimadu seperti ini.
Malamnya, Arlan masuk ke kamar Hana. Ia melihat istrinya sedang berdiri di depan jendela, menatap kosong ke kegelapan malam. Amarah Arlan sedikit luluh. Ia mendekat, mengelus rambut baru Hana yang terasa asing di tangannya, lalu memeluk pinggang Hana dari belakang.
Hana mematung. Air matanya menetes tanpa suara.
"Hana... maafkan aku," bisik Arlan lembut di telinga Hana. "Aku hanya ingin kau menjadi seorang ibu. Orang tua kita sudah menagih cucu. Bersabarlah sebentar saja."
"Apa kau tidak bisa menunggu sedikit lagi?" lirih Hana dengan suara bergetar. "Aku sehat, Mas. Aku bisa hamil. Kita hanya belum diberi kepercayaan oleh Tuhan. Kenapa kau tidak sabar?"
Arlan memutar tubuh Hana agar menghadapnya. Ia menghapus air mata di pipi istrinya lalu mengecup lembut kedua kelopak mata Hana. "Aku juga mencintai Maura, Han. Aku mencintai kalian berdua. Aku mohon... ikhlaskan dia sebagai madumu."
Hana memalingkan wajah. "Cinta? Kau tidak pernah mencintaiku, Mas. Jika kau mencintaiku, kau tidak akan membagi hati. Kau akan menerima segala kekuranganku, termasuk rahimku yang belum berbuah."
Arlan terdiam. Ada rasa bersalah yang menyelinap, namun bayangan Maura yang cantik dan menggoda kembali memenuhi benaknya. Maura memberikan kenyamanan yang berbeda. Di ranjang, Maura jauh lebih liar dan memuaskan, berbeda dengan Hana yang menurutnya mulai terasa monoton dan dingin.
"Aku ke kamar Maura dulu," ucap Arlan tiba-tiba.
"Apa itu yang kau sebut adil?" tanya Hana, menahan perih.
"Han, aku akan bersamamu setiap pagi sebelum ke kantor. Tapi malam adalah waktu untuk Maura," jawab Arlan enteng.
Hana menggeleng tak percaya. "Pagi hari kau hanya membangunkanku untuk sarapan, dan kau pergi ke kantor. Lalu malamnya, kau kembali tidur dengannya. Dimana waktuku, Mas?"
Hana menatap intens mata suaminya. "Mas... jika kau sudah bosan denganku, lebih baik kita cerai saja."
Arlan tersentak. "Cerai? Jangan pernah ucapkan kata itu! Aku mencintaimu, Hana. Kau tetap istri pertamaku selamanya. Bukalah hatimu, jika kau ikhlas, rumah tangga kita akan harmonis."
"Pergilah," usir Hana dingin. "Aku akan mencoba ikhlas dengan caraku sendiri."
Arlan tersenyum puas, merasa telah memenangkan argumen. Ia mengecup kening dan bibir Hana sekilas sebelum melangkah pergi menuju kamar Maura dengan langkah ringan.
Ia merasa perlakuannya sudah sangat adil. Baginya, memberikan nafkah lahir pada Hana dan memberikan malamnya pada Maura adalah keseimbangan yang sempurna.
Dua Bulan Kemudian...
Waktu berlalu seperti neraka yang sunyi bagi Hana. Selama dua bulan, Arlan hanya singgah untuk sarapan dan makan malam. Sisa waktunya dihabiskan bersama Maura. Bahkan di hari libur, Arlan tak pernah lagi menginap di kamar Hana. Hana benar-benar tidak pernah disentuh lagi.
Hana bertransformasi. Ia menghabiskan waktunya di salon, butik mewah, dan gym. Tubuhnya kini jauh lebih kencang dan menggoda daripada sebelumnya. Namun, ia menjalaninya dalam kesepian.
Di malam-malam yang dingin, ia hanya meringkuk di balik selimut, menonton video-video dewasa di ponselnya hanya untuk mempelajari bagaimana cara memuaskan hasrat yang tak lagi disalurkan suaminya. Ia sering berkhayal melakukannya dengan Arlan, namun kenyataan selalu menamparnya, ia hanyalah istri yang berstatus janda.
Suatu malam, saat mereka makan malam bersama, Arlan makan dengan sangat lahap. Maura sama sekali tidak bisa memasak, jadi Arlan selalu mengandalkan masakan Hana.
"Mas... malam ini, tidur denganku, ya?" pinta Hana dengan nada yang sulit diartikan.
Arlan terhenti sejenak, lalu kembali menyuap makanan. "Han... aku harus bersama Maura. Dia sedang program kehamilan. Kau tidur sendiri saja."
Hana meletakkan sendoknya dengan denting keras. "Mas Arlan... aku ini istrimu! Kau memperlakukanku tak lebih dari seorang pembantu. Kau makan masakanku, lalu kau pergi tidur dengan wanita lain!"
"Aku tidak mau bertengkar. Aku butuh istirahat," potong Arlan dingin. Ia bangkit, mengecup kening Hana tanpa rasa, lalu melangkah mantap menuju lantai atas, menuju kamar Maura.
Hana menatap punggung suaminya dengan mata yang tak lagi mengeluarkan air mata. Emosinya sudah mati. Ia mengambil ponselnya, lalu mengetik sebuah pesan singkat.
"Aku menerima tawaranmu, Adrian. Aku akan mulai bekerja di perusahaanmu besok."
Hana menyunggingkan senyum tipis. Jika Arlan merasa dunia ini adil baginya, maka Hana akan menunjukkan apa artinya keadilan yang sebenarnya.
...----------------...
Next Episode....
**PENGUMUMAN GEBYAR HADIAH MISS RA 🎁**
**Siapa yang mau kejutan spesial menjelang Ramadhan dan THR Idul Fitri nanti**?
**Bagi kalian pembaca setia yang terus mengikuti kisah Arlan dan Hana hingga 80 episode tanpa jeda, Miss Ra sudah menyiapkan kejutan Gebyar Hadiah yang luar biasa**!
**Jangan sampai terlewat satu bab pun, ya! Pastikan kalian terus pantengin perjalanan cinta, luka, dan perjuangan Hana sampai tamat. Siapkan diri kalian untuk kejutan manis dari Miss Ra**!
**Oke, selamat membaca semuanya. I love u sekebon buat kalian semua. Sampai jumpa di Up selanjutnya.**
**See You!**
**❤️**
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.